
"Panggilan darurat Nona Mira... Berkumpul di tenda strategi sekarang!"
Saat aku berjalan mengitari markas pusat, membantu divisi yang berspesialis membantu pasukan garis depan, seperti divisi distributor peralatan, divisi informasi, dan divisi strategi. Aku tiba-tiba di panggil oleh seorang prajurit dari divisi strategi, untuk datang ke tempat para komandan menyusun strategi.
Ada apa? Pikir ku, seperti nya sesuatu yang buruk terjadi di garis depan.
Aku saat ini sedang membantu pasukan distributor. Mereka saat ini sedang mengecek dan sedikit memperbiki peralatan, itu semua di lakukan agar tidak terjadi malfungsi saat di gunakan nanti, tetapi karena aku di panggil ke divisi strategi, aku pun menarik diri dari membantu divisi distributor.
Aku pun berjalan pergi mengikuti prajurit yang mengantar ku ke tenda divisi strategi. Natasha mengikuti ku dari belakang, sedangkan Arisa tidak ada di samping ku, ia mengawasi Putri Catulus, karena itu ia saat ini sedang berada di samping putri Catulus dengan alasan sebagai pengawal.
Kami terus berjalan, sampai akhir nya kami sampai di tenda tempat berkumpul nya para komandan, pengawal yang mengantar ku menunggu di luar dan membiarkan ku masuk. Natasha juga ikut menunggu di luar, sudah di tetapkan jika orang yang tidak memiliki kepentingan tidak di perbolehkan masuk ke tenda.
Saat di dalam tenda, udara di sekitar terasa berat. Semua orang berwajah rumit, mereka semua menatap peta yang ada di atas meja.
"Sudah ku bilang, kita harus menyerang pasukan yang terinfeksi terlebih dahulu. Jika di biarkan mereka akan menghancurkan formasi pertahanan pasukan kita." Salah satu komandan strategi angkat bicara, dia berbicara dengan wajah kesal, tangan nya mengepal sambil memukul meja hingga terdengar suara keras.
"Itu tidak akan berhasil, mereka terus menembaki kita dengan bola aneh itu. Walaupun prajurit yang terinfeksi berhasil di habisi, itu tidak akan berguna. Pasukan kita akan terus berubah menjadi Zombie. Karena itu, kita harus membagi pasukan lalu langsung menyerang ke pasukan Demon." komandan lain nya angkat bicara, membantah komandan yang sebelum nya berbicara.
....Zombie? Bola aneh? Apa yang mereka bicarakan?
Tanpa memikirkan kebingungan ku, diskusi terus berlanjut.
"Kita tidak bisa langsung menerobos maju ke pasukan Demon, mereka terus menembaki bola aneh itu. Dan jika kita berhasil lolos dari bola aneh itu, pasukan kita masih harus menyebrangi sungai yang lebar nya dua ratus meter." komandan lain angkat bicara.
"Nyonya Shina, apakah kau memiliki ide untuk masalah ini?"
Raut wajah Selir Shina berubah, ekspresi wajah nya kontemplatif. Ia mencubit-cubit pangkal hidung nya, berpikir keras mencari jawaban akan masalah yang di pertanyakan oleh komandan.
Melihat mereka yang sepenuh nya mengabaikan ku, walaupun mereka memanggil ku, membuat perasaan iritasi di hati ku. Apa-apaan!? Setelah memanggil ku ke sini, mereka malah mengabaikan ku!? Pikir ku dengan wajah cemberut. Aku berbalik badan, hendak pergi keluar tenda, tetapi tidak jadi. Karena keberadaan ku sudah di sadari oleh salah satu komandan.
"Oooh... Nona Mira. Akhir nya kau datang."
Aku berbalik, lalu menjawab nya dengan nada yang di penuhi dengan kekesalan. "Aku di sini sudah hampir semenit."
"Ma-maaf telah mengabaikan anda," mungkin karena tidak tahan dengan aura yang ku keluarkan saat aku sedang kesal, salah satu komandan meminta maaf kepada ku dengan terbata-bata. Aku dapat melihat sebutir keringat, jatuh dari ujung dahi nya. Wajah nya juga kaku, ia memasang senyum palsu untuk menyembunyikan rasa takut nya. "Ka-kami menerima pesan dari pasukan di garis depan. Suasana di sana sangat mencekam, para prajurit kita berubah menjadi zombie dan telah menyebabkan kekacauan dalam formasi pasukan kita."
"Haaaah," aku secara reflek menghela nafas. Lagi-lagi hal yang merepotkan terjadi, tidak bisakah aku mengistirahatkan otak ku untuk sementara? Aku lelah harus terus memutar otak. "Aku mengerti kalian memanggil ku kesini. Kalian kebingungan untuk memecahkan masalah ini bukan? Dan kalian ingin meminta ide dari ku untuk memecahkan masalah ini."
