From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 301 Pertarungan di mulai



Saat Bruno, Javelin, Siegurd dan Catulus terduduk di tanah dengan kepala tergantung, dengan perasaan putus asa yang mendalam. Tiba-tiba terjadi sesuatu pada tubuh Mira.


Dada bagian kiri Mira yang awal nya bolong akibat di tusuk panah mulai bergenerasi, jantung nya yang ikut bolong juga mulai bergenerasi. Itu seperti efek dari sihir (Heal). Tapi Mira seharus nya sudah mati, dan ia tidak sempat menggunakan sihir nya, tapi kenyataan berkata lain. Sihir Mira tiba-tiba aktif, menyembuhkan luka nya. Wajah nya yang putih pucat akibat kehilangan banyak darah kembali seperti sedia kala.


Mata Mira terbuka lebar, ia mengetahui apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia dengan perlahan menengok ke arah empat Player yang masih terduduk lemas di tanah. Melihat itu, Mira mengetahui kalau sekarang adalah saat nya membalas apa yang telah mereka lakukan kepada nya. Dengan suara pelan Mira mengucapkan mantra, menggunakan (Super Magic) yang di gabung dengan (Fire Ball). Alhasil sihir (Fire Ball) yang awal nya hanya bisa menembakkan bola api maksimal ukuran nya sebesar bola basket dapat menembakkan bola api berdiameter lima belas meter. Bola api itu di tembakkan Mira ke orang yang baru saja menusuk nya, yaitu Catulus.


"!"


Catulus yang tiba-tiba merasakan lonjakan energi sihir menengok ke arah tubuh Mira, dan sesaat ia menengok bola api yang di tembakkan Mira sudah tepat di depan mata nya. Akibat nya, ia tidak sempat menghindar, Catulus pun terkena bola api itu. Bola api itu terus melesat walaupun sudah mengenai Catulus, Catulus pun ikut terbawa bola api itu sejauh dua ratus meter dari tempat ia terduduk. Sesaat kemudian bola api itu meledak, menimbulkan pilar api setinggi lima belas meter.


Mira yang telah berhasil menyerang secara diam-diam. Perlahan-lahan berdiri tegak, ia kemudian mengambil tongkat sihir dari (Inventori) nya. Sesaat kemudian, energi sihir Mira meluap-luap sampai menimbulkan hembusan angin kencang.


Bruno, Siegurd, dan Javelin masih belum bisa memproses apa yang baru saja terjadi, mereka masih terduduk di tanah. Mereka menatap Mira dengan tatapan kosong.


"Super Magic : Meteor Strike!"


Tidak menunggu musuh bersiap, Mira melanjutkan serangan nya. Ia menggunakan sihir yang dapat memanggil meteor berdiameter seratus meter. Dari atas langit, sebuah batu yang di bungkus dengan api menyala melesat dengan cepat ke arah Siegurd, Javelin dan Bruno.


Saat melihat meteor itulah otak Siegurd, Bruno dan Javelin yang sempat berhenti bekerja kembali menunjukkan kinerja nya. Dengan cepat Siegurd mengeluarkan pedang dari (Inventori) nya, ia melompat ke arah meteor yang jatuh dari langit lalu dengan cepat menebas meteor itu jutaan kali dengan kecepatan cahaya.


Meteor itu pun hancur menjadi bagian-bagian kecil yang tersebar kesuluruh penjuru Benua Aziliya. Alhasil Benua Aziliya luluh lantak akibat pecahan meteor.


"Hahaha!! Dia belum mati! Dia belum mati!! Hahahahaha!" Setelah mendarat di tanah Siegurd tertawa lepas. Ia lega, harapan nya untuk kembali pulang ke dunia asal nya masih ada. Tanpa ia sadari air mata nya keluar dari ujung mata nya, Siegurd pun dengan santai menghapus air matanya yang menetes keluar.


"Super Magic:Earth Quake"


Mengabaikan tawa Siegurd, Mira mengeluarkan sihir lain. Kali ini ia menggunakan sihir tanah. Sihir yang di gunakan menyebabkan gempa bumi. Seberapa besar gempa yang di sebabkan, tergantung seberapa banyak Mira menuangkan energi sihir nya saat ia mengeluarkan sihir itu. Saat mengeluarkan sihir ini, Mira menuangkan energi sihir yang sangat besar, itu pun menyebabkan gempa yang sangat hebat. Gempa bumi itu sampai membuat seluruh Benua Aziliya terbelah menjadi dua. Walaupun tanah sudah terbelah, sihir Mira belum selesai, ia mengeluarkan sihir baru lagi.


"Summon Magic. Summon Earth Spirits: Gnome!"


