
Dara kemudian melakukan pembahasan tentang investasi terkait dua perusahaan. Dara juga meminta Steve untuk berbicara menggunakan bahasa Mandarin biasa saja, agar Eka sekretaris Lucas bisa menerjemahkannya.
Karena bagaimanapun ini menyangkut perusahaan A.A Entertainment, yang mana Lucas wajib untuk mengetahuinya bahkan hal terkecil apapun mengenai perusahaan. Lucas pula yang memiliki hak untuk menentukan keputusan di perusahaan.
"Bagaimana menurut mu Lucas?" tanya Dara pada Lucas
"Saya tidak masalah dengan kontrak kerjanya. Bagi hasil Keuntungan juga tidak ada masalah. Tapi apa tidak apa-apa memberikan keuntungan yang sangat besar buat kami, sedangkan perusahaan tuan Steve hanya mendapatkan sedikit saja?" tanya Lucas.
Ia sedikit bingung, yang dirinya tahu pengusaha selalu mencari keuntungan. Nah sekarang, ia baru pertama kali melihat ada pengusaha yang hanya menginginkan keuntungan sedikit dan lebih memprioritaskan perusahaan lain yang mendapatkan banyak bagian keuntungan, yakni perbandingan 30:70.
Marco menghela nafas dan menerjemahkan ke Steve apa yang di ucapkan Lucas.
"Tidak masalah, selama bisa bekerja sama dengan kalian. Tidak masalah kami mendapatkan sedikit bagian dari keuntungan. 30 persen itu tidak sedikit, saya percaya A.A Entertainment akan menghasilkan pundi-pundi yang sangat banyak di masa depan. Saya mengambil sedikit keuntungan karena kalian yang bekerja paling banyak, sedangkan saya hanya mengeluarkan uang dan menerima hasilnya tanpa bekerja sama sekali" ucap Steve, Eka langsung menerjemahkannya
Lucas hanya mengangguk, karena alasan yang di ucapkan Steve masuk akal. Memang benar, semuanya di lakukan oleh staf A.A entertainment. Jadi 30 persen yang di dapatkan Steve sudah cukup banyak.
Pembahasan pun akhirnya selesai, Lucas dan Eka pamit keluar lebih dulu. Sedangkan yang lain masih berada di dalam ruangan.
Steve juga menanyakan sesuatu tentang Kultivasi pada Dara. Dara mengatakan tidak bisa menerima murid, namun ia tidak masalah berbagi sedikit ilmu. Meskipun sejujurnya ia tidak puas dengan pencapaian Steve, di usianya saat ini ia hanya mencapai tingkatan True Element.
Steve tidak marah mendengar keluhan Dada mengenai kekuatan nya, karena memang benar dirinya masih sangat jauh untuk di katakan sebagai kultivator kuat.
Karena itu ia ingin belajar memperkuat diri, demi dirinya dan juga Keluarganya di masa depan. Karena dirinya merupakan kandidat sebagai patriak keluarga selanjutnya.
Dara pun memberikan beberapa nasehat dan juga beberapa ilmu kultivasi untuk Steve. Ia harap keturunan kakaknya itu akan menjadi lebih baik lagi dan memajukan keluarga Xing.
Steve merasakan banyak ilmu yang berkekuatan besar yang masuk ke dalam memorinya. Ia juga berterima kasih pada Dara dan berjanji akan menggunakannya dengan baik.
....
"Astaga, ngapain kamu di sini?" tanya Lucas terkejut saat ia keluar Xavier mengejutkan nga berada di depan pintu.
"Nona Addara di mana?" tanya Xavier.
"Vier, sopan dikit!" tegur Enda yang berdiri di belakangnya.
Sungguh ia tidak habis pikir dengan artisnya satu ini. Saat mendengar bos besarnya berkunjung ke perusahaan, ia yang tengah tidur langsung bangun dan bersiap dengan cepat lalu pergi ke perusahaan.
"Maaf tuan Lucas" ucap Enda
"Tidak masalah tuan Enda. Xavier, sebaiknya kamu jangan menganggu bos, karena bos sedang membahas malah kerja sama dengan investor besar di dalam" ucap Lucas ddngan tegas.
"Aku tidak menganggunya, aku akan menunggunya di sini" ucap Xavier.
Lucas hanya menghela nafas melihat salah satu artisnya yang keras kepala seperti Xavier ini.
