From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 332 Mira sadar



"Arisa! Cepat gunakan sihir (Time Control)!"


"Sudah ku lakukan! Tapi tidak ada hasil!"


"Percuma saja, walaupun kau memundurkan waktu, jiwa nya sudah tidak ada lagi di dalam tubuh nya. Dia tidak akan hidup lagi."


Aku mendengar suara bising, aku tidak tahu siapa yang berbicara di dekat ku. Aku tidak bisa mengecek nya, tubuh ku terasa berat. Aku merasakan tubuh ku terbaring di kasur yang empuk, walaupun begitu, aku tidak dapat menggerakkan tubuh ku. Perlahan-lahan aku membuka mata ku, dan melihat langit-langit ruangan yang nampak asing bagiku. Di mana ini? Apa yang terjadi pada ku? Pertanyaan itu muncul di dalam kepala ku seketika aku membuka mata.


Memeras kemampuan otak ku untuk mengingat kejadian yang terjadi pada ku akhir-akhir ini... Aku pun mendapatkan jawaban... Tubuh ku kelebihan beban saat aku melawan ke empat anggota Guild ku di game FL. Aneh nya, mengapa aku bisa melupakan hal itu? Aku juga melupakan asal-usul ku yang merupakan orang dari dunia lain yang terkirim ke dunia ini sebagai pengganti Mira, Putri kerajaan Fantasia. Aku pun menguras otak ku lagi untuk mencari alasan aku melupakan semua hal itu. Biasa nya, kepala ku akan terasa sakit jika aku berusaha mengingat kejadian yang tidak bisa ku ingat, tapi saat ini... Rasa sakit itu tidak terjadi. Aku bisa mencari di dalam otakku mengenai ingatan yang selama ini ku lupakan. Termasuk ingatan saat aku tidak sadarkan diri dan berada di alam bawah sadar ku, saat aku bertemu dengan Mira yang ada di dunia ini.


... Alasan aku melupakan semua hal itu karena suatu kekuatan besar, yang mengatur dunia ini, yang mencegah ku untuk mengingat semua nya... Tidak, untuk di katakan, kekuatan yang mengatur dunia ini, itu keliru. Pada kenyataan nya, kekuatan asing dari luar dunia yang ku tempati saat inilah yang mencegah ku untuk mengingat semua hal itu. Dan yang paling menyebalkan nya lagi, kekuatan besar itu memanipulasi ku secara tidak langsung untuk melakukan tindakan gila. Semua yang kulakukan selama ini adalah hasil dari manipulasi itu... Kabar baik nya adalah, sekarang kekuatan asing itu mengizinkan ku untuk mengingat semua nya, untuk melakukan tindakan terakhir yang ia inginkan. Dan tidakan terakhir itu adalah tujuan ku di kirim ke dunia ini... Aku tidak bisa lepas dari kekuatan besar yang memanipulasi ku, walaupun begitu, aku tidak akan menyerah! Ini adalah hidup ku! Dan hanya aku yang bisa mengatur hidup ku sendiri! Atas dasar itulah, aku dan Mira yang ada di dunia ini memikirkan cara untuk lepas dari kekuatan besar itu... Walaupun aku tidak bisa melakukan apapun, aku sangat yakin kalau Mira yang ada di dunia ini pasti bisa menemukan cara untuk membebaskan ku. Mengapa aku bisa seyakin itu? Jawaban nya sederhana. Aku mempercayai diri ku sendiri lebih dari apapun. Walaupun aku dan Mira di dunia ini memiliki banyak perbedaan, tapi dari cara dia berpikir dan cara dia menyelesaikan masalah sama seperti ku. Dan yang lebih penting dia juga mempercayai ku lebih dari apapun di dunia ini, jadi tidak ada alasan ku untuk tidak mempercayai nya.


Saat ini aku merasakan perasaan bahagia, karena aku dapat menemukan seseorang yang sangat ku percayai selain dari pada Natasha dan Arisa... Tetapi, aku tidak bisa tersenyum untuk menunjukkan kebahagiaan ku itu. Alasan nya adalah...


"Kak Natasha... Kak Mira sudah membuka mata nya!"


"Apa!? Mi-Mira! Kau sudah sadar!?"


".... Natasha...."


"Ma-Maaf Mira... A-Aku sudah berusaha untuk-"


"Aku tahu... Aku bisa mendengar kalian..."


".... Maafkan aku... Maafkan aku.... Maafkan aku Mira.... Maafkan aku...."


Natasha menangis di samping ku, aku menjulurkan tangan ku, untuk mengelus kepala nya.


