The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
156. Penolakan



Dara melihat sosok pria tampan dengan raut wajah gelisah yang bisa di tangkap oleh Dara. Untungnya di mansion sepi karena kedua adiknya sudah berangkat ke sekolah dan Alan tengah pergi keluar.


Flo juga terlihat membungkuk sopan pada nonanya saat melihat Dara datang. Flo saat ini tidak berlatih dengan Ferdi, ia berada di mansion karena Ferdi sedang ada rapat penting dan tidak bisa di wakilkan. Jadi patihan di undur malam nanti.


"Arvin? Kenapa kamu ada di sini? Bukannya kamu kembali ke kota S?" tanya Dara


Arvin yang mendengar suara itu mendongak dan tersenyum lembut melihat ke arah Dara. Namun hatinya masih gelisah mengingat Dara akan bertunangan.


"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu" ucap Arvin


"Kalau begitu di ruangan kerjaku saja" ucap Dara.


Mereka bertiga pun masuk ke dalam ruang kerja Dara. Arvin mengernyitkan keningnya saat melihat Flo juga ikut masuk dan berdiri dengan posisi tenang di di belakang Dara.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Dara menoleh ke arah Arvin.


"Bisakah kita bicara face to face?" ucap Arvin


"Hmm??" ucap Dara bingung, namun sedetik kemudian ia paham jika Arvin tidak ingin ada orang lain yang mendengar apa yang akan mereka bicarakan.


"Flo, keluarlah dulu, aku akan bicara dengan Arvin sebentar" ucap Dara


"Tapi nona, pria ini terlihat sangat berbahaya" ucap Flo berbisik di telinga Dara.


"Aku tahu, kau tidak perlu khawatir" ucap Dara tersenyum


"Baiklah" jawab Flo


Meskipun tidak setuju ia keluar, namun Flo tetap mengikuti ucapan Nonanya itu. Ia berharap pria di depannya itu tidak berbuat macam-macam dengan nonanya.


Flo sejenak lupa jika Dara bukanlah orang biasa. (Sebagai seorang tangan kanan dan kepercayaan Dara, Flo ingin selalu berada di dekat nonanya itu dan melindunginya dari semua Marabahaya.


"Sekarang, katakan apa yang ingin kamu katakan padaku" ucap Dara saat Flo sudah keluar.


Arvin beranjak dari duduknya dan menghampiri Dara yang duduk di sofa single. Tanpa ragu Arvin berlutut dan memegang tangan Dara tanpa permisi.


Tentu saja Dara langsung menarik tangannya, dia tidak ingin ada laki-laki lain yang menyentuh nya selain Kai.


Melihat Dara yang menghindar Arvin menghela nafas kecewa. Tangannya mengepal keras karena ia berusaha meredam emosi di dadanya yang sudah bergejolak.


"Ra, bisa kamu batalkan rencana pertunangan kamu dengan pria itu?" ucap Arvin lembut


"Maksudnya?" tanya Dara


"Aku yakin kamu paham dan tahu jika aku menyukaimu. Tidak! lebih tepatnya aku mencintai kamu Dara, aku tidak ingin kamu bertunangan dengan pria lain. Sungguh hatiku sakit melihatnya, aku mencintaimu, tolong berikan kesempatan untukku dekat dengan kamu" ucap Arvin yang masih berlutut di depannya.


"Bangun Vin! Kamu benar, aku tahu semuanya tentang perasaan kamu padaku. Lalu, apa yang kamu harapkan dari semua yang aku tahu tentang perasaan kamu?" ucap Dara menatap ke arah Arvin yang terkejut.


"Aku harap mau kamu batalkan pertunangan mu dengan pria itu" ucap Arvin marah jika mengingat rencana masa depan gadis idamannya. Namun ia juga berharap Dara mau mendengarkannya dan memberikan kesempatan padanya.


"Apa hak kamu melarangku? Aku memang tahu kamu menyukaiku, tapi aku tidak bisa menerimanya. Aku sudah memiliki Kai" ucap Dara tegas.


Selama ini dia diam karena Arvin tidak pernah berbuat hal yang membuat hubungannya dan Kai rusak. Meskipun ia tahu Arvin menyukainya, ia pikir Arvin hanya akan memendamnya saja.


Tapi sekarang?


Dara sama sekali tidak ingin memberikan kesempatan untuk pria ataupun wanita lainnya masuk ke dalam hubungannya dengan Kai.


"Kenapa? Kenapa kamu lebih memilihnya? Aku juga tampan dan Kaya, aku juga mencintai kamu dengan tulus. Hanya kamu yang membuat aku mengerti artinya cinta Dara. Aku yakin bisa membahagiakan kamu lebih dari dia" ucap Arvin


Dara mengela nafas.


"Maaf Arvin, meskipun kenyataannya memang seperti yang kamu bicarakan. Tapi tentang kebahagiaanku, aku yang merasakannya sendiri. Aku sangat bahagia dengan Kai, aku mencintainya. Hatiku adalah milik Kai, aku tidak bisa memberikan kesempatan palsu pada siapa pun termasuk kamu" ucap Dara


"Aku akan sangat jahat jika aku memberikan harapan palsu padamu. Bangunlah! Kamu berhak mendapatkan wanita lain yang lebih dari diriku. Jalanmu masih panjang, padamkan api cinta mu untukku, jika tidak bisa maka lakukan perlahan. Maaf aku mengecewakanmu, karena aku sama sekali tidak mencintai kamu" ucap Dara


"Ra aku mohon...." ucap Arvin dengan menahan sakit dan sesak bersamaan di dalam dadanya. Saat ia di tolak oleh gadis yang ia cintai.


