The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
53. Adnan dan Ellena pulang



Setelah acara makan siang bersama, Dara mengajak Adnan dan Ellena pulang ke mansion. Keduanya tertegun melihat Star mansion milik Dara, yang tidak kalah mewah dengan mansion milik keluarga mereka.


Adnan sangat bangga karena Dara mendapatkan semua kekayaannya dengan jerih payahnya sendiri. Dia tidak berpikir bagaimana Dara mendapatkan itu semua.


Di lihat dari kemampuan Dara yang sangat hebat meracik obat saja, bukan hal mustahil ia bisa mendapatkan pundi-pundi uang dari sana. Jadi pikiran keduanya sangat positif, terlebih mereka pernah mendengar dari Dimas kalau kakaknya sangat ahli dalam bermain saham.


"Selamat siang nona, ini...." ucap Agam saat ia membuka pintu menyambut Dara.


Meskipun Agam hanya seorang kepala Asisten rumah tangga, namun ia sudah bekerja lama dengan keluarga elit dan ternama sebelumnya.


Jadi ia pernah melihat Adnan merajai seluruh bisnis di kota S dan tanah air, wajahnya menghiasi sampul majalah bisnis karena kepiawaiannya mengelola dan mengembangkan perusahaan.


Agam jelas terkejut orang sehebat Adnan sekarang berada di depan matanya dan berjalan bersama sang majikan.


"Pak Agam kenalin, ini mama dan papa ku. Papa Adnan adalah kakak kandung ibuku dan ini istrinya, mama Ellena. Pah, mah, ini Pak Agam, beliau yang sudah membantuku mengurus mansion dan juga sangat baik denganku. Aku dan Dimas sudah menganggap Pak Agam dan anak-anaknya keluarga sendiri" ucap Dara memperkenalkan keduanya dengan Agam


Agam terkejut saat mendengar jika orang hebat di depannya adalah paman dari majikannya. Yang berarti Dara adalah cucu dari keluarga Adi Raharjo, keluarga yang setara dengan tiga keluarga besar di ibukota.


Kenyataan itu membuat Agam terhenyak, namun sekarang ia tahu. Bagaimana seorang gadis muda sangat luar biasa seperti Dara, itu karena darah bangsawan yang mengalir dalam tubuh Dara dan itu sudah mendarah daging padanya.


"Selamat siang tuan besar, nyonya. Salam kenal saya Agam kepala Asisten rumah tangga di Star Mansion" ucap Agam menunduk sopan menyapa keduanya.


"Terimakasih sudah menjaga putriku Pak Agam dan salam kenal" ucap Adnan.


"Ah i-iya, ini sudah tugas saya tuan besar" ucap Agam.


"Pak Agam, tolong minta yang lain bereskan kamar di lantai 3 untuk istirahat mama dan papa" ucap Dara


Ia meminta Adnan dan Ellena untuk menginap di mansionnya.


"Baik nona" ucap Agam kemudian pamit untuk melaksanakan tugasnya.


"Pah, mah ayo duduk dulu"ucap Dara.


"Dimas mana Ra?" tanya Ellena


"Masih sekolah mah, biasanya jam dua-an nanti dia pulang" ucap Dara.


"Sebentar lagi kalau begitu" ucap Ellena saat melihat kalau sekarang sudah hampir jam dua siang.


Pelayan menyajikan teh untuk keluarga majikannya, Ada banyak camilan juga tertata di atas meja.


.....


Tak lama kemudian terdengar suara mobil berhenti dan suara remaja laki-laki yang tengah mengobrol masuk ke dalam mansion. Siapa lagi kalau bukan Dimas dan Ryan.


Saat masuk ke dalam mansion, Dimas terkejut saat melihat Adnan dan Ellena. amatanya berbinar bahagia, ia langsung berlari menghampiri Keduanya dan memeluknya bergantian.


"Mama, papa..." teriak Dimas


"Uuhhh jagoan mamah baru pulang sekolah, bagaimana dengan sekolahmu? Apa ada yang sulit?" ucap Ellena memeluk Dimas.


"Nggak mah, semuanya menyenangkan. Teman-teman semuanya baik, Dimas juga senang belajar di sana nyaman" jawab Dimas


"Anak pintar" ucap Ellena mengelur kepala Dimas dengan sayang.


"Mama doang nih yang di peluk? Papa nggak mau di peluk gitu?" ucap Adnan cemberut seolah dirinya di abaikan oleh putranya sendiri.


"He-he kangen papa juga, sabar pah nanti kebagian peluk juga" ucap Dimas beranjak untuk memeluk Adnan.


"Anak ganteng yang pengertian" ucap Adnan terkekeh.


Ryan hanya berdiri termangu melihatnya, ia menebak kalau di depannya adalah orang tua Dimas. Tapi ia bingung sejenak, karena yang ia tahu kalau ibunya Dimas sudah meninggal. Apa yang di depannya ibu tiri? Begitu pikirnya dengan polos.


