
Menjelang sore Theo pulang untuk menyiapkan diri nanti malam. Dia akan datang lagi jam 6 sore dari rumahnya untuk menjemput Dara.
Di Star mansion semua pekerja di sana heboh karena kedatangan dua mobil mewah yang di ketahui milik Dara. Agam, Alan, Dimas dan Ryan terlihat terkejut saat melihat mobil bernilai fantastis itu.
Mereka tahu mobil apa yang mereka lihat sekarang, termasuk Dimas yang belakangan ini sudah belajar dan mengetahui banyak hal dari Ryan dan Alan. Ia mengertahui Jika mobil-mobil itu adalah merek ternama dengan harga selangit.
"Ya Tuhan, Kak Dara beli mobil lagi?" tanya Ryan
"Nggak tahu, kakak nggak bilang apa-apa. Kakak beli mobil begini mahal, pantesan tadi latihan nyetir" ucap Dimas menggelengkan kepalanya pelan.
Tak lama Dara datang setelah di panggil Agam. Kevin dan dua orang lain yang mengantar mobil itu terpesona melihat kecantikan Dara yang tidak memakai masker jika berada di rumahnya.
Padahal Dara hanya menggunakan pakaian santai rumahan seperti gadis pada umumnya. Namun semua itu tidak menghilangkan kesan anggun dan misterius di dalamnya, yang membuat semua orang tertarik dan tidak bosan melihatnya.
"No-nona Addara?" tanya Kevin sedikit ragu melihat seorang gadis cantik di depannya.
"Hallo Pak Kevin dan semuanya, terimakasih sudah mengantar mobil saya. Apa anda mau minum kopi atau teh?" ucap Dara.
"Ah, ti-tidak perlu nona. In-ni sudah sore, sebentar lagi gelap. Mung-mungkin lain kali" ucap Kevin dengan gugup.
Di usianya yang hampir 30 tahun, baru kali ini ia terpesona pada seorang gadis sampai sulit berbicara dengan lancar. Padahal biasanya para wanita yang berbondong-bondong mendekatinya, karena ia tampan dan juga mapan.
Namun ia tidak berani mendekati Dara, mengingat status Dara yang tinggal di salah satu Mansion terbesar Luxury Mansion dan masih muda. Sedangkan dirinya sudah hampir kepala tiga dan hanya seorang manager.
"Baiklah, terimalah, ini buat kalian untuk uang makan" ucap Dara membagikan amplop kepada Kevin dan juga dua orang lainnya.
"Terimakasih nona" ucap mereka serempak senang menerima tips yang begitu tebal.
Setelah Kevin dan yang lain pergi, motor sport milik Xena juga datang. Kehebohan terjadi lagi, Dimas dan Ryan sangat antusias langsung mendekati Dara.
"Kakak beli motor juga?" tanya Dimas, Dara hanya mengangguk dan tersenyum.
"Kak, aku mau motor kaya gitu, itu sangat keren Waaahhhh" ucap Dimas berbinar melihatnya, sedangkan Ryan memandangnya dengan penuh harap tanpa berani mengatakan satu katapun. Ia hanya bisa mengagumi motor sport mewah di depannya.
"Kamu belum cukup umur untuk membawa kendaraan. Setelah usia kamu cukup, kakak akan membelikannya untukmu dan juga Ryan. Dengan syarat nilai sekolah kalian harus bagus. Kalau tidak jangan harap kakak membelikannya" ucap Dara
"Aku juga?" ucap Ryan terkejut saat mendengarnya.
"Ya" ucap Dara menepuk kepala Ryan dengan sayang.
"Tapi kak, aku..." ucap Ryan menunduk
"Kau juga adikku sama seperti Dimas, jadi kau bisa memilikinya sama seperti Dimas. Asalkan umurmu sudah cukup dan nilai di sekolah juga bagus" ucap Dara.
"Kak Dara benar Yan, kita kan saudara" ucap Dimas tersenyum dan memeluk sahabatnya itu.
"Makasih Kak Dara, Dimas" ucap Ryan terharu.
"Jika kamu mau memakai mobil juga pakai saja, tidak perlu sungkan Alan" ucap Dara pada Alan.
"Tidak perlu non eh Kak Dara" ucap Alan yang masih belum terbiasa memanggil Dara kakak.
"Tidak apa-apa, aku juga tidak bisa menggunakannya sekaligus. Nanti malam minta sandi untuk mengantar kalian, kalau kalian jadi pergi ke pasar malam" ucap Dara.