Di saat Natasha menangis, aku mengalihkan pandangan ku kesamping, tidak jauh dari tempat tidur ku, aku melihat Arisa yang terduduk di lantai sembari memangku seorang wanita yang terbaring lemah di lantai, wanita itu berambut perak sama seperti ku, wajah nya pucat pasi, dengan mata nya yang tertutup, ekspresi wajah nya tersenyum. Aku dapat melihat ekspresi yang sangat bahagia di wajah nya. Berbanding terbalik dengan eksprsi wanita itu yang tersenyum bahagia, Arisa yang memangku nya menangis, air mata nya menjatuhi wajah wanita itu. Aku melihat sekeliling lagi, di belakang Natasha ada Jack yang berdiri dengan wajah frustasi dan sedih. Lalu di pundak Jack ada seorang gadis seukuran telapak tangan yang wajah nya sama gelap nya seperti Natasha dan yang lain nya yang hadir di ruangan ini.


'Terima kasih....' pikir ku, sembari mengalihkan pandangan ku ke wanita yang di pangku oleh Arisa. 'Terima kasih Ibu.' Kata ku dengan berguman sembari melihat wanita yang di pangku Arisa, dia adalah Carla, Ratu kerajaan Fantasia, Ibu dari Mira... Dan juga dia sudah menjadi sosok Ibu bagi ku selama aku di dunia ini. Akhir nya saat melihat wajah bahagia ibu, aku pun bisa tersenyum, walaupun senyum itu di hiasi dengan air mata kesedihan yang saat ini jatuh membasahi pipi ku.


\*\*\*


Beberapa menit sebelum Mira sadar.


Natasha yang menyadari keanehan dari ekspresi Carla menahan Arisa yang berbegegas keluar ruangan untuk mengambil kertas dan pena, setelah melakukan itu ia menatap ke arah Carla dengan tatapan serius, lalu dengan suara dingin menanyakan Carla alasan ia meminta hal seperti itu.


"Untuk apa hal semacam itu?" Tanya nya kepada Carla.


"...." Carla tidak menjawab, ia hanya terus memperhatikan wajah Mira sembari mengelus kepala nya dengan tangan kanan nya.


"Ratu Carla, bisa kau menjawab pertanyaan ku?"


"...."


"Ratu Carla! Aku mohon! Jawab pertanyaan ku!"


Natasha mendesak Carla untuk menjawab pertanyaan nya, tapi ia hanya diam membisu. Sekali lagi, Natasha mendesak nya dengan nada tinggi, ekspresi nya menunjukkan kepanikan. Natasha bisa menebak maksud dan tujuan Carla, tapi ia tidak ingin tebakan nya itu benar, oleh karena itu Natasha mendesak nya untuk menjawab pertanyaan nya, berharap kalau tebakan nya salah.


"Natasha... Kau tidak perlu meninggikan suara mu. Aku pikir, apa yang kau pikirkan saat ini sudah menjawab semua nya." Thinkie dengan tenang berkata kepada Natasha.


Saat mendengar jawaban Thinkie, Natasha dengan refleks melotot ke arah nya, ekspresi nya gelap di penuhi dengan amarah dan keputusasaan, dan tanpa ia sadari energi sihir nya keluar, menyebabkan orang di sekitar merasakan tekanan yang luar biasa.


".... Maaf... Tidak ada cara lain..." walaupun merasakan tekanan yang sangat kuat saat menerima energi sihir Natasha, Carla bisa berbicara dengan tenang... Natasha yang mendengar perkataan Carla tiba-tiba menjadi lemas, tubuh nya pun terjatuh, terduduk di lantai. "... Tidak mungkin... Kau pikir... Kau pikir Mira akan senang dengan hal itu!?"


"... Maaf..." Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Carla untuk menanggapi


pertanyaan Natasha.


"... Aku membawa kertas dan pena." tanpa di sadari oleh siapapun, Jack telah keluar ruangan, dan baru saja kembali sembari membawa hal yang di minta oleh Carla.


Jack berjalan menghampiri Carla sambil membawa barang yang di inginkan nya, tidak ada siapapun yang menghentikan. Semua orang hanya terdiam, memperhatikan Jack. "Terima kasih." Kata Carla saat mengambil, pena dan kertas dari tangan Jack.


Carla menggunakan kasur Mira sebagai meja tempat ia menulis, kasur tempat Mira berbaring cukup besar sehingga ada sedikit ruang yang bisa di gunakan Carla untuk menulis. Saat Carla menuliskan surat nya, wajah nya menunjukkan senyum sedih, tangan nya terkadang berhenti menulis, seperti terasa berat untuk menuliskan kata-kata di kertas itu, tetapi walaupun begitu, Carla berhasil menyelesaikan surat nya. Menggunakan sihir angin untuk menciptakan angin hangat untuk mengeringkan tinta di kertas, setelah tinta mengering, Carla melipat surat itu lalu di berikan nya ke Natasha yang selama ini terdiam mematung.


"Saat Mira sadar, tolong berikan ini pada nya. Ini adalah kata-kata terakhir ku." kata Carla kepada Natasha, di sertai dengan senyuman dan air mata yang terus berjatuhan membasahi pipi nya.