
Dara, Kai, Dimas dan Ryan sekarang berada di pusat pembelanjaan, yaitu Holly Mall. Kai ingin memberikan hadiah, yang bisa di pilih sendiri oleh kedua adik dari kekasihnya itu.
Itu sebagai hadiah ucapan selamat karena Dimas sudah menjadi juara kelas dan juga juara umum. Sedangkan Ryan harus puas di posisi juara kedua di kelas.
Selisih nilai keduanya sangat sedikit, Jika Dimas dan Ryan tidak sekelas. Ryan juga akan menjadi juara kelas, sayangnya mereka sekelas dan Ryan harus puas di posisi kedua. Meskipun begitu, ia tidak iri sama sekali, justru ia bangga sahabatnya itu juara umum.
"Kakak ipar, apa aku boleh membeli alat musik EDM?" ucap Dimas penuh harap.
"Kamu bisa memainkannya?" tanya Kai terkejut dengan permintaan Dimas.
"Belum, tapi aku ingin belajar. Kak, boleh kan aku belajar musik EDM?" ucap Dimas berharap.
"Apa kamu ingin menjadi DJ?" tanya Dara kemudian menatap adiknya itu
"Tidak, aku hanya ingin belajar memainkannya saja. Jika aku sudah bisa, aku bisa memainkannya di live streaming" ucap Dimas.
"Baiklah, lakukan yang kamu suka. Asal jangan merugikan diri sendiri dan orang lain" ucap Dara.
"Makasih kak" ucap Dimas senang, ia langsung berjalan menunjuk toko yang menjual peralatan musik.
Tidak sungkan-sungkan, Kai membelikan yang satu set lengkap yang harganya 100 jutaan. Dimas awalnya menolak dan tidak mau karena harganya terlalu mahal, Begitupun dengan Dara yang menolak.
Namun Kai tetap ingin memberikan yang terbaik untuk Dimas. Uang bukan masalah untuknya, itu tidak seberapa di mata Kai.
"Kai, apa tidak terlalu berlebihan?" ucap Dara
"Tidak! Lagian aku tidak membelikan hadiah setiap hari juga. Aku membelikannya yang satu set lengkap dengan kualitas baik, agar tidak cepat rusak san bisa di gunakan dalam jangka waktu yang lama" ucap Kai
"Baiklah, Terimakasih kalau begitu" ucap Dara tidak lagi sungkan
"Terimakasih Kakak ipar" ucap Dimas.
"Sama-sama" ucap Kai pada Dimas
"Sama-sama, babe" Lalu Kai berbisik pelan di telinga Dara, membuat jantung Gadis itu berdegup kencang.
Kai menjauhkan kepalanya dari telinga Dara dengan senyum di wajahnya, ia kemudian menoleh ke arah Ryan dan menanyakan apa yang ia inginkan sebagai hadiah.
"Kakak ipar, apa aku boleh minta motor?" tanya Ryan.
"Ryan, bukannya kakak sudah bilang akan membelikannya saat umurmu cukup? Kakak tidak akan mengijinkannya meskipun kamu meminta pada kak Kaisar" bukan Kai yang menjawab, tapi Dara yang menolak permintaan Ryan.
"Itu bukan untuk aku kak, tapi untuk ayah. Ayah menjual motor kami satu-satunya, saat kami tidak ada uang untuk membayar biaya rumah sakit kak Alan. Aku hanya butuh motor bebek saja nggak apa-apa kok, itu pun kalau boleh" ucap Ryan menunduk.
"Astaga, Maafkan kakak Yan, sepertinya ada yang luput dari perhatian kakak selama ini. Kalau begitu biar kakak yang belikan untuk Pak Agam" ucap Dara merasa tidak enak dan juga bersalah.
"Ra, biar aku yang membayarnya, setelah ini kita ke dealer" ucap Kai.
"Tidak Kai, untuk yang ini biar aku yang bayar" ucap Dara
"Kalau begitu, Ryan pilih hadiah lainnya. Karena itu untuk ayah mu, jadi hadiah kamu masih belum di berikan" ucap Kai mengalah karena Dara tetap pada pendiriannya..
"Aku tidak ingin apa-apa lagi" ucap Ryan menolak.
"Jangan begitu, kalau begitu ayo ikut aku!" ucap Kai.
Ia kemudian berjalan menuju toko jam tangan, Kai membeli jam tangan yang sesuai dengan umur Ryan. Harga jam tangan itu sekitar 50 jutaan.
Ryan menerima jam tangan itu dengan tubuh bergetar. Ia tidak menyangka jika Kai serius membelikan hadiah itu untuknya. Ia berterima kasih untuk itu.
.....
Setelah mengantar kedua adiknya ke mansion, Dara dan Kai keluar untuk berkencan. Keduanya saat ini berada di sebuah penthouse mewah di kawasan elite pusat ibukota.
