
Aku saat ini berada di Cafe, di sebuah kursi dekat pintu masuk, di hadapan ku adalah Putri kerajaan Animalia, Catulus. Dia memberitahu ku tentang informasi yang sangat penting, yang seharus nya tidak di ketahui orang asing seperti ku.
Aku sebenarnya tidak akan mempercayai semua informasi yang dia katakan. Hingga suatu nama muncul dari mulut nya.
Nama tongkat sihir, yang memiliki kesadaran sendiri, Glory Rod.
Nama yang sangat asing bagi ku, tetapi jauh di dalam hati ku ada rasa keakraban yang sangat kuat, sehingga aku tidak bisa hanya mengabaikan informasi itu.
Aku pasti sangat terkejut mendengar nama itu keluar dari mulut Putri Catulus. Dan ekspresi keterkejutan ku di tanggapi nya dengan senyuman yang penuh dengan makna.
"Seperti nya kau sangat tertarik," Kata nya sambil menatap mata ku, dia tersenyum dengan senyum paling lebar yang di miliki nya. Dia kemudian bertanya. "Ingin melihat nya?"
"....Tidak."
Aku hampir menjawab 'Iya' di sana, tetapi karena pembawa informasi adalah Putri kerajaan yang sangat mencurigakan, aku pun menjawab tidak setelah diam sejenak.
"Sayang sekali...."
Dia langsung menurunkan tubuh nya bersandar di meja, sebelum mengungkapkan kekecewaan nya. Aku mengabaikan nya, dan terus memakan manisan yang masih tersisa banyak di atas meja.
"Kenapa?" Aku kemudian bertanya pada nya setelah menghabiskan satu piring manisan. Dia menegakkan badan nya, menatap ke arah ku dengan bingung, lalu memeringkan kepala nya. Aku melanjutkan pertanyaan ku. "Kenapa kau memberitahukan hal yang begitu penting ini pada ku?"
".....Sebagai permintaan maaf....?" Dia menjawab dengan nada bertanya.
Kali ini aku yang memeringkan kepala ku, menatap nya dengan bingung. Permintaan maaf? Untuk apa?
"Sebagai permintaan maaf untuk apa yang terjadi di masa lalu, dan apa yang akan terjadi di masa depan... Maaf, aku mengatakan hal aneh. Kalau begitu, bisa aku pergi?" Aku menjawab pertanyaan nya dengan mengangguk.
Setelah mengatakan hal yang tidak jelas dan aneh, Putri Catulus berdiri kemudian dia pergi ke kasir, setelah itu ia kembali lagi pada ku, dan berkata: "Makanan mu sudah ku bayar. Kalau begitu Mira, mulai sekarang mohon bantuan nya." Dia tersenyum lalu pergi keluar Cafe.
"Aneh." Natasha yang selama ini berdiri diam di belakang ku mengomentari Catulus setelah ia pergi. Arisa hanya mengangguk menyetujui perkataan Natasha. Aku hanya diam, menatap pintu Cafe sambil menyuap manisan lain ke mulut ku.
'Mulai sekarang mohon bantuan nya?' Apa maksud dari perkataan nya itu. Dan juga apa maksud nya meminta maaf pada ku? Semua yang dia lakukan sangat aneh dan mencurigakan... Sial, firasat ku makin tidak enak. Sesuatu pasti akan terjadi... Aku yakin itu, sesuatu yang sangat besar.
Dengan perasaan gelisah di hati ku, aku terus menyuap makanan ke dalam mulut ku.
"Natasha."
"Iya?"
"Malam ini kita pergi."
\*\*\*
Catulus pulang ke istana dengan berjalan kaki melintasi kota. Sangat tidak biasa untuk seorang Putri kerajaan pergi keluar tanpa pengawal, tetapi pemandangan seorang Putri pergi keluar istana tanpa pengawal adalah hal biasa yang sering terjadi di kota ini. Sehingga Catulus tidak terlalu menarik perhatian selama dia berjalan pulang. Tetapi kali ini berbeda, dia menarik perhatian warga, itu karena aura yang di keluarkan Catulus selama dia berjalan pulang.
Aura kesedihan yang sangat pekat mengitari nya, sehingga semua orang melihat nya dengan khawatir. Seorang perempuan yang baru sehari menikah mengeluarkan aura sedih, itu pasti sangat mengkhawatirkan. Terlebih lagi, orang yang mengeluarkan aura kesedihan ini adalah Putri kerajaan. Itu semakin menambah kekhawatiran.
Tetapi Catulus terus berjalan ke istana, mengabaikan semua tatapan khawatir di sekitar nya.
