
Dara terkejut melihat lukisan yang saat ini ada di depannya, itu adalah lukisan mereka berdua.
"Kai...." ucap Dara menatap tidak percaya pada kekasihnya.
"Apa lukisannya bagus?" tanya Kai
"Luar biasa, kau sangat pandai melukis" ucap Dara dengan takjub.
"Ya, aku memang suka melukis saat ada waktu senggang. Tapi aku tidak bisa mengatakan aku luar biasa" ucap Kai.
"Tapi menurutku kau luar biasa" ucap Dara tersenyum.
"Kalau begitu bisa kau memberikanku hadiah sebuah pelukan dan ciuman?" ucap Kai merentangkan tangannya.
Hal itu tentu saja membuat Dara malu, ia tidak menyangka Kai yang sangat dingin itu berubah menjadi manja dan tidak malu-malu lagi saat bersamanya.
"Kenapa sekarang kau jadi manja dan mesum begini?" ucap Dara
"Aku seperti ini hanya di depanmu, babe. Cepatlah aku ingin memelukmu" ucap Kai
"Ya Tuhan...." ucap Dara terkekeh, namun ia juga tetap memeluk dan mengecup pipi Kai singkat.
"Hei, itu bukan ciuman, itu tidak di hitung. Aku ingin di cium di sini" ucap Kai menunjuk bibirnya.
"Tidak mau! Kamu pasti lama" ucap Dara menolak.
"Tidak lama, hanya sebentar Babe, ayolah" ucap Kai.
Entah Dara harus tertawa atau menangis, ia jadi penasaran siapa yang mengajari cowok dingin kaku seperti Kai, jadi sec*bul ini.
Cup!
Dara memberanikan diri mengecup bibir Kai, tentu saja Kai tidak akan melepaskannya. Dia tersenyum di sela ciuman mereka, siapa suruh bibir kekasihnya selalu menggoda. Mana bisa ia tahan untuk tidak menciumnya.
"Astaga aku malu Kai. Kau bohong, sebentar apanya itu lama" ucap Dara menutup wajahnya membuat Kai terkekeh dan memeluk kekasihnya itu.
Saat mereka tengah bermesraan, telepon Kai bunyi, itu membuatnya berdecak kesal. Itu telepon dari pangkalan, sudah pasti ada sesuatu yang mengharuskan ia pergi.
"Jam berapa?" ucap Kai saat menjawab telepon itu.
"......."
"Siap!" ucap Kai lagi.
Setelah menutup teleponnya, Kai menyenderkan kepalanya ke bahu Dara. Dara menepuk pelan kepala kekasihnya itu.
"Kenapa" tanya Dara, ia seakan tidak tahu apa yang di bicarakan di telepon.
"Aku harus pergi bertugas" ucap Kai, ia memeluk kekasihnya sekarang.
"Pergilah" ucap Dara
"Maafkan aku, pekerjaanku sangat banyak belakangan ini" ucap Kai merasa tidak enak harus meninggalkan Dara lagi.
"Tidak apa-apa aku mengerti, aku juga lupa bilang. Kalau besok aku dan adik-adikku akan pergi ke kota S" ucap Dara
"Untuk apa?" tanya Kai terkejut
"Liburan, aku akan pulang ke keluarga ku. Aku tidak bisa membatalkannya karena sudah janji sebelumnya. Mereka adalah keluargaku dan aku juga ingin menghabiskan waktu dengan mereka" ucap Dara.
"Maaf aku tidak bisa menemanimu" ucap Kai tidak enak.
"Tidak apa-apa, bekerja lah yang rajin Demi masa depan kita nanti" ucap Dara
"Masa depan kita?" ucap Kai tersenyum mendengar itu
"Eh....." ucap Dara sadar salah bicara dan terdiam.
"Tentu, aku akan bekerja keras untuk masa depan kita, agar kita bisa segera menikah nanti" ucap Kai.
"uhuuukkk" Dara langsung tersedak saat mendengar itu.
"Hati-hati..." Kau mengusap punggung Dara.
"Apa kau akan berangkat sekarang?" tanya Dara
"Hmm, sebenarnya aku akan berangkat sore. Tapi mama meminta ku pulang dulu ke mansion. Apa kamu mau ikut?" tanya Kai.
"Tidak sekarang, aku malu kalau harus bertemu keluarga mu. Aku belum siap, Aku juga harus menjemput Alan di akademi" ucap Dara
"Hmm baiklah, aku tidak akan memaksamu. Ayo kalau begitu aku antar pulang sekalian" ucap Kai
"Hmm" Dara mengangguk.
....
Setelah Kai mengantarnya pulang, Dara pun bersiap menjemput Alan dengan Agam dan kedua adiknya. Mereka akan temu kangen setelah beberapa bulan tidak bertemu.
"Kamu bertambah tinggi dan tampan" ucap Dara saat memeluk adiknya itu.
"Tentu dong, masa kecil Mulu he-he" ucap Alan terkekeh.
