The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
187. Babak Final



Kai dan Flo sudah bersiap berdiri berhadapan, keduanya mengucap salam sebelum mulai bertanding. Dapat di lihat keduanya sangat antusias untuk memulai pertandingan dan menggunakan kekuatan mereka dengan bebas.


Sebastian juga sudah sadar dari pingsannya, meskipun ia masih lemah dan mendapatkan luka luar ataupun luka dalam. Namun ia kekeh ingin melihat pertandingan final antara Kai dan Flo. Hal itu membuat patriak padepokan Mungkur, sekaligus ayahnya itu hanya pasrah menurutinya saja.


Sejujurnya ia kecewa putra bungsunya itu bisa kalah, padahal ia sangat yakin jika putranya itu akan menjadi juara kompetisi generasi ini. Namun harapan tinggal harapan, semuanya pupus saat dua orang pendatang baru datang dan mengacaukan segalanya.


Dengan marah ia mengatakan ingin membalas dan memberikan pelajaran pada Flo, yang telah mengalahkan putra nya dan juga membuatnya malu. Tapi Sebastian melarangnya, putranya itu mengatakan jika kemungkinan besar mereka akan kalah kalau menyerang Flo.


....


"Apa kau yakin ingin bertanding?" tanya Kai pada Flo


"Tentu saja, di antara semua peserta hanya tuan muda yang bisa menjadi lawan untuk latih tandingku" ucap Flo.


Jujur saja keduanya sangat kecewa, ekspetasi mereka mendapatkan lawan hebat kandas. Dan jadilah keduanya sama sekali tidak menganggap pertarungan mereka adalah kompetisi, melainkan hanya latih tanding.


"Baiklah, gunakan semua kekuatanmu!" ucap Kai


"Sudah pasti, aku akan mengerahkan semua kekuatan milikku tanpa sungkan. Bersiap lah... Hiyaaaaaa" ucap Flo melancarkan serangannya.


Wusshhhh!!!!


BLAR!!!!


DUUUAAAARRRR!!!!


DUUUAAAARRRR!!!!


Energi Kai dan Flo yang bertabrakan mengakibatkan gelombang kekuatan yang besar, hingga hampir semua penonton terkena sapuan angin kencang. Bahkan ada beberapa yang jatuh terjengkang, arena pun retak karena benturan yang dahsyat itu.


Untung saja itu masih sempat terhalang Barier formasi milik padepokan, namun karena itu pula Barier di arena ikut hancur karenanya. Karena itu pula efek yang penonton terima tidaklah serius.


Tapi dua orang yang bertarung masih tampak berdiri kokoh di atas arena.


"Uuuhhhh bokongku sakit!" ucap penonton yang terjengkang dan mendarat bokongnya terlebih dulu.


"Gila kekuatan apa itu? Apa itu kekuatan seorang yang berada di True Element?" ucap yang lain.


"Aku rasa tidak! Guruku bahkan sudah berada di tingkat Immortal Ascension, namun tidak memiliki daya ledak sebesar ini. Dua peserta final kali ini sungguh luar biasa, mereka sangat muda dan berbakat" ucap yang lain.


"Tentu saja berbakat, kau tidak lihat gadis muda yang duduk di samping Ki Ageng Prawoto? Dia masih berusia 20 tahun namun tingkat kekuatan miliknya lebih tinggi dari pada para patriak padepokan besar" Sahut yang lain.


"Kau benar, mereka bertiga adalah bakat monster yang sesungguhnya" ucap rekannya kagum dan juga merinding saat mengatakan nya.


...


Tidak berhenti sampai di situ, Kai dan Flo masih bertarung dengan kekuatan penuh. Hanya Flo yang mengeluarkan kekuatan penuh, sedangkan Kai masih senantiasa menggunakan tujuh puluh persen kekuatan yang ia miliki.


BUGH!!!!


"Aaarrggghhh!!! Huuugghhh...!!!" Flo terkena serangan tepat di dadanya membuatnya mengelami luka dalam dan mengeluarkan seteguk darah.


"Ehhh cukup, tuan muda saya menyerah! Sakit sekali" ucap Flo melambaikan tangannya seperti sedang berada di acara dunia lain. Kemudian tangannya mengelus dadanya yang sesak karena pukulan Kai tidak main-main.


