From Mage Became Princess

From Mage Became Princess
Chapter 204 Sihir penghakiman (Judgment)



Mendengar peekataan pelayan, Rosa dan Yuri sedikit terkejut. Mereka ingin bertanya 'Mengapa ayah memanggil kami?' Tetapi pelayan menyuruh mereka untuk bergerak cepat, mereka pun tidak sempat untuk bertanya.


Rosa bangkit dari kasur nya, meletakkan kaki nya di lantai, kemudian ia berdiri. Saat ia berdiri tegak, ia sedikit sempoyongan. Rosa pun segera di bantu Yuri yang ada di samping nya.


"Kak Rosa tidak apa-apa?" Tanya Yuri khawatir.


"Tidak apa-apa,"Jawab Rosa. "Hanya sedikit lemas."


Rosa membetulkan postur tubuh nya, dan akhir nya bisa berdiri tegak.


"Kalau begitu, mari berangkat." Kata Pelayan membuka pintu.


Rosa mengenakan sepatu yang ada di dekat kasur, setelah itu ia dan Yuri berjalan berdampingan menuju pintu kamar yang sudah di buka oleh pelayan. Saat mereka sudah di luar kamar, pelayan segera keluar, menutup pintu dan mengantar Rosa dan Yuri pergi ke ruang tahta.


Mereka bertiga jalan di lorong istana yang megah. Langkah kaki menggema di sekitar lorong.


Pelayan berjalan di depan, Rosa dan Yuri berjalan berdampingan di belakang pelayan.


Saat mereka berjalan, Rosa dan Yuri menyadari ada sesuatu yang aneh di istana. Para penjaga lebih banyak berjaga di istana, dan juga mereka lebih waspada dari biasa nya. Bahkan ada para ksatria yang berpatroli. Biasanya mereka berpatroli di sekitar kota, tetapi mereka sekarang di tumpuk di istana.


"Apakah terjadi sesuatu?" Kata Yuri pada Rosa.


"Entahlah..... Apakah terjadi sesuatu di istana?" Kali ini Rosa yang bertanya. Tapi tidak pada Yuri, tetapi pada pelayan yang mengantar mereka.


"......"


Pelayan tidak menjawab, hanya berjalan di lorong mengantar mereka berdua ke ruang tahta. Karena merasa di abaikan Rosa menjadi jengkel, kemudian dengan suara yang agak tinggi Rosa berkata pada pelayan.


"Kau tidak sopan," Kata Rosa kepada pelayan dengan nada yang menandakan kalau dia marah. "Seorang Putri bertanya kepada pada mu!"


"Ini perintah Yang Mulia, walaupun anda seorang putri kerajaan, anda tidak bisa melawan perintah Yang Mulia. Jika anda masih mencoba mengancam saya, saya akan melaporkan ini pada Yang Mulia."


"Ayah tidak mungkin melakukan apapun pada kami!" Kali ini Yuri yang berkata karena jawaban yang tidak sopan yang di keluarkan oleh pelayan.


"Kalau itu, coba kalian ingat apa yang terjadi pada Putri Mira."


Yuri dan Rosa terdiam mendengar jawaban dari pelayan.


"Putri Mira membuat Yang Mulia marah, dan dia di usir dari kerajaan." Sambung pelayan.


"Itu karena Ayah marah kan, saat ini ayah tidak marah pada kami." Kata Rosa.


"Yang Mulia saat ini sedang marah. Bahkan amarah beliau saat ini melebihi saat kasus Putri Mira dulu. Jadi saya mohon ikuti saya dan jangan banyak bertanya."


Mendengar jawaban pelayan Rosa dan Yuri pun terdiam dan tidak lagi bertanya. Hanya saja ada yang mengganggu pikiran mereka berdua saat mendengar jawaban dari pelayan barusan.


Ayah sedang marah!? Pikir Yuri dan Rosa.


Apa sedang terjadi sesuatu? Pikir Rosa. Di lihat dari penjagaan ketat istana, pasti telah terjadi sesuatu yang gawat sekarang.


Apa ini? Pikir Yuri. Perasaan ku tidak enak. Aku merasa khawatir pada Mira. Apakah alasan kami di panggil karena Mira membuat masalah lagi kali ini?


Mereka terus berjalan, lalu mereka melewati kamar Mira. Yuri berpikir, Pelayan akan masuk ke sana dan memanggil Mira. Apakah Mira sudah di panggil duluan?


"Bagaimana dengan Mira? Dia sudah pergi ke ruang tahta?"


"......"


Karena pelayan memilih tetap diam, Yuri pun memutuskan untuk bertanya lebih lanjut. Mereka terus berjalan di tengah lorong di sambil di ikuti suara langkah kaki mereka.


