
Pedang untuk membunuh Vampir pun jadi, tapi sayang nya tidak ada yang kuat mengangkat pedang itu. Lalu ada seorang pemuda yang berasal dari ras Human yang mampu mengangkat pedang itu.
"Selir Shina apakah nama pemuda itu Sieg."
"Kau benar, pemuda itu adalah pahlawan Sieg."
Pahlawan Sieg memimpin pasukan yang terdiri dari berbagai macam ras. Pahlawan Sieg dan pasukan nya pergi ke istana Vampir, untuk membunuh pemimpin dari ras Vampir.
Mendengar pasukan dari seluruh ras, menyerbu markas dari ras Vampir. Ras iblis lari meninggalkan ras Vampir. Pahlawan Sieg dan pasukan nya sampai di istana Vampir, ras Vampir dan pasukan pahlawan Sieg melakukan pertempuran hebat. Di ceritakan kalau pertempuran itu berlangsung selama berbulan-bulan. Akhir nya seluruh ras Vampir berhasil di musnahkan, bukan hanya ras Vampir saja yang di musnahkan, pasukan pahlawan Sieg pun berhasil di musnahkan, menyisakan pahlawan Sieg dan pemimpin ras Vampir saja.
Mereka bedua pun bertarung, pertarungan mereka menghabiskan waktu 1 minggu.
"Lalu pahlawan Sieg menang."
Selir Shina mengangguk. "Iya, dia menang. Tapi pada akhirnya pun dia juga ikut mati bersama dengan pemimpin Vampir."
"Lalu perang pun selesai?"
"Perang melawan ras Vampir selesai, tapi setelah melawan ras Vampir seluruh ras berselisih."
"Kenapa mereka berselisih?"
"Mereka menentukan siapa yang boleh membawa pedang pahlawan Sieg."
"Lalu, apakah mereka berhasil menentukan siapa yang boleh membawa pedang nya?"
Selir Shina menggelengkan kepalanya. "Mereka malah berperang, yang menang boleh membawa pedang nya. Tentu saja ras Dragon yang menang, tapi setelah ras Dragon menang, mereka malah tidak mengambil pedang nya. Ras Dragon malah memilih tidur. Akhirnya ke enam ras pun berperang kembali. Ras yang di pukul mundur untuk pertama kali adalah ras Demon. Lalu selanjutnya adalah ras Dwarf dan ras Human."
"Wajar sih kalau Dwarf dan Human kalah. Jika di bandingkan dengan ras yang lainnya, kedua ras ini sangat lemah."
Selir Shina tersenyum mendengar perkataan ku, lalu selir Shina menepuk kepala ku. "Putri Mira, kau mungkin benar kalau di bandingkan dengan kekuatan sihir ras Elf, Dwarf dan Human sangat tidak sebanding. Begitu juga jika dibandingkan dengan kekuatan Fisik, ras Dwarf dan Human tidak sebanding dengan ras Giant. Bahkan ras demihuman lebih unggul dari pada Dwarf dan Human. Tapi kau tau Human dan Dwarf memiliki keunggulan dari pada Elf, Giant dan DemiHuman.
"Keunggulan apa itu?"
"Kepintaran."
"Kepintaran?"
"Benar, saat Dwarf dan Human kalah berperang. Mereka bekerja sama. Dengan kepintaran mereka, mereka berhasil membuat senjata yang bisa membuat ke 3 ras tidak berkutik. Selama 50 tahun ke 6 ras berperang, akhirnya mereka melakukan genjatan senjata. Pemimpin dari ke 6 ras melakukan pertemuan dan membuat janji perdamaian. Setelah mereka melakukan perdamaian, mereka mendatangi ras Dragon."
"Untuk apa mereka mendatangi ras Dragon?"
"Pemimpin dari ke enam ras meminta, ras Dragon yang bisa mengendalikan tanah untuk memisahkan 1 benua menjadi 5 benua. Ras Dragon pun menerima permintaan ke 6 ras, dan memisahkan benua menjadi 5 benua."
"5 benua? Bukan 6 benua?"
"Dulu benua Silia dan benua Yuro adalah satu benua. Ras Human, DemiHuman, dan Dwarf hidup berdampingan di benua Silia. Tapi Ras Dwarf dan DemiHuman malah pindah ke ujung benua Silia dan membuat benua Yuro."
"O,iya. Bagaimana dengan pedang pahlawan Sieg? Siapa yang membawanya?"
"Itulah bodoh nya mereka, ke 6 ras tidak tau kalau pedang itu di segel. Tapi mereka malah berperang yang membuat banyak korban jiwa berjatuhan. Ras Demon adalah yang pertama tau kalau pedang itu di segel, lalu ras Demon pun memberitau ke semua ras kalau pedang itu di segel. Segelnya hanya bisa di buka oleh pahlawan sieg atau renkarnasi pahlawan Sieg."
"Lalu di mana pedang itu sekarang?"
"Pedang itu berada di istana Ras Vampir, sekarang tempat itu adalah perbatasan benua Silia dan benua Yuro."
