
Di ruang rapat, para bangsawan berkuasa di kerajaan Fantasia sedang duduk di meja bundar. Mereka tentu saja mendiskusikan mengenai penyerahan tahta kepada Yuri. Sebenarnya tahta sudah pasti di serahkan kepada Yuri, hanya ada satu masalah saat ini yang sedang terjadi. Yaitu pasangan Yuri, Jack yang keberadaan nya juga tidak di ketahui setelah perang melawan pasukan Demon. Kerajaan Fantasia dari generasi ke generasi selalu di pimpin oleh seorang raja, memang ada beberapa generasi sebelum nya raja Fantasia tidak memiliki putra mahkota dan menyerahkan tahta nya ke putri nya. Tetapi pada saat itu setelah penyerahan tahta, putri itu langsung menikah dengan keluarga Duke, dan Duke itulah yang menjabat sebagai raja dalam memimpin negara (Walaupun Duke yang menjadi raja, kepemimpinan tertinggi tetap di pegang oleh istri nya yang seorang keturunan langsung dari raja sebelum nya) hingga mereka melahirkan seorang putra dan menyerahkan tahta langsung kepada putra mereka saat putra mereka berumur tujuh belas tahun. Dan kejadian Yuri saat ini tidaklah sama.
Yuri tidak memiliki tunangan, sehingga jika tahta di serahkan, otomatis kerajaan Fantasia akan di pimpin oleh seorang ratu, yang di mana itu tentu saja berlawanan dengan tradisi yang sudah berjalan dari dulu. Sehingga para bangsawan kolot yang masih berpegang dengan tradisi lama ingin Yuri memilih tunangan pengganti Jack untuk meneruskan tradisi itu, tidak ingin kerajaan di pimpin oleh seorang ratu.
Walaupun begitu, Carla dengan segala upaya dapat menentang bangsawan itu dan menentukan kalau Yurilah yang akan mengambil tahta secara sah walaupun ia tidak bertunangan dengan siapapun. Dengan begitu rapat pun berlanjut ke acara penyerahan tahta yang di rencanakan akan di laksanakan pada besok lusa. Sebenarnya Carla ingin menyerahkan tahta siang ini juga, tapi melihat kondisi Yuri saat ini, ia memutuskan memberi Yuri waktu untuk menenangkan diri. Bahkan saat ini orang yang di bicarakan tidak hadir saat rapat, setelah pemakaman ia langsung pergi ke kamar nya dengan wajah di penuhi dengan air mata, membuktikan seberapa terguncang nya ia saat ini.
***
"Nina. Carla harus segera kita singkirkan."
"...."
Lina, ibu Nina datang ke kamar Nina setelah rapat selesai langsung mengatakan hal itu kepada nya setelah ia menutup pintu rapat-rapat, mencegah suara nya keluar ruangan. Nina yang mendengar usulan ibu nya yang tiba-tiba itu hanya bisa terdiam melihat ke arah ibu nya dengan wajah terkejut.
"Kenapa kau tidak mengatakan apapun?" Tanya Lina, saat melihat anak nya terdiam membisu saat ia mengusulkan untuk menyingkirkan Carla kepada anak nya.
"Ah... Tidak. Aku terkejut dengan perkataan ibu yang sangat tiba-tiba... Boleh aku bertanya, mengapa kita harus melakukan nya?"
"Dia mencurigai gerak-gerik kita. Aku yakin! Aku dapat tahu dari cara dia melihat ku!"
Lina tentu saja menghadiri rapat untuk membahas penyerahan tahta kepada Yuri, walaupun selama rapat ia tidak mengatakan apapun, tetapi perilaku ini mengundang kecurigaaan Carla kepada nya. Pada saat rapat berakhir, Carla mendekati Lina, melontarkan pertanyaan dengan suara pelan, sambil menatap nya dengan tatapan di penuhi kecurigaan. 'Kau nampak tenang hari ini Lina, apakah kau sudah menyerah untuk merebut tahta dari Yuri?' Kata-kata itulah yang di bisikkan Carla kepada nya. Lina menjawab pertanyaan ini hanya dengan mengatakan, 'Yang mulia sudah menentukan kepada siapa ia akan menyerahkan tahta, apapun yang ku katakan sekarang itu tidak akan merubah apapun. Malahan aku akan terlihat seperti pembangkang jika aku tetap bersikeras melakukan hal itu.'