Kaisar dengan enggan mengikuti acara serah terima hadiah dan juga lencana juara kompetisi. Ia berencana akan memberikan lencana itu untuk kakeknya yang pastinya akan bangga padanya karena sudah mengharumkan nama keluarganya.


"Selamat Saudara Kaisar, anda sangat hebat dan berbakat" ucap yang lainnya memberikan selamat untuk Kai.


Sama seperti di dunia bisnis, Dunia kultivator juga penuh dengan intrik dan juga menjilat demi menyenangkan seseorang yang berada di atas mereka, untuk kepentingan pribadi.


Setelah acara kompetisi berakhir, Dara dan yang lain masih berada di padepokan karena hari sudah gelap. Prawoto menawarkan mereka berempat untuk menginap di sana. Dara tidak menolak, karena ia berencana ingin mengganti formasi di arena yang telah rusak dan tidak bisa di gunakan.


Selain itu Kai juga memberikan kembali hadiah uang dan yang lainnya kecuali lencana kepada padepokan. Prawoto tentu saja menolaknya, namun Kai memaksanya untuk menerima semua hadiah tersebut.


"Nona, apa benar anda ingin memperbaiki formasi Barier di arena? Apa anda seorang master formasi?" tanya Prawoto terkejut saat mendengar Dara mengatakan ingin memperbaiki formasi itu.


"Tidak, tapi saya pernah belajar dari guru, meskipun Formasi yang saya buat bukan formasi tingkat tinggi" ucap Dara


"Itu sudah lebih dari cukup, terimakasih banyak Nona Azalea" ucap Prawoto bersyukur Barier di arena bisa di perbaiki. Pasalnya master formasi sangat sulit mencarinya, bahkan mungkin tidak ada sama sekali di negaranya ini.


....


Malam harinya, Kai menemani Dara mulai membuat formasi di arena pertandingan. Awalnya ia bingung membuat formasi tingkat berapa. Karena tidak mau membuat formasi yang tingkat sangat rendah, jadi ia putuskan untuk membuat tingkat menengah saja.


Hanya butuh 15 menit untuk membuat formasi itu terbentuk sempurna, setelahnya Dara dan Kai berjalan keliling padepokan dan duduk di bukit belakang padepokan sembari menikmati langit bertaburan bintang.


"Langitnya sangat cantik ya" ucap Dara


"Iya, sangat cantik" ucap Kai menikmati wajah cantik Dara yang memang sengaja Dara buka karena di sana tidak ada orang lain.


"Ihhh, Kai... Jangan lihatin aku begitu banget" ucap Dara


"Kenapa? Kan kamu beneran sangat cantik" ucap Kai terkekeh melihat kekasihnya itu merona malu dan salah tingkah.


"Ishhh, gombal" ucap Dara


Kai terkekeh dan membawa Dara ke dalam pelukannya, Dara pun menyenderkan kepalanya ke dada bidang kekasihnya itu.


"Nanti saat kamu koas, kamu tinggal di mana?" tanya Kai sembari membelai Surai panjang milik calon tunangannya itu.


"Di mana lagi? Ya tentu saja di mansion Adi Raharjo" ucap Dara menghela nafas.


"Ha-ha, itu pasti kerjaan Keluarga mu" ucap Kai


"Ya, aku tahu itu, pasti mama Ellena yang memberikan ide itu. Tapi apa kamu nggak apa-apa kalau kita LDR dulu, Kai?" tanya Dara


"Kan biasanya juga kita LDR Yang, karena kita jarang ketemu karena aku ada tugas sayang Saat aku bebas tugas, aku akan menyusul kamu ke kota S. Aku juga sudah beli apartemen di sana, awalnya aku pengen kamu tinggal di apartemen yang aku beli, tapi kalau di pikir lagi pasti Keluarga kamu pengen kamu tinggal di kediaman mereka" ucap Kai


"Loh, kapan belinya? kok aku nggak tahu?" ucap Dara kaget.


"Pas kamu bilang mau koas di kota S, hari itu juga aku suruh anak buahku membeli apartemen atas nama kamu. Apartemen itu letaknya sangat dekat dengan rumah sakit tempat kamu koas, sayang" ucap Kai


Dara menatap kagum pada kekasihnya itu, kenapa Kai bisa melakukan hal ini dengan cepat. Padahal ia tidak meminta apapun, namun Kai seolah bergerak cepat mengantisipasi hal apapun yang ia perlukan.


...•••••••...