"Bi-Bisa di bilang seperti itu."
"Haaah...." Aku menghela nafas sekali lagi... Sangat merepotkan! Pikir ku. Aku sudah menduga, kalau invasi ini akan ada banyak hal tidak terduga terjadi, dan aku harus siap untuk memikirkan rencana secara terus menerus. Tetapi... Tetap saja... Haaaah, haaaah.... Ini sangat merepotkan!
Yah. Setidak nya, aku masih bisa menebak apa yang terjadi di garis depan setelah mendengar perdebatan para komandan sebelum nya.
"Kalau kau tidak mau membantu, lebih baik pergi Mira."
Aku melihat ke arah Selir Shina, yang tiba-tiba berbicara pada ku. Wajah nya cemberut, dia kelihatan nya kesal pada ku. "Dari raut wajah mu, kau berpikir pasti hal ini sangat merepotkan bukan? Kalau kau tidak ingin di repotkan lebih baik kau pergi. Kami bisa memecahkan masalah ini tanpa mu." Kata Selir Shina dengan nada tinggi, kata-kata nya mengeluarkan kritik pedas yang langsung di arah kan pada ku. Selir Shina pasti melihat wajah ku yang menunjukkan apa yang sedang ku pikirkan, jujur aku sangat senang dia menyuruh ku untuk pergi. Tapi setelah aku melihat wajah para komandan yang terlihat kerepotan, aku memutuskan untuk menolong mereka.
"Jujur, aku berpikir masalah ini sangat merepotkan. Tetapi bukan berarti aku tidak mau membantu." Kata ku, kepada Selir Shina. Setelah mendengar aku mengatakan itu, wajah nya makin terdistorsi.
"Aku bisa menebak apa yang terjadi di garis depan," Kata ku kepada para komandan. "Tapi tebakan ku bisa saja salah. Jadi bisa kalian jelaskan lebih detail apa yang terjadi di sana?"
Salah satu komandan pun menjelaskan kejadian yang terjadi di garis depan secara mendetail.
Serangan di mulai beberapa jam yang lalu, pasukan Demon menyerang dengan serangan proyektil, hal ini sudah aku perkirakan jadi aku tidak terkejut. Serangan itu, berlangsung selama beberapa menit, lalu berhenti. Di saat para prajurit mulai lengah, pasukan Demon mulai menyerang lagi, yang awal nya mereka menggunakan peluru dengan batu, serangan kedua mereka menyerang menggunakan peluru aneh, berbentuk seperti sebuah bola. Bola aneh itu, akan hancur berkeping-keping jika terkena perisai prajurit, tetapi saat bola aneh itu hinggap di tubuh prajurit, bola aneh itu berubah menjadi serangga, setelah berubah menjadi serangga, itu mulai masuk ke dalam tubuh prajurit melalui mulut dan merubah prajurit menjadi zombie. Yang lebih parah lagi, prajurit yang menjadi zombie bisa merubah prajurit lain menjadi zombie dengan cara menggigit nya.
Begitulah karakteristik monster undead bernama zombie ini, mereka bisa merubah mahluk hidup menjadi zombie dengan gigitan. Seperti gigitan vampire yang bisa memberikan kutukan, gigitan zombie pun bisa memberikan kutukan, yaitu kutukan merubah mahluk hidup meniadi undead. Yang jadi masalah adalah, zombie biasa muncul di pemakaman pada bulan purnama. Seorang yang tidak tenang dalam hidup nya akan berubah menjadi undead. Aku tidak tahu ada sebuah benda yang bisa merubah seseorang yang hidup menjadi undead. Bola aneh itulah masalah nya.
"Jadi kami bingung harus melakukan apa. Menerobos langsung ke pasukan Demon untuk menghentikan mereka menembakkan bola aneh itu, atau menghabisi para zombie terlebih dahulu."
"Habisi para zombie terlebih dahulu, jika kita nekat menerobos mereka akan menghujani kita dengan lebih banyak bola aneh itu!" Setelah komandan yang menjelaskan pada ku selesai berbicara, komandan lain angkat bicara dengan nada tinggi di penuhi dengan emosi.
"Tidak! Jika kita fokus menghabisi zombie, para Demon akan terus menembaki bola aneh itu, yang hanya akan terus menambah pasukan zombie, itu hanya akan membuat pasukan zombie tidak habis-habis." komandan lain membantah argumen, berbicara dengan penuh emosi.
Mendengar pertanyaan ku, semua komandan terdiam lalu melihat ke arah Selir Shina.
