
Di dalam mobil, Dimas tidak bisa tidak kepikiran dengan ayahnya. Bagaimana pun ini kali pertama ia bertemu dengan ayah kandungnya setelah sekian belas tahun lamanya.
Tidak bisa ia menutup rasa rindu dan juga keinginan untuk merasakan kasih sayang sang Ayah, namun logikanya mengatakan untuk tidak pernah memaafkan orang yang telah membuang dirinya, kakaknya juga ibunya di masa lalu itu.
"Haaaahhh..." Dimas menghembuskan nafasnya berat.
Ia menyenderkan kepalanya di senderan mobil dan menutup matanya, Ryan dan Ezio menatap aneh ke arah sahabat mereka yang sejak keluar dari area sekolah hanya diam itu.
"Kenapa Dim?" tanya Ezio, yang duduk di sebelah Dimas.
"Hmm?" Dimas membuka matanya dan menatap balik Ezio dengan wajah penuh tanya, tidak mengerti apa yang di maksud sahabatnya itu.
"Sejak tadi kamu diem aja, mana hela nafas keras banget gitu. Kamu kepikiran sesuatu?" tanya Ezio penasaran
"Nggak, aku hanya capek. Lagi ngerasain kepala aku pusing banget dan berat, rasanya nggak enak banget" ucap Dimas berbohong, ia tidak ingin kedua sahabatnya tahu apa yang ia rasakan saat ini.
"Mau mampir ke rumah sakit?" tanya Ryan khawatir pada saudara angkatnya itu.
"Nggak perlu, kamu lupa kakak itu dokter paling hebat? Lagian kakak ada di mansion juga kan sekarang?" ucap Dimas terkekeh.
"Ha-ha aku sampai lupa dengan itu, kalau begitu nanti sampe mansion aku bilang ke kak Dara supaya cepet periksa kamu" ucap Ryan
"Hmm..." Dimas mengangguk, ia sama sekali tidak menolak usulan Ryan. Karena nanti sekalian ia akan ceritakan tentang ayahnya yang datang pada sang kakak.
Dimas menutup matanya lagi, kini kedua sahabatnya pun diam tidak menganggu istirahat Dimas. Mereka berdua pikir jika Dimas memang sedang merasakan sakit kepala dan butuh istirahat.
....
Setelah Lima belas menit, mobil mewah yang membawa para tuan muda itu masuk ke dalam Star mansion.
Ezio dan Ryan berjalan mengapit Dimas, mereka berdua khawatir Dimas akan pingsan saat berjalan.
Sungguh lebay memang, tapi baru kali ini mereka melihat Dimas mengeluh sakit. Jadi mereka tentu saja khawatir, sedangkan Dimas sendiri hanya mengulum senyum tidak tahu harus berkata apa dengan situasi yang ia hadapi saat ini.
Melihat Putra bungsunya itu pulang di apit oleh putranya yang lain juga sahabat kedua putranya itu, Ellena tidak bisa tidak khawatir. Ia yang tengah memangku Langit langsung memberikan bayi gemoy itu ke Dara dan berjalan mendekat ke arah Dimas dan lainnya.
"Dimas sayang, kamu kenapa nak?" tanya Ellena khawatir.
"Dimas nggak kenapa-napa mah" jawab Dimas.
"Bohong mah, tadi Dimas ngeluh kepalanya sakit" ucap Ryan
"Zio juga denger Dimas bilang gitu Tante" ucap Ezio ikut menimpali
"Ya Tuhan, kenapa nggak langsung bawa ke rumah sakit? Kalau gitu ayo sekarang periksa ke rumah sakit!" ucap Ellena panik.
Ryan dan Ezio saling pandang dan menggaruk tengkuk mereka, sedangkan Dimas hanya menahan tawanya. Ternyata Ellena melakukan yang sama seperti yang baru saja di lakukan Ryan, benar adanya kalau orang panik memang bisa melupakan segalanya.
"Kenapa malah saling pandang? Ayo kita ke rumah sakit!" ucap Ellena lagi.
"Mah, kan kak Dara juga Dokter. Malah punya predikat dokter terbaik" ucap Dimas
"Kamu sakit dek? Ayo kakak periksa dulu" ucap Dara yang sudah berdiri dan menyerahkan Langit pada Kai.
"Periksa di kamar aja kak, Dimas sekalian mau rebahan. Kepala Dimas berat banget" ucap Dimas
Dara tidak banyak bertanya dan mengangguk, yang lain pun menunggu di bawah sampai Dara selesai periksa. Sedangkan Dara dan Dimas menuju ke lantai atas.
