The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
176. Keputusan ajuan skripsi



Setelah pertemuan dengan Steve dan Marco, Dara menceritakan hal itu pada Kai, saat kekasihnya itu mengantarnya ke kampus. Tentu saja Dara tidak tentang Steve yang mengetahui dirinya reinkarnasi dari Liu Annchi.


Dara hanya sedikit mengubah ceritanya, ia mengatakan kalau Steve adalah Fans Fanatik gurunya, yakni Liu Annchi. Dara juga sudah mengatakan pada Steve jika ia tidak boleh memberitahu orang lain. Dan memanggilnya nama atau nona saja, tidak boleh memanggilnya Yang Mulia apapagi saat di depan orang lain.


Dara juga menerapkan mantra untuk menghilangkan ingatan pada Marco, agar ia tidak mengingat kejadian kemarin mengenai identitas Liu Annchi dan dirinya. Bukan tidak percaya dengan Marco, hanya saja lebih baik ia mencegah dari pada mengobati. Dara tidak ingin mengambil resiko nantinya.


Jika dengan Steve, ia cukup yakin dengannya. Selain karena Steve merupakan keturunan dari sang kakak Liu Annchi. Steve juga di kenal sebagai orang yang memang teguh ucapannya.


Sedangkan Flo, Dara membiarkannya saja. Karena Flo tidak mengerti sama sekali tentang bahasa Mandarin yang sangat baku itu. Kalaupun di masa depan ia belajar bahasa Mandarin, Dara pastikan Flo tidak akan mengingat percakapan mereka kemarin.


"Yang, kayanya aku nggak bisa jemput siang nanti" ucap Kai saat melepaskan helm yang di gunakan Dara dan merapihkan rambutnya. Kemudian ia juga membuka helmnya.


"Iya nggak apa-apa nanti aku minta Flo buat jemput pas pulang, kamu pasti ada kerjaan kan, atau lagi ada tugas?" tanya Dara


"Nggak ada tugas yang, tapi aku ada perlu sama Tante Sarah. Hmm aku nanti ke pangkalan juga sih buat ajuin cuti akhir pekan nanti, saat ada kompetisi beladiri kultivator" ucap Kai pelan.


"Oh, oke. Hati-hati di jalan ya kalau gitu. Jangan ngebut-ngebutan, kabari kalau sudah sampe" ucap Dara


"Iya pacar sayang, belajar yang rajin ya. Aku pergi dulu! Kamu jangan nakal hmm" ucap Kai mencium kening Dara.


"Wah, Posesif detected" ucap Dara terkekeh


Untung saja di sana sepi, hanya ada security yang stand by di posnya. Kalau tidak pasti gosip beredar lagi. Kemarin saja gosip tentang dirinya di antar jemput cowok tampan yang tak lain Kai, beredar di forum si lambe kampus.


Ada yang bilang itu pacarnya Dara, ada yang bilang itu saudaranya, sahabatnya dan banyak lagi. Memang gosip tentang Dara itu cepat sekali beredarnya, bahkan mungkin artis papan atas aja kalah sama gosip tentangnya.


.....


"Daraaaaa!!!!" Teriak Manda.


Si bocah bawel yang bakalan punya bocah itu berteriak kencang saat melihat Dara lewat di lorong menuju kelasnya.


"Aduh Manda kira-kira dong. Teriakanmu udah mau ngalahin toa" ucap Dara


"He-he, toanya aja itu mah yang ngajakin gue saingan. Tapi gue tolak karena pastinya gue yang menang ha-ha" celetuk Manda tertawa


"Kamu ini" ucap Dara mau tak mau ikut tertawa juga melihat tingkah Manda.


"By the way, itu kemarin beneran calon suami Kamu Ra?" tanya Manda Kepo.


"Hmm... Bulan depan kita tunangan" ucapa Dara sambil


mengangguk


"Hoaaahhhh..... Daebaakk!!!!" teriak heboh Manda.


"Iiisshh... Jangan teriak-teriak Manda, malau tahu. Yang ada nanti masuk si lambe lagi aku gara-gara kamu heboh. Ini aja aku ngerasa udah adem ayem nggak di gangguin empat sekawan" ucap Dara.


"Wah iya, tumben tuh empat kutu kupret, nggak ngintilin lo. Biasanya Selain ngintilin mereka recokin ribut Mulu kaya tetangga rumah gue" ucap Manda.


"Mereka nggak ada kelas hari ini, paling ada Daffa doang ntar. Lagian ini masih pagi" ucap Dara.


"Oh gitu, ia juga ya ini masih pagi. Astaga iya Ra lupa gue mau ngomong ini tadi, gue mau survei Restaurant baru lu ikut nggak?" tanya Manda


"Kapan?" tanya Dara


"Ntar siang jam dua an. Kita berangkat jam satu aja kalau lu mau ikut" ucap Manda


"Boleh, ntar aku tungguin di kantin ya, aku cuma ada kelas pagi doang" ucap Dara


"Ashiap! Tungguin aja, paling set 12 gue klar kelasnya" ucap Manda. Kalau gitu gue duluan ke kelas ya, lagi ada tugas buat nyusun skripsi" ucap Manda


"Oke. Good luck Da" ucap Dara.


Manda dan Dara pun berpisah di lorong gedung tengah.


Kalau Manda, dia memang mahasiswi teladan. Ia sangat rajin datang pagi tiap hari, apalagi sekarang ia juga sedang menyusun skripsi.