Beberapa menit kemudian, akhir nya mereka sampai di depan pintu ruang tahta, pintu besar terpampang besar, dan sangat berat, hanya lima orang berotot besar yang bisa mendorong pintu ini. Pintu di desain seperti itu, agar orang asing tidak bisa memasuki ruang tahta, hanya yang di beri izin saja yang bisa masuk kesana. Tetapi kali ini berbeda, ada sepuluh penyihir yang berjaga di sana, dan ada lingkaran sihir besar yang menghiasi pintu ruang tahta.


Pengamanan nya lebih ketat dari biasanya.


Pelayan mengangguk kepada penjaga pintu.


Mereka balas mengangguk.


Kemudian para penyihir mengucapkan mantra, yang membuat lingkaran sihir menghilang. Lalu kelima orang berotot melakukan tugas nya, mereka mendorong pintu hingga terbuka. Saat pintu menunjukkan celah kecil, pelayan masuk, di ikuti Rosa dan Yuri.


Saat mereka di dalam, penjaga pintu di dalam ruang tahta menutup pintu dengan suara keras hingga menggema di ruang tahta.


Rosa melihat sekeliling. Bangsawan, perdana menteri, para istri, dan para Putri berkumpul. Ayah Rosa sang raja duduk di singgassana nya dengan tatapan tajam. Mata emas nya sedikit bercahaya. Semua orang ada di sini, kecuali dua.


"Ratu dan Mira tidak ada." Kata Rosa kepada Yuri.


Yuri mengangguk kemudian mereka, berkumpul di barisan para Putri.


Pelayan yang mengantar mereka pergi ke barisan pelayan di ujung ruangan.


Perdana menteri yang di samping raja, menyuruh hadirin untuk berlutut. Semua nya pun berlutut.


"Baiklah." Kata Raja, kerajaan Fantasia, Charlesius Rudolf Graham Fantasia. "Apakah kalian tahu kenapa kalian aku mengumpulkan kalian di sini?" Kata nya dengan suara berat dan dingin. Hanya ada amarah di dalam suara nya. Dia menatap tajam kepada seluruh orang yang hadir.


"Kami tidak tahu Yang Mulia." Kata semua orang.


"Lalu, apakah kalian tahu kemana Carla dan Mira?"


"Tidak tahu Yang Mulia."


"Aku mengetahui apa yang terjadi di kerajaan ku. Terdapat Faksi pendukung ke lima anak ku sekarang. Dan Faksi pendukung paling besar adalah Faksi pendukung Mira, itu pasti menyebabkan faksi pendukung lain cemburu, dan merencanakan sesuatu di balik layar. Sampai sini kalian faham apa yang ku maksud?"


"......." Semua orang terdiam, bukan karena mereka tidak tahu apa yang di maksud Raja. Mereka sangat faham apa yang dia maksud.


"Yang ku maksud. Pasti ada yang akan mengirim pembunuh pada Mira untuk menjatuhkan dia dari kandidat pewaris tahta. Dan itu sekarang terbukti. Ke tidak hadiran Carla dan Mira, adalah bukti dari perkataan ku....... Kalian tahu apa yang ku maksud kan?"


"......." Mereka semua terdiam lagi.


"Mereka berdua di culik! Dan pelaku nya pasti di antara kalian semua. Sekarang aku akan mengadili kalian! Jika seseorang terbukti bersalah, kalian akan langsung ku eksekusi di tempat. Tidak peduli siapapun itu!"


Setelah Raja mengatakan itu, lingkaran sihir besar muncul di lantai ruang tahta.


"Dengan nama ku, Raja kerajaan Fantasia. Charlesius Rudolf Graham Fantasia. Aku memerintahkan semua energi sihir di sekitar ku dan energi sihir di dalam tubuh ku, beri aku kekuatan! Judgment!"


Lingkaran sihir berwarna putih pucat berubah menjadi warna emas. Ini adalah sihir khusus yang turunkan dari leluhur kerajaan Fantasia, yang di sebut (Judgment). Ini adalah sihir penghakiman seseorang, siapa pun yang masuk kedalam lingkaran sihir (Judgment) mereka akan menjawab pertanyaan dari sang Raja dengan jujur. Jika mereka berbohong mereka akan mati. Sihir ini hanya bisa di gunakan dalam waktu sekali dalam sepuluh tahun. Karena itu, sihir ini tidak akan di gunakan oleh Raja kecuali dalam keadaan darurat seperti ini. Yang di mana sekarang, Ratu dari kerajaan Fantasia dan kandidat paling kuat penerus tahta sedang di culik. Karena itulah Charles memutuskan untuk menggunakan sihir ini.


"Sekarang kalian semua, berikan jawaban yang ku inginkan!" Kata Raja kerajaan Fantasia dengan suara berat dan dingin.