From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 88 Ketakutan Arisa



Para bangawan kota Cocoa sedang berjalan menuju Vila tempat biasa mereka melakukan rapat. Saat mereka sampai di depan Vila, mereka terkejut karena mereka tidak bisa masuk, karena semua pintu dan Jendela terkunci. Bahkan Pintu dan Jendela itu di kunci menggunakan sihir.


"Ada apa ini?" Kata salah satu bangsawan.


"Kenapa Vila ini di kunci? Jika di kunci seperti ini kami tidak bisa melakukan rapat!" Kata salah satu bangsawan lain nya.


"Tenang semua nya!!" Salah satu bangsawan berteriak.


Semua bangsawan melihat kearah bangsawan yang berteriak. Bangsawan yang berteriak itu adalah Rony!


"Di dalam Vila ini ada Tuan Putri. Semua pelayan pasti menutup Pintu dan Jendela untuk melindungi Tuan Putri. Jadi harap di maklumi." Kata Rony dengan suara lantang.


"Apa-apaan itu!?" Kata salah satu bangsawan.


"Seharusnya dia keluar dan menghadapi situasi genting ini! Bukan nya bersembunyi dalam Vila!!" Kata salah satu bangsawan berteriak.


"Aku tahu perasaan kalian. Tuan Putri itu benar-benar pengecut! Wajar saja, dia masih berumur sepuluh tahun." Kata Rony.


Semua bangsawan makin marah karena perkataan Rony, mereka makin kesal dengan Putri yang bersembunyi di Vila.


"Tapi tenang saja! Tuan Sarion sudah memberikan perintah, Beliau bilang kita harus menyiapkan pasukan untuk menahan rakyat jelata yang sedang mengamuk itu. Jika kita berhasil menahan nya, Tuan Sarion akan langsung memberikan obat penenang kepada rakyat jelata yang mengamuk."


"Sudah kita duga dari Tuan Sarion. Beliau tahu apa yang harus di lakukan." Jawab Salah satu bangsawan.


"Kalau kalian sudah mengerti cepat bergerak!" Teriak Rony.


Semua bangsawan pun bergegas menyiapkan pasukan mereka masing-masing.


\*\*\*


Satu menit sebelum seluruh bangsawan berkumpul di depan Vila yang biasa di jadikan tempat mereka rapat.


Sarion dan Rony sedang bergegas menuju Vila tempat rapat.


"Rony!" Kata Sarion.


"A-ada apa tuan Sarion?" Jawab Rony.


"Apa yang harus kita lakukan untuk mencegah rakyat jelata itu masuk ke daerah ini."


"Kalau itu aku sudah punya rencana."


"Begitu ya.... Sudah ku duga kau memang bawahan ku yang pintar."


"Jadi apa rencana nya?" Sambung Sarion.


"Kita harus menahan rakyat jelata itu, kemudian Tuan Sarion memberikan obat penenang selama kita menahan rakyat jelata itu."


"Rencana yang bagus. Aku tidak tahu kau bisa menyusun rencana sebagus itu."


"Saya tidak pantas menerima pujian anda.... Ngomong-ngomong Tuan Sarion."


"Ada apa?"


"Kenapa anda melamar Gadis Elf rendahan itu?"


"Gadis Elf itu bisa melihat Ghoul. Jika gadis Elf itu bisa melihat Ghoul, bisa di pastikan dia itu kuat....... Kau tahu Rony, yang bisa melihat Ghoul itu cuma ada 3 orang jika gadis Elf itu ku masukkan."


"Cu-cuma tiga!?"


"Itu benar cuma tiga!" Sarion tersenyum licik. "Jika gadis Elf itu jadi milik ku, sudah pasti aku akan menjadi raja Elf selanjutnya."


\*\*\*


Aku sedang minum teh dan makan cemilan bersama dengan Natasha, Arisa dan Jack.


Saat kami minum teh, aku melihat ke Arisa. Wajah Arisa saat ini terlihat sedang murung, ia seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Arisa!"Arisa menengok saat ku panggil.


"Kenapa?" Tanya Arisa lesu.


"Seharus nya aku yang bertanya kenapa? Dari tadi ku lihat wajah mu murung terus."


"Begitu ya.... Jadi aku terlihat sedang murung ya...."


"Memangnya kau kenapa?" Tanya Jack.


"Ini tentang Elf bernama Sarion itu." Jawab Arisa.


"Kenapa Arisa? Akhirnya kau sudah memutuskan untuk menerima lamaran nya..." Kata Natasha sambil menjahili Arisa.


"Tidak. Bukan masalah lamaran nya yang ingin ku bicarakan sekarang. Yang ingin ku bicarakan adalah hal yang lain." Kata Arisa dengan wajah serius.


"Kenapa kau Arisa? Tiba-tiba menjadi serius." Kata Jack.


Arisa menarik nafas panjang, kemudian ia menghembuskan nya. Ia terus melakukan itu secara berulang-ulang.


"Sebenarnya.... Saat Elf bernama Sarion itu pergi......"


Natasha dan Jack menatap Arisa dengan serius.


"Kenapa kau berhenti? Lanjutkan!" Kata Natasha.


"Apa yang kau lihat?"


"Aku melihat bayangan hitam menyelimuti Sarion. Saat aku melihat bayangan itu, bayangan itu langsung menatap tajam ke arah ku, lalu bayangan itu tersenyum. Aku merasakan sesuatu yang berbahaya dari bayangan itu. Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana aku bisa merasakan bahaya, hanya saja aku yakin! Pasti bayangan hitam itu adalah sesuatu yang berbahaya!" Kata Arisa serius.