"Ada apa? Ada yang ingin kamu bicarakan sama kakak hmm? Kakak tahu kamu tidak sakit sama sekali" tanya Dara saat mereka di kamar Dimas, ia paham jika ada sesuatu yang mengganjal di pikiran adiknya itu.
"Kakak memang dokter terbaik, bahkan langsung tahu tanpa di periksa dulu" ucap Dimas terkekeh. Dara hanya menghela nafas dan menatap adiknya tanpa bicar.
"Kak, aku tadi ketemu sama orang itu" ucap Dimas lagi, hal itu tentu saja membuat Dara terkejut
"Di mana?" tanya Dara tenang
"Di sekolah, tadi dia mau menerobos masuk tapi di halangi oleh security" ucap Dimas jujur.
"Apa yang kamu rasakan saat ini?" tanya Dara, ia lebih memilih menanyakan tentang perasaan adiknya terlebih dulu.
"Aku nggak tahu kak, jujur aku nggak bisa membohongi diri aku sendiri. Kalau aku juga merindukan kasih sayangnya sebagai seorang ayah, meskipun aku sudah mendapatkan kasih sayang yang sama dari papa Adnan.
Tapi mengingat apa yang ia lakukan pada kita dan ibu dulu, rasa benci di hati ini masih sangat kuat. Terlebih saat melihat wajahnya tadi, entah mengapa aku merasa jijik dan wajahnya di penuhi dengan banyak kepalsuan" ucap Dimas.
Dara mengelus kepala sang adik dengan lembut, ia kemudian tersenyum tipis pada adiknya itu.
"Wajar jika seorang anak merindukan orang tuanya, seburuk apapun yang sudah mereka lakukan pada anak-anaknya, begitu pun sebaliknya" ucap Dara
"Kakak tidak marah kalau hatiku masih lemah dan masih merindukan dia?" tanya Dimas
"Kakak sama sekali tidak marah padamu, itu wajar. Tapi boleh kakak bicara menurut pendapat kakak pribadi?" tanya Dara, Dimas mengangguk dan menatap kakaknya itu.
"Ada pepatah yang mengatakan jika tidak ada orang tua yang tidak sayang pada anaknya, mereka mencintai anak-anaknya dengan cara mereka sendiri. Tapi ada kalanya pepatah tidak sepenuhnya benar, ada beberapa orang yang tidak masuk ke dalam kriteria pepatah itu.
Sejujurnya kakak tahu apa yang di alami oleh orang itu dalam kurun waktu satu setengah tahun ini" ucap Dara lagi, hal itu membuat Dimas terkejut dan menatap kakaknya, namun ia sama sekali tidak berniat menyela ucapan Dara.
"Perasaan benci kakak pada orang itu, sangat-sangat besar. Bahkan melebihi rasa sayang seorang anak pada ayahnya, kakak tidak akan membohongimu tentang hal ini. Kakak adalah saksi hidup apa yang di lakukan orang itu dan rasa sakit apa yang ia berikan pada ibu dulu.
Tapi meskipun begitu, sebagai seorang anak dan juga seorang kakak yang tahu betul adiknya sangat menginginkan kasih sayang seorang ayah. Kakak berusaha menekan ego dan kebencian kakak.
Kakak tahu selama ini orang itu hidup luntang-lantung di jalan, kakak tahu itu. Tapi kakak tidak memiliki keinginan untuk mengulurkan tangan membantunya bangkit kembali" ucap Dara sembari menoleh ke arah adiknya.
"Tapi kakak juga tidak membiarkannya mati di jalanan. Haaahhh.... Kakak memikirkan hal ini sangat lama saat itu, dan kakak memutuskan untuk memberikannya kesempatan untuk kembali bersama kita. Asalkan ia menyesali semua yang ia lakukan di masa lalu dan mau berubah menjadi lebih baik.
Tapi sayangnya, ternyata kakak berharap terlalu tinggi. Orang itu masih tinggi egonya, masih picik pikirannya, masih congkak tingkahnya dan busuk juga hatinya. Meskipun saat ini ia dalam keadaan sangat buruk dan jatuh di lubang yang paling bawah. Namun sifatnya tidak berubah, justru semakin menjadi-jadi.
Kakak sudah menyelidiki semuanya dan kakak memutuskan untuk tidak akan menerima dia di kehidupan ini.
Tapi kakak tidak akan memaksamu untuk berpikiran sama dengan kakak, kamu juga memiliki keputusan yang bisa kamu ambil sendiri di kehidupan kamu. Kamu memiliki hak itu semua dan kakak yakin kamu adalah anak yang pintar dan kamu bisa mengambil keputusan yang bijak dan cerdas" ucap Dara lagi.
...•••••••...