"Setidak nya, ini yang bisa ku lakukan untuk membantu mu... Mulai sekarang, aku akan terus mengacungkan pisau dari balik punggung mu... Tetapi setidak nya..." Catulus bergumam dengan suara kecil sambil menundukkan kepala nya.
Tanpa di sadari Catulus, air mata nya jatuh. Ia kemudian bergumam dengan suara getir di penuhi dengan kesedihan yang mendalam. "Maaf... Tidak ada pilihan lain... Aku harus melakukan nya. Maaf Mira."
\*\*\*
"....Malam ini kita pergi... Mira, jangan-jangan!"
Natasha menggumamkan perkataan ku sebelum akhir nya dia terkejut, dengan ekspresi yang sulit di gambarkan. Aku mengajak nya keluar malam ini, untuk menyusup ke istana kerajaan Dwarvania dan mengecek tongkat sihir yang di sebutkan Catulus. Jika Natasha sampai terkejut, pasti dia sudah tahu tujuan ku mengajak nya keluar malam ini ya...
Tetapi perkiraan ku salah... Dia sama sekali tidak mengerti kenapa aku mengajak nya keluar malam ini.
Sebagai tanggapan untuk ajakan ku, Natasha mengatakan sesuatu yang mengejutkan sambil memerah.
"Mira kau mengajak ku berkencan!?... Aku tidak mengetahui kalau kau sudah seberani ini. Kyaaa!"
"Uwaaah!"
Arisa yang di samping Natasha, menatap nya dengan tatapan setengah jijik setengah kagum. Sama hal nya dengan ku, aku menatap nya dengan jijik seolah-olah menatap sampah!
"....."
Kegembiraan Natasha langsung menghilang setelah menerima tatapan ku dan Arisa. Dia terdiam menatap kami dengan putus asa, bahu nya merosot kebawah. "Uuggh!" Keluh nya.
"Jadi Kak Mira, kenapa kakak mengajak Kak Natasha pergi malam ini?" Tanya Arisa.
"Aku penasaran dengan tongkat yang Putri Catulus ceritakan... Dari cerita nya, itu pasti item yang sangat kuat hingga memiliki kesadaran. Jadi aku ingin menyusup ke istana untuk mengecek tongkat itu."
"Kau percaya informasi itu?" Tanya Natasha. Seperti nya dia sudah sembuh dari suasana hati yang buruk.
"Tidak." Jawab ku singkat.
"Lalu kenapa?"
"Aku memiliki firasat kalau sesuatu yang buruk akan terjadi dalam waktu dekat. Jika itu sampai terjadi, aku ingin sesuatu untuk melindungi diri. Karena itu aku pikir untuk mengambil tongkat itu. Yah... Kalau perkataan Putri Catulus benar ada tongkat seperti itu di istana kerajaan Dwarvania."
"Bagaimana kalau perkataan Putri Catulus salah, dan tidak ada tongkat sihir di sana? Lagi pula jika memang benar tongkat itu tidak ingin di pegang dengan orang yang tidak memiliki energi sihir besar kan? Kau saat ini sangat lemah Mira, bahkan energi sihir mu tidak mampu menandingi Arisa."
"Kita hanya akan mengecek nya, jika tongkat itu tidak ada kita akan langsung pergi. Tetapi jika tongkat itu ada, aku ingin mencoba untuk memegang nya. Aku memiliki kepercayaan diri kalau aku bisa memegang tongkat itu... Lagipula tidak ada rugi nya untuk mencoba kan? Dan jika hal buruk terjadi aku yakin kau akan melindungi ku Natasha."
"Kau benar di situ... Kau betul-betul memanfaatkan perasaan ku pada mu kan?"
"...."
Aku tidak menjawab, aku hanya memakan semua manisan ku yang ada di atas meja. Setelah habis, aku berdiri, kemudian berjalan mendekati Natasha.
"Itu tidak benar. Aku tidak pernah memanfaatkan perasaan mu Natasha... Aku sangat percaya pada mu Natasha, dari semua orang kaulah satu-satu nya yang paling ku percaya."
"Itu membuat ku senang... Tetapi, kenapa kau sangat percaya pada ku?"
Aku memberi isyarat Natasha untuk menunduk, setelah ia menunduk, aku mendekatkan bibir ku ke telinga nya, kemudian berbisik pada nya.
"Kalau itu rahasia... Urusan kita di sini sudah selesai, ayo kembali ke istana!"
Setelah aku selesai berbisik pada nya, aku menjauhkan diri ku, lalu mengajak Natasha dan Arisa untuk kembali ke istana kerajaan Animalia.