The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
180. Kondisi Ivone - Mengunjungi keluaga Narendra



Mendengar kabar Ivone di temukan, Alice dan keluarganya serta Rafael segera bergegas menjenguk Ivone di rumah sakit.


Alice melihat Ivone di atas brangkar terlihat tidur dengan lelap. Sebenarnya itu bukan tidur, tapi di berikan obat penenang karena Ivone selalu beringsut ketakutan saat melihat orang lain, bahkan mengamuk dan melemparkan barang apa saja yang ada di dekatnya..


Alice meringis mendengar keadaan Ivone dari tantenya itu, ia merasa kasihan. Ia juga merinding sekali mengingat apa yang di lakukan Tante Sarah pada orang yang berani menganggu Keluarganya. Tante Sarah tidak bisa di ajak main-main, jika menyangkut Keluarga.


Untung saja Ivone masih pulang dengan selamat dan bernafas. Entah kalau Tante Sarah gelap mata, bukan hanya nyawa yang hilang tapi juga tubuhnya.


Keluarga Narendra dan orang-orang terdekat sangat tahu kalau Tante Sarah memiliki peliharaan di paviliun barat. Yakni Jeje dan jojo, si sepasang buaya muara yang siap melahap para tawanan milik Sarah.


Alice menatap Ivone sembari menghela nafas, Mia menceritakan padanya dan juga keluarganya. Dokter mengatakan kalau Ivone mengalami gangguan mental akut. Ivone juga kehilangan kekuatan pada lidahnya jadi ia tidak bisa bicara. Juga kehilangan salah satu telunjuk tangan kanannya.


Tentu dengan ilmu kedokteran sangat hebat saat ini, Ivone bisa melakukan perawatan dan terapi agar bisa bicara lagi, tapi memerlukan waktu paling cepat dua tahun untuk melakukan terapi tersebut.


Namun terapi akan di lakukan saat keadaan mental Ivone stabil. Hanya saja kejiwaan Ivone sangat sulit untuk di sembuhkan.


"Tante yang sabar ya" ucap Alice memeluk tantenya itu.


"Hiks sepupumu Lice, kenapa bisa terjadi seperti ini pada Ivone, apa yang sebenarnya terjadi? Kita bahkan tidak menemukan bukti apa-apa, atau petunjuk tentang kejadian yang menimpanya" ucap Mia sembari menangis


"....." Alice diam tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa memeluk dan mencoba menenangkan tantenya itu dengan pelukan, karena ia kehilangan kata-katanya.


Pasalnya ia mengetahui permasalahannya, namun ia tidak bisa mengatakannya. Bukan karena ia tidak sayang dengan keluarga Tante Mia. Tapi ia tidak ingin menyeret semua orang pada masalah yang Ivone lakukan.


Kalaupun ia mengatakannya, apa yang bisa di perbuat oleh Mia dan keluarganya? Lagian Ivone menerima konsekuensi dari perbuatannya sendiri.


Sore harinya Alice pulang bersama Rafael, sedangkan kedua orang tuanya menemani Mia dan Ardi menjaga Ivone.


Mereka sepakat akan membawa Ivone ke rumah sakit jiwa untuk menyembuhkan masalah mentalnya itu.


....


"Haaahhh" Alice menghela nafasnya


Rafael yang tengah menyetir mengenggam tangan kanan Alice, ia memberikan kekuatan pada tunangannya yang ia yakin kepikiran dengan masalah Ivone.


"Sudah jangan di pikirkan sayang" ucap Rafael lembut.


"Gimana nggak kepikiran Yang? Lihat keadaan Ivone seperti itu aku jadi merasa bersalah. Harusnya aku bisa menasehatinya lebih lagi dan menghalangi Ivone untuk datang dan membuat masalah di keluarga Narendra" ucap Alice memijat keningnya.


"Kamu nggak salah, itu salah Ivone sendiri karena menjemput masalah. Kita do'akan saja Ivone cepat pulih, sadar akan kesalahannya dan menjadi lebih baik. Jangan di pikirkan, masih untung Ivone pulang dalam keadaan selamat. Kau tahu bukan konsekuensi jika sudah berada di tangan Tante Sarah? Jadi kamu juga jangan terlibat, cukup tahu dan diam saja" ucap Rafael


"Hmm" Alice mengangguk lemah mendengar ucapan tunangannya itu.


....


Kai mengendarai mobilnya menuju Manor Keluarga Narendra. Ia tidak mengenakan motornya karena pasti akan terkena ceramah panjang dari sang mamah, jika membawa menantu kesayangannya naik motor.


Hesti yang sangat menyayangi Dara, ia tidak ingin menantu kesayangannya itu masuk angin. Padahal aslinya angin pun akan merasa insecure jika berdekatan dengan Dara.


