The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
133. Mengajak ke Mall



Dara kemudian meminta Dierja untuk duduk di lantai yang beralaskan karpet di ruang kerja itu dan duduk bersila. Jika saja luka Dierja bukan luka karena seorang kultivator dan Ia seorang manusia biasa.


Hanya dengan pil penyembuh juga sudah bisa di atasi, namun karena Dierja adalah seorang kultivator yang juga terluka karena serangan internal.


Dara harus menekan penyebaran racun dan mengeluarkannya terlebih dulu. Juga menghilangkan efek serangan Chi atau Qi yang berada di organ dalam Dierja yang menghambat kultuvasi Dierja.


Dara kemudian mulai menyalurkan sedikit demi sedikit Chi miliknya ke dalam tubuh Dierja.


"Ini akan sakit, tolong tahan sebentar Opah" ucap Dara yang di angguki Dierja.


Baginya tidak masalah menahan sakit lebih lagi, karena ia sudah merasakan sakit selama sepuluh tahun ini.


Sebelah tangan Dara yang bebas mengeluarkan kabut Chi dan menyebarkannya ke sekeliling ruangan, hingga membentuk lapisan kaca dari kabut untuk meredam suara.


"Aaaarrrrrggghhhhh!!!" teriak Dierja yang sekuat tenaga menahan sakit yang begitu menusuk di organ vitalnya.


"Hueeeekkkk" Dierja memuntahkan seteguk Darah hitam di sebuah baskom kecil dan di alasi plastik yang sudah di sediakan oleh Tirta sebelumnya.


Perasaan Dirga sedikit lega, rasa sakit di tubuhnya juga perlahan mulai mengendur.


"Telanlah Opah" ucap Dara menyodorkan pil penyembuh untuk Dierja minum.


Dierja langsung meminum obat itu dan perlahan tubuhnya terasa panas lalu berubah sejuk. Dierja merasakan Qi (Kultivator sekarang saat menyebut Chi) masuk ke dalam tubuhnya.


Setelah sekian lama kultivasinya macet, tiba-tiba ia merasakan perlahan-lahan Qi masuk ke dalam pusat energi miliknya.


"Haaahhh.... Terimakasih Dara" ucap Dierja mengehela nafasnya.


"Sama-sama Opah, apa yang opah rasakan sekarang?" tanya Dara


"Sangat sehat, tidak ada lagi sakit dan aku bahkan bisa merasakan jika Qi masuk ke dalam tubuhku lagi setelah sekian lama macet" ucap Dierja.


Ucapan Dierja sukses membuat Tirta terkejut, ia ikut merasakan senang Tuannya bisa sembuh total.


Sejujurnya ia merasa bersalah karena luka yang di derita Dierja adalah luka yang di dapat setelah menyelamatkan nya. Hal itu pula yang membuat Tirta dengan senang hati mengabdi pada Keluarga Narendra dan meninggalkan karirnya di dunia kemiliteran.


"Ini teteskan darah pada cincin ini" ucap Dara


"Cincin ini?" tanya keduanya


"Ruang dimensi" ucap Dara membuat mereka terkejut.


"Cincin Ru-ruang?" tanya keduanya dan Dara hanya mengangguk.


"Astaga, ini sungguh luar biasa" ucap keduanya.


Bagaimana tidak Takjub, keduanya penah mendengar cincin ruang. Namun belum pernah melihatnya, karena mereka tahu di jaman sekarang tidak ada ahli tempa untuk membuatnya.


"Jika ada waktu untuk meningkatkan kekuatan, minumlah pil di botol kecil di dalam cincin. Ini yang akan membantu kalian menerebos level atau tingkatan kultivasi" ucap Dara


"Terimakasih, kalau boleh tahu, pil apa itu Ra?" tanya Dierja


"Pil kondensasi" ucap Dara ringan


"APA???" ucap mereka terkejut.


"Astaga Opah, paman, kalian membuatku kaget" ucap Dara mengelus dadanya karena kaget.


"Maaf, Opah hanya terkejut memiliki pil kondensasi ini" ucap Dierja yang di angguki oleh Tirta


"Itu hanya pil level 4 menengah Opah, maaf aku hanya bisa memberikan itu sekarang. Aku tidak bisa memberikan pil dengan tingkat yang lebih tinggi mengingat tingkat kultivasi Opah dan Paman masih rendah" ucap Dara


"Pil level empat? Ini pil level 4? Pil yang kamu buat paling tinggi level berapa?" tanya Dierja penasaran dan juga takjub dengan jantung berdegup kencang karena terlalu sering mendapatkan kejutan dalam kurun waktu 2 jam terakhir ini.


"Level 9" ucap Dara


Dierja dan Tirta hanya menahan nafas saat mendengarnya, ia tidak bisa berteriak takut membuat Dara kembali terkejut.


"Astaga dia benar-benar monster!" ucap keduanya dalam hati


"Paman, karena kondisi paman sudah macet dan hampir mendekati puncak di tingkat dua, ah maksudku di tingkat initial Element. Lebih baik paman cari tempat yang sepi dan jauh dari penduduk. Karena bagaimanapun saat paman memasuki tahap Qi Transformasion akan mengalami kesengsaran surgawi. Jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan, ambil obat penyembuh yang ada di cincin ruang. Dan sediakan pakaian baru di sana agar bisa mengantinya saat urgent" ucap Dara.


