
Semua orang tercengang melihat kecantikan Dara, Dara yang sudah terbiasa melihat respon orang lain saat melihat wajahnya hanya biasa saja.
Sedangkan Theo dan Carmila hanya terkekeh kecil, mereka sudah menebak apa yang terjadi jika orang lain melihat wajah Dara.
"Kakak peli ya? Bisa ajak aku telbang?" tanya anak laki-laki kecil dengan suara cadelnya, yang tak lain adalah Yudha, putra Carmila dan Yogi.
Semua orang tersadar kembali saat mendengar suara Yudha. Dan menatap penuh takjub ke arah Dara.
"Kakak bukan peri, tapi kakak bisa ajak kamu terbang nanti" ucap Dara terkekeh saat mendengarnya.
"Bisa telbang? waaahh" ucap Yudha dengan berbinar.
Orang lain mengira jika yang di maksud Dara dengan terbang adalah menggendongnya sambil memutar. Padahal itu benar-benar terbang, tapi di tingkat dia sekarang Dara masih belum bisa melayang di udara.
"Kenapa kalian diam, ayo makan" ucap Dara
"Ah iya, ayo makan" ucap Emir tersadar dari terkesimanya.
Selama makan siang, Samuel dan Celine melirik beberapa kali ke arah Dara. Jantung Samuel berdetak dengan kencang hingga mau loncat rasanya. Baru kali ini ia begitu terpesona dengan seorang wanita.
Sedangkan Celine melihat dengan mata yang berbinar, meskipun dia perempuan dan mungkin ada sedikit iri dengan kecantikan Dara. Tapi rasa kagum pada Dara melonjak begitu tinggi dan mengalahkan semuanya.
Merasa di tatap Dara biasa saja menyantap makanan di depannya. Semua orang yang melihat Dara makan dengan anggun hanya menggumam dalam hati jika ia begitu sempurna.
Meskipun Dara dari desa bahkan tinggal di plosok, tapi ingatan Liu Annchi yang seorang putri kekaisaran. Sudah pasti memiliki etika sopan santun saat makan, jadi jelas Dara terlihat sangat anggun saat ia makan dan terlihat seperti bangsawan berkelas.
"Nona, boleh saya tahu usia anda?" tanya Celine setelah selesai makan.
"19 tahun" ucap Dara
"Waahhh kita hanya beda 1 tahun" ucap Celine dengan mata berbinar. Begitupun dengan Samuel yang mendengarnya.
"Anda kuliah di mana nona?" tanya Celine lagi.
"Saya tidak kuliah" Jawab Dara membuat semua orang terkejut.
"Sejak kapan nona bisa membuat obat?" tanya Emir mengalihkan pembicaraan keponakannya itu.
"Sejak kecil, meskipun saya tidak kuliah karena sebelumnya saya tinggal di tempat terpencil. Tapi saya memiliki guru yang mengajari saya ilmu tentang kedokteran" ucap Dara
"Apa nona ingin kuliah? Aku bisa mengurusnya karena saya Keluarga kami memiliki universitas. Atau anda ingin menjadi Dokter langsung?" tanya Emir menemukan cara untuk menyanjung Dara.
Emir tidak merendahkan Dara yang tidak kuliah. Bagaimana pun orang jenius seperti Dara sulit di temukan. Dan bagi orang kaya kesehatan adalah yang paling utama, jadi mereka ingin menjalin koneksi dengan orang hebat seperti Dara.
"Kuliah? Ah sepertinya menarik" ucap Dara memikirkan jika dulu ia memang ingin sekali melanjutkan pendidikannya.
"Jika anda mau, saya bisa mengurusnya" ucap Emir dengan senang hati
"Baiklah, saya akan merepotkan Anda kali ini" ucap Dara tanpa ada niat untuk menolak.
Dara dan Emir kemudian membicarakan tentang universitas, yaitu URC atau University Of Rukmana Capital. Emir mengatakan jika ia akan memasukan Dara ke universitas sebagai mahasiswa semester 3 bukan sebagai mahasiswi baru di fakultas Kedokteran.
Itu karena Dara sudah sangat ahli dalam pengobatan, hanya saja belum sepenuhnya memahami pengobatan modern. Emir juga menyesuaikan dengan umur Dara hingga ia memiliki rekan sebaya nantinya saat di universitas.
Ia yakin Dara bisa dengan cepat beradaptasi di sana.
Mendengar Dara akan kuliah di universitas yang sama, Samuel dan Celine sangat antusias mendengarnya. Samuel adalah mahasiswa senior sedangkan Celine mahasiswa junior yang baru masuk tahun ini.
"Nona, Terimalah ini sebagai rasa terimakasih kami. Ada total 1 Triliun di dalamnya dengan sandi 888888" ucap Emir.
Dara tidak ragu mengambil kartu itu, ia juga mengambil sesuatu dari tas miliknya.
"Terimakasih tuan Emir. Sebagai gantinya ini untuk kalian" ucap Dara memberikan Emir, Yogi dan Rustam pil vitalitas, sedangkan untuk kedua nyonya di sana adalah pil kecantikan.