"Tempat seperti apa perbatasan itu?"
"Tempat itu wilayah netral, banyak Dwarf DemiHuman, dan Human yang tinggal di sana."
Aku turun dari pangkuan Selir Shina, "Terima kasih karena sudah banyak mengajari ku banyak hal, aku harus kembali nanti Ibu dan Kak Yuri bisa khawatir."
"Tidak perlu berterima kasih. biasanya Yuri kalau ku ajari selalu tidur, jadi aku senang bisa mengajari mu."
"Hahaha, memang kak Yuri nggak senang belajar. Selir Shina aku boleh datang dan belajar lagi?"
Aku pergi dari perpustakaan dengan menaiki tangga yang langsung menuju ke ruang tahta. Sampai di ruang tahta aku melihat 3 orang gadis dengan pakaian mewah, mereka adalah tiga putri kerajaan. Karena mereka belum menyadari keberadaan ku, aku ingin pergi diam-diam tanpa ketahuan oleh mereka.
"Loh, bukan nya itu adik ku yang imut.
Aku mengangguk kepada mereka, lalu mereka bertiga mendatangi ku.
"Aku sangat iri pada mu Mira." kata Rosa.
"Aku juga Mira." kata Nina.
"Kakak ngomong apa?"
"Bukan apa-apa." kata Blanc.
"Ya sudah ayo kita pergi." Kata Nina mengajak.
Ketiga putri itu pergi dari ruang tahta, aku pun ikut keluar dari ruang tahta. Waktu yang tersisa sampai tes bakat tinggal 4 hari lagi. Kak Yuri semoga kau sudah siap pada saat tes bakat tiba, entah kenapa perasaan ku tidak enak. Aku merasakan hal buruk akan segera terjadi.
Malam hari tiba, aku sedang bersiap-siap untuk tidur, aku mengganti gaun yang ku pakai dengan baju tidur, lalu aku menatap cermin besar yang ada di pojok kamar ku.
"Berapa kali ku lihat pun, aku tidak pernah bosan melihat wujudku dengan wujud Mira. Gadis kecil ini sangat imut, sampai-sampai aku ingin memeluk diri ku sendiri."
Aku melakukan berbagai macam pose, sambil mengagumi ke imutan diriku yang sekarang. Saking asik nya aku membuat pose imut, aku tidak sadar kalau pintu kamar ku di buka oleh seseorang.
"Mi-Mira, kamu ngapain?"
Aku melihat ke arah pintu, seorang gadis dengan rambut hitam panjang berdiri di depan pintu.
"Ka-kak Yuri!?" dengan panik aku menuju kak Yuri. "Ja-ja-ja-jangan kasih tau siapapun!"
Kak Yuri mengangguk. Lalu aku mempesilahkan kak Yuri masuk, kami berdua duduk di kasur.
"Kak, soal masalah tadi jangan di kasih tau siapa pun!"
"Ti-tidak akan kuberitahu, tenang saja."
"Janji ya."
"Iya, kakak janji. Tapi aku nggak nyangka kalo Mira suka melakukan pose aneh di depan cermin."
"Sudah jangan bahas itu! Ngomong-ngomong ngapain kakak kesini?"
"Tadi aku sempat nguping pembicaraan kak Nina, Blanc, dan Rosa."
"Hmmm, terus mereka ngomong apa?"
"Kata mereka, jika tes bakat kita dapat nilai rendah. Kita akan di tunangkan dengan pangeran dari negara tetangga. Aku iri padamu Mira, pangeran dari negara tetangga itu terkenal dengan ketampanan nya loh."
Pantas saja, kakak Nina dan yang lainnya bilang iri padaku. Berarti penguping pada saat kami bertiga membicarakan Status, adalah Salah satu dari ketiga Putri itu.
"Kak Yuri bagaimana caranya menolak tunangan?"
"Sebaiknya jangan kau tolak, jika kau menolak nya, kau akan di asingkan dari kerajaan ini."
"Tidak apa-apa aku diasingkan, daripada aku harus di tunangkan dengan lelaki yang tidak ku kenal."
"Jangan Mira!" kak Yuri berteriak. "Maafkan aku sudah berteriak," lalu kedua tangan kak Yuri memegang kedua pundak ku. "Selama 10 bulan kau tidak sadarkan diri. Selama 10 bulan aku sangat kesepian, jadi ku mohon jangan menolak tunangan nya, aku tidak ingin berpisah dengan mu Mira." kak Yuri memeluk ku.
Aku melepaskan pelukan kak Yuri. "Maaf kak, aku sudah ngantuk. Bisa kakak pergi sekarang! Aku mau tidur."
Kak Yuri keluar dari kamar ku, aku berbaring di kasurku.
Pasti akan kutolak tunangan itu. Aku berpikir keras bagaimana cara menolak tunangan itu tanpa harus membuat ku di asingkan. Akhirnya aku tidak mendapatkan ide bagaimana cara menolaknya, aku dengan pasrah memejamkan mata ku. berharap diriku di masa depan bisa menemukan caranya.