The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
38. Hasil pencarian informasi



Hari libur telah usai, Dimas dan Ryan pagi-pagi sudah rapih dengan seragam sekolah mereka yang baru. Ini hari pertama mereka bersekolah di sekolah menengah.


Keduanya di antar oleh sandi menggunakan Lexus LM.


"Dimas! Ryan!" sapa Ezio yang melambaikan tangannya ke arah keduanya saat mereka bertemu di depan sekolah.


"Zio!" sapa balik keduanya kompak.


Mereka bertiga mengobrol sambil berjalan masuk, hari ini kegiatan mereka di sekolah adalah Masa Orientasi Siswa atau MOS. Di sepanjang jalan mereka menjadi pusat perhatian semua siswa-siswi.


"Semoga nanti kita bertiga sekelas ya" ucap Ryan penuh harap


"Aku juga berharap demikian" ucap Dimas.


"Gila! Lihat Dim, banyak banget yang lihat ke arah kita. Terutama para cewe lihatin kamu" ucap Ezio, Dimas hanya mengangkat bahunya cuek tidak menganggap ucapan Ezio serius.


Niat ia masuk sekolah adalah bisa membahagiakan kakak satu-satunya yang sangat ia sayangi, Dara. Sejak dulu Dimas memang cuek kalau di sekolah, ia tidak memiliki kesan bagus di sekolah menengah pertama.


Ia belum pernah punya teman yang benar-benar menganggapnya sahabat dulu. Namun ia bersyukur saat ini dirinya memiliki sahabat seperti Ryan dan Ezio.


"Ya jelas banyak yang lihat Dimas, orang Dimas ganteng" ucap Ryan terkekeh.


"Iya juga ya Ha-ha, Dim ko kamu bisa ganteng banget sih?" ucap Ezio


"Karena kakakku Cantik, nggak mungkin dong aku yang jadi adiknya jelek" ucap Dimas terkekeh.


Saat melihat senyum Dimas, semua siswi yang melihat mereka terpana dan berteriak tidak jelas.


"Iya juga ya, kamu sama Ryan sama-sama tampan. Apalagi kakak kalian, beuuuhhh cantik bener" Ucap Ezio mengingat sosok Dara. Ia masih belum tahu jika Ryan bukanlah saudara sedarah Dimas.


"Kak Dara emang nggak ada lawan" ucap Ryan mengangguk setuju.


"Eh, Zio. Nanti pulang sekolah main yuk, nanti kita kenalin sama sahabat kita satu lagi. Kan kemarin kita ngobrol bentaran doang di halaman samping. Sekali-kali kita ke halaman belakang, main sama sahabat kita" ucap Ryan.


"Oh, kalian ada sahabat lagi kah. Oke kenalin aku nanti ya" ucap Ezio semangat


"Tentu" ucap Dimas dan Ryan kompak.


....


Theo saat ini mematung melihat Dara yang asik berlatih tarung dengan White. dia tidak menyangka jika bosnya punya sisi yang tidak biasa di lakukan oleh orang lain.


Tapi tidak bisa di pungkiri jika bosnya itu terlihat sangat keren. Theo berasa melihat drama kolosal versi live.


"Cukup White, kita berlatih lagi nanti" ucap Dara menyelesaikan latihannya. Ia kemudian menyeka keringatnya dengan handuk. Dara berjalan keluar dan menghampiri Theo.


"Hei, kau mau diam saja di sini" ucap Dara membuyarkan lamunan Theo.


"Ti-tidak bos" ucap Theo sambil mengikuti langkah Dara yang masuk ke dalam rumah.


Setelah meminta Theo untuk menunggu sebentar karena Dara ingin membersihkan diri terlebih dulu.


15 menit kemudian Dara menghampiri Theo, ia meminta Theo untuk masuk ke dalam ruangan kerja miliknya.


Terlihat ruangan kerja pribadi Dara memang sangat besar, rapih, wangi dan nyaman.


"Apa kamu sudah berhasil mendapatkan informasinya?" tanya Dara saat mereka sudah berada di ruang kerja.


"Sudah nona, ini silahkan di lihat" ucap Theo menyodorkan Map yang ia ambil dari dalam tas miliknya.


Dara mengambil map biru itu lalu memeriksa beberapa lembar kertas berisi informasi dan juga beberapa gambar.


Informasi yang di minta dara adalah informasi mengenai siapa dan di mana seseorang yang ada di foto. Foto itu adalah foto yang di berikan mendiang ibunya.