"Apa ini nona?" tanya Emir.
"Di botol dengan corak biru, adalah pil Vitalitas. Itu berguna membantu menjaga kesehatan anda selama dua tahun dan memperbaiki daya ingat dan konsentrasi. Sedangkan botol dengan corak merah muda adalah pil kecantikan, itu sama seperti yang di minum Carmila. Pil kecantikan bisa mengembalikan elastisitas kulit, memperbaiki sel kulit mati, meremajakan kulit, mencerahkan dan lain-lain. Itu juga sama berlaku selama dua tahun, selebihnya kalian bisa tanya pada Carmila untuk penggunaan pil kecantikan" ucap Dara
Di sini hanya Celine, Samuel dan Yudha yang tidak mendapatkan obat. Sedangkan Carmila dan Theo memang tidak di beri.
"Maaf untuk kalian, aku belum menyiapkan sesuatu. Mungkin di pertemuan berikutnya aku akan membawakannya" ucap Dara
"Tidak apa-apa, bolehkah kita berteman?" ucap Celine
"Tentu" ucap Dara.
Keduanya kemudian bertukar nomor telepon, Samuel juga tidak kalah untuk bertukar nomor telepon, keduanya saudara sepupu sangat senang bisa berteman dengan Dara.
.....
Aktivitas Dara tiap pagi selalu berolahraga di private Gym, melakukan pilates. Bahkan kadang-kadang ia berlatih tanding dengan White. Membuat seisi mansion gempar karenanya.
Awalnya mereka pikir White tengah mengamuk dan menyerang Dara. Namun mereka menjatuhkan rahangnya tercengang saat tahu majikannya tengah berlatih tanding. Semua menghela nafas karena tindakan ekstrim yang lagi-lagi di lakukan majikannya itu.
Aiden yang saat itu melatih kedua muridnya di pagi hari, karena sore hari ia ada kepentingan lain. Di buat tercengang saat melihat Dara adu tanding dengan White, dirinya yang seorang master taekwondo saja di buat ngeri apa lagi orang awam yang melihatnya.
Tok! Tok! Tok!
Pintu kamar Dara di ketuk, Dara yang baru selesai mandi bergegas memakai pakaian dan membuka pintu.
"Nona maaf menganggu, di luar ada beberapa tetangga. Mereka ingin berkenalan dengan anda dan bertukar salam" ucap Agam.
"Oh, kalau begitu saya bersiap dulu, pak Agam tolong sambut mereka lebih dulu" ucap Dara
"Baik nona" ucap Agam
Tak lama kemudian Dara turun ke lantai satu untuk menemui beberapa tetangga, benar saja ada sekitar 4 ibu-ibu yang membawa anaknya terkesima melihat penampilan Dara.
"Cantiknya..." gumam mereka.
Setelah sadar mereka memberikan buah tangan tanda perkenalan, ada yang membawa buah, kue dan lain-lain.
"Terimakasih Bu-ibu, kenapa repot-repot bawa makanan" ucap Dara sopan.
"Tidak apa-apa neng cantik, kita bertetangga kalau ada apa-apa jangan sungkan-sungkan bilang. Iya nggak ibu-ibu" ucap salah seorang di sana yang bernama Susi yang tinggal di mansion no.4 yang suaminya pemilik sebuah real estate di Ibukota.
Ada juga tetangga lain yang datang yakni penghuni mansion no 5, 7 dan 10.
Selang berapa lama Dimas dan Ryan datang setelah berlatih taekwondo. Mereka terkejut saat melihat di ruang tamu banyak orang, setidaknya ada 7 yang hadir membawa anak mereka ada gadis kecil usia 7 tahun, anak laki-laki usia 10 tahun dan Susi yang membawa putranya yang berusia 15 tahun.
"Eh siapa itu neng Dara?" tanya Susi
"Itu adik saya, Dimas Ryan sini!" panggil Dara, Keduanya langsung menghampiri Dara.
"Perkenalkan Bu-ibu, ini adik saya namanya Dimas dan Ryan. Dek ini tetangga kita, ayo beri salam" ucap Dara memperkenalkan keduanya.
"Salam kenal Tante, saya Dimas" ucap Dimas sopan.
"Salam kenal Tante, saya Ryan" ucap Ryan yang juga sopan.
"Wah mereka sangat sopan sekali, sepertinya adikmu sebaya dengan Ezio. Ngomong-ngomong mereka masih sekolah?" tanya Susi
"Ya, tahun ini mereka masuk sekolah menengah. Dan mulai besok sudah masuk sekolah di Teranish School" ucap Dara
"Wah, berarti sama dong. Ezio juga akan sekolah di sana tahun ini" ucap Susi bersemangat.
Setelahnya mereka berbincang ringan sedangkan Ezio dan anak-anak yang lain bermain di halaman samping bersama dengan Diman dan Ryan.
Dimas, Ryan dan Ezio nantinya akan menjadi sahabat dan di kenal sebagai RED Prince di Teranish School.
...•••••...