The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
82. Serangan mendadak



Keesokan paginya, Dara tidak memiliki kelas hari ini. Jadi ia menghabiskan waktunya berdiam di rumah dan berkultivasi di ruang dimensi miliknya.


Dara tidak tahu jika, Rainer saat ini penasaran dengan sosok dara. Ia pagi-pagi sekali sudah berada di depan kelas Dara, setelah ia bertanya tentang identitas Dara pada orang-orang di kampusnya.


Dan Rainer tahu jika namanya Dara dan dia dari fakultas kedokteran.


Hanya saja ia harus kecewa, pasalnya Dara tidak masuk sekarang karena tidak memiliki jadwal kelas hari ini.


"Nyari siapa lo Rain, celingak-celinguk?" tanya Raffi sahabat dekat Rainer di kampus dan di rumah.


Persahabatan keduanya sudah berjalan sejak mereka lahir. Kebetulan rumah keduanya pun bertetangga.


"Nyari Dara" ucap Rainer


"Dara? Dara yang mana?" tanya Raffi dengan kening mengerut. Tumben-tumbenan sahabatnya itu nyari cewe.


"Yang pakai H2r" ucap Rainer.


"Lah ngapain lo cari Dara dari fakultas kedokteran?" tanya Raffi.


"Lo kenal Dara yang gue maksud?" tanya balik Rainer.


"Astaga, siapa sih yang nggak kenal sama seleb kampus, apalagi Dara itu terkenal sebagai Dewi Nasional" ucap Raffi


"Dewi Nasional?" Beo Rainer bingung


"Nih, lihat sendiri beritanya" ucap Raffi menyodorkan ponselnya ke arah Rainer.


Rainer terkejut saat melihat wajah asli Dara di ponsel Raffi. Untungnya ia tidak sampai mimisan saat melihatnya. Ia tidak menyangka, pesona Dara sekuat itu, jantungnya berdebar kencang saat ini.


"Ngapain lo cari Dara?" tanya Raffi membuyarkan lamunan Rainer yang tertegun melihat kecantikan Dara di layar ponselnya.


"Ada perlu" ucap Rainer


"Nggak biasanya lo nyari cewe, ah jangan-jangan lo naksir ya sama tuh Dewi nasional?" tanya Raffi menyipitkan matanya.


"Nggak!!!" ucap Rainer dengan tampang datar.


"Hmm, Kirain lo naksir. Kalau lo naksir juga, berarti dia hebat bisa buat semua orang termasuk prince kampus bertekuk lutut. Tapi wajar sih, dia cantik. Siapa juga yang nggak mau punya pacar secantik dia, gue juga mau!" ucap Raffi


"Semua prince?" tanya Rainer.


"Ya" ucap Raffi kemudian menceritakan semua yang terjadi saat Rainer di luar negeri.


Termasuk aksi Dara yang mempermalukan Romeo, hingga Romeo bertekuk lutut dan menyerah. Sedangkan Samuel dan Daffa, semua orang tahu jika keduanya mengejar cinta seorang Dara.


Rainer terkejut, ia menyadari jika saingan cintanya sangat banyak. Dia menghela nafas kemudian berbalik pergi.


"Hei, Rain kenapa gue di tinggal! Tungguin woy!" panggil Rafii menyusul sahabatnya itu pergi.


....


Dara tengah menyuling pil di ruang dimensi, ia tengah membuat pil kondensasi tingkat 4. Ia berlatih keras di saat waktu senggangnya.


Untungnya masa di dalam ruang dimensi miliknya berbeda dengan di dunia nyata, jadi ia tidak membutuhkan banyak waktu menjadi Alkemis peringkat 4 sekarang.


Ia berhasil membuat pil kondensasi berpola tingkat tinggi. Ia menghasilkan 4 pil sekaligus dan langsung meminum salah satunya.


Perasaan hangat menjalar di seluruh tubuhnya. Chi dalam pusat energinya mulai memadat dan ia masuk dalam kondisi puncak, ia akan segera naik ke tingkat lima.


Langit di ruangan dimensinya mulai gelap, tak berapa lama petir pun datang menyambar tubuh Dara sebanyak lima kali. Tubuh Dara sudah sangat lemas, namun ia masih dalam kondisi sadar dan menahan itu semua.


Meskipun begitu, ia langsung duduk sila melakukan penyerapan dan juga mengedarkan Chi-nya keseluruh tubuh. Ia harus membiasakan diri dengan kekuatan barunya yang semakin besar itu.


Dengan kekuatannya saat ini, ia bisa melawan puluhan orang tanpa lelah.


....


Tepat setelah ruangan dimensinya, pintu kamarnya di ketuk, itu adalah Agam. Ia memberi tahu jika ada Kai ada di bawah, tentu saja Dara terkejut mendengar itu.


"Bilang padanya untuk tunggu sebentar Pak Agam" ucap Dara


"Baik" jawab Agam.


Dara bergegas mandi dan memakai pakaian yang sopan lalu turun menemui Kai yang sudah beberapa hari sibuk dengan tugasnya itu.


