The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
265. Membicarakan tentang Manda



Kini ketiga orang itu berada di taman dekat markas Falcon. Taman itu jarang ada yang mendatangi jika malam hari. Kalau pun ada itu hanya beberapa orang saja dan beberapa penjual makanan yang memang stay di sana.


Tapi jika siang hari tempat itu ramai dengan banyak kuliner jajanan kaki lima dan juga banyak orang yang olahraga di sana, seperti Joging atau hanya sekedar berjalan menikmati indahnya taman.


"Kok jadi tegang ya" ucap Nathan terkekeh canggung, berasa ia akan di sidang. Itu karena tatapan keduanya menatapnya intens dengan arti yang berbeda.


Dara menatapnya karena memang ingin bicara serius tentang Manda, terutama bayi yang di kandung oleh Manda. Sedangkan Kai menatapnya karena memang tidak suka ada pria lain yang menatap gadisnya. Memang kang bucin satu ini nggak ada lawan.


Plak!!


Dara menepuk pundak Kai, membuat si empu menoleh padanya mengerjakan matanya.


"Jangan menatapnya gitu, kau membuatnya takut" ucap Dara pada Kai


"Iya sayang maaf, habisnya dia menatap kamu gitu banget" ucap Kai dengan wajah memelasnya.


"Cih, gitu banget gimana coba? Kau ini berlebihan hei. Gue punya mata ya Kai, masa iya gue harus merem gitu? Kalau gue nggak natep lawan bicara gue, yang ada gue di anggep nggak sopan, ongeb" ucap Nathan memutar matanya.


Jika berada di luar pekerjaan, Nathan dan Rafael memang berbicara non formal dengan Kai. Karena jika di luar mereka adalah sahabat, bukan atasan dan bawahan.


"Gue tahu, tapi gue cuma antisipasi lu nggak sampe demen sama cewe gue" ucap Kai


"Kagak lah, gila kali gue. Gue masih mau hidup ya, nggak mau cari mati ngelawan lu. Lagian gue udah klepek-klepek sama ayang beb kelinci imut gue" ucap Nathan, membuat Kai terkekeh.


Entah mengapa semenjak kenal dengan Dara, Kai makin banyak berekspresi. Malah kini tak jarang ia senang menjahili kedua sahabatnya, Rafael dan Nathan.


Dara yang mendengarnya hanya menghela nafas dan juga ikut terkekeh, udah pasti kalau di mana ada Nathan di situ nggak pernah yang namanya suasana sepi. Padahal memang awalnya tepat itu memang sepi karena tidak banyak orang.


Entah Dara kadi berpikir akan jadi apa dua orang bobrok jadi satu, kerena karakter Manda dan Nathan sama-sama bobroknya dan ceplas-ceplos.


"Jadi mau bicara tentang apa Ra?" tanya Nathan


"Ini tentang kandungan Manda. Kamu sudah tahu kan kalau Manda tengah hamil" ucap Dara.


"Hmm, gue sudah tahu. Manda udah bilang semuanya ke gue, ya meskipun jujur gue kaget plus sedikit bingung juga. Dia kan bilang kalau dia hamil, ya saat ini mungkin udah jalan delapan bulanan kalau nggak salah. Tapi kok perutnya Manda rata-rata aja tuh nggak kaya orang hamil kebanyakan.


Manda sih udah bilang kalau itu berkat pil yang lu kasih yang bisa buat dia nggak terlihat hamil, biar dia bisa selesai in kuliahnya dengan tenang tanpa harus resah dengan kehamilannya. Tapi bukannya itu nggak bisa di terima logika? Kok bisa ada pil begitu" ucap Nathan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Itu memang sulit di terima akal sehat, tapi aku punya alasan membuat dia tidak terlihat hamil. Pil itu hanya aku yang bisa membuatnya, nggak masuk akal memang, tapi buktinya gue bisa lakuin itu.


Kamu nggak salah Nath, salah satu alasan aku sembunyiin kondisi Manda yang kamu bilang tadi. Tapi alasan tepatnya aku nggak mau kehamilan dia di ketahui orang lain yang berniat jahat atau membuatnya celaka hanya demi keuntungan pribadi. Aku nggak bisa jelasin rincinya karena ini sulit di terima akal sehat. Bagaimana pun aku harap kamu mengerti dan percaya, karena ini demi kebaikan dan keselamatan Manda juga bayinya" ucap Dara


Nathan hanya mengangguk, meskipun ia tidak paham seluruh nya. Namun ia mengaitkan semua itu dengan mantan Manda yang memang pernah hampir membunuhnya. Ia pikir Dara melakukan itu demi melindungi kekasihnya itu.


"Gue ngerti, apapun itu gue yakin dan percaya lu pengen yang terbaik buat Manda dan nggak punya niatan buruk apapun" ucap Nathan


"Lalu bagaimana Keluarga kamu mengenai hubungan kamu dengan Manda, apa mereka menerima Manda?" tanya Dara


"Haaaahh, awalnya sulit Ra. Kai pasti tahu keluarga gue gimana, keluarga gue memang sedikit kolot. Memandang semuanya dengan yang namanya bibit, bebet, bobot. Terlebih nyokap gue awalnya mau jodohin gue sama anak temannya yang memang dari kalangan yang sama.


Gue udah kasih pengertian sama keluarga gue. Gue ceritain semua tentang Manda dan apa yang ada di dalam diri Manda yang bisa buat gue jatuh cinta sama Dia dan juga pada kepribadiannya.


Dan akhirnya mereka luluh dan menerima Manda menjadi bagian keluarga, setelah gue ceritain tentang manda . Bahkan mereka setuju dan sepakat akan melamar Manda bulan depan buat gue" ucap Nathan.


"Lalu tentang kondisi Kehamilan Manda?" tanya Dara lagi


"Kalau tentang ini, Gue baru banget ngomongin masalah ini dengan Manda. Jujur Keluarga gue belum tahu tentang Manda yang tengah hamil, terlebih itu anak laki-laki lain. Buat dapetin restu mereka saja susahnya minta ampun. Terlebih Emih Entin juga belum tahu jika putrinya tengah hamil bukan?" ucap Nathan


"Jadi?" ucap Dara


"Apa tidak apa-apa jika nanti setelah bayi itu lahir lu yang merawatnya dan jadi anak lu Ra? Dan jadi orang tua angkat Dede utun? Kemarin gue udah obrolin ini sama Manda dan kita setuju Kamu yang rawat Deddy utun" tanya balik Nathan


"Gue nggak setuju!" ucap Kai tiba-tiba yang sedari tadi diam, membuat dua orang lainnya terkejut. Nathan sudah sendu mendengar itu, sedangkan Dara melototkan matanya pada Kai.


"Gue nggak setuju, kenapa anak kalian cuma jadi anak Dara? Harusnya kan anak gue berdua sama Dara, Karena jika Dara jadi ibunya, maka ya gue jadi bapaknya lah" ucap Kai terkekeh.


Plak!


"Sