
Di saat komandan dan para petinggi yang memimpin di garis depan membuat strategi untuk pertempuran besok, terjadi pembicaraan lain. Tepat nya di tenda tempat Mira beristirahat.
Di sana ada anggota biasa, Natasha Arisa, Mira dan Jack yang saat ini sedang berlutut di hadapan Mira dengan keringat dingin bercucuran di sekujur tubuh nya.
"Sudah ku duga, ingatan mu tidak di manipulasi oleh Arisa."
Kata Mira dengan dingin, tatapan nya tajam, aura membunuh dan energi sihir yang sangat besar keluar dari dalam tubuh nya. Itu tidak sebesar energi sihir nya di waktu dulu, tapi itu cukup membuat Jack terintimidasi. Sebagai bukti energi sihir Mira tidak sekuat dulu, adalah sihir (Barrier) yang di pasang Arisa, jika Mira yang dulu (Barrier) Arisa akan pecah tapi sekarang (Barrier) itu tidak menimbulkan retak sama sekali.
Natasha dan Arisa yang berdiri agak jauh di belakang Jack juga mengeluarkan keringat dingin, walaupun Mira sudah melemah, bahkan di tingkat mereka bisa mengalahkan Mira jika mereka bertarung dengan serius, tapi mereka masih tidak bisa tidak ketakutan jika Mira sudah di puncak amarah nya.
"Huuuft..." Mira menghela nafas panjang, energi sihir nya langsung menghilang dan aura membunuh nya juga langsung lenyap. Aura intimidasi yang di buat Mira sebelum nya sepenuh nya lenyap di udara, seakan-akan itu tidak pernah terjadi. "Melakukan hal ini saja sudah membuat ku kelelahan..." Gumam Mira, tapi suara nya bisa terdengar jelas di telinga Natasha, Arisa dan Jack. "Jadi, apa maksud mu tiba-tiba mengunjungi ku?" Tanya Mira pada Jack.
Aaaah.... Karena terlalu kesal dengan pertempuran sebelum nya, aku lupa kalau aku berpura-pura ingatan ku di manipulasi oleh Arisa. Pikir Jack sambil menundukkan kepala nya dengan wajah pucat. Kenapa aku bisa berada di situasi seperti ini? Hahaha.... Ini benar-benar kesalahan terbesar setelah aku menghianati Kak Mira. Dengan pemikiran seperti itu di dalam kepala nya, Jack mengingat kejadian yang menyebabkan dia berada di dalam situasi seperti ini.
\*\*\*
Beberapa jam setelah pertempuran di perbatasan.
Mira yang merasakan energi sihir yang besar tiba-tiba muncul di markas pusat, segera pergi keluar dari tenda nya untuk mengecek sumber energi sihir itu. Saat sampai di tengah-tengah markas pusat, di mana energi sihir yang di rasakan Mira berasal, pemandangan yang di lihat Mira saat sampai di sana sangat mengerikan. Para prajurit yang berlumuran darah, bahkan ada beberapa yang kehilangan anggota tubuh nya, itu adalah hal yang di lihat Mira saat sampai di pusat energi sihir itu.
Beberapa detik setelah Mira sampai, para komandan, Shina, dan semua anggota dari divisi medis datang. Para komandan yang melihat kondisi para prajurit menjadi pucat, anggota dari divisi medis tanpa di perintah langsung bergerak, mengobati para korban.
Mira menghiraukan para prajurit yang terluka, mata nya melihat ke sekeliling prajurit, kemudian tatapan nya terpaku pada seorang yang terbaring di tanah. "Ayah!" Teriak Mira sambil berlari ke arah Charles yang terbaring di tanah tidak sadarkan diri.
Saat Mira mendekat, dia menghela nafas lega saat melihat ayah nya masih bernafas. Mira pun mengetahui kalau ayah nya hanya kelelahan setelah melewati pertempuran yang panjang. Shina yang melihat Mira mendekati Charles juga ikut berlari di belakang nya. "Bagaimana keadaan Yang Mulia?" Tanya Shina saat sudah sampai di samping Charles.
"Ayah baik-baik saja, dia hanya pingsan." Jawab Mira.
"Syukurlah...." Shina menghela nafas lega setelah mengetahui kondisi suami nya.
Mira kemudian memanggil pasukan medis untuk membawa ayah nya ke tenda tempat peristirahatan, empat orang dari divisi medis datang sambil membawa tandu, mereka mengangkat Charles ke atas tandu lalu membawa Charles pergi ke tenda tempat peristirahatan. Shina yang masih tidak tenang dengan kondisi suami nya, mengikuti empat orang yang membawa Charles.
Mira kemudian memanggil Arisa yang berdiri agak jauh dari para pasukan yang terluka, saat Arisa datang mendekat, Mira menyuruh nya untuk menyembuhkan para prajurit yang terluka dengan sihir nya. Sangat jarang bagi Mira untuk menolong orang lain dengan ikhlas, jadi Arisa ragu untuk mengikuti perintah nya.
"Kak Mira ingin aku menyembuhkan Prajurit yang terluka....?" Jawab Arisa dengan mata terbelalak.
"Ya. Kalau terus begini, pasukan Demon akan semakin jauh memasuki perbatasan kita, dan itu akan membuat tugas ku makin banyak. Aku sudah kerepotan dengan tugas-tugas ku yang sekarang, aku tidak ingin tugas ku terus bertambah."
