The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
385.



Saat ini kehebohan terjadi di negara ini khususnya di kota P, ternyata ucapan Kai di rapat intern mendadak pejabat tinggi di kemiliteran tidak main-main. Hanya butuh waktu 1 jam saja, surat petisi pencopotan jabatan Fariz dari jabatannya di pemerintahan kota P turun.


Banyak praktisi, pengamat politik dan masyarakat luas menyoroti kejadian ini. Terutama elit politik yang satu kubu dengan Fariz. Mereka mengajukan protes dan menanyakan alasan mengapa pencopotan jabatan ini di lakukan secara mendadak, tanpa adanya pemberitahuan, pemeriksaan ataupun penyelidikan dari instansi terkait.


Banyak orang yang mencari keberadaan Fariz dan putrinya, namun sayangnya tidak ada tanda-tanda keberadaan kedua ayah dan anak itu.


Setelah tahu alasan apa yang menimpa Fariz, yang ternyata telah menyinggung sang penguasa, mereka tidak berkutik dan mundur alon-alon. Terlebih sebelumnya Presiden negara dan kabinet kerja pemerintah pusat juga mempertanyakan hal ini, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena hal ini bersangkutan dengan Panglima Negara, Kai.


Hanya orang-orang tertentu dengan jabatan tinggi di pemerintahan yang tahu, jika delapan puluh persen kuasa militer dan pertahanan negara berada di tangan tuan muda pertama Keluarga Narendra.


Jika mereka nekad, bukan hanya jabatannya dan kekayaannya yang akan lenyap, kemungkinan nyawa nya dan juga keluarga besarnya di pertaruhkan.


Itu lah mengapa banyak sekali yang ingin merebut posisi keluarga Narendra yang merupakan keluarga besar nomor satu di negara ini. Karena jika mereka menempati posisi ini, mereka bisa di lihat, jika ia bisa dengan mudah mengatur seluruh wilayah dari balik layar.


Salah satunya keluarga Cedric, yang merupakan salah satu dari keluarga besar di ibukota. Urutannya ada di tingkat 3 keluarga besar di negara ini setelah keluarga Narendra di ibukota dan keluarga Adi Raharjo di kota S.


....


"Anak-anak sudah tidur sayang?" tanya Kai yang baru saja selesai mandi dan menghampiri sang istri yang berada di balkon dan memeluknya dari belakang.


"Sudah bang, Abang laper nggak? Mau makan?" tanya Dara pada sang suami.


"Masih kenyang sayang, tadi di pangkalan Abang sudah makan. Apa kamu lapar? Kalau gitu ayo kita makan" ucap Kai yang tidak ingin istrinya kelaparan.


"Aku mau makan martabak yang di ujung jalan pertigaan kiri. Kita beli yuk terus nongkrong di taman. Mumpung anak-anak udah tidur" ucap Dara dengan senyum di wajah cantiknya.


"Kamu lagi ngidam Yang... Awsss sakit... sakit sayang" pekik Kai karena tangannya terasa pedas di cubit sang istri.


"Abang ngomongnya ngaco, toren aku aja masih belum berhenti bocornya. Bagaimana bisa hamil kalau kamu aja belum tabur benih bibit unggul lagi" ucap Dara, membuat Kai terkekeh gemas melihat tingkahnya.


"Abisnya kamu kaya ngidam aja, tumben pengen makan martabak tiba-tiba" ucap Kai terkekeh geli.


"Lagi pengen aja makan yang manis-manis, kan di sana martabaknya banyak banget tuh kasih topingnya nggak kira-kira" ucap Dara ikut terkekeh.


"Ya udah ayo kita kesana, untung-untung kita kencan. Tapi jangan paksa Abang makan itu ya, itu manis banget Yang" ucap Kai yang memang tidak terlalu menyukai makanan manis.


"Iya bang, ya udah aku ganti pakaian dulu ya bang, sekalian aku ambil jaket buat Abang " ucap Dara, mengingat udara di luar sedang dingin.


"Nggak usah pake jaket yang, ini sama sekali nggak dingin" ucap Kai, yang memang dirinya tidak merasa dingin atau kepanasan karena tubuhnya di lindungi Chi.


"Aku tahu, tapi orang di luar lihatnya aneh kalau udara lagi dingin gini, Abang pakenya kaos pendek. Lagian kita ke sana naik motor aja biar menikmati masa-masa romantis dulu" ucap Dara


"Ya udah terserah kamu saja, Abang nurut" ucap Kai tersenyum.