Carla tidak mengatakan apapun setelah itu, Lina pun langsung mengambil langkah mundur, pergi dari ruang rapat menuju kamar anak nya.
"... Begitu ya..." saat mendengar perkataan ibu nya mengenai Carla yang mencurigai mereka, Nina hanya bisa memasang wajah masam. Jelas tidak senang dengan situasi saat ini. Jika Nina tidak di berikan instruksi oleh orang yang baru saja datang ke kamar nya, ia akan setuju dengan usulan ibu nya dan menyusun rencana untuk menyingkirkan Carla, tetapi karena ia telah di berikan instruksi lanjut dari orang yang baru saja di temui nya, Nina pun memikirkan cara lain untuk menghindari kecurigaan Carla.
"Untuk saat ini, kita akan menunda rencana kita sampai tahta di serahkan kepada Yuri. Dan untuk usulan ibu barusan aku akan mendiskusikan hal itu lebih lanjut dengan dia."
Mendengar kata 'dia' dari mulut Nina, Lina langsung tahu siapa yang di maksud oleh anak nya.
"Begitu ya... Apakah dia baru saja mengunjungi mu?"
"Ya. Dia baru saja pergi."
"Ya... Rencana nya tidak ada celah sama sekali, aku yakin kita dapat merebut tahta dengan mudah."
"Kalau begitu, bisa kau katakan padaku apa yang baru saja dia katakan padamu?"
"Baiklah."
Nina pun mengatakan rencana yang baru saja ia dengar dari orang yang baru saja mengunjungi nya.
***
Di kamar nya, Yuri baring di kasur sembari menekan wajah nya ke bantal nya, walaupun suara nya teredam oleh bantal, dapat terlihat jelas kalau saat ini ia sedang menangis. Air mata nya membuat bantal nya basah, waktu sudah berlalu cukup lama, tetapi tidak ada tanda ia akan berhenti menangis. Akibat terlalu lama menangis, mata nya menjadi membengkak dan suara nya menjadi serak.
"tok, tok, tok..." saat di tengah tangis nya, suara pintu di ketuk dari luar kamar terdengar. Yuri tidak menanggapi nya, masih terus menangis sambil memendam wajah nya ke bantal. Setelah beberapa detik ketukan terdengar, akhir nya suara yang memanggil nama nya pun terdengar dari luar kamar nya. "Yuri... Bisa kita bicara sebentar...?"
Suara seorang wanita yang sangat Yuri kenal, sosok ibu kedua bagi Yuri dan ibu kandung dari adik nya, Mira, pemilik suara itu tidak lain dan tidak bukan adalah Carla. Biasa nya jika Carla mengetuk pintu kamar nya, ia akan segera membukakan pintu dan membiarkan Carla masuk. Tetapi saat ini ia tidak menanggapi suara itu dan sepenuhnya mengabaikan nya.
Carla pun terus memanggil nama Yuri hingga akhir nya satu menit pun berlalu, Carla yang habis kesabaran nya menunggu respon dari Yuri membuka pintu perlahan, kemudian ia menengok dari celah pintu ke arah kasur Yuri. Saat melihat Yuri masih terus menangis, Carla pun masuk kedalam kamar lalu berjalan ke samping kasur Yuri.
"Yuri..."
"...."
Carla sekali lagi memanggil nama Yuri dengan lembut, tetapi Yuri mengabaikan nya. Pada titik ini Yuri sudah berhenti menangis, walaupun begitu ia tidak ada tenaga untuk menanggapi perkataan Carla.
"... Maaf. Bisakah ibunda tinggalkan aku sendiri..."
Setelah lama keheningan, akhir nya Yuri berbicara dengan suara serak, meminta Carla untuk pergi dari kamar nya. Tetapi Carla tidak menjawab permintaan Yuri, ia hanya terus berdiri. Setelah Yuri mengatakan itu, sekali lagi suasana menjadi hening, tidak ada di antara mereka yang mengatakan sesuatu.
".... Yuri... Kau tidak bisa memendam semua masalah itu sendiri, jika kau ada masalah, kau harus mengungkapkan nya... Bicaralah pada ku... Walaupun aku tidak yakin aku dapat membantu mu..."
Carla sekali lagi berbicara pada Yuri dengan suara lembut, ia duduk di kasur sembari mengelus-ngelus kepala Yuri, berusaha menenangkan nya.