The Capital Residence, itu merupakan gedung apartemen yang sangat terkenal dan juga mahal. Ada empat tower di sana A,B,C dan D, masing-masing dati empat tower itu memiliki penthouse di lantai paling tinggi gedung. Namun di gedung A, memiliki luas yang berbeda bahkan bisa dua kali lipat dan juga harganya sangat fantastis. Dan orang yang memiliki penthouse itu adalah Kai.
"Ini rumahmu?" tanya Dara
Ia terkagum-kagum dengan design interior penthouse itu. ini sangat indah!!
"Apa ini?" tanya Dara
"Itu adalah kartu akses dan kunci penthouse ini" ucap Kai
"Kenapa kamu memberikannya padaku?" tanya Dara heran.
"Karena hanya kamu dan aku yang bisa masuk rumahku. Kamu bebas datang ke sini semaumu di masa depan" ucap Kai
"Eh, tapi..." ucap Dara
"Tidak ada tapi, apapun akan aku berikan untukmu. Atau kamu ingin penthouse ini aku alihkan ke namamu?" tanya Kai.
"Ti-tidak perlu oke, baiklah aku akan menyimpan kunci dan kartu akses ini untuk ku" ucap Dara kemudian.
"Ayo kita ke sana, kamu pasti akan menyukainya" ucap Kai menggenggam tangan Dara dan menariknya ke Rooftop.
"Wow..." ucap takjub Dara saat melihat pemandangan di Rooftop. Itu adalah pemandangan matahari terbenam di tengah kota dan itu terlihat sangat indah.
Kai berdiri di belakang Dara, kedua tangannya memegang batas pagar di sana. Meskipun keduanya tidak berpelukan tapi posisi mereka sangat dekat.
PLUK!!
Kai menyenderkan kepalanya ke bahu Dada.
"Aku tidak menyangka aku sudah melepas masa single ku selama 25 tahun. Aku mencintaimu Dara" ucap Kai.
Dara menegang, jantungnya berdetak dengan kencang, nafas mint Kai terasa dan merangsek masuk ke hidung Dara.
Melihat Dara yang diam saja, Kai berinisiatif memeluknya dari belakang. Karena tidak ada penolakan, Kai memanfaatkannya dan tidak ingin melepaskan pelukan itu.
Cup!
Satu kecupan mendarat di kening Dara.
"Apa kau suka pemandangan di sini?" taya Kai.
"Hmm, itu sangat indah" ucap Dara apa adanya.
Kai merogoh kantong celana miliknya dan mengeluarkan dua jam tangan couple di sana. Kai membelikannya saat membeli jam tangan untuk Ryan, tanpa sepengetahuan mereka semua. Jam tangan itu seharga satu buah mobil.
"Untukku?" tanya Dara terkejut
"Ya, ini jam tangan couple. Apa kamu suka?" tanya Kai, dara hanya mengangguk pelan.
Kai memakaikan jam tangan itu ke tangan Dara dengan pas, lalu ia juga memakainya di pergelangan tangannya.
"Jangan pernah lepas, ini sebagai simbol mengingatkan kita agar tidak lupa meluangkan waktu untuk bersama. Bagaimanapun pekerjaan ku mengharuskan aku sering bepergian" ucap Kai.
"Baiklah, terimakasih atas hadiahnya. Aku tetap mendukungmu dari jauh, tetap semangat, kita bisa melewati nya" ucap Dara.
Cup!!!
Dara hendak mencium pipi kiri Kai, namun siapa sangka jika Kai akan menoleh yang membuat ciuman Dara jatuh ke bibir Kai dan kali ini tanpa penghalang.
Karena terkejut, Dara segera menjauh, namun dengan cekatan pinggang dan tengkuknya di tahan oleh Kai dan memperdalam ciuman itu.
"Kamu yang memulainya, babe" ucap Kai di sela ciuman pertama keduanya.
Keduanya yang baru pertama kali berciuman tentu saja masih sedikit kaku, namun Kai mengikuti nalurinya. Di tambah ia sudah less private dengan Mbah Gugel dan rekomendasi dari mbak yutub dengan Drama yang di tontonnya. Jadi Kai mempraktekkannya saat ini.
Dara kesulitan mengambil nafasnya, namun perlahan ia sudah mulai bisa menikmatinya dan bisa membalas Kai.
Ciuman itu pun terus berlanjut hingga hari sudah gelap dan bibir keduanya terasa kebas dan tebal.
"Aku mencintaimu, jangan pernah meninggalkanku, oke? Kalau tidak aku bisa gila jika tanpa ada kamu" ucap Kai lalu kembali mencium Bibir Dara yang seakan menjadi candu baginya dan tidak inhi. terlepas.
...••••••...