Selir Shina tidak bisa menjawab, wajah nya terlihat buruk, ia berusaha keras berpikir tapi tidak menemukan jawaban. Menyerah, Selir Shina akhir nya buka mulut, meminta solusi dari ku. "Kau sendiri Mira, apa menurut mu yang harus kita lakukan?" Selir Shina bertanya dengan wajah serius, sorot mata nya tajam, dan nada yang ia gunakan di penuhi dengan kekesalan. Harga diri nya menolak untuk memninta solusi dari ku, tetapi karena keadaan dia tidak punya pilihan.
"Yang jadi masalah di sini adalah bola aneh itu kan?"
Semua orang yang di dalam tenda mengangguk.
"Kalau begitu aku menyarankan kita untuk mundur."
"Apa!?"
"Jangan bercanda!"
"Itu benar! Jangan bercanda! Tidak ada alasan kita untuk mundur!"
"Dengar dulu," Kata ku menenangkan mereka. Para komandan pun terdiam, lalu aku lanjut berbicara. "Pertama kita harus mundur, lalu mulai menyelidiki bola aneh itu, jika kita berhasil menemukan apa bola aneh itu, kita bisa membuat pencegah untuk bola aneh itu merubah pasukan kita menjadi zombie. Menurut ku itu tidak terlalu beresiko, dari pada kita harus membunuh para zombie di pasukan kita yang tidak habis-habis atau menerobos langsung ke pasukan Demon yang akan menyebabkan lebih banyak korban."
Mendengar penjelasan ku, Selir Shina mengangguk. "Mira benar. Rencana itu lebih baik."
"Tetapi, jika kita memundurkan pasukan para Demon akan bergerak memasuki perbatasan kita." Kata salah satu komandan.
"Karena itu kita harus menyiapkan pasukan yang akan menahan pasukan Demon selama kita meneliti bola aneh itu. Aku menyarankan meninggalkan seribu orang di sana, di pimpin oleh Jack, aku yakin 'dia' pasti bisa menahan pasukan Demon."
"Kau ingin mengorbankan tunangan kakak mu!?" Mendengar rencana ku untuk mengorbankan Jack, membuat Selir Shina tersentak. Dia berdiri dari tempat duduk nya, lalu meneriaki ku dengan wajah memerah karena marah.
"Ya. Itulah rencana ku."
"Kau gila Mira, aku tidak menyetejui rencana mu."
"Itu benar." Kemudian dari arah belakang ku terdengar suara akrab, aku berbalik dan melihat Putri Catulus di temani oleh Arisa di belakang nya. Dia memasuki ruangan tanpa di panggil, dengan wajah serius ia berjalan melewati ku, terus hingga mencapai meja para komandan. Dengan keras ia memukul meja, dengan suara lantang Putri Catulus memulai pidato nya. "Kita tidak perlu menggunakan rencana yang akan menyebabkan korban jiwa, kita hanya harus menerobos maju ke pasukan Demon."
Eh....? Bukan kah itu akan lebih banyak menyebabkan korban jiwa? Kata ku dengan heran di dalam kepala ku.
Perkataan Putri Catulus belum selesai, ia terus berbicara dengan lantang. "Aku mendengar dari luar. Bola aneh itu hancur jika terkena perisai bukan? Kalau begitu, kita hanya harus maju dengan formasi perisai, dan menambah pertahanan kita dengan sihir (Barrier) dengan begitu, kita bisa menerobos maju ke pasukan Demon tanpa korban jiwa."
"Ooooh... Rencana yang bagus!"
"Kita akan menggunakan rencana Putr Catulus!"
"Itu benar... Mari kita tunjukan kekuatan sebenarnya dari pasukan aliansi!"
Setelah selesai berpidato, Putri Catulus berbalik, menatap lurus ke arah ku, lalu ia menunjuk ku dengan jari telunjuk nya. "Apakah kau manusia!? Merencanakan sesuatu hingga mengorbankan nyawa orang lain! Itu bukan hal yang bisa di lakukan seorang manusia! Siapa kau!?" Kata nya dengan wajah serius.
Melalui kata-kata nya, para komandan menatap ku dengan tatapan dingin.
"Haaaah," Aku menghela nafas. "Baguslah kalian menemukan solusi nya." Dengan begitu, aku keluar dari tenda. Saat di luar tenda, Natasha melihat ku dengan wajah khawatir. "Ayo pergi Natasha." Kata ku.
"Kau tidak apa-apa Mira?" Tanya nya dengan khawatir.
"Ya. Aku tidak apa-apa, hanya saja..."
"Hanya saja...?"
Aku hanya, menemukan sesuatu yang menarik. Pikir ku dengan tenang... Ternyata itu rencana mu, Putri Catulus, membuat ku terlihat seperti pembunuh kejam di depan para komandan.
Author's Note.
Jika ada salah kata, lapor di kolom komentar.