The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
287. Bertemu Zayn



Waktu berjalan dengan sangat cepat sekali, tidak terasa waktu magang Dara sudah tinggal hitungan hari. Setelah magangnya selesai, Dara akan kembali ke ibukota dan melakukan aktifitas seperti biasanya di sana.


Kai sudah kembali ke markas, ia sering bolak balik Ibukota-kota S menggunakan pintu teleport. Dara teringat beberapa waktu lalu saat Kai ada di kota S, Kai menjemput Dara membuat heboh semua orang di rumah sakit karena ketampanannya.


Bahkan banyak yang menyebut keduanya adalah pasangan syurga. Karena Kai memilih menunggu Dara di lobby, membuat banyak wanita tidak jelas jadi nangkring hanya sekedar lewat di rumah sakit.


Jadi Dara melarang keras Kai menunggunya dan hanya boleh mengantar dan menjemputnya sampai area parkir saja.


Sudah tiga Minggu Flo juga berada di negara J, ia memberi tahu Dara jika besok ia akan kembali ke ibukota. Ayumi sudah kembali sehat dan Flo memberikan pengertian pada mommynya jika ia akan kembali ke ibukota.


"Sayang, kamu libur kan hari ini?" tanya Ellena pada putri semata wayangnya itu.


"Iya mah, kenapa?" tanya Dara yang memang hari ini adalah hari liburnya.


"Temenin mama kumpul arisan yuk nanti sore!" ucap Ellena dengan sumringah.


"Masa Dara ikut sih mah, kan di sana ibu-ibu semua" ucap Dara cemberut.


"Nggak semuanya ibu-ibu kok sayang, mereka semua juga bawa anak gadis mereka. Kamu ikut yah plisss.... Tante Rose dan calon mantu mamah juga ikut, jadi kamu nggak kesepian di sana bisa bincang-bincang dengan calon kakak ipar kamu" ucap Ellena mencoba membujuk Dara.


"Arra ikut juga Mah?" tanya Dara


"Ikut dong sayang, biar makin klop gitu ma calon mertua" ucap Ellena terkekeh.


"Ya udah deh Dara ikut" ucap Dara mendengar Area ikut ia tidak masalah ikut juga.


"Nah gitu dong, itu baru anak mama yang paling cantik. Kan bisa pamer kalau putri mamah cantik jelita udah kaya bidadari nyasar ke kediaman Adi Raharjo" Ucap Ellena mencubit pipi Dara gemas. Dara sendiri hanya senyum saja mendengar ucapan Ellena.


"Kapan kak Revan lamar Arra Mah, denger denger kemarin ada yang ngomong soal lamaran?" tanya Dara


"Nggak tahu tuh kakak kamu, Lola banget jadi cowok. Kamu paksa aja gih biar cepet lamar tuh anak gadis orang biar nggak di embat cowo lain. Kan tahu sendiri kakakmu itu pemilih dan syulit jatuh cinta, kalau kali ini kalah start kan gawat" ucap Ellena bersungut menistakan putranya, saat mengingat putranya itu sangat pasif dan kaku pada hubungannya dengan Arra. Dara hanya terkekeh mendengar Ellena mengomel.


Revan yang awalnya anti wanita dan hanya dekat dengan Dara dan Ellena, memang sedikit kaku saat bersama dengan Arra. Meskipun begitu Dara yakin keduanya saling mencintai satu sama lain.


Untungnya Arra adalah tipe gadis penyabar dan juga sudah bucin dengan Revan yang super dingin itu sejak dulu. Jadi hubungan keduanya dalam keadaan normal dan baik-baik saja.


Meskipun dingin dan terkesan cuek, Revan memberikan perhatian dan cintanya lewat caranya sendiri. Ia adalah tipe cowok Tsundere, ia tipe dingin namun penuh penuh kasih sayang. Dan itu hanya ia tunjukan pada Ellena, Dara dan Arra.


Khusus dengan Arra, Revan mengungkapkannya saat mereka hanya berdua saja. Dan Arra yang sudah tahu sifat kekasihnya itu tidak masalah, justru ia senang dengan sifat Revan yang hanya hangat jika bersama dengan orang terdekatnya.


Karena dengan begitu, para cewek-cewek yang menyukainya mundur teratur atau tidak berani mendekat karena aura dinginnya itu. Jadi sudah pasti hatinya sudah terkunci dengan nama Arrabella Ephraim saja.


"Nanti Dara tanyakan ya mah. Tapi kan jangan terlalu di paksa, kan mama tau sendiri kalau Arra masih kuliah" ucap Dara


"Iya juga sih, tapi apa hubungan mereka baik-baik saja dengan sifat kakakmu yang dingin dan kaku begitu?" tanya Ellena takut dengan kisah percintaan putranya itu


"Jangan khawatir mah, mama tidak tahu aja betapa bucin dan hangatnya kak Revan kalau mereka tengah berduaan. Itu yang buat hubungan mereka adem ayem dan nggak pernah denger mereka nggak akur, Arra juga nggak mempermasalahkan itu kan?" ucap Dara


"Benarkah?" ucap Ellena terkejut.


"Bener mah..." ucap Dara meyakinkan Ellena.


"Bagus deh kalau gitu, Kamu mau kemana sekarang sayang? Kok udah rapih?" tanya Ellena melihat penampilan Dara yang sudah rapih dengan gaya casual.


