The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
324.



Waktu perlahan terus berjalan dengan setianya. Semakin hari tumbuh kembang Baby langit pun semakin menarik, Dara sendiri yang memperhatikan tingkah putra sulungnya itu.


Memang tidak salah ia di juluki Bayi langit sesuai dengan namanya.


Baby Langit memiliki bakat langka, bahkan di banding kan dengan para kultivator jaman dulu, tentu saja tubuh dan jiwa yang ia miliki adalah murni seorang kultivator, meskipun ia tidak memiliki darah kultivator dari pihak ayah atau ibunya.


Bisa di bilang ini adalah kehendak langit yang menganugerahkan Baby Langit lahir dengan bakat dan kemampuan yang sangat istimewa. Dara sudah memperkirakan hal itu sebelumnya dan ia akan mulai mengajari Langit kultivasi, saat baby Langit sudah memiliki pondasi dan juga pengetahuan dasar.


Mungkin saat baby Langit usia 4 atau lima tahun.


Itu bukan hal mustahil, di dunia kultivator dulu. Anak-anak usia 5 tahun sudah mulai di tempa pondasi, saat usia 7 atau 8 tahun akan mulai melakukan pembukaan Meridian oleh menara suci.


Tentunya setelah di lakukan pengecekan oleh instansi terkait, Dara sangat tersinggung kali ini.


"Hei nak, kamu mau kemana?" tanya Dara mengejar Baby Langit yang kini sudah merangkak mengejar Kai yang hendak ke kamar mandi.


Ya, Saat ini Baby Langit sudah berusia 3 bulan lebih dan dia sudah aktif merangkak, padahal normalnya bayi merangkak itu sekitar 6-9 bulan.


"Ya-yayah..." celoteh Langit.


"Eits, anak ayah mau kemana?" ucap Kai menggendong baby Langit dan menghampiri sang istri kemudian mencium kening Dara.


"Bu-bu-bu..." ucap Langit


"Langit bilang apa Bun?" tanya Kai yang memang membiasakan diri memanggil Dara Bunda saat di depan Langit.


Sama dengan Dara yang memanggil Kai denga sebutan ayah. Hal itu agar membiasakan Langit mendengar dan mengikuti apa yang keduanya ucapkan.


"Nggak tahu" ucap Dara mengangkat kedua bahunya yang memang tidak mengerti.


"Sayang, kenapa tadi mau ikutin ayah ke kamar mandi? Mau ikut ayah mandi?" tanya Dara


"Yaaakkk, buuuu...." ucap langit seperti meniup udara.


"Ha-ha-ha, dia mau ikut kamu mandi" ucap Dara terkekeh.


"Ya sudah ayok mandi, bunda mau ikut juga mandi bareng?" tanya Kai


"Issshh nggak, Bunda mau siapin sarapan dulu, sama pakaian kalian berdua yang lebih tebal karena cuaca mulai dingin" ucap Dara, Kai pun mengangguk.


"Ayo boy kita mandi, biar wangi dan seger. Terus kita main ke tempat om Dimas dan Om Ryan" ucap Kai menggendong Baby langit menuju ke kamar mandi.


"Omomomom" ucap Baby Langit sampai membuat gelembung udara di mulutnya.


"Ha-ha..." Kai Tertawa renyah.


Kai sama sekali tidak terusik dengan adanya Baby Langit di antara ia dan istri. Justru adanya Baby Langit membuat suasana di penthouse mereka menjadi ramai dan berwarna.


Baby Langit bisa menjadi teman obrolan, bermain Dara di penthouse.


Apalagi Baby Langit memiliki pengertian yang super, bagaimana tidak? Ia seolah mengerti jika kedua orang tuanya adalah pengantin baru, jadi setelah jam 7 malam ia sudah tidur dan tidak akan terbangun sampai jam 5 pagi.


Jadi membuat Kai dengan leluasa menggempur Dara saat waktu itu, tentunya kamar baby Langit berada di sebelah kamar utama.


Tidak usah khawatir bagaimana keamanannya, karena Dara sudah memasang Barier yang menyatu antara dirinya dan Baby Langit. Hal itu membuat Dara tahu jika putra itu terbangun atau memerlukan bantuan darinya.


....


