The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
111. Kerinduan Kai



Kai sedikit menegang saat Dara memeluknya dari belakang. Ia merasakan benda kenyal dan padat itu menempel sempurna di punggungnya kokohnya.


"Sepertinya aku harus cepat-cepat menghalalkan Dara" gumam Kai dengan pelan.


"Apa kamu mengatakan sesuatu, Kai?" tanya Dara sedikit berteriak karena suaranya terbawa angin dan tidak akan terdengar jika berbicara pelan.


Padahal Dara sangat jelas mendengar gumaman Lai, itu karena pendengarannya sangat tajam jauh melebihi pendengaran manusia biasa.


Namun karena Dara tidak ingin Kai malu setelah Dara mendengar gumamnya itu. Jadi Dara pura-pura tidak mendengar apapun.


"Aku tidak mengatakan apa-apa" ucap Kai tidak berani mengatakan apa yang narusan ia ucapkan itu.


Dara tersenyum mendengar jawaban itu, ia kemudian mengeratkan pelukan di pelukan Kai, membuat Kai menahan nafasnya dengan Dara yang tiba-tiba mengeratkan pelukannya.


Jantung Kai tidak bisa di ajak kerja sama sekarang, debaran jantungnya terus menerus berdetak kencang dan Dara bisa merasakan itu.


Selain itu, Dara juga menikmati mempuk Kai dari belakang dan merasakan perut kotak milik Kai dan bisa ia rasakan dari balik pakaian yang Kai gunakan.


Setelah beberapa saat, keduanya pun sampai di restoran, yang sudah Dara booking salah satu private roomnya itu. Dan keduanya langsung masuk lalu memesan makanan untuk mereka pada pelayan yang mengantar keduanya ke ruangan itu.


"Aahh, Kai..." teriak Dara saat tubuhnya di angkat dan mendarat di pangkuan Kai. Sesaat Pelayan itu keluar dari dalam ruangan untuk menyiapkan pesanan yang mereka pesan.


Kai melepas masker yang selalu di kenakan oleh Dara itu.


"Aku membutuhkan vitamin khusus itu sekarang, Babe" ucap Kai menatap bibir cery milik Dara yang sedah melambai-lambai ke arahnya.


"Vitamin ap... hmmmmpp..." ucapan Dara teredam dengan ciuman tiba-tiba yang Kai lakukan.


Meskipun awalnya Dara terkejut, namun perlahan Dara mulai menikmati dan membalas Lum*tan Kai yang semakin menuntut.


"Aku merindukanmu" ucap Kai saat keduanya menjeda ciuman mereka untuk mengambil nafas, setelah mengatakan itu Kai memagut kembali bibir ranum yang manis dan sangat candu baginya itu.


Hingga sebuah ketukan membuyarkan semangat berciuman mereka dalam berbagi Saliva. Dara menepuk pelan dada Kai yang seperti enggan melepas ciuman panjang mereka.


Dengan wajahnya yang memerah, Dara turun dari pangkuan Kai dan duduk manis di kursinya sejak awal.


"Ck! Ganggu aja" gerutu Kai pelan karena ciuman mereka terputus.


"Kai jangan begitu" ucap Dara


"Hmm" gumam Kai


"Masuk!" ucap Dara setelah membenahi pakaiannya yang sedikit kusut, karena Kai begitu semangat menciumnya.


Seorang pelayan masuk ke dalam ruangan dengan membawa makanan pesanan mereka dengan sebuah troli, karena makanan yang di pesan lebih dari satu dan cukup banyak.


"Silahkan di nikmati tuan, nona" ucap pelayan itu sedikit tertegun selama sekian detik saat ia melihat wajah Dara dari jarak dekat dan tanpa masker di wajahnya.


"Sungguh pasangan surga, bagaimana mereka sangat cantik dan tampan? Tuhan, kenapa kau tidak adil denganku, kenapa saat pembagian kecantikan kau melupakanku dan memberikan gadis ini lebih banyak. Bahkan ia terlihat seperti orang berada dan mempubyai pria tampan di sampingnya. Ahhh, aku sangat iri" gumam Pelayan itu dalam hati.


"Ekhmm..." Dara berdeham kecil saat pelayan itu sudah pergi untuk menetralkan rasa malu dan juga jantung berdebarnya karena kelakuan kekasihnya yang menyisir seperti angsa itu


Untung Dara tidak menggunakan makeup bahkan lipstik pun ia tidak memakainya, karena bibirnya sudah merah alami. Jadi bibirnya sangat Cipokable, tidak perlu menggunakan lipstik yang transferproof.


Melihat Kai yang justru menatapnya dengan senyum membuat Dara salah tingkah. Apalagi yang menatapnya itu adalah pria yang sangat tampan itu.