Lagi pula tidak ada sejarah seorang kultivator masuk angin!


Kedatangan Dara di sambut hangat oleh mereka semua. Kai berdecih kesal karena sang mama terus memonopoli Dara jika sudah bertemu, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Sayang, nanti besok ikut ke butik yuk! Kita ukur baju untuk acara tunangan kamu nanti" ucap Hesti.


"Besok Dara ada urusan mah, bagaimana kalau lusa aja" ucap Dara merasa tidak enak saat menolaknya


"Iya mah" Dara mengangguk


"Yang, kan lusa kita kencan" Rajuk Kai


"KAGAK ADA! Pokoknya lusa Dara harus pergi sama mama" ucap Hesti


"Iiihhh mama nyebelin, kan Dara pacar Kai mah" ucap Kai mencebikkan bibirnya.


"Bodo! Mau apa kamu? mau jadi anak durhaka terus mama kutuk jadi batu, nggak mau ngalah sama orang tua heh?" ucap Hesti meledek putra semata wayangnya itu.


"Hais, di mana-mana orang tua yang mengalah sama anak...." ucap Kai lirih.


"Iya bener, tapi di sini anak yang harus ngalah sama orang tua" ucap Hesti tidak ingin di bantah.


"Hahhh" Kai hanya menghela nafasnya ia tidak bisa melawan ucapan mama nya itu.


Dara hanya terkekeh melihat perdebatan ibu dan anak itu. Meskipun keduanya sering sekali ribut, namun keduanya saling menyayangi.


Setelah mengobrol dengan Hesti, Dara dan Kai masuk ke ruangan kerja Dierja untuk membicarakan sesuatu. Awalnya Hesti tidak mau Dara ikut ke ruangan kerja mertuanya itu.


Namun Hesti tidak bisa menolak ultimatum ayah mertuanya, jadi ia mengalah. Seperti perkataannya, anak yang harus ngalah sama orang tua.


"Bagaimana Persiapannya?" tanya Dierja pada cucu dan calon cucu menantunya itu.


"Lancar opah" ucap Kai sedangkan Dara hanya mengangguk mengiyakan.


"Besok nanti Tirta yang akan ikut menemani kalian ke sana" ucap Dierja


"Apa identitas Kami tidak perlu di sembunyikan?" tanya Dara


"Tidak perlu, lagian semua orang tahu kalau Tirta adalah tangan kananku. Dan hampir sebagian tahu jika opah adalah seorang kultivator juga, jadi tidak akan heran jika Akai menjadi kultivator juga" ucap Dierja.


"Hmm, tapi sepertinya aku dan Flo akan menutup wajah kami Opah, itu karena aku tidak ingin orang-orang tahu" ucap Dara, ia sudah mengatakan jika Flo akan ikut berpartisipasi dalam kompetisi itu.


"Kenapa?" tanya Dierja


"Aku tidak ingin repot! Pasti akan banyak orang yang mencoba menjilatku di sana karena tingkat kultivasi ku yang tinggi. Akan sangat bahaya bagi keluarga ku yang lain nantinya" ucap Dara.


Karena ada peraturan hanya kultivator yang bisa masuk ke area kompetisi, sedangkan manusia biasa tidak bisa masuk ke sana. Jadi mau tidak mau Dara akan menunjukan kekuatannya, otomatis semua orang akan terfokus padanya yang memiliki kultivasi yang tinggi.


"Ah iya kau benar. Kalau begitu lakukan sesuai keinginan kamu saja" ucap Dierja


"Jadi besok jam berapa kita berangkat?" tanya Dara


"Jam 4 pagi, kita semua berangkat menggunakan mobil yang sama, nona muda. Nanti saya akan menjemput anda di star mansion" ucap Tirta.


Dara dan Kai mengangguk paham. Mereka pun kemudian berbicara tentang informasi siapa saja yang akan berpartisipasi dalam acara itu.


Ada yang mengatakan jika salah satu keturunan keluarga kultivator dari negara C juga akan hadir di kompetisi besok sebagai tamu kehormatan.


Tentu saja informasi ini di dapatkan oleh Tirta . Tirta juga sudah mendaftarkan Kai dan Flo sebagai peserta di sana. Sedangkan Tirta dan Dara akan datang sebagai pendamping saja.


Hanya saja Tirta sudah mengatakan pada ketua pelaksana kompetisi, jika salah satu pendamping di tim mereka adalah seorang kultivator tingkat tinggi, hanya saja tidak menyebutkan tingkat kultivasi nya. Jadi kemungkinan besar kedatangan Dara akan menggemparkan dunia para kultivator di negara ini.


...••••••...