"Hai" Kai melambaikan tangannya dan tersenyum ke arah Dara yang berjalan mendekat ke arahnya.


"Kamu sudah pulang dari bertugas? Apa itu sulit? Kau tidak terluka kan?" tanya Dara


"Hmm, sangat sulit, tapi aku berhasil melewatinya, aku baik-baik sama. Bagaimana kabarmu?" tanya Kai. Ia senang Dara perhatian padanya.


"Belum, apa kamu nggak keberatan ikut makan siang dengan ku di luar?" tanya Kai


"Tidak masalah, kalau begitu aku akan ganti pakaian dulu" ucap Dara.


Setelahnya ia bergegas berganti pakaian kemudian pergi bersama Kai. Mereka makan siang bersama di Star hotel.


Selesai makan, mereka pergi ke mall untuk jalan-jalan.


Banyak perempuan yang menatap Kai dengan tatapan memuja, memang Kai sangat tampan meskipun wajahnya sangat dingin dan datar. Tapi itu tidak memudarkan pesona dan karismanya yang kental membuat semua wanita menginginkannya.


Untuk para perempuan itu tidak ada yang mendekat karena ada Dara di samping Kai.


Walaupun begitu, Dara merasa kesal karenanya. Ia kemudian berbalik memandang Kai yang terkejut dengan tindaka tiba-tiba berhenti melangkah dan menatapnya. Dara langsung memakaikan masker wajah pada Kai.


"Nah, kalau begini kan nggak ada perempuan yang bisa menatap kamu, seperti mau menelan saja" oceh Dara.


Mendengar itu Kai tersenyum menyadari sesuatu.


"Apa kamu cemburu perempuan lain menatapku?" ucap Kai dengan senang


"A-apa maksudmu? A-aku tidak cemburu" ucap Dara gugup dengan wajah memerah.


"Benarkah?" tanya Kai dengan senyum yang makin melebar di balik masker yang ia kenakan sekarang. Dara tahu Kai tersenyum, terlihat dari sudut matanya yang terangkat


"Ya, aku tidak cemburu!!" ucap Dara cemberut dan mengalihkan wajahnya karena malu.


"Aku senang" ucap Kai


"Senang? Kamu senang di lihat perempuan-perempuan itu?" tanya Dara kesal dan ingin pergi.


"Hei" Kai menarik dan menggenggam tangan Dara.


"Aku senang bukan karena itu, tapi senang karena aku tahu kamu cemburu" ucap Kai lagi buru-buru menjelaskan


"Aku nggak cemburu!" ucap Dara lagi


"Ya-ya aku percaya, jangan khawatir. Meskipun banyak perempuan melihat ke arahku, tapi arah mata dan hatiku hanya tertuju padamu. Jadi jangan takut aku berpaling" ucap Kai.


Mendengar itu entah mengapa perasaan lega menyelimuti hatinya, ia juga senang mendengarnya.


Saat keduanya ingin menonton di bioskop, ponsel Kai berbunyi. Itu telepon dari kemiliteran! Wajah Kai jadi dingin saat menerima telepon itu. Dara mendengar percakapan itu, dia tahu kenapa tatapan Kai jadi dingin setelahnya.


"Ra...." ucap Kai dan tatapnnya melembut saat menatap dirinya.


"Kenapa?" tanya Dara pura-pura tidak tahu.


"Aku harus kembali ke pangkalan, ada keadaan darurat yang harus aku urus. maafkan aku" ucap Kai menunduk dengan berat.


Ia masih merindukan gadisnya, ia sedang mengejar Dara, namun waktunya sangat sedikit karena banyak tugas yang menantinya belakangan ini.


"Tidak apa-apa, aku bisa pulang naik taksi" ucap Dara tidak mempermasalahkannya. kedua kemudian berjalan menuju ke parkiran.


"Maafkan aku" ucap Kai lagi saat mereka sudah di parkiran.


"Tidak apa-apa, tugasmu lebih penting Karena menyangkut negara. Pergilah" ucap Dara tulus


"Sebentar" ucap Kai


Ia mengambil sesuatu dari jok belakang mobilnya dan menyerahkan sebuah gulungan pada Dara.


"Semoga kau menyukainya" ucap Kai.


"Terimakasih" ucap Dara meskipun ia tidak tahu apa isi gulungan itu.


"Aku akan mengantarmu pulang lebih dulu" ucap Kai


"Nggak perlu, aku bisa naik taksi. Akan memakan waktu lama kalau kau mengantarku lebih dulu. Ini bawalah, di dalamnya ada 5 butir pil untuk jaga-jaga" ucap Dara


"Makasih Ra" ucap Kai.


Cup!


Tubuh Kai menegang saat Dara mengecup bibirnya, meskipun itu terhalang oleh masker yang menempel di wajah mereka masing-masing.


"Aku akan menjawabnya saat kamu pulang nanti. Jadi kamu harus pulang dengan selamat dan juga temui aku" ucap Dara terkekeh melihat Kai menegang tanpa bereaksi setelah mendapatkan serangan mendadak.


...•••••...