"Berhenti menatap ku Kai, ayo makan!" ucap Dara menundukkan kepalanya karena wajahnya yang memerah karena tersipu malu.


"Hmm, suapi aku, Babe. Tolong! a..." ucap Kai menyodorkan wajahnya dan membuka mulutnya.


"Hmm, halo mahan di suhapin hamhu lahanya ehak" ucap Kai dengan makanan yang penuh di mulut nya.


"Telen dulu, baru ngomong" ucap Dara terkekeh, Kai oun menelan makanan di mulutnya kekasihnya yang penuh itu.


"Kalau makan di suapin kamu rasanya enak babe" ucap Kai mengulangi ucapannya barusan


"Sekarang kamu jadi tukang gombal dan manja hmm?" ucap Dara mengelus rahang tajam yang terpahat sempurna itu dengan lembut. Membuat Kai nyaman dan memejamkan matanya.


"Aku bilang apa adanya kok. Kalau sifatku yang manja, aku cuma manja sama kamu dan kalau dekat dengan kamu. Bahkan ke mama ku saja aku jarang banget manja-manjaan, mungkin saat itu aku masih sangat kecil" ucap Kai


"Baiklah aku percaya, lalu kamu setelah ini mau kemana?" tanya Dara dengan raut waja penasaran.


"Kemana pun kamu pergi, aku akan kesana" ucap Kai.


"Aku mau ke kota M nyusul Keluargaku ke sana, beneran kamu mau ikut?" tanya Dara menatap Kai


"Ke-ketemu calon mertua?" tanya Kai dengan rasa gugup yang tiba-tiba menghampiri nya Padahal sebelumnya ia tidak pernah merasakan gugup kecuali saat menyatakan cinta pada Dara saat itu.


Tapi kondisi ini berbeda, karena ia akan bertemu dengan keluarga yang sangat di cintai oleh kekasihnya itu.


"Kenapa? Kamu takut?" tanya Dara terkekeh melihat wajah tegang Kai.


"Nggak! Aku akan Takut, aku hanya khawatir mereka tidak menyukaiku. Kalau perlu aku sekalian minta izin pada mereka untuk menikahi kamu dalam waktu dekat" ucap Kai


"Hah?? Menikah? Kamu gila Kai" ucap Dara terkejut.


"Hmm, aku memang tergila-gila denganmu" ucap Kai serius.


"Menikah itu menyatukan dua keluarga, aku belum mengenal keluargamu. Bahkan hubungan kita baru seminggu loh Kai. Kau tidak terburu-buru ingin menikahi ku?" ucap Dara


"Aku tahu, tapi aku benar-benar serius denganmu. Aku tidak ingin menjalani hubungan yang main-main, aku akan menunggu sampai kamu siap menikah. Karena aku hanya ingin menikah denganmu" ucap Kai berjanji.


"Kalau ada wanita lain yang menyukaimu di masa depan dan hati kamu goyah gimana?" tanya Dara


"Itu tidak akan terjadi!" ucap Kai yakin


"Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan Kai. Bagaimana kalau ternyata umurku tidak panjang dan aku meninggalkan kamu, atau bagaimana kalau perasaan mu berubah?" ucap Dara


"Jangan bicara seperti itu, aku tidak suka. Kalaupun Tuhan memutus jodoh kita secara singkat dengan memisahkan kita melalui maut. Biarkan itu berjalan sampai kita tua bersama, aku tidak akan hidup jika kamu tidak ada di dunia ini. Seperti yang aku bilang, aku akan ikut kemanapun kamu pergi. Jadi tolong jangan bicara sembarangan babe, aku nggak suka" ucap Kai.


"Baiklah, aku juga cuma bercanda. Aku percaya kamu akan selalu mencintaiku. Tapi sekarang yang terpenting adalah kamu bisa tidak mengambil hati mama Ellena, Papa Adnan dan juga Kakek" ucap Dara


"Huuff, harus bisa sayang. Bagaimana pun aku akan terus memperjuangkan kamu, aku akan membuktikan nya di depan Keluarga mu" ucap Kai.


"Makasih, aku akan melihat bukti perjuangan mu itu!" ucap Dara.


"Tentu,aku pastikan aku melakukan semuanya yang terbaik untuk kamu" ucap Kai


"Ayo makan, nanti keburu dingin. Aaa" ucap Dara menyuapi Kai.


Sedangkan Kai menarik piring makanan milik Dara dan menyuapkan makanan itu pada sang kekasih. Jadi mereka sekarang saling menyuapi.


Lalu setelah selesai dengan makan siang mereka, keduanya melanjutkan perjalanan mereka menuju puncak kota M. Yang mana, membutuhkan kurang lebih 2 jam perjalanan jika tidak ada kemacetan.


...••••••...