"Baik, terimakasih nona" ucap Tirta dengan tulus.


"Opah, paman, bisakah kalian menceritakan padaku kenapa kalian berdua bisa jadi kultivator?" tanya Dara.


"Ah, itu karena........


Di ruang keluarga, Kai dan yang lain cemas karena sudah lebih dari dua jam Dara dan yang lain tidak juga keluar.


Mereka ingin sekali masuk ke ruangan itu, namun itu tidak sopan dan mereka tidak berani melakukannya.


Setelah beberapa saat, pintu ruang kerja Dierja terbuka, mereka bertiga keluar dari ruangan itu dengan wajah yang sumringah. Terlihat jelas jika Dierja terlihat lebih enerjik.


"Kenapa kalian lama sekali" ucap Kai


"Astaga Kai, kita kan ada keperluan yang harus di bahas. Jadi sudah pasti lama karena membahas hal penting" ucap Dierja


"Emangnya tentang apa?" tanya Kai.


"Mau tahu aja atau mau tahu banget?" tanya Dierja menggoda cucu sulungnya itu.


"Opaaaahhh" ucap Kai kesal karena di goda kakeknya itu.


"Ha-ha-ha, tidak ada apa-apa Kai, Dara hanya menyampaikan sesuatu yang di minta Gusti pada Opah. Tapi maaf Opah tidak bisa menceritakan detail nya" ucap Dierja yang membuat Kai menghela nafas.


Sedangkan yang lain hanya tertawa melihat Opa mereka yang sangat jahil. Berbanding terbalik saat bicara dengan orang luar, ia kan dingin sedingin tembok.


"Babe, kamu mau pulang sekarang?" tanya Kai kemudian, ia ingin membawa Dara keluar agar bisa menghabiskan waktu berdua sebelum Dara pulang.


"Ehhhh tidak bisa! Enak aja! Nggak bisa lah, kan mama mau ajak Dara ke mall dulu" ucap Hesti langsung nyerobot dan menarik tangan Dara.


"Ih mama apaan sih, kan sudah sejak pagi sabotase Dara. Gantian napa? Kai juga mau kencan!" ucap Kai cemberut


"Nggak! Hari ini jadwalnya mama sama Dara. Kamu mau kan sayang jalan sama mama? Kita ke Mall, shopping dan ke salon, jalan-jalan" ucap Hesti


"Mama..." ucap Kai merajuk mendengar rencana mama nya itu


"Sssttt diem Kai. Mau kan sayang?" tanya Hesti pagi pada Dara lagi. Dara hanya mengangguk saja tidak bisa menolak.


"Sayang....." ucap Kai merajuk pada Dara namun keburu di tarik oleh Hesti.


"Kalau begitu ayo sayang kita berangkat sekarang, takut kesorean" ucap Hesti dengan antusias.


"Mama ih, papa itu istrinya halangi napa" ucap Kai pada papa nya.


Sedangkan Galuh hanya mengangkat kedua bahunya, ia tidak bisa berbuat apa-apa jika sang istri sudah menginginkan sesuatu.


"Ckk... Dasar Papa STI" ucap Kai kesal.


"Jangan meledek, kamu juga akan seperti papa nantinya Kai. Kamu bahkan lebih bucin dan lebih takut dengan Dara nantinya" ucap Galuh.


"Mba, aku ikut..." ucap Sarah


"Ajeng juga Tan, boleh ya" ucap Ajeng menimpali.


"Oke" ucap Hesti


"aku juga ikut mah" ucap Kai.


"No! ini acara perempuan, laki-laki di larang ikut!" ucap Hesti. Ia berjalan ke arah Suami dan anaknya dan kedua tangannya di sodorkan pada mereka berdua.


"Aku mau belanja sayang" ucap Heri pada suaminya dan tatapan imut ke arahnya.


Galuh paham dan mengeluarkan kartu hitam dari dompetnya dan memberikannya pada sang istri.


"Terimakasih sayang, makin cinta deh... cup" ucap Hesti mengecup pipi sang suami.


"Kamu mana?" tanya Hesti pada putranya.


"Apanya?" tanya Kai tidak mengerti.


"Ck, kamu ini terlalu lempeng dan tidak peka. Mama ajak pacarmu ke Mall, kamu nggak mau kasih black card milikmu untuk belanja Dara?" tanya Hesti


"Mah, tidak usah, Dara punya kartu sendiri kok" ucap Dara terkejut saat mendengarnya.


"Sssttt, ngapain kamu keluar uang sendiri. Biarkan Kai yang keluar uang untuk kita belanja dan nyalon seharian" ucap Hesti


"Mama benar sayang, pakai saja punya ku. Aku kan bekerja untukmu juga kan" ucap Kai tersenyum dan menyerahkan Black card miliknya yang tanpa limit.


Dara ingin menolak namun tidak di beri kesempatan karena Hesti sudah menariknya pergi. Sedangkan Kai menghela nafas dan kesal pada mamanya karena menarik Dara, bahkan dirinya belum sempat di berikan ciuman seperti papanya tadi dari sang mama


...••••••...