Dara pun dengan cepat masuk dan berganti pakaian, dengan pakaian panjang dan juga di balut cardigan rajut dan mengambil jaket untuk suaminya itu.


Mereka berdua pun beranjak dari Mansion untuk membeli martabak yang sangat terkenal seantero negara, yakni Padhang Rembulan.


.....


Di taman kota, Dara dan Kai saat ini tengah duduk bersantai menikmati malam bersama. Beberapa waktu ini mereka memang di sibukkan dengan mengurus anak, namun sekarang keduanya ingin berpacaran lagi meskipun waktunya tidak banyak.


Karena meskipun ada Babysitter dan stok ASI masih banyak, namun tetap saja yang namanya orang tua pasti khawatir.


Jadi 2 jam di luar sudah lebih dari cukup untuk keduanya menikmati masa pacaran mereka setelah menikah dan punya anak.


"Enak bang, he-he makasih ya. Abang beneran nggak mau?" ucap Dara menawarkan martabak keju coklat itu pada suaminya, namun di balas gelengan kepala.


"Nggak sayang, buat kamu aja. Itu terlalu manis, aku nggak terlalu suka yang manis kecuali kamu" ucap Kai


"Uhuuuukkk... Uhuuuukkk..." Dara menepuk dadanya pelan karena tersedak.


"Astaga makannya pelan-pelan dong sayang, ini minum dulu" ucap Kai menyodorkan minum pada Dara


Dara langsung meminumnya dan menghela nafas lega setelahnya.


"Abang ih, ngegombal nggak liat sikon" ucap Dara cemberut


"Sakit ya?" tanya Kai menakup wajah sang istri


"Sakit sih nggak, cuma nggak enak dikit hidungnya. Lagian tumben-tumbenan Abang ngegombal, lepas ih Abang itu banyak yang lihat kan malu" ucap Dara.


"Maaf sayang, Abang reflek abisnya kamu gemesin. Ngapain malu,borang kita udah SAH kok" kekeh Kai.


"Udah ah makannya, sisa martabaknya nanti bawa pulang aja" ucap Dara lagi.


Ia memang beli cukup banyak sekalian buat orang di mansion dan sisa miliknya nanti mau di taruh di kulkas buat di makan pagi nanti.


"Sisanya jangan di kasih in ke yang lain sayang, masa dapetnya bekas. Kasih yang masih utuh aja" ucap Kai.


"Aku tahu Abang, sisa punya aku mau aku taruh di kulkas buat nanti pagi aku makan lagi" ucap Dara


"Emang masih bisa di makan?" tanya Kai


"Masih lah Abang sayang, kan di taruh di kulkas nanti di panasin lagi paginya" ucap Dara


"Oh iya Abang, sebenarnya ada yang mau aku bicarakan sama Abang" ucap Dara


"Bicara tentang apa? Tentang duo hama itu? Tenang aja sayang, selain orangnya yang ada di tangan kamu terserah mau kamu apain. Aku sudah mencopot jabatannya di pemerintahan kota P, aku juga sudah memboikot semua aset milik keluarga mereka" ucap Kai


"Oh ya, kapan?" tanya Dara terkejut dan juga penasaran kapan Kai melakukan itu.


"Pagi tadi abang adakan rapat internal khusus petinggi militer. Abang minta pembuatan petisi untuk orang itu agar di copot dari jabatannya. Dan dua jam kemudian sudah langsung di eksekusi, sepertinya kabar itu sudah ada di media sekarang. Tapi tidak ada penjelasan lebih lanjut dari pihak pemerintah, karena mereka tidak ada yang berani speak kwluar. Jadi media sedang gempar karena belum mengetahui alasan pencopotannya karena apa" ucap Kai.


"Abang hebat, aku dan anak-anak bangga punya suami dan ayah seperti Abang. Hama kaya mereka memang pantas buat di basmi" ucap Dara


"Tentu, itu sudah seharusnya Abang jadi ayah dan suami yang membanggakan untuk keluarganya. Abang nggak bakal biarin pihak luar membuat ulah di pernikahan kita" ucap Kai terkekeh.


"Tapi bang, ada hal lain yang ingin aku bicarakan" ucap Dara lagi, kali ini dia serius.


"Tentang apa?" tanya Kai.


"Ini tentang keluarga Cedric, apa Abang atau keluarga Narendra yang lain punya masalah dengan keluarga mereka?" tanya Dara


"Keluarga Cedrik di ibukota? Ada apa memangnya" tanya Kai balik menatap istrinya penuh tanda tanya.


...••••••...