From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 153 Mira dan Natasha pergi ke kota Banitza



Setelah aku berpamitan, aku pergi ke halaman Vila untuk berpindah ke kota Banitza. Saat aku hendak mengaktifkan sihir (Teleportation) Lizard menghentikan ku.


"Nona Mira. Ada yang ingin saya tanyakan pada anda." Kata Lizard.


"Apa itu?" Tanya ku.


Lizard menyuruh Rabisia mengambil sesuatu di dalam Vila, beberapa detik kemudian Rabisia kembali sambil membawa botol minuman, Rabisia menyerahkan nya kepada Lizard.


"Saya ingin menjual minuman ini di pelelangan nanti." Kata Lizard sambil menyodorkan botol minuman pada ku.


Aku mengambil nya, lalu melihat-lihat botol minuman yang di berikan Lizard pada ku. "Minuman apa ini?"


"Minuman beralkohol, minuman itu memiliki efek yang sama seperti Serbuk Surgawi. Tapi aneh nya sewaktu saya periksa, minuman itu tidak berbahaya seperti Serbuk Surgawi."


"Hmmmm. Itu sesuatu yang menarik. Aku ingin minuman ini jangan di jual dulu, aku ingin meneliti minuman ini lebih lanjut. Aku penasaran bagaimana bisa minuman ini tidak berbahaya, padahal minuman ini memiliki efek yang sama seperti Serbuk Surgawi."


"Baiklah. Kalau begitu, saya tidak akan menjual nya."


"Ngomong-ngomong di mana kau mendapatkan ini?"


"Agen saya memiliki kenalan yang sering pergi ke pasar gelap milik Wilson dia membeli nya dari kenalan nya itu."


"Kenapa kau tidak mengorek informasi dari kenalan nya itu?"


"Saya sudah mencoba nya. Tapi.... Pada saat saya datang kerumah kenalan agen saya, kenalan nya itu mati terkena serangan jantung."


"Dia mati terkena serangan jantung?"


Lizard mengangguk.


Itu sangat aneh untuk suatu kebetulan. Apakah ada campur tangan pihak ketiga saat kenalan agen Lizard itu mati?


Aku menyimpan pertanyaan itu untuk nanti. Aku membuka tutup botol minuman yang di berikan Lizard pada ku.


Aku mengarahkan hidung ku pada ujung botol yang terbuka, lalu aku mencium bau alkohol itu. Bau nya sangat unik, ini bukan hanya bau alkohol, ada bau lain yang tercampur. Aku tidak bisa menjelaskan nya, karena bau yang ku cium ini sangat asing di hidung ku.


"Bau nya enak." Aku bergumam.


Aku menutup botol itu lagi, lalu melemparkan botol ke Lizard.


"Kalau begitu Lizard, aku akan pergi."


"Hati-hati Nona Mira. Kata Lizard dan Rabisia bersama-sama.


Aku mengangguk, berjalan mendekati Natasha, saat aku berada di dekat nya aku memegang tangan nya.


"Teleporta-"


Aku merapal mantra (Teleportation) tapi Natasha menghentikan ku sebelum aku selesai merapalkan nya.


"Tunggu Mira! Pertama urus dulu warna mata mu. Kau lupa saat kita pertama kali berjalan di kota saat warna mata mu berubah?"


Saat Natasha berkata seperti itu, ingatan memenuhi kepala ku sewaktu berjalan-jalan di kota Caramel beberapa waktu yang lalu.


Pada saat itu ada orang yang bersujud, berlutut, memohon dan takut kepadaku.


"Be-benar juga! Natasha bisa kau ambilkan cermin?"


Natasha melukai tangan nya, darah yang keluar segera membentuk cincin, Natasha memasukkan tangan nya ke lubang tengah cincin darah nya, setelah itu Natasha menarik keluar tangan nya dari lubang tengah cincin darah nya. Saat di tarik keluar, tangan Natasha memegang cermin, Natasha pun melemparkan cermin itu padaku.


Aku dengan sigap menangkap nya.


Itu cara yang sangat dramatis untuk mengaktifkan (Blood Box) padahal kan tinggal ambil saja di dimensi buatan seperti (Inventori) milikku. Tapi kenapa dia malah memakai cara yang ribet seperti itu?


"Kenapa?" Natasha bertanya. Ia mungkin menyadari tatapan ku.


Aku menggelengkan kepala ku. "Tidak ada apa-apa!"


Aku melihat pantulan diri ku di cermin, lalu aku mengaktifkan sihir (Illusion), ini untuk mengubah warna mataku. Saat sihir nya aktif, energi sihir membungkus bola mata ku, setelah itu energi sihir ku mulai membuat ilusi yang membuat mataku menjadi merah kembali.


Saat di tengah proses, energi sihir yang membungkus mata ku menguap dan menghilang dari bola mata ku.