Mira menggunakan sihir pemanggil, sihir ini dapat memanggil berbagai mahluk dalam mitologi yang ada di dunia yang sebelum nya ia tempati. Kali ini ia memanggil roh yang dapat mengendalikan tanah, sebenarnya Mira bisa mengendalikan tanah dengan sihir nya, tapi sihir nya memiliki batas dalam mengendalikan sesuatu, sebalik nya mahluk yang di panggil dapat mengendalikan sesuatu tanpa ada batasan. Sebagai contoh. Saat ini mahluk yang di panggil Mira sedang menerbangkan Benua Aziliya yang tengah terbelah. Yang di terbangkan oleh mahluk panggilan Mira adalah tanah Benua yang menjadi tempat berpijak para Player sedangkan Benua tempat Mira berpijak masih kokoh berada di darat.


"Oy, oy, oy, oy..... Perasaan menerbangkan setengah Benua tidak pernah bisa di lakukan saat masih di FL!" Teriak Siegurd dengan panik saat tanah tempat nya berpijak terangkat ke atas.


"Ini bukan FL! Batasan terhadap sihir mungkin sudah menghilang semenjak kita di dunia ini." Jawab Javelin.


"Begitu ya..."


"Lupakan hal itu, kita harus cepat melompat ke sebrang! Aku memiliki firasat buruk selama kita berada di sini." Bruno menyarankan.


"Bagaimana dengan Catherine!?" Tanya Javelin.


"Walaupun aku tidak bisa mati, tapi masih sakit di tinggal sendirian."


Saat mereka masih berbedat, tiba-tiba suara seorang gadis menghentikan perdebatan mereka. Gadis itu, tidak salah lagi adalah Catulus, atau yang biasa di panggil oleh para Player dengan...


"Catherine!?" Teriak ketiga Player dengan suara histeris. Mereka terkejut dengan kemunculan nya yang tiba-tiba.


"Sejak kapan kau berdiri di samping Siegurd!?" Bruno menanyakan hal yang semua orang ingin tanyakan.


"Semenjak tanah ini mulai naik ke atas langit..." Jawab Catulus sembari menampar pipi Siegurd. "Ah!" Siegurd yang di tampar Catulus mendesah dengan suara yang memunjukkan rasa senang nya.


Walaupun mereka dalam keadaan bahaya, mereka masih bersikap santai seperti tidak ada apapun yang terjadi. Sifat ini juga di miliki oleh Mira. Mereka seperti tidak takut akan kematian, padahal posisi mereka saat ini bisa di katakan mereka hanya tinggal selangkah lagi untuk masuk ke jurang kematian.


"Super Magic : Tsunami.


Mira terus melanjutkan serangan nya, kali ini ia menggunakan sihir air. Sihir yang ia gunakan dapat menimbukan tsunami, yang tinggi gelombang tsunami yang ia timbulkan tergantung seberapa besar ia menunangkan energi sihir ke dalam mantra nya. Ia sekali lagi menuangkan banyak energi sihir.


Dari celah belahan tanah yang tercipta akibat sihir sebelum nya muncul air setinggi satu kilometer, menghalangi jalan ke empat Player untuk melompat ke sebrang, ke tanah tempat Mira berpijak.


"Summon Magic. Summon Water Spirits: Undine!"


Mira menggunakan sihir pemanggil lagi untuk memanggil roh yang dapat mengendalikan air.


Summon Magic. Summon Fire Spirits: Salamander!"


Mira kali ini memanggil roh yang dapat mengendalikan api.


Roh air kemudian mengendalikan gelombang tsunami untuk menghantam ke empat Player, setelah itu roh api memanaskan air hingga kepanasan nya cukup untuk merebus daging dengan sekali celup.


Dengan tanah yang di naikkan ke udara sedikit, dan air mendidih yang menghalangi sisi tanah yang masih berada di daratan, ke empat Player tidak bisa kabur. Sebenarnya mereka bisa kabur jika mereka berlari ke sisi lain Benua, atau mereka bisa saja menggunakan sihir (Teleportation). Tapi Mira sudah menyegel sihir (Teleportation) mereka, sehingga satu-satu nya jalan untuk selamat adalah berlari ke sisi lain Benua. Yah, itu pun kalau mereka bisa.


"Hahaha.... Nih anak kalau udah kesal..." Javelin ketawa masam saat melihat gelombang air mendidih mengarah ke arah nya.


"Tidak ada tempat untuk kabur. Kita hanya bisa pasrah." Siegurd berkata dengan senyum bejat. Ia membayangkan diri nya tersapu dengan gelombang air mendidih itu. Karena ia adalah masokis akut, ia merasa senang saat berada di ambang kematian seperti ini.


Sedetik kemudian...


Ke empat Player pun tersapu gelombang air mendidih. Mereka mati terebus.