"Mau jalan sama kak Bara mah, mau ke mall" ucap Dara


"Oh pantes tuh anak satu juga pagi-pagi udah rapih nangkring ngopi di depan tuh, samperin sana. Takut kesambet dia..." ucap Ellena membuat Dara terkekeh.


" Iya, hati-hati sayang, jangan lupa nanti jam tiga sore udah pulang ya. Acaranya jam 5 soalnya" ucap Ellena mengingatkan


"Oke mah" ucap Dara melambaikan tangan dan keluar dari mansion lalu menghampiri Bara.


.....


Dara sekarang sedang berkeliling mall bersama dengan Bara, sudah beberapa toko mereka singgahi. Hanya saja Bara belum menemukan sepatu yang cocok untuknya.


"Kak, emang cari sepatu model kaya gimana sih? Pegel tahu bolak balik beberapa toko nggak nemu-nemu juga" ucap Dara


"Nggak ada yang sreg Ra" ucap lirih Bara


"Kakak lebih ribet dari pada cewe bener deh. Perasaan Kai, Dimas sama Ryan nggak gini amat" ucap Dara


"Ya tiap orang beda neng, ya udah kalau capek kamu duduk di sana. Kakak ke toko itu bentar ya, jangan kemana-mana" ucap Bara


Dara hanya mengangguk, sebenarnya ia tidak capek berkeliling. Hanya saja Dara bosan dan capek lihat Bara kaya setrikaan bolak balik memilah sepatu, tapi ujung-ujungnya nggak jadi.


Saat menunggu Bara Dara melihat seseorang yang seperti nya familiar di tambah aura kultivator di sekeliling orang itu. Dara menaikan sebelah alisnya saat mengingat orang itu.


Zayn! Ya, orang itu adalah Zayn. Dia tengah jalan sembari di gandeng seorang wanita dengan pakaian kurang bahan dan masuk ke sebuah toko pakaian di depan tempat ia duduk.


Dara tidak menggubris pria yang di benci orang kepercayaannya itu. Hanya saja ia menangkap percakapan di antara mereka, karena jarak mereka tidak terlalu jauh. Meskipun Dara tidak ingin dengar, tapi telinganya tetap saja mendengarnya


"Yang ini bagus nggak?" ucap wanita itu


"Hmm..." Balas Zayn dengan malas. Terlihat jelas jika sangat tidak nyaman bersama wanita itu. Entah itu terpaksa jalan drngannya atau kenapa.


"Ihhh, jawabnya nggak niat banget sih Zayn" ucap Wanita itu kesal mendengar ucapan Zayn.


"Nggak usah banyak bacot! Tinggal belanja aja banyak ngomong malesin!" ucap Zayn yang sudah bangkit dari duduknya dan hendak pergi namun di tahan oleh wanita bernama Dinda itu.


"Kamu mau pergi kemana, selangkah kamu pergi aku bilang ke Tante kalau kamu ninggalin aku di sini. Kamu pasti sibuk cari tuh cewe asisten itu kan? Jangan pikir aku nggak tahu. Jangan berani ya Zayn, kalau nggak aku bakalan bilang ke ayah buat singkirin dia!!!" ucap Dinda dengan pelan hingga orang-orang di toko tidak bisa mendengar. Hanya saja pendengaran Dara sangat jelas mendengar itu semua.


"Jangan berani lu sentuh Flo!! Dia nggak ada hubungannya dengan ini" Ucap Zayn dengan menahan geram.


"Kenapa nggak berani? Dia udah buat tunangan gue berpaling, bahkan rela nyusulin beberapa kali bolak balik ke ibukota. Sadar Zayn, dia juga udah punya cowok. Apa sih hebatnya tuh asisten? Ingat Zayn, gue bisa aja nyuruh ayah cabut semua saham dari perusahaan milik lu. Dan si asisten itu, bisa gue lenyapin kapan aja gue mau!!!" ucap Dinda menatap pria tampan yang sudah ia cintai sejak kecil itu.


Zayn mendengus kesal, ia tidak bisa berbuat apa-apa karena Dinda selalu mengancamnya dengan menarik saham dan juga berusaha mencelakai Flo.


Ya, yang di maksud Flo itu adalah Flower, asisten sekaligus sahabat dan orang kepercayaan Dara.


Semenjak pertemuan Zayn dan Flo di acara pertunangan Dara dan Kai. Sejak saat itu pula Zayn tertarik dan benih-benih cinta mulai tumbuh.


Saat menoleh Zayn terkejut melihat Dara yang tengah duduk di dekat toko yang juga menatapnya. Seketika Zayn berdiri, entah mengapa ia takut jika Dara memberi tahu Flo jika dirinya jalan dengan wanita lain.


"Bisa gawat kalau Dara kasih tahu Flo gue jalan sama ni cewek prik. Bisa-bisa Flo makin menjauh dan nggak mau ma gue" gumam Zayn dalam hati.


Langsung saja Zayn berdiri dan menghampiri Dara, Dinda yang melihat Zayn berdiri dan keluar dari toko, sontak mengikuti arah Zayn yang mendekati Dara yang tengah duduk.


Dara mengernyit melihat Zayn yang kini berjalan ke arahnya.


"Lah, ini bajingan satu ngapain ke sini?" Ucap Dara dalam hati.


...•••••••••...