From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 137 Memeriksa ternak.



Beberapa jam setelah aku menerima surat. Matahari sudah terbenam, hari sudah gelap, bulan naik ke langit, bintang-bintang kecil mulai bertebaran di langit.


Ini adalah waktu yang tepat untuk memulai membantai para Wyvern, di malam yang indah ini, aku dan para bawahan ku ingin menghiasi nya dengan pemandangan tubuh terbelah, darah bercucuran, dan suara jeritan.


Dengan perasaan haus darah, kami berangkat ke kota Cocoa dengan menggunakan Cristal sihir.


"Aku tidak sabar ingin melihat darah bercucuran di depan ku." Kata Natasha sambil memamerkan taring putih dan runcing milik nya.


"Asal kau tahu saja Natasha, kita malam ini tidak akan melakukan penyerangan. Kita hanya melakukan pengintaian, kau ingat itu kan!?"


Itu benar! Sebenarnya malam ini aku malas untuk bertarung. Semua yang ku katakan sebelum nya, hanyalah perasaan Natasha yang sudah dari siang ingin segera membunuh musuh nya.


Karena perasaan malas ini, aku hanya ingin mengintai musuh saja. Lagi pula, aku memiliki alasan kuat untuk mengintai musuh ku kali ini.


Alasan itu berhubungan dengan penjelasan Natasha yang di jelaskan nya padaku tadi sore.


Natasha menjelaskan, Dragon Leader memiliki kemampuan khusus masing-masing.


Sejauh yang Natasha ketahui, Dragon Leader memiliki 5 kemampuan khusus. Kemampuan itu antara lain :



Dragon Leader memiliki kemampuan mengendalikan Api, Air, Tanah, dan Angin secara bersamaan.


Dragon Leader memiliki kemampuan untuk mengendalikan tanaman.


Dragon Leader memiliki kemampuan untuk menyemburkan cairan asam.


Dragon Leader memiliki kemampuan untuk memperkuat sisik nya, itu membuat tubuh nya tidak dapat di tembus, walaupun dengan sihir dan senjata terkuat sekali pun.


Dragon Leader memiliki kemampuan untuk mengendalikan kehidupan dan kematian.



Itulah kemampuan khusus Dragon Leader yang di ketahui Natasha, dia juga menambahkan kalau Dragon Leader mungkin memiliki kemampuan khusus yang tidak dia ketahui. Karena itulah aku ingin mengintai musuh kali ini, dan jika bisa aku ingin mengetahui kemampuan Dragon Leader yang memimpin pasukan Wyvern ini.


Saat berpindah ke kamar ku yang ada di Vila kota Cocoa, aku di kejutkan dengan kehadiran Leonardo yang sedang membersihkan tempat tidur ku.


"Nona Mira?" Leonardo berbicara setelah melihat ku muncul di depan nya. Wajah nya terlihat bingung, ia seperti tidak percaya kalau aku akan datang pada malam hari seperti ini.


"Kenapa anda di sini? Bukankah anda di larang kesini oleh Yang Mulia?"


"Aku menyelinap keluar dari istana."


"Jadi itu sebab nya anda datang tengah malam begini." Leondardo menghela nafas. "Lalu kenapa anda... Seperti nya hal itu tidak perlu di tanyakan lagi."


"Ternyata kau tahu alasan ku datang ya..." Aku berjakan ke kasur, kemudian aku duduk di kasur. "Kalau begitu, pembicaraan nya akan menjadi cepat. Bisa kau ceritakan kronologis kejadian saat Wyvern menyerang kota ini?"


"Ini terjadi sepuluh hari yang lalu," Leonardo mulai bercerita.


Sepuluh hari yang lalu ya... Berarti saat itu aku masih tidak sadarkan diri.


"Saat itu..."


Dari arah barat kota Cocoa, yang di mana arah itu adalah arah dari perbatasan kota Cocoa dan kota Banitza.


Saat itu para warga melihat seekor burung yang mengeluarkan suara aneh, tapi saat burung itu makin jelas, para warga langsung membantah kalau yang terbang mendekat itu adalah burung.


Yang terbang mendekat adalah Wyvern tulen!bukan lah seekor burung!


Saat melihat Wyvern mendekat, Para Warga berlari memasuki rumah masing-masing dan mengintip melalu jendela.


Mereka melihat seekor Wyvern datang dan mengambil sapi milik warga, setelah mengambil sapi, Wyvern pergi. Para warga menghela nafas lega, mereka lega tidak ada korban jiwa pada saat itu. Kehilangan seekor sapi bukanlah masalah, yang penting tidak ada korban jiwa, nyawa seseorang adalah hal yang penting dari seekor sapi.


Mereka pikir Wyvern tidak akan datang lagi, tapi mereka salah!


Ke esokan hari nya, Wyvern datang lagi, kali ini bukan hanya seekor Wyvern, tapi tiga ekor Wyvern! Ketiga Wyvern itu mengambil sapi, domba dan kambing para Warga. Tapi seperti hari kemarin tidak ada korban jiwa.


Ke esokan hari nya Wyvern datang lagi, dan lebih banyak dari kemarin, kali ini ada lima Wyvern, ke esokan hari nya datang lagi, dan jumlah nya bertambah menjadi delapan ekor.