Setelah selesai berdandan, ketiganya keluar dari Penthouse dan jalan menuju Star Mansion. Hari ini ada jadwal kunjungan Kai dan keluarga kecilnya bersama Dimas ke sana.


Kai tengah libur hari ini dan besok, jadi ia bebas meluangkan waktunya bersama istri dan anaknya. Dan lagi besok adalah hari pernikahan Nathan dan Manda.


Pernikahan mereka di undur beberapa Minggu, yang harusnya tiga Minggu lalu itu. Itu karena ada masalah internal di keluarga Nathan.


"Langiiiittt, keponakan tampan om Dimas.." teriak Dimas, ia sungguh merindukan keponakannya itu dan menciuminya dengan gemas.


"Ryan mana Dek?" tanya Kai yang tidak melihat Ryan ada di sana.


"Keluar bang, dia lagi ada latihan basket buat turnamen Minggu depan" jawab Dimas. Kai dan Dara mengangguk paham.


Baby Langit yang melihat keduanya mengangguk ikut mengangguk. Semuanya pun tertawa saat melihat Baby ikut mengangguk mengikuti kedua orang tuanya


"Kak, Baby langit aku bawa ke White ya, mau main bareng-bareng" ucap Dimas


Dimas memang pernah membawa Baby langit ke dalam kandang. Bukannya takut bayi kecil itu sangat kesenangan dan juga membuat semua orang berjaga di buat melingoh


"Hmm, hati-hati Dimas" ucap Dara


"Siap kak, tenang aja" ucap Dimas. kemudian menggendong Langit menuju kamar belakang.


"Sayang, kamu jadi, mau ke Manda ntar sore?" tanya Kai


"Hmm, besok adalah hari pernikahan mereka, jadi aku akan ke sana sebentar dan aku tahu kalau Manda merindukan Langit" ucap Dara


"Kalau begitu aku akan mengantarmu ke sana nanti" ucap Kai yang di angguki oleh Dara.


.....


Sore harinya pun Dara dan yang lain berangkat ke apartemen Manda yang dulu di sewa Dara dan kini sudah di beli oleh Dara sebagai hadiah kelahiran Langit untuk Manda.


CEKIT!!!!!


Mobil yang di kendarai Kai berhenti mendadak, untung jalanan di belakangnya sepi. Hingga tidak menimbulkan kepanika orang lain saat itu.. Dara dan Kai saling berpandangan saat ada orang melintas dengan cepat di depan mobilnya.


"Bang..." ucap Dara.


"Hmm, bunda sama Dimas dan Langit tunggu di sini" ucap Kai yang di angguki oleh Keduanya, karena Langit tengah tertidur saat di perjalanan.


Kai sendiri langsung menepikan mobil dan keluar dari mobil dan berlari dengan cepat ke arah sebuah gang kecil di sana.


"Bang Kaisar mau kemana kak? Kok kelihatannya buru-buru banget" tanya Dimas.


"Ada ururusan, tadi ia lihat salah satu kawannya dan berhenti sebentar" ucap Dara memberikan alasan.


"Oh, aku kira ada apaan, ekspresi wajah datar kakak ipar bikin gagal fokus" ucap Dimas terkekeh.


"Bisa aja kamu" ucap Dara


Kai kini berada di jalan buntu di gang kecil, dia menoleh ke kanan dan ke kiri. Namun ia tidak menemukan ada siapa-siapa di sana, tapi yang ia temukan hanya jalan buntu dan juga sedikit kotor dan banyak coretan.


Saat Kai bersandar, ia di kejutkan saat melihat tembok itu terbuka.


"Jalan rahasia?" tanya Kai.


Ia pun dengan segera menahan nafas dan mulai masuk ke sana untuk melihat kondisi yang ada di sana.


Tapi sayangnya itu tidak berhasil melihat ada yang aneh di sana. Di dalam nya hanya ada bilik kecil berukuran 6x6 meter. Bahkan orang ia kejar pun tidak ada di sana.


"Lebih baik aku pulang dulu dan meminta anggota GOD untuk memeriksa tempat ini" ucap Kai sangat pelan.


Saat hendak keluar, Kai di kejutkan dengan orang ya melangkah semakin mendekat, hingga membuatnya bersembunyi di sebuah pohon di sana.


...•••••••...