"Kenapa kau serius begitu?" Kata Natasha sambil makan cemilan. "Palingan bayangan hitam itu Pierot." Kata Natasha dengan tenang.


Arisa menggelengkan kepala nya dengan cepat. "Bukan..... Bukan..... Bukan..... Itu bukan Pierot!" Kata Arisa. Keringat dingin mulai bercucuran di tubuh Arisa. Arisa mendekap tubuhnya, kemudian ia berkata lagi dengan suara gemetaran.


"Jika Pierot dibandingkan dengan bayangan hitam yang kulihat sebelum nya. Pierot itu terlihat lebih imut dibandingkan dengan bayangan hitam itu."


"Bayangan hitam itu....." Kata Arisa gemetaran. "Bayangan hitam itu..... Mengingatkan ku..... Pada saat ibuku di buru dengan para Elf."


Jack terkejut mendengar perkataan Arisa. Tubuh Jack ikut gemetaran, keringat dingin mulai bercucuran di tubuh Jack.


"Arisa..... Apa maksud mu..... Elf bernama Sarion itu..... Ikut memburu ibu?" Kata Jack gemetaran.


Arisa mengangguk. "Mungkin saja."


Natasha menjadi khawatir melihat Arisa dan Jack gemetaran, Natasha melihat ke Mira.


"Mira! Bagaimana kau menyelesaikan masalah ini?" Kata Natasha dengan wajah cemas.


"Entahlah. Aku juga tidak tahu." Jawab Mira sambil minum teh.


"Entahlah? Bukan nya kau selalu tahu bagaimana cara menyelesaikan masalah?"


"Kau pikir aku ini apa? Dewa?...... Natasha aku ini juga manusia biasa. Pasti ada beberapa hal yang tidak ku ketahui."


Manusia biasa? Pikir Natasha. Mana ada manusia biasa yang menjadikan Vampir sebagai bawahan nya. Pikir Natasha sambil memalingkan wajah nya.


Natasha melihat Arisa dan Jack masih gemetar ketakutan. Apakah memang tidak ada yang bisa di lakukan? Pikir Natasha. Natasha melihat ke arah Mira lagi.


Natasha melihat Mira sedang memejamkan matanya sambil mengangkat cangkir teh ke mulut nya. Mira meminum habis teh yang ada di cangkir, setelah habis, Mira menaruh cangkir teh di atas meja. Mira bangkit dari tempat duduk nya, kemudian Mira berjalan menuju pintu. Mira membuka pintu, saat pintu di buka Leonardo sedang berdiri di depan pintu.


"Nona Mira!? Padahal saya ingin masuk." Kata Leonardo.


"Bagaimana orang yang mengamuk itu?" Tanya Mira.


Leonardo terkejut mendengar pertanyaan Mira. "Kebetulan saya ingin melaporkan hal itu...." Kata Leonardo terkejut. "Saya tidak menyangka anda akan menanyakan nya langsung."


Leonardo melanjutkan perkataan nya. "Orang yang sedang mengamuk berhasil di hentikan. Ini semua berkat rencana Nona Mira." Kata Leonardo.


Setelah melaporkan itu Leonardo pergi.


Mira kembali lagi ke tempat duduk nya. Kemudian Mira melihat ke arah Natasha.


"Natasha aku ingin kau lihat para bangsawan di luar! Jika mereka saat ini memuji ku berarti tidak ada yang perlu kita lakukan. Tapi jika mereka memuji Sarion berarti....."


"Berarti?" Tanya Natasha heran.


"Berarti malam ini kita harus memata-matai semua bangsawan yang ada di sini."


Mendengar perkataan Mira, Natasha tersenyum.


"Arisa! Jack!" Kata Mira lantang.


Arisa dan Jack tidak menengok, mereka masih terus gemetaran.


"Sampai kapan kalian gemetaran seperti itu?"


"Kak Mira.... Kami takut....." Kata Arisa gemetaran.


"Biar ku tanya. Lebih menakutkan aku, atau bayangan hitam yang kau lihat bersama dengan Sarion itu?"


"Tentu saja..... Bayangan hitam itu...." Jawab Arisa.


Jack mengangguk kan kepalanya dengan pelan, tanda ia setuju dengan saudari nya.


Natasha melihat Mira menarik nafas panjang. Natasha tahu apa yang ingin di lakukan Mira, jadi Natasha langsung berlari ke luar ruangan.


"Aku harap Arisa dan Jack tidak mengompol." Gumam Natasha, saat berada di luar ruangan.


Aku menarik nafas panjang, kemudian aku mengaktifkan sihir (Fear) sihir ini akan membuat orang yang terkena merasakan ketakutan yang dahsyat.


"Fear!"


Arisa dan Jack merasakan energi sihir yang mengerikan keluar dari dalam tubuh Mira. Mereka berdua gemetar ketakutan, sehingga mereka jatuh tersungkur di lantai. Mereka berdua merasakan sesuatu yang hangat keluar dari ************ mereka.


Apa-apaan energi sihir ini!? Pikir Arisa. Bayangan hitam yang kulihat sebelum nya tidak ada apa-apa nya jika di bandingkan dengan ini.


Aku melihat Arisa dan Jack mengompol. Melihat mereka berdua seperti itu, membuatku merasa sedikit bersalah. Aku pun menonaktifkan sihir (Fear) ku.


"Sekarang Arisa. Mana yang lebih menakutkan?"


Aku melihat ke arah Arisa dan Jack, mereka berdua terbaring di lantai. Aku mendekati tubuh Arisa, kemudian aku memukul pelan pipi Arisa.


"Arisa!! Arisa!! Arisa!!" Arisa tidak bangun, saat ku panggil namanya.


"Seperti nya aku memang sedikit berlebihan. Mereka berdua pingsan."