Lima belas menit kemudian sudah banyak yang datang termasuk Daffa, ia duduk dan menyapa Dara seperti biasa. Ia juga mengajak ngobol meskipun kadang tidak di respon oleh Dara. Namun tidak memupuskan semangat Daffa.


Pak Sugeng masuk tepat jam 08.30. Kelas pun di mulai dengan sangat khusyuk, sampai tidak terasa sudah selesai.


Dara yang di panggil pak Sugeng ke kantor pun langsung ke sana. Kemungkinan pengajuan tentang skripsi dia sudah mulai terlihat hilalnya.


"Duduk Ra!" ucap Pak Sugeng mempersilahkan Dara duduk.


Dara menurut duduk manis di kursi di depan meja Pak Sugeng. Terlihat Pak Sugeng melihat sebuah berkas di tangannya yang tak lain adalah berkas pengajuan judul skripsi.


"Saya sudah ajuin permintaan kamu untuk judul skripsi. Selamat permintaan kamu di ACC Ra!" ucap Pak Sugeng memberikan selamat


Tentu saja Dara terkejut dan juga senang mendengar pengajuannya di terima.


"Dan nanti saya yang akan jadi dosen pembimbing untuk skripsi kamu. Jadi jangan kecewakan saya ya" ucap Pak Sugeng dengan senyum


"Baik pak terima kasih, atas kesempatannya" ucap Dara senang mendengar owngajuannya di ACC.


"Dan untuk masalah koas, sepertinya kamu nggak bisa di tempatin di ibukota. Karena kebetulan slot yang kosong untuk dokter umum sekarang ada di luar kota" ucap Pak Sugeng.


"Tidak apa-apa Pak, saya siap koas di mana aja. Kalau boleh tahu kapan dan di mana saya akan tugas koas Pak?" tanya Dara penasaran.


"Nanti Pertengahan Bulan depan, kamu koas di rumah sakit Prayoga pusat di kota S. Harusnya koas itu satu setengah tahun atau dua tahun. Tapi karena kasus kamu berbeda bahkan kamu sudah mendapat julukan sebagai dokter ajaib dari Dekan. Kamu cuma menjalani koas 3 bulan saja nanti. Nanti saya email ke kamu surat tugas koas di sana" ucap Pak Sugeng.


Mendengar nama rumah sakit Prayoga yang mana di miliki oleh Keluarga mama Ellena, kenapa Dara merasa ini kebetulan sekali. Apa mungkin ada campur tangan keluarganya hingga ia bisa koas di sana? Atau memang perasaan saja? Begitu yang di pikirkan Dara, namun ia tidak mau ambil pusing. Buaknkah bagus? Itu artinya ia bisa tibggal bersama keluarganya selama tiga bulan.


"Baik Pak, terimakasih. Saya akan usahakan yang terbaik" ucap Dara


"Tapi kamu nggak keteteran Ra? Koas tiga bulan plus nyusun skripsi, kalau di gabung paling kamu hanya punya waktu 6 bulan?" tanya Pak Sugeng.


"Nggak kok Pak, saya akan usahakan semaksimal mungkin dan tidak akan mengecewakan bapak sebagai Dosbing saya" ucap Dara


"Baiklah saya percaya sama kamu" ucap Pak Sugeng.


"Kalau gitu saya permisi Pak" ucap Dara


"Ya" jawab Pak Sugeng.


....


Setelah berbicara dengan Pak Sugeng Dara berjalan menuju kantin untuk menunggu Manda di sana. Sekarang baru jam 11.00, tapi sepertinya sebentar lagi Manda juga datang.


Namun Dara sudah menunggu sampai pukul dua belas Manda tidak terlihat batang hidungnya. Perasaan Dara tidak enak, jadi ia memutuskan untuk menyusul ke kelas Manda.


Saat menuju ke sana, Dara melihat ada kerumunan di sana. Dara mendengar suara Manda dari sana, ia bergegas menghampiri kerumunan itu.


Mata Dara terbelalak saat melihat Manda di marahi dan di tampar oleh seorang laki-laki yang tak lain adalah mantan pacar Manda yang sedang menggandeng seorang wanita di sampingnya.


"Sialan, lu berani nampar gue bajingan!" teriak Manda marah.


"Gue bilang jangan deketin gue dan ganggu pacar gue, kenapa lu nggak tahu malu! Lu tuh cuma mantan! Jadi stop cari perhatian gue!" ucap laki-laki yang menampar Manda dengan pedenya


"Cih, percaya diri sekali lu Asuu!!! Gue nggak cari perhatian ke lu brengsek! dan juga pacar lu yang tiba-tiba datang dan marah-marah nggak jelas ke gue, sialan! Dengar baik-baik pake telinga gajah Lu itu. Gue muak! Gue benci sama lu! jadi jangan kepedean anda bilang gue masih cinta. Sorry, Nyesel banget gue pernah kasih hati gue sama cowo bajingan macam kaya lu" ucap Manda sarkas.


"Dasar ja*ang si*lan!!! Berani banget lu hina gue!!! " teriak Laki-laki yang bernama Riki itu. Sedetik kemudian karena rasa marahnya, Riki tangannya kembali melayang ke arah Manda.


PLAK!!!!


Suara tamparan yang sangat keras menggema di lorong koridor kampus.


...•••••••...