"Apa informasi ini Valid?" tanya Dara


"100 persen Valid, saya sudah memeriksanya beberapa kali. Meskipun pertahanan data mereka sangat sulit di tembus, tapi saya berhasil melacaknya tanpa meninggalkan jejak" ucap Theo bangga.


"Sudah aman bos, baik data bos maupun tuan muda tersimpan rapi tidak akan bocor keluar" ucap Theo


"Kerja bagus" ucap Dara.


Theo merasa senang di puji oleh Bos-nya.


"Gusti Adi Raharjo 68 tahun. Wulandari Adi Raharjo 66 tahun, meninggal 3 tahun yang lalu. Adnan Adi Raharjo 44 tahun. Nayla Adi Raharjo 42 tahun, meninggal 2 tahun yang lalu" ucap Dara membaca nama orang di lembar kertas itu.


"Mereka adalah keluarga dari A.R Corporation?" Tanya Dara


"Ya bos, Mereka keluarga tingkat atas di kota S, Keluarga Adi Raharjo adalah keluarga paling berkuasa di provinsi S, yang mendapat julukan Golden Family. Karena kekayaan mereka setara dengan tiga keluarga besar di ibukota" ucap Theo.


"Hah...." Dara menghela nafas panjang.


"Apa anda baik-baik saja bos?" tanya Theo khawatir.


"Aku baik-baik saja. Bagaimana Dengan Ferdi? Apa yang dia lakukan sekarang?" tanya Dara mengalihkan pembicaraan.


"Ferdi sedang melihat jalannya sidang keputusan kasus adiknya nona" ucap Theo.


"Ah, aku lupa jika hari ini adalah sidang keputusan. Kalau begitu ayo kita menyusul Ferdi" ucap Dara


"Tentu" ucap Theo.


Keduanya kemudian keluar dari ruang kerja, Dara menyimpan dokumen keluarga Adi Raharjo, Ia akan memikirkannya nanti perihal hal itu.


....


Di kota S.


Dua orang pria paruh baya dan seorang laki-laki tua duduk di sebuah ruangan besar di perusahaan. Laki-laki tua itu memegang dadanya dan pria paruh baya itu mencoba menenangkannya.


"Apa kamu tahu di mana keberadaan kedua Anak adikku?" tanya pria paruh baya yang tidak lain adalah Adnan.


"Maaf tuan, saya tidak berhasil mendapatkan informasi keberadaan mereka. Terakhir mereka masih berada di desa S di kota Y, provinsi Y Sekitar tiga Minggu yang lalu. Namun tidak ada jejak keberadaan mereka, saya tidak bisa melacaknya lagi" ucap pria paruh baya yang lain.


"Adnan, kamu harus cari keberadaan keponakanmu! Dan berikan pelajaran untuk pria bajingan itu!" ucap laki-laki tua bernama Gusti dengan marah


"Ya, ayah tidak perlu khawatir. Aku akan mengurusnya" jawab Adnan sambil mengepalkan tangannya yang sama menahan amarahnya.


Setelah sekian lama ia mencari keberadaan Nayla, yang tak lain adalah adik dari Adnan dan putri satu-satunya dari Gusti dan mendiang Wulandari.


Mereka baru mengetahui titik terang, Namun mereka sangat terpukul saat tahu Nayla sudah meninggal, dua tahun yang lalu. Mereka juga mengetahui jika Nayla dan dua anaknya di usir oleh suaminya demi wanita lain.


....


Di Pengadilan Ibukota


Ferdi terkejut melihat kedatangan Dara, ia membungkuk hormat menyambutnya.


"Nona" sapa Ferdi.


"Bagaimana?" tanya Dara langsung


"Tinggal pembacaan keputusan hakim agung, Nona" ucap Ferdi paham yang di maksud Dara.


Tak lama kemudian Hakim Agung membacakan hasil keputusan sidang. Mia di jatuhi hukuman mati dan akan di eksekusi Sebulan kemudian di sebuah pulau khusus narapidana.


Sedangkan Ayah Mia, Gino. Sudah lebih dulu menjalani sidang kemarin. Ia di jatuhi hukuman 20 tahun penjara dan denda sebesar 10 Milyar.


Ferdi yang mendengarnya sangat senang, ia langsung berlutut di depan Dara dan melakukan sumpah setianya.


"Nona, mulai hari ini Saya Ferdi Sanjaya bersumpah setia mengikuti anda dan siap melakukan perintah apapun. Jika saya berkhianat saya siap menanggung semua konsekuensi nya, bahkan nyawa saya sekalipun" ucap Ferdi.


...••••••...