"Ayo pulang, kita makan malam bersama" ucap Dara
"Ayo, aku sudah rindu masakan rumah" ucap Alan antusias.
Mereka kemudian pulang dengan di iringi obrolan yang renyah di dalam mobil. Alan terkejut saat adik-adiknya mengatakan kalau mereka sudah punya kakak ipar yang tampan dan hebat. Jadi ia penasaran ingin bertemu dengan yang mereka sebut kakak ipar itu.
.....
"Anak nakal, inget pulang kamu!" suara yang melengking dan menggelegar di telinga Kai saat ia masuk ke kediaman keluarga besar Narendra.
Wanita paruh baya yang terlihat cantik tengah berdiri di depannya dan bertolak pinggang, menatap ke arah Kai yang baru saja datang. Ada tatapan kesal dan juga rindu di sana, itu tak lain dan tak bukan adalah Ibunya Kai. Nyonya Sri Hesti Narendra atau yang biasa di panggil mama Hesti.
"Hmm..." Kai hanya menanggapinya dengan dehaman dan mengangguk, lalu menghampiri ibunya itu untuk mencium tangannya sopan.
"Ha Hem ha Hem, yang panjangan dikit Napa kalau ngomong Kai" ucap Hesti kesal.
"Iya ma" ucap Kai
"Au ah, kesel lama-lama ngomong sama kamu, kalau mamah nggak nyuruh kamu pulang. Kamu nggak akan pulang, heran mamah sama kamu, apa nggak kangen sama mama.... Bla.... Bla...." Hesti mengoceh panjang kali lebar.
Kai hanya diam mendengarkan tanpa memotong ucapan mamanya itu. Ia mendengarkan ocehan mamanya yang sudah lama tidak ia dengar.
"Hah capek ngoceh terus. Ayo duduk dulu!" ucap Hesti saat puas mengoceh sampai lupa mereka masih berdiri.
"Libur berapa hari kamu? Nginap di sini! Kita makan malam bersama nanti" ucap Hesti
"Sore harus balik" Jawab Kai
"Astaga, ini udah jam 3 lebih, berarti kamu cuma sejam di sini?" tanya Hesti kesal, Kai hanya mengangguk.
Putranya itu sangat jarang pulang, sekalinya pulang hanya satu atau dua jam saja di sana.
"Mama akan protes ke papa kamu, kenapa kamu di kasih pekerjaan yang padat begitu!" ucap Hesti marah.
"Sudah kewajiban Kai mah" ucap Kai.
"Tahu! Tapi kan kamu bukan robot, mama juga kangen sama putra mama satu-satunya ingin ngobrol dan ketemu yang lama" ucap Hesti kesal, Kai hanya diam tidak berkomentar.
"Setelah selesai tugas kamu harus pulang dan menginap di sini!" ucap Hesti
"Maaf mah, nggak bisa" ucap Kai
"Alasan apa lagi sekarang?" tanya Hesti, anaknya itu sering kali menolak untuk pulang.
"Aku akan ke Kota S setelah tugas selesai" ucap Kai
"Kota S? ngapain?" tanya Hesti penasaran
"Ketemu pacar" ucap Kai dengan bibir menyunggingkan senyum.
Hesti di buat melongo karenanya, Putranya senyum? Astaga, Hesti heboh sendiri dalam hatinya. Ia tidak menyangka putranya yang dingin dan kaku seperti sapu ijuk itu bisa tersenyum.
Hesti juga terkejut saat Kai mengucapkan kata pacar. Apa ini hanya pengalihan saja atau benar-benar punya pacar? Hesti bertanya-tanya.
"Pacar? Jangan bercanda kamu, emang mama bisa di bohongi! Kamu bilang gitu karena nggak mau mama kenalin ke anak teman-teman mama kan?" ucap Hesti menatap curiga.
"Aku serius, aku punya pacar! Jadi jangan jodoh-jodohin Kai lagi mah" ucap Kai serius.
"Kalau begitu kenapa nggak pernah di bawa pacar kamu ke sini? Kamu ke kota S, emang pacar kamu orang sana?" tanya Hesti masih tidak percaya.
"Aku baru jadian mah, dia masih malu. Dia ke kota S mau bertemu keluarganya, dia tinggal di ibukota kok" ucap Kai
"Kalau gitu mana fotonya? mama mau lihat!" ucap Hesti.
"Foto?" Beo Kai.
Astaga, Kai benar-benar lupa. Karena dirinya sangat jarang foto, Ia paling berfoto saat akan mengirimkannya ke Dara. Jangankan memiliki foto bersama dengan Dara. Foto Dara sendirian aja dia tidak punya.
"Kai belum foto" ucap Kai menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Tuh kan kamu pasti bohong" cebik Hesti
"Serius mah" ucap Kai.
"Mama nggak percaya kalau kamu nggak bawa pacar kamu ke rumah. Bawa pacar kamu ke sini!" ucap Hesti.
"Hah.... Baiklah, terserah mama aja!" ucap Kai
...•••••••...