"Maaf" ucap Dara menarik kursinya dan hendak beranjak pergi.


Namun Arvin menahan tangannya dan menariknya lalu memeluknya, Dara tentu saja langsung menghindar dan melangkah mundur.


Arvin terus mendekati Dara, ia gelap mata karena cintanya di tolak. Ia ingin melakukan apa saja demi mendapatkan Dara, meskipun harus menggunakan cara kasar sekali pun.


"Arvin, Hei sadar! Jangan berpikir macam-macam" ucap Dara dengan tenang meskipun ia merasakan amarah dalam aura Arvin.


"Aku akan melakukan apapun untuk menaklukkan kamu Ra, meskipun dengan cara kasar dan memaksamu menjadi milikku. Atau aku harus membuatmu hamil dulu agar kamu tidak akan pergi dariku" ucap Arvin yang terus mendekat ke arah Dara dan hendak menyentuh wajah Dara.


BRAK!!! BUGH!!!


Suara pintu di buka dengan keras dari luar dan sebuah bogeman mentah menghantam wajah tampan Arvin.


"Aakkkhhhh..!!!" teriak Arvin merasakan sakit di pipinya yang langsung biru lebam.


Pelakunya adalah Flo, meskipun ia di suruh keluar, ia masih berjaga di depan ruangan kerja nonanya dan mendengar semuanya yang keduanya bicarakan.


Dara jelas tahu Flo berada di balik pintu dan tidak pergi, jadi ia tenang menghadapi Arvin yang sudah kehilangan akal. Karena Dara yakin Flo akan masuk dan mengatasi semuanya tanpa harus dia yang turun tangan.


Dara diam-diam mengeluarkan Chi dan menutup akses dari luar, agar orang lain tidak mendengar keributan di dalam ruangan kerja miliknya.


"Jauhkan tangan kotormu dari nona ku brengsek!!!" teriak Flo marah karena Arvin berani menyentuh nona yang sangat ia lindungi dan paling berarti baginya.


"Jangan ikut campur jal*ng si*lan!" ucap Arvin marah dan hendak memukul Flo.


BUGH!!!


Namun sayangnya pukulan Flo lebih dulu mendarat di perutnya dan membuat Arvin jatuh tersungkur dan mengerang di lantai dengan mengeluarkan seteguk darah, karena oran Vitalnya terkena.


"Arvin, pulanglah! Aku harap kamu tidak di butakan dengan perasaan mu! Aku masih melihat tante Rose sebagai sahabat ibuku dan tidak menghukum mu lebih dari inj, jadi belajar melupakan perasaan mu padaku. Jangan sampai rasa cintamu menjadi obsesi yang bisa membunuh dirimu sendiri di masa depan" ucap Dara


"Flo, bawa Arvin keluar dan berikan Pil penyembuh padanya" ucap Dara


"Tapi nona, si brengsek ini..." ucap Flo tidak terima Dara ingin menyembuhkan pria yang di hajar nya itu dan menendangnya lagi dengan cukup keras.


"Aaakkhhhhhhhh" teriak Arvin.


"Dia putra sahabat ibuku, aku tidak ingin membuat masalah tidak perlu dan membuat jalinan persahabatan di keluarga kami terputus karenanya" ucap Dara memikirkan jauh kedepannya.


"Baiklah" ucap Flopasrah dan mengalah, ia kemudian membawa Arvin pergi setelah meminum pil penyembuh itu.


Arvin sendiri merasakan hangat dan dingin setelah meminum obat itu. Lukanya pun pulih dan rasa sakitnya sudah berangsur hilang, di buat terkejut sekaligus takjub. Pikirannya juga sedikit lebih jernih setelah meminumnya


Ia melihat ke arah Dara, meskipun rasa sakit patah hatinya sangat hebat, namun tiba-tiba ada perasaan menyesal dalam hatinya karena ia sempat di kuasai emosi. Dan sempat berpikir melakukan hal buruk pada wanita yang ia cintai, hanya demi memaksanya untuk menerima cintanya.


Saat berjalan keluar dan melewati Dara, Arvin berhenti tepat di samping Dara.


"Maaf!" ucapan penuh perasaan sesal di hatinya namun ia tulus mengucapkan itu.


"Kali ini aku maafkan, tapi tidak lain kali. Aku harap kamu belajar dari rasa sakitmu saat ini. Tidak semua yang kita inginkan bisa di gapai, tidak semua yang menurut kita baik adalah yang terbaik versi orang lain. Belajar hapus rasa cintamu untukku, aku yakin jodohmu yang sebenarnya dalam perjalanan dan akan menghampirimu Jika sudah waktunya" ucap Dara bijak.


Arvin hanya diam dan mendengarkan ucapan Dara kemudian ia pergi. Dara kemudian melihat Arvin pergi dengan Flo di belakangnya yang bersiaga takut Arvin akan berbalik dan melukai nonanya.


...••••••...