The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
192. Dua kalung untuk adik - Misi Falcon



Dimas dan Ryan sudah berada di ruang kerja Dara, Dara pun meletakan pekerjaan nya dan langsung menghampiri kedua adiknya itu.


Dara menanyakan banyak hal, dari sekolah mereka sampai kegiatan mereka lainnya. Hal itu biasa di lakukan ya untuk menjadi orang yang selalu ada untuk keduanya dan menjadi pendengar yang baik untuk keduanya. Juga Dara bisa memberikan saran yang di perlukan jika ada yang tidak di mengerti.


"Kakak mau kasih kalian ini. Ambillah" ucap Dara memberikan dua kalung liontin batu hijau dengan tali perak.


Dimas dan Ryan mengambil kalung itu dengan antusias. Kalung itu adalah kalung giok yang memang sudah di upgrade dengan jimat pelindung dan juga berisi formasi khusus, sama seperti kalung milik Kai, hanya saja berbeda warna.


"Waahh, ini batu giok ya kak?" tanya keduanya menatap kagum liontin kalung itu.


"Hmm, apa kalian suka?" tanya Dara tersenyum.


"Suka kak, bentuk dan warnanya cantik" ucap Dimas terlihat sangat menyukai nya.


"Aku juga suka kak. Terimakasih, aku akan menjaganya dengan baik" ucap Ryan yang sama antusias nya.


"Tentu, kalian harus menjaganya dengan baik. Tapi boleh kakak minta satu hal?" tanya Dara


"Apa kak? Katakan saja, kalau aku bisa aku pasti akan melakukannya" ucap Dimas dengan semangat.


Pasalnya sejak duku kakaknya tidak pernah meminta apapun padanya, kakaknya itu terbiasa hidup mandiri. Jadi saat ini ia senang saat kakaknya ingin meminta sesuatu darinya dan sebisa mungkin ia akan menurutinya.


Dara tersenyum dan menatap kedua adiknya, ia bangga dengan keduanya yang selalu ingin memberikan yang terbaik untuknya dan tidak ingin mengecewakan dirinya.


"Kakak hanya ingin kalian berdua memakai kalung itu dan apapun yang terjadi kalian tidak boleh melepaskannya. Apa kalian mengerti?" ucap Dara serius


Keduanya hanya mengangguk paham.


"Apa di dalam nya ada alat pelacak seperti yang ada di novel-novel Kak?" tanya Ryan yang memang suka membaca termasuk novel.


Dara tersenyum mendengarnya, hal itu memberikan ia ide yang tidak terlintas di benaknya, sebagai alasan memberikan kalung itu.


"Ya kamu benar. Kakak memang menanam alat pelacak di kalung itu. Bukan untuk membatasi kebebasan kalian, karena kakak percaya kalian sudah dewasa dan tahu mana yang benar dan salah. Kakak hanya ingin mengantisipasi hal buruk di masa depan, yang mungkin bisa saja terjadi" ucap Dara


"Terimakasih kak, aku menyayangimu" ucap Dimas memeluk kakaknya itu.


"Ha-ha, baru saja kakak memuji kalian sudah dewasa. Tapi tetap saja kedua adik kakak ini tetap menjadi adik kecil di mata kakak" ucap Dara tertawa dan mengelus kepala keduanya.


"Kalian belajar atau bermain sana, kakak harus mengurus pekerjaan ini dulu" ucap Dara


"Jangan terlalu lelah bekerja kak" ucap Dimas menghela nafas


"Iya kak, kakak harus jaga kesehatan" lanjut Ryan.


"Jangan khawatir, kakak tahu apa yang harus kakak lakukan" ucap Dara tersenyum.


"Baiklah, kalau begitu kami keluar dulu kak" ucap Keduanya lalu keluar dari ruangan kerja kakaknya itu.


.....


Di pangkalan militer, Kai tengah membahas operasi yang akan di lakukan di daerah terpencil di sebelah selatan negara ini. Di mana di sana akan terjadi transaksi besar-besaran para human trafficking.


Beberapa gadis dari berbagai desa di culik dan di jadikan alat pemuas nafsu para pria hidung belang yang ada di sana.