Ia berpikir seperti itu karena Dimas belum menceritakan tentang ia pergi ke kota S dan tentang keluarga nya di sana.


"Yan ngapain kamu berdiri di sana, sini duduk" ucap Dara menepuk tempat duduk di sebelahnya.


"Dia Ryan adik angkat aku mah, pah. Aku punya dua adik angkat Ryan dan Alan, dua-duanya adalah anak dari Pak Agam" ucap Dara


"Oh gitu, Salam kenal Ryan" ucap Ellena dan Adnan bersamaan lalu tersenyum.


"Salam kenal nyonya, tuan" ucap Ryan menunduk sopan.


"Eits, panggil juga mama dan papa seperti Dimas. Ya kan pah" ucap Ellena menatap suaminya dan di balas dengan anggukan Adnan.


Entah mengapa perasaan takut Ryan hilang saat melihat betapa ramahnya kedua majikan di depannya. Awalnya ia takut jika orang tua Dara dan Dimas sama seperti orang kaya yang dulu menjadi majikan ayahnya.


Tapi setelah melihat Adnan dan Ellena, itu menghapus stigma buruk tentang para orang kaya yang sombong dan arogan dalam dirinya. Selain Dara dan Dimas tentunya.


Ryan kini tahu darimana sikap baik hati, berbudi dan rendah hati Dara dan Dimas, ia pikir jika itu tak lain dari orang tuanya yang sama sopannya.


Meskipun yang di pikirkan Ryan itu salah, karena mereka bukan kedua orang tua Dara dan Dimas. Dan ayah kandung mereka tidak sebaik yang di pikirkan Ryan saat ini.


.....


Keesokan harinya Adnan dan Ellena kembali ke kota S, meskipun berat Dimas tetap mengantarkan mereka ke bandara. Karena hari ini bukan hari libur, Dimas izin tidak masuk sekolah demi meluangkan waktu untuk keluarganya.


Setelah terdengar suara pemberitahuan pesawat akan lepas landas 15 menit lagi, keduanya berpamitan pergi.


Mereka meminta Dara dan Dimas berkunjung ke Kota S saat mereka libur, dan keduanya berjanji akan ke sana saat libur.


"Ayo pulang dek" ucap Dara


"Hmm..." ucap Dimas.


"Sudah jangan sedih, nanti saat liburan sekolah kita berkunjung ke sana" ucap Dara mengelus kepala adiknya yang sudah semakin tinggi itu.


"Iya kak" ucap Dimas.


Dara kemudian membawa Dimas pergi membeli minuman Boba, mood Dimas kembali lagi saat meminum minuman viral itu. Ia terlihat sangat menyukai dan menikmatinya.


.....


Setelah mengantar Dimas pulang, Dara bersiap untuk masuk kuliah siangnya. Karena cuaca sangat panas ia mmilih untuk menggunakan mobil Lamborghini Urus.


Lagi-lagi, kedatangan Dara membuat semua orang heboh. Setelah seminggu lalu menghebohkan dengan menggunakan Motor sport Kawasaki H2r miliknya, kini semua orang di kejutkan kembali dengan Lamborghini Urus yang Dara kendarai.


"Wah, itu Dara kan? Gila keren banget dia, Lamborghini kan itu?"


"Keren sih, tapi emang kalian nggak denger gosip kalau Dara itu sebenarnya malu buka masker karena giginya yang tonggos?"


"Benar nggak sih tuh gosip?"


"Nggak tahu juga sih, tapi kayanya sih bener, Soalnya Dara nggak ada yang pernah lihat ia buka maskernya"


Gosip tentang Dara yang membawa Lamborghini Urus menyebar setelah itu. Dara hanya santai saja menanggapi gosip tentang dirinya. Itu tidak penting baginya!


Dara berjalan menuju kelasnya, ia melihat Daffa sudah ada di bangkunya. Dara langsung duduk dan mengabaikan Daffa yang menatapnya seolah akan memakannya saja.


"Kenapa kemarin dan kelas pagi tadi nggak masuk?" tanya Daffa dengan lenlbut dan tatapan ingin tahu.


Suasana kelas tiba-tiba sunyi, semua orang terkejut mendengar Daffa yang dingin dan arogan. Tidak ada angin, tidak ada hujan, berinisiatif untuk bertanya dengan sangat lembut pada seseorang yang baru kemarin dia ajak gelut.


"Bukan urusan kamu" ucap Dara dingin


Jawaban Dara sukses membuat semua orang terhenyak, sangat sulit membuat Daffa membuka mulut tanpa umpatan kemarahan atau nada dingin.


Sekarang ada kejadian langka, bisa mendengar suara lembut Daffa. Tapi Malah di jawab dengan dingin oleh Dara, mereka takut Daffa akan mengamuk lagi.


...••••••...