
Taksi yang di naiki Kai kini berhenti di depan pintu gerbang yang menjulang tinggi. Salah satu penjaga menghampiri taksi itu, saat melihat Kai yang duduk di kursi penumpang. Ia segera memberikan instruksi rekannya untuk membuka gerbang.
Supir taksi itu terlihat gemetar mengendarai taksi miliknya masuk ke halaman yang luas dan hamparan bunga dan tanaman hijau di sekitarnya, sebelum mencapai sebuah bangunan besar yang berdiri dengan kokohnya di ujung jalan itu.
Sepanjang hidupnya, supir taksi itu baru pertama kali masuk ke halaman kediaman keluarga terbesar di ibukota bahkan di negaranya itu.
Manor Keluarga Narendra, mungkin seumur hidupnya ia bisa menyombongkan diri pada orang-orang. Kalau dirinya pernah membawa tamu agung keluarga itu masuk dan melihat dengan mata kepalanya sendiri, betapa megah dan agungnya kediaman orang terkaya dan paling berpengaruh di negaranya itu.
Namun kenyataan menghantamnya dengan lebih keras, saat ia mengetahui identitas penumpangnya saat Kai turun dari taksinya. Kai di sambut begitu hormat oleh orang-orang yang bekerja di Manor dan memanggilnya tuan muda Narendra.
Tentu saja supir taksi itu lebih terkejut lagi!
....
Kai masuk ke dalam manor, ia melihat anggota keluarganya berada di ruang keluarga setelah mereka sarapan. Bahkan Pamannya dan juga ayahnya sudah bersiap berangkat ke pangkalan dan ke kantor.
"Loh Kai, kamu pulang? Bukannya kamu ada tugas?" tanya Galuh pada putra satu-satunya itu.
"Sudah selesai" ucap Kai
"Hah??" ucap Galuh terkejut mendengar ucapan Kai. Bagaimana mungkin tugas itu di selesaikan dalam kurun waktu dua hari.
Tentunya Galuh tidak tahu kalau tugas itu hanya di selesaikan dalam satu malam.
"Nanti aku ceritakan, apa papa mau berangkat ke pangkalan?" tanya Kai, Galuh hanya menganggukkan kepalanya.
"Bisa tunda dulu setengah jam, ada yang ingin aku sampaikan" ucap Kai serius.
Mendengar itu tentu saja Galuh tidak masalah, ia pikir ada masalah penting yang harus di diskusikan sang putra dengannya.
"Ke ruangan kerja papa saja" ucap Galuh
"Tidak perlu, Kai bicara di sini saja, dengan semuanya" ucap Kai
Galuh dan yang lain mengeryitkan dahinya bingung, namun mereka menurut dan duduk dengan tenang di ruang keluarga menunggu Kai mengucapkan sesuatu.
"Kamu mau membicarakan apa Kai?" tanya Dierja
"Iya, cepat katakan, mama penasaran jadinya nih" ucap Hesti yang tidak sabar dengan apa yang ingin putranya katakan. Karena tidak biasanya Kai ingin mengatakan seseatu pada semua orang dengan serius.
"Aku ingin kalian melamar Dara untukku" ucap Kai
"Apa???" ucap yang lain terkejut dengan ucapan Kai
Bukannya tidak setuju dengan hubungan mereka, namun mereka terkejut karena tidak menyangka Kai bisa bergerak cepat dan ingin mengikat kekasihnya lebih jauh.
"Bagus!!! Kapan mama bisa ke kota S? Kalau perlu kalian menikah secepatnya, mama akan persiapkan pernikahan yang megah untuk kalian" ucap Hesti yang sadar terlebih dulu dan dengan semangat empat lima mengatakan itu, membuat yang lain sadar dan mengerjapkan matanya takjub.
"Waaahh, si kutub benar-benar mencair" ucap Ajeng benar-benar takjub, jika bisa ia akan bertepuk tangan untuk Dara yang luar biasa bisa melelehkan kutub di keluarganya, yang bahkan dengan tegas meminta keluarganya melamar sang kekasih.
"Aku dan Dara akan bertunangan dulu mah" ucap Kai
"Nggak perlu tunang-tunangan, langsung nikah aja. Mamah akan mempersiapkan gaun spesial rancangan mama untuk di kenakan menantu cantik mama" ucap Hesti dengan semangat membara dan sudah membayangkan gaun seperti apa yang akan ia Desain untuk calon menantu nya itu.
"Kamu serius Kai?" tanya Dierja terkejut
"Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku terlebih perasaanku, opah. Aku tidak ingin gadis lain selain Dara!" ucap Kai tegas
"Mama setuju! Jadi kapan kita ke kota S bertemu dengan keluarga Adi Raharjo untuk membahas pernikahan kalian?" tanya Hesti sudah tidak sabar.
"Bagaimana jika akhir pekan ini? Tapi mah, Dara hanya setuju dengan pertunangan. Ia bilang akan menyelesaikan kuliahnya dulu baru menikah" ucap Kai
"Nanti mama bicara dengan Dara dari hati ke hati. Kamu bisa ajak Dara ke sini besok? Mamah akan bujuk dia untuk bisa menikah dengan cepat" ucap Hesti
"Baiklah" ucap Kai.
Jujur saja ia juga berharap Dara menyetujui untuk menikah dengannya dalam waktu dekat. Ia berdoa semoga mamanya bisa membuat Dara setuju menikah dengannya.
....
Di sebuah mansion keluarga Brigaz di barat ibukota, salah satu keluarga kelas atas di ibukota. Alice kini tengah menahan kesalnya karena sepupunya Ivone menariknya untuk bicara di halaman samping mansion nya.