"Aaaah....." Arisa mengeluarkan suara kecewa, kemudian ia menghela nafas lega. Ternyata semua yang di lakukan Mira memang berdasarkan keuntungan nya, tidak mungkin Mira menolong orang asing dengan ikhlas. Itu sungguh membuat Arisa lega dengan sikap Mira yang tidak berubah.
"Ah. Tidak. Aku hanya lega... Ya. Memang begini sifat manusia... Tidak mungkin sifat manusia berubah dengan tiba-tiba. Ya. Itu benar." Arisa menjawab pertanyaan Mira dengan wajah kontemplatif, lalu ia mulai menggumamkan sesuatu. Ia mengangguk-anggukkan kepala nya beberapa kali, seakan-akan ia telah mengerti sesuatu. Akhir nya, Arisa pergi dari sisi Mira melakukan apa yang di perintahkan pada nya.
"Ada apa dengan nya?" Gumam Mira setelah melihat sifat aneh Arisa.
Mira pun berhenti memikirkan sifat aneh Arisa, lalu melihat ke sekeliling nya, mata nya kemudian berhenti saat melihat suatu yang menurut nya aneh. Ia melihat Natasha berbicara dengan Jack, kemudian tubuh Jack tersentak, mungkin karena ia merasakan tatapan Mira. Jack kemudian menengok ke arah Mira, lalu mendatangi Mira dengan wajah serius.
"Kak Mira," Kata nya saat sampai di hadapan Mira. "Ada sesuatu yang ingin aku beritahu."
Natasha yang melihat Jack mendekati Mira, menepuk jidat nya, menghela nafas panjang. Apa yang di lakukan anak itu!? Teriak Natasha di dalam kepala nya. Aaaah... Aku tidak percaya dia akan seceroboh itu....
Mata Mira terbelalak, kaget melihat Jack yang di kira Mira sudah melupakan diri nya akibat sihir milik Arisa, mendekati nya seakan-akan itu adalah hal sehari-hari yang biasa ia lakukan. Jack seperti nya menyadari kesalahan nya, saat keringat dingin mulai membasahi tubuh nya. Tapi, Jack tidak bisa mundur, ia sudah terlanjur melakukan kesalahan, akhir ia pun berbicara dengan takut-takut memberitahu urusan nya. "I-Ini mengenai pertempuran hari ini... Bi-Bisakah Kak Mira meluangkan waktu untuk mendengarkan cerita ku?"
"....." Mira tidak menjawab, ia menjulurkan kepala nya, melihat Natasha yang berada beberapa meter di belakang Jack, Natasha yang melihat Mira menatap diri nya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala nya. Mata nya seakan-akan mengatakan 'Aku tidak tahu apa-apa tentang ini!' melihat Natasha yang seperti itu, Mira melihat sekeliling lagi, lalu tatapan nya terkunci ke Arisa yang sedang mengobati seorang prajurit, saat mata Arisa bertemu dengan mata Mira, ia segera memalingkan wajah nya.
Mira akhir nya berhenti meminta penjelasan dari kedua bawahan nya. Ia menghela nafas, lalu menjawab Jack. "Datang ke tenda ku setelah kau memastikan kondisi ayah." Kata nya, kemudian setelah itu ia pergi di ikuti dengan Natasha yang berwajah panik.
\*\*\*
Aku lupa kalau aku berpura-pura hilang ingatan tentang Kak Mira!!!! Pikir Jack di dalam kepala nya seusai mengingat kesalahan yang di lakukan nya beberapa jam yang lalu. Mau bagaimana lagi, nasi sudah jadi bubur, ia tidak bisa lagi berpura-pura dalam situasi saat ini. Dan juga, dia memiliki sesuatu yang sangat penting yang harus di sampaikan nya ke Mira, saking penting nya ia sampai lupa dengan perintah Natasha untuk tidak berinteraksi dengan Mira.
"Haaaah...." Jack menghela nafas, menenangkan diri nya. Kemudian ia mulai bicara. "Ini tentang pertempuran hari ini Kak Mira." Kata nya dengan nada serius.
"Ada apa dengan pertempuran hari ini?" Jawab Mira dengan nada tidak tertarik.
"Kak Mira sudah mendengar tentang bola aneh yang merubah prajurit menjadi Zombie kan? Sebenarnya, aku menemukan kalau bola itu di kendalikan menggunakan energi sihir. Saat bola itu berhasil mengenai prajurit, energi sihir mulai keluar dari bola aneh itu, merubah nya menjadi serangga, lalu serangga itu di kendalikan oleh seseorang melalui jarak jauh."
"Hmmm... Jadi kau menemukan siapa yang mengendalikan bola itu?"
"Ya... Tapi aku kurang yakin."
"Hah? Apa maksud mu?"
"Bola aneh itu, bukan di kendalikan oleh seseorang yang berasal dari pasukan Demon, tapi itu di kendalikan oleh seseorang yang berasal dari pasukan aliansi."
"Hooo.... Kau menemukan sesuatu yang menarik." Wajah Mira berubah dari awal nya berekspresi bosan, menjadi ekspresi seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru dari orang tua nya, ekspresi yang di penuhi dengan kebahagiaan murni.