Ada sebuah BAR yang menampung para gadis-gadis itu sebelum di kirm ke luar negeri. Nama BAR nya adalah BAR Violet.


Tampak dari luar BAR itu seperti BAR pada umumnya, hanya saja ada praktek ilegal yang terjadi di sana. Yakni bisnis prostitusi terbesar di wilayah tengah negara ini dan menjadi penyuplai para gadis muda yang akan mereka jerumuskan itu.


"Kamu atur beberapa orang untuk menyabotase kapal dan jangan biarkan kapal berlayar. Nathan, kamu akan menjadi pusatnya, di mana kamu akan berpura-pura menjadi pelanggan dan ingin memesan seseorang gadis di sana. Korek informasi yang banyak dan juga pasang jebakan di dalam sana" ucap Kai


"Kenapa tidak Jendral saja" ucap Nathan lirih, nyaris tidak terdengar.


Sejujurnya Nathan malas berdekatan dengan wanita yang tak lain adalah madam Violet yang menjadi perantara atau mucikari di sana.


Pasalnya, madam Violet adalah wanita paruh baya genit dan suka dengan daun muda. Bahan hampir tiap hari ia menyewa gigolo dan memuaskan nafsu nya dengan laki-laki berbeda tiap harinya.


Nathan Yakin, dengan penampilannya pasti Si Madam Violet itu akan terpesona dan juga mepet padanya.


Wuushh!


Tengkuk Nathan terasa dingin, ia mengalihkan pandangannya dan menatap Kai yang tengah menatap tajam ke arahnya. Nathan menyadari jika Kai mendengar ucapannya barusan.


"He-He, Baik! saya akan melakukan nya jendral" ucap Nathan sembari menyeka keringat, mengingat tatapan tajam Kai barusan padanya.


Takut?


Tentu saja! Di pangkalan militer terutama di Falcon. Kai adalah pusatnya dan tidak ada yang mampu mengalahkannya.


Tentu Nathan paham dengan jika Kai tidak akan mau berurusan dengan wanita, jadi sudah pasti pilihan tepat adalah ke Nathan yang masih jomblo itu.


Terlebih Kai sudah bucin berat dengan Dara, mana mau ia melakukan kontak lain selain pada Dara. Juga sahabatnya Rafael yang sama tidak ingin mengambil resiko, karena ia sudah memiliki tunangan.


"Tim yang lain bersiaga di titik yang sudah saya tentukan. Apa kalian mengerti?" tanya Kai.


"Baik, di mengerti Jendral!" ucap semuanya


Setelahnya, mereka semua sudah bergegas dan menuju ke sebuah pesawat yang sudah di sediakan untuk membawa mereka ke kota yang akan menjadi target operasi mereka, yakni kota T.


....


Dara menyelesaikan pekerjaannya, lalu ia melihat pesan dari sang kekasih. Ia mengatakan jika dirinya akan berangkat malam ini ke kota T.


Dara membalasnya dan mengatakan untuk hati-hati dan menjaga kesehatan..


"Loh kok ada Zio" ucap Dara saat melewati ruang keluarga yang tengah di pakai main PS oleh tiga remaja laki-laki itu.


"Eh kak Dara. Iya kak" ucap Ezio menyapa Dara dengan senyum


"Kamu sudah pulang, berarti ibu bapak kamu juga sampai di sini Zio?" tanya Dara pada anak tetangga yang juga sahabat Dimas dan Ryan.


Selama liburan, Ezio beserta keluarga pergi ke Kota NY di benua A. Karena selain kerjaan yang banyak, neneknya tengah di rawat di sana karena sakit di usia tua di salah satu .


"Nggak kak, mama sama papa masih di sana. Masih ada kerjaan katanya" ucap Ezio.


"Ya sudah lanjutin lagi mainnya, kakak ke kamar dulu mau istirahat. Kalau mau kamu bisa menginap di sini nanti" ucap Dara.


"Wah yang bener kak?" tanya Ezio berbinar


"Ya, tentu saja" ucap Dara


Setelah Dara pergi ke kamar, Ezio berteriak kencang karena senang mendapat izin menginap di Star mansion.


...•••••••...