Ia merasa kesal karena sepupunya itu datang tiba-tiba datang pagi-pagi untuk bertamu di rumah nya.
"Ada apa?" tanya Alice tidak menyembunyikan raut wajah kesalnya.
"Alice, jangan marah-marah dong. Apa aku salah mengunjungimu, Kitakan bersaudara" ucap Ivone.
"Cih, jangan banyak Drama, katakan maksud kamu apa menemuiku pagi-pagi" ucap Alice tidak ingin basa-basi.
Ivone menggeram keras dalam hatinya, ingin sekali ia mencabik-cabik wajah mulus dan cantik sepupunya itu. Namun ia berusaha menahan diri agar emosinya tidak keluar.
Ia berusaha tenang dan tetap tersenyum palsu pada sepupunya itu.
"Jangan marah dulu, aku datang memang ada maksud dan ingin meminta bantuanmu" ucap Ivone
"Ogah!" ucap Alice sarkas.
Ivone menggeram marah dan mengepalkan tangannya marah. Ia menghela nafas untuk menekan emosinya yang hampir meledak.
"Ayolah Alice, aku hanya butuh bantuan kamu kali ini aja, ini masalah genting dan gawat" ucap Ivone masih terus berusaha membujuk sepupunya itu.
"Katakan!" ucap Alice jengah.
Meskipun ia enggan membantu, namun ia juga penasaran ingin tahu bantuan apa yang wanita ular ini minta darinya.
Mendengar ucapan Alice tentu saja Ivone senang. Dia dengan segera mengatakan keinginannya.
"Bantu aku bertemu dengan bibi mu, nyonya Narendra" ucap Ivone.
Mata Alice melotot mendengar permintaan Ivone. Dengan tatapan tajam yang mengarah ke Ivone, ia jelas mengatakan 'Apa kau Gila??'.
"Jangan keterlaluan Ivone! Aku tidak akan membiarkanmu membuat masalah!" ucap Alice merasa kesal.
"Aku tidak membuat masalah, aku hanya ingin bertemu dengan Tante Hesti. Karena ada hal mendesak yang ingin aku aku katakan padanya" ucap Ivone tanpa rasa bersalah ataupun canggung, justru ia sangat percaya diri.
"Memang hal mendesak apa yang berhubungan dengan Tante Hesti dan kamu? Kamu pikir aku bodoh! Kamu hanya ingin mendekati Kak Kai lewat ibunya kan?" ucap Alice terdengar sinis.
"Kok kamu begitu sih? Bagaimanapun aku sepupumu! Aku juga tidak ada niat buruk, aku justru ingin memberitahu tante Hesti tentang satu hal" ucap Ivone.
"Kamu memang sepupuku, tapi Tante Hesti bukan tantemu. Jadi jangan menganggap kamu dekat dengan keluarga kak Kai dan berhenti memanggil tanteku dengan sebutan Tante" ucap Alice.
Ivone saat ini sangat kesal karena Alice mengingatkan dirinya untuk sadar diri dan tidak boleh memanggil Hesti dengan sebutan Tante, karena dia bukan keponakannya.
Ingin sekali Ivone berteriak dan menampar Alice, namun ia masih sadar posisi keluarganya di bawah keluarga Brigez, apalagi jauh dari keluarga Narendra.
Meskipun kakak Ibunya atau ibu dari Alice adalah seorang menantu Brigez. Dan ibunya dari keluarga Abian keluarga kelas satu. Tapi namanya ikut dengan marga sang ayah, yakni Jatmiko, keluarga kelas dua di ibukota.
"Maaf, aku tidak bermaksud.... Aku hanya ingin mengatakan tentang Dara yang ternyata bukan gadis baik-baik, Kau tahu dia seorang player! aku melihatnya bermesraan dengan banyak laki-laki" ucap Ivone dengan raut wajah di buat sedih.
"Jaga ucapanmu Ivone!!! Omong kosong apa yang kau bicarakan. Jika Kai mendengarnya, mungkin kau bisa kehilangan lidahmu yang tidak bisa mengatakan hal baik tentang orang lain, terlebih itu tentang orang yang Kai cintai" ucap Alice kesal karena Ivone sudah memfitnah idolanya.
Ya, idolanya. Semenjak pertemuannya dengan Dara di Raka Restaurant. Alice menanyakan tentang Dara pada tunangannya, Rafael.
Dari tunangannya itu, Alice mengetahui jika Dara sangat hebat dalam bertarung dan juga kedokteran. Namun Rafael tidak tahu identitas asli Dara, jadi Alice juga tidak mengetahuinya lebih banyak. Tapi itu cukup membuatnya kagum dan mengidolakan nya.
"Aku tidak mengatakan omong kosong, ini kenyataan. Aku melihatnya sendiri dan aku punya buktinya" ucap Ivone kesal.
"Aku tidak percaya, aku sangat yakin Dara adalah gadis baik-baik dan juga sangat berpendidikan. Ia tidak mungkin melakukan hal seperti yang kau katakan, tidak seperti seseorang yang bisanya mengatakan omong kosong dan memfitnah orang lain. Kalau kau ingin menemui Tanteku, datang saja ke manor! itupun kalau kau bisa!" ucap Alice malas meladeni Ivone dan masuk ke dalam mansionnya.
Ivone sangat marah karena Alice secara tidak langsung menyindirnya dengan keras. Ia bahkan tidak mau percaya padanya dan tidak mau membantunya. Ivone juga merutuki kebodohannya karena tidak menunjukan bukti itu pada Alice hingga ia kehilangan bantuan untuk bertemu debgan nyonya Keluarga Narendra itu.
...•••••••...