"Para Wyvern itu terus berdatangan dan jumlah mereka terus bertambah, sekarang ada lebih dari 20 Wyvern yang datang, untung nya tidak ada korban jiwa. Tapi jika terus seperti ini, kita akan mendapatkan kerugian yang besar!"


Aku memainkan rambut ku.


Serangan Wyvern ini lebih parah dari perkiraan ku. Aku mengira mereka menyerang beberapa hari sekali, tapi mereka ternyata menyerang setiap hari! Dan jumlah mereka terus bertambah! Jika terus di biarkan ini mungkin akan gawat.


"Bisa aku lihat hewan ternak nya sekarang?"


"Tentu saja, anda tunggu di lantai bawah, saya akan mengambil Lentera sebentar, saat malam daerah peternakan lumayan gelap." Setelah mengatakan itu Leonardo pergi keluar kamar.


Aku melompat dari atas kasur. Kemudian aku keluar kamar menuju lantai bawah, aku di ikuti oleh ketiga bawahan ku.


Saat di lantai bawah, para pelayan menyambut ku dengan hangat. Mereka nampak bahagia saat melihat ku, aku menyambut para pelayan dengan senyum ramah, beberapa saat kemudian Leonardo datang dari lantai dua sambil membawa Lentera.


"Kita berangkat sekarang?" Tanya Leonardo.


Aku mengangguk pelan, kemudian Leonardo berjalan menuju pintu keluar, aku, Natasha, Arisa dan Jack pun mengikuti dia keluar Vila.


\*\*\*


Sesampai nya di peternakan.


Leonardo menyalakan Lentera, peternakan memiliki lampu, tapi lampu itu tidak cukup terang untuk melihat semua hewan ternak, jadi Leonardo menggunakan Lentera.


Lentera itu memiliki cahaya yang cukup terang untuk menerangi sekeliling peternakan, sejujur nya itu cukup mengejutkan, Lentera kecil dapat menerangi sekeliling peternakan. Itu sangat aneh bukan?


"Lentera ini di lengkapi sihir cahaya, jadi cukup untuk menerangi sekeliling peternakan."


Leonardo menjawab seakan-akan ia membaca pikiran ku.


Leonardo mengangkat Lentera di atas kepala nya, cahaya di Lentera menerangi seluruh peternakan. Saat seluruh peternakan terlihat, di kesempatan itulah aku menggunakan nya untuk menghitung hewan ternak.


"10 sapi, 13 Domba, 25 Kambing dan 18 Bab*, jadi sisa hewan-hewan ternak hanya segini? Dan juga aku tidak melihat ada anak-anak mereka."


"Para Wyvern lebih sering mengincar anak-anak mereka."


"Kerugian nya sangat besar dari yang aku perkirakan."


"Jika terus seperti ini, Kota Cocoa akan menjadi kota Banitza yang kedua." Kata Leonardo panik.


"Ini sudah lama ada di pikiran ku, apakah ayah tidak ingin memusnahkan para Wyvern itu?"


"Jika itu hanya Wyvern, pasti sudah lama di musnahkan, tapi...."


"Dragon Leader!" Kata Natasha.


Leonardo mengangguk. "Yang Mulia tidak ingin menghabisi pasukan nya untuk membasmi mahluk yang terlalu kuat seperti itu. Lagi pula mahluk itu hanya tidur saja, jadi Yang Mulia membiarkan nya."


"Jadi kau juga sudah tahu tentang sarang Wyvern itu ya?"


"Tentu saja, itu sangat terkenal di kerajaan Fantasia. Tapi saya tidak menyangka para Wyvern itu akan menyerang kota ini."


"Untuk saat ini tidak ada yang bisa kita lakukan, aku akan pulang ke istana. Leonardo terima kasih sudah mengantar ku ke sini."


"Sama-sama Nona Mira." Leonardo membungkuk.


Natasha memberikan ku Cristal sihir, aku membanting Cristal itu, aku berpindah ke langit kota Cocoa, Natasha, Arisa dan Jack juga muncul di belakang ku. Kami melayang-layang sebentar di langit kota.


"Setelah mendengar itu, apakah kau masih ingin mengintai saja?" Tanya Natasha.


"Kau benar-benar bisa mengalahkan nya kan?"


"Kau sadar berbicara dengan siapa? Kau itu berbicara dengan Ratu Vampir, Natasha! Kau tahu." Natasha mulai menyombongkan diri nya.


"Mantan Ratu Vampir!! Kau sudah membuang jabatan mu bukan?"


"Membuang!!" Natasha kesal. "Setidak nya bilang melepaskan! Kau itu tidak sopan sekali."


"Iya, iya... Sudahlah ayo kita cepat ke sarang Wyvern itu!"


Aku terbang dengan kecepatan sedang ke arah barat, di ikuti Natasha, Arisa dan Jack.


Cahaya bulan menerangi kami, cahaya itu seakan-akan mengatakan pada kami. "Hiasi cahaya ku dengan warna merah darah! Aku pasti akan terlihat indah dengan warna itu."


Dengan kata lain, cahaya bulan pada saat ini, adalah tanda dari pembantaian.