The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
245. Jawaban Flo



Flo menghela nafasnya, ia mengumpulkan keberanian untuk mengatakan sesuatu pada Lingga. Melihat tatapan mata Lingga yang berharap padanya membuatnya merasa goyah.


"Aku kalah, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Aku rasa aku juga memiliki perasaan yang sama denganmu" ucap Flo dalam satu tarikan nafas.


Mendengar itu tentu saja Lingga merasa senang, senyum di wajahnya mengembang sempurna. Mimpinya menjadikan Flo sebagai istrinya tepat di depan mata.


"Tapi aku tidak bisa menjalin hubungan denganmu, maafkan aku" lanjut Flo lagi.


Senyum di wajah Lingga tiba-tiba luntur seketika saat mendengar lanjutan ucapan Flo, ia menatap Flo dengan tatapan penuh penjelasan.


"Apa karena masa lalumu? Bukankah aku tidak mempermasalahkan tentang itu. Kita saling mencintai satu sama lain, apa yang membuatmu ragu? Aku akan membuktikan kesungguhan ku" tanya Lingga


Flo terlihat bingung menjelaskan jika mereka berdua berbeda, entah ia harus mengatakannya dari mana.


"Kita berbeda Lingga, kitavtidak bisa bersama" ucap Flo.


"Berbeda gimana? Status sosial? Ayolah sayang, bukankah kau sudah tahu kalau Keluargaku tidak memandang itu semua. Apalagi mama begitu menyukaimu, bahkan mama sudah menganggap kamu calon menantu perempuannya" ucap Lingga.


"Bukan itu..." ucap Flo menghela nafas


"Lalu?" tanya Lingga lagi.


"Aku seorang kultivator, aku bukan manusia biasa Lingga. Kita berbeda" ucap Flo sejujurnya.


"Pffftt... Bercanda kamu nggak lucu sayang, mana ada kultivator di dunia ini. Kamu terlalu banyak membaca novel fantasi" ucap Lingga terkekeh.


TAK!!!


PRANG!!!


Tiba-tiba Gelas melayang di udara tepat di depan Lingga kemudian pecah, hal itu tidak lepas dari pandangan Lingga yang terkejut dan mengerjapkan matanya tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Lihatlah!!! Sudah aku bilang kalau aku seorang kultivator, sedangkan kamu manusia biasa Lingga. Aku memang menyukaimu, tapi kita berbeda" ucap Flo


Lingga masih terdiam mencerna semuanya dengan otaknya. Jika tidak melihatnya sendiri, ia tidak akan percaya dengan yang di katakan Flo, seolah itu hanya candaan atau alibi untuk menolaknya.


Melihat Lingga terdiam cukup lama, Flo menutup matanya sejenak dan menghela nafasnya. Ia sudah memikirkan ini, memikirkan jika tidak mungkin Lingga tetap ingin bersamanya setelah mengetahui semuanya.


Setelah tahu jika dirinya tidak sama seperti manusia pada umumnya. Namun ucapan Lingga membuat Flo terhenyak.


"Lalu kenapa? Itu tidak akan membuat keinginanku untuk menikahimu padam Flo" ucap Lingga setelah kesadarannya pulih.


"Kau tahu, Kultivator memiliki usia yang panjang dan juga penuaan yang melambat. Apa kau tidak melihat ke masa depan, jika aku akan terus berpenampilan seperti ini sedangkan kamu berubah sepanjang waktu sesuai usiamu?" ucap Flo


"Terus? Aku tidak peduli, bukankah bagus jika kamu terus awet muda? Bahkan mama ku terlihat seumuran denganku berkat pil dari Dara. Eh, tunggu.... Dara? Pil?" ucap Lingga tiba-tiba teringat Dara, ia kemudian menoleh ke arah Flo.


"Apa Dara juga sama sepertimu? Maksudku dia juga seorang kultivator?" tanya Lingga.


Ia baru menyadari jika Dara berbeda dari gadis pada umumnya, ia gadis yang kecantikan di luar nalar. Bahkan memiliki keahlian meracik obat yang sangat mustahil ada di dunia kedokteran.


"Aku tidak bisa mengatakannya" ucap Flo


Flo tidak berkewajiban membicarakan tentang nonanya, meskipun itu dengan Lingga sekalipun. Namun Lingga sudah yakin dengan jawabannya.


"Benar bukan? Lalu apa bedanya aku dengan Kai. Kita berdua sama-sama mencintai seseorang kultivator, tapi lihat mereka berhubungan dengan sangat rukun dan saling mencintai. Apalagi mereka mau menikah bukan? Kita juga bisa seperti mereka" ucap Lingga.


"Kasus kita jelas beda dengan mereka" ucap Flo


"Apa yang beda? Bukankah kamu terdengar mencari alasan agar kita tidak bersama?" ucap Lingga.