Lucas berlalu dari sana, masih banyak yang harus ia urus. Hidupnya tidak melulu mengurus Xavier yang sulit di atur. Untungnya Xavier masih bisa di andalkan saat sedang bekerja atau berakting. Jadi ia bisa menutup mata dengan hal ini, hanya saja jika Xavier melakukan lebih dari ini. Jelas ia harus bertindak.
"Ngapain kita di sini, ayo pergi!" ucap Enda kesal dan jengah melihat Xavier yang terus menunggu di deoan pintu seperti orang bodoh.
"Nggak!! Aku mau nungguin My future Wife" ucap Xavier dengan senyum mengembang di wajahnya. Ia sangat merindukan sang oujaan hatinya itu.
"Hah... Susah ngomong sama orang yang jatuh cinta. Nasehat bener juga pastinya mental semua, T4i kotok Rasa Coklat" ucap Enda kesal dan mengumpat
Tak lama kemudian Dara keluar bersama dengan yang lain, Xavier yang menunggunya sejak tadi langsung menghampirinya.
"Ini siapa?" tanya Xavier menatap tidak suka ke arah Steve yang sejak tadi terlihat akrab dengan sang pujaan hati.
Steve mengerutkan keningnya, meskipun ia tidak mengerti bahasa nya. Namun secara gestur ia tahu jika laki-laki yang ada di hadapannya cemburu melihatnya.
"Dia investor di sini. Steve dia salah satu aktor di sini, maaf karena ia bicara tidak sopan" ucap Dara yang saat berbicara dengan Steve menggunakan bahasa Mandarin Kuno.
"Tidak masalah, saya mengerti. Apa dia kekasih anda?" tanya Steve penasaran hubungan antara keduanya.
"Bukannya kamu tahu siapa kekasihku. Kamu juga sudah melihatnya saat di kompetisi bukan?" ucap Dara
"Jangan bilang yang jadi juara di kompetisi itu?" ucap Steve menebak.
"Hmm, dia tunanganku" ucap Dara mengakuinya.
"Ooo bakat yang bagus. Tapi apa tidak salah? Setahu saya, kekuatan nya di bawah anda?" tanya Steve.
"Kau salah, dia justru adalah bakat yang mengerikan. Kau tahu? Dia baru memulai Kultivasinya kurang lebih sebulan. Well, kamu sudah bisa menebaknya bukan? Dalam satu bulan dia sudah sejauh ini, bahkan melampaui kamu yang sudah puluhan tahun berkultivasi" ucap Dara tersenyum.
Tentu saja ucapan Dara sangat mengejutkan bagi Steve dan juga Marco yang ikut mendengar dan mengerti ucapan keduanya. Mereka seketika merinding dan membayangkan pasangan monster yang mereka tahu itu.
Di sisi lain Xavier mengepalkan tangannya melihat keduanya sangat akrab. Ia cemburu namun ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena memang mereka tidak memiliki hubungan.
....
Keesokan harinya, Dara sudah berada di kediaman Theo. Di mana Dara akan mengetes kemampuan Ferdi. Saat Dara dan Flo datang, Ferdi dan Theo sudah standby di sana.
"Kau sudah siap?" tanya Dara
"Sudah nona" ucap Ferdi dengan tegas.
Bohong jika ia tidak gugup, ia sangat gugup. Leboh gugup saat ia dulu menghadapi ujian kelulusan atau sidang skripsi. Namun ia memberanikan diri, karena ini adalah keinginan ia sendiri untuk menjadi lebih kuat.
Keinginan kuatnya yang ingin melindungi Dara sebagai sosok yang berarti baginya, sosok penyelamat dan juga penolong bagi hidupnya, nama baik dan ketenangan mendiang adiknya.
"Theo, aku ingin Menganti pakaian, apa da kamar kosong" ucap Dara.
"Tentu ada nona, saya sudah menyiapkan nya. Sebelah sini" ucap Theo.
Sebagai tuan rumah, ia menunjukan kamar yang bisa Dara gunakan untuk menganti pakaian dan juga bisa untuk tempat istirahat.
Dara Menganti pakaiannya dengan pakaian yang lentur dan memudahkannya untuk bergerak. Rambut panjangnya ia ikat tinggi agar tidak menganggu. Setelahnya ia kembali dan menuju ke halaman belakang rumah Theo.
"Ayo kita mulai" ucap Dara
"Baik" ucap Ferdi.
Ferdi mengatur nafasnya untuk mengatur emosi dan rasa gugupnya. Karena yang di depannya adalah orang yang akan menentukan, apakah ia layak untuk membuat lompatan menjadi lebih baik.
"Hiyaaa.....!!!!" teriak Ferdi yang memulai serangan.
...•••••••••...