"Apa!? Sihir nya tidak bekerja?"


"Coba sekali lagi." Kata Natasha sambil mendekati ku, ia menatap pantulan diri ku juga.


"Illusion!"


Proses pembentukan sihir yang sama terjadi, tapi proses itu berhenti di tengah dan menghilang seperti sebelum nya.


"Mata mu sempat berubah menjadi merah sebelum nya, tapi setelah itu berubah lagi menjadi emas." Kata Natasha menjelaskan.


"Biar ku coba sekali lagi. Illusion!"


Sihir itu menghilang di tengah proses lagi.


Aku mencoba (Illusion) di tempat lain, kali ini aku menggunakan nya untuk merubah warna rambut ku menjadi pirang.


Energi sihir mulai membungkus rambut ku, lalu energi sihir itu menciptakan ilusi yang membuat rambut ku berubah warna. Setelah beberapa detik, sihir itu selesai.


"Ti-tidak ada masalah!"


"Apakah itu tidak bekerja pada mata mu?" Tanya Natasha.


"Entahlah. Aku juga tidak tahu."


Aku mengembalikan warna rambut ku menjadi perak kembali.


"Jadi apa yang harus kita lakukan dengan mata mu?" Tanya Natasha.


"Biarlah. Aku punya cara ku sendiri untuk tidak membuat heboh."


Aku mengembalikan cermin ke Natasha, ia pun memasukkan nya ke dalam (Blood Box), setelah itu aku memegang tangan kanan Natasha.


"Teleportation!"


Mengabaikan proses sihir yang begitu menakutkan, aku berpindah ke depan gerbang Kota Banitza.


Saat di depan gerbang masuk kota Banitza. Penjaga gerbang menatap Natasha dan aku secara bergantian. Saat matanya bertemu dengan mata ku, wajah penjaga gerbang menjadi pucat. Dengan segera ia berlutut.


"Pu-putri Mira!! Kenapa anda kesini?" Ia bertanya dengan terbata-bata.


"Aku ingin berkeliling kota ini sebentar, apakah tidak apa-apa?"


"Ti-tidak apa-apa... Si-silahkan datang sesuka hati anda."


Aku mengangguk.


"Ka-kalau begitu, akan saya beritahu Pu-putri Yuri."


"Jangan beritahu Kak Yuri."


"E-eeeh?! Ta-tapi-"


"Sudah ku bilang jangan beritahu dia. Ini perintah!"


"Ba-baik!"


"Dan juga sediakan kereta kuda untuk ku. Aku malas berjalan kaki mengelilingi kota ini."


"Ba-baik!" Penjaga gerbang berlari memasuki kota.


"Jadi begitu ya... Kau ingin mencari mereka dengan kereta kuda. Dengan begitu tidak akan ada yang melihat mu, karena kau di dalam kereta kuda. Ide yang bagus, tapi... Kau melupakan hal penting Mira." Kata Natasha.


"Apa itu?"


"Kau tahu di mana Arisa dan Jack?"


"Itu hal yang mudah Natasha. Kau hanya perlu mengikuti perintah ku."


Setelah aku menjawab seperti itu, Natasha tidak bertanya lagi.


Beberapa menit kemudian kereta kuda datang ke hadapan kami. Dari kursi pengemudi kereta kuda turun penjaga gerbang yang ku suruh barusan. Kereta kuda yang datang adalah kereta kuda yang tidak terlalu mewah.


"Pu-putri Mira, ini kereta kuda nya." Kata penjaga gerbang sambil berlutut di depan ku.


"Kalau begitu antar kami ke penginapan kota ini."


Penjaga gerbang berdiri, mendekati kereta kuda, lalu ia membuka kan pintu kereta.


"Silahkan masuk!" Kata Penjaga gerbang.


Aku menyuruh Natasha masuk duluan, setelah ia masuk barulah aku masuk. Aku dan Natasha duduk bersampingan di dalam kereta kuda.


Setelah kami berdua masuk, penjaga gerbang menutup pintu kereta kuda, beberapa detik kemudian kereta kuda mulai berjalan.


"Jadi bagaimana kita mencari Arisa dan Jack?" Tanya Natasha.


"Kau tinggal ikuti saja perintah ku."


Natasha tidak bertanya lagi, kereta yang kami naiki terus berjalan. 2 menit kemudian kereta kuda berhenti bergerak, aku mendengar suara pengemudi kereta turun dari kereta, setelah itu pintu kereta kuda terbuka. Yang membuka adalah penjaga gerbang yang menjadi pengemudi kereta.


"Kita sudah sampai di penginapan." Kata penjaga gerbang.


"Natasha, kau periksa catatan penginapan ini!"


"Jadi begitu ya." Natasha bergumam setelah ku suruh. Natasha turun dari kereta, lalu ia masuk kedalam penginapan.