"Kamu bisa menanyakan langsung pada Nona ataupun tuan muda Kai, kenapa mereka bisa bersama" ucap Flo


"Itu bukan ranahku" ucap Flo.


Akhirnya Lingga mengalah, ia langsung mengambil ponselnya dan mencoba menelepon Kai, namun beberapa kali ia telepon tidak di jawab. Lingga pun mencoba menelepon Dara sebagai gantinya.


Setelah beberapa kali dering akhirnya teleponnya di angkat, suara Dara terdengar di ujung sana. Lingga berbasa-basi sebentar sebelum ia menanyakan tentang hubungannya dengan Kai. Lingga juga mengatakan jika ia sudah mengetahui jika Flo adalah seorang kultivator.


Ia menanyakan kondisi apa yang membedakan antara dia dan Kai. Namun jawaban Dara sungguh membuat Lingga tercengang, bagaimana mungkin itu bisa terjadi?


"Aku dan Kai sama-sama seorang kultivator" Begitu ucapan Dara yang ia dengar. Sungguh sebuah fakta membangongkan bagi Lingga dan membuatnya sangat terkejut.


Saat ia menanyakan bagaimana bisa Kau juga seorang kultivator. Dara memintanya untuk menanyakan sendiri pada Kai.


Flo hanya melihat Lingga mematikan teleponnya dengan tatapan bingung lalu menyugar rambutnya dan menghela nafas.


Tiba-tiba saja ia memeluk Flo membuat tubuh Flo menegang. Ia tidak mampu tidak membalas pelukan Lingga, karena ia berpikir sekarang Lingga sudah menyerah.


"Aku akan menjadi kultivator juga, tolong bimbing aku" ucap Lingga.


Hal itu membuat Flo terkejut dan melepaskan pelukan itu.


"Apa kau gila? Apa menurutmu menjadi kultivator semudah itu? Kau akan mempertaruhkan nyawamu, Lingga" ucap Flo sedikit meninggi


"Aku tidak peduli, aku akan berusaha untuk menjadi kultivator" putus Lingga


"Tapi aku peduli!!! Aku tidak ingin kamu kenapa-napa, aku tidak ingin kamu terluka bahkan sampai kehilangan nyawa! Apa kamu tidak mengerti??" ucap Flo.


Tes!


Setetes air mata keluar begitu saja dari mata Flo, tentu saja Flo sangat tahu betapa sulitnya menjadi kultivator. Ia masih teringat rasa sakit yang ia rasakan saat membuka titik Meridiannya, saat itu ia hampir saja menyerah. Namun janji dan tekadnya pada Dara membuatnya bertahan hidup.


Yang tidak Flo ketahui, bahwa keluarga Narendra adalah keluarga keturunan langsung kultivator. Di mana mereka memiliki tubuh kultivator dan tidak akan begitu menyakitkan saat membuka Meridian di tubuhnya.


Mereka tak sama seperti manusia biasa, manusia biasa saat membuka Meridiannya akan merasakan puluhan kali lebih sakit dari mereka.


Hanya saja, bakat Lingga tidak sebaik Kai, juga tubuh Lingga tidak terbiasa dengan pertarungan. Lingga hanya terbiasa dengan olah raga, namun tidak dengan seni beladiri.


Lingga yang melihat air mata Flo jatuh, hatinya merasa sakit. Ia menarik Flo ke dalam pelukannya, ia sungguh tidak bisa melihat Flo menangis.


"Jangan menangis aku mohon, maafkan aku jika aku menyakitimu Flo. Tapi aku tetap ingin mengambil resiko untuk itu, karena aku tidak ingin kehilanganmu, aku mencintaimu nyaris gila. Aku tidak pernah merasakan hal ini sebelumya, hanya kamu satu-satunya wanita yang ingin ku nikahi dan memberikan semua yang aku punya demi kebahagiaanmu" ucap Lingga.


Mendengar itu sungguh Hati Flo terenyuh, ia tidak ingin melihat Lingga kesakitan kerena berusaha menjadi kultivator. Jadi ia mengambil keputusan lain.


"Ayo kita pacaran, tapi aku tidak ingin kamu menjadi kultivator. Aku tidak ingin kau terluka apapun alasannya, bagaimana dengan itu?" ucap Flo


Lingga melepaskan pelukannya dan tersenyum manis menatap gadis yang sudah resmi menjadi kekasihnya itu.


"Sungguh?" tanya Lingga


"Hmm" Flo menganggukkan kepalanya.


"Baiklah" ucap Lingga tersenyum dan mencium tangan Flo.


Ia mengatakan itu agar Flo tidak merasa khawatir padanya. Tentu saja Lingga diam-diam akan menanyakan ini pada Kai ataupun Dara, tentang bagaimana agar ia bisa menjadi seorang kultivator.


Keputusan Lingga tetap ingin menjadi kultivator. Ia ingin menua bersama dengan Flo dan memiliki keluarga bersamanya.


...••••••••l...