"Baik, terimakasih k-kak" ucap Alan tersenyum.
....
"Nona, Theo sudah menunggu anda di bawah" ucap Agam.
"Aku akan turun sebentar lagi Pak Agam" ucap Dara
Setelahnya Dara bersiap mengambil Tas miliknya dan juga masker untuk menutupi wajahnya, meskipun ia tahu saat makan ia akan melepasnya. Namun ia tetap memakainya karena tidak ingin menjadi pusat perhatian sepanjang jalan menuju private room di resto hotel.
Meskipun Dara memakai masker di wajahnya, aura keanggunan yang memikat tidak luntur sedikitpun. Theo yang melihatnya tidak berkedip, bosnya memang sangat luar biasa memukau.
Theo malam ini menggunakan pakaian rapih dengan jas miliknya. Ia menggunakan pakaian bermerek Givenchy, ia terlihat tampan. Dara mengangguk puas, karena Theo sangat tahu membawa diri dan bisa menyesuaikan penampilan dengan tepat.
"Ayo kita berangkat! Pakai saja mobilku yang baru, ambil kuncinya di sana!" ucap Dara menunjuk ke arah tempat kunci.
"Baik" jawab Theo
Keduanya kini berada di dalam mobil Lamborghini Urus. Theo tidak berani membawa Lamborghini Veneno Roadster, itu terlalu mewah baginya, ia takut menggoresnya atau menabrak sesuatu.
....
Dara dan Theo kini berjalan mengikuti langkah resepsionis yang mengantar mereka ke ruangan VVIP Lumiere Hotel. Setelahnya Dara masuk dia di sambut oleh sekitar sepuluh orang di dalam sana, di antaranya ada Carmila di sana.
Semuanya terkesima dengan keanggunan dan aura yang di miliki Dara, mereka tersenyum sopan menatap Dara yang belum membuka maskernya.
"Hai Ra" sapa Dara non formal seperti biasanya.
"Hai Mil" balas Dara
"Selamat malam Dokter Dara, senang anda berkenan untuk datang. Perkenalkan saya Emir" ucap Emir dengan sopan menyapa Dara dengan berdiri.
Theo terkejut dan gugup saat melihat orang yang akan makan malam dengan bosnya adalah keluarga Rukmana yang yang merupakan keluarga kelas satu di ibukota, dengan aset ratusan triliun. Bosnya memang luar biasa.
"Selamat malam Tuan Emir, dan salam kenal juga nama saya Addara. Tolong panggil Dara saja, karena saya bukan Dokter" ucap Dara menyapa balik.
"Baik kalau begitu nona Dara dan ini, apa ini kekasih anda atau suami?" ucap Emir hati-hati.
"Saya belum menikah, ini asisten saya Theo" ucap Dara memperkenalkan Theo sebagai asistennya.
Keduanya kemudian saling menganggukkan kepala. Emir mempersilahkan keduanya duduk melingkar di meja besar.
"Nona Dara, sebelumnya saya mewakili ayah dan keluarga besar mengucapkan terimakasih. Atas obat yang anda buat, ayah saja bisa selamat dan juga sehat sekarang. Entah dengan cara apa kami bisa membalasnya" ucap Emir lagi.
"Tidak perlu berterima kasih, karena itu merupakan keputusan Carmila untuk menyelamatkan nyawa ayah anda. Saya bahkan tidak tahu jika obat yang saya buat, di berikan untuk menyelamatkan tuan besar Rukmana" ucap Dara
"Tetap saja, jika bukan karena anda yang membuat pil ajaib itu, saya tidak akan bisa selamat. Baik anda dan nyonya Rudianto adalah penyelamat keluarga kami. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih" ucap Rustam dengan tulus.
"Baiklah, saya juga senang melihat anda sehat kembali tuan" ucap Dara.
Emir kemudian memperkenalkan semua yang ada di sana. Selain Carmila, Yogi dan anak mereka. Tujuh orang lainnya adalah Emir sendiri, istrinya, putra tertuanya Samuel yang berusia 21 tahun. Rustam, Omar (Adik Emir), istri Omar dan Putri tunggal mereka Celine.
Mereka mengobrol sebentar, namun saat mereka mulai makan, Dara membuka maskernya. Seketika suasana menjadi hening, semua orang selain Theo dan Carmila tertegun. Pandangan mereka tertuju ke arah Dara tanpa berkedip. Satu kata yang di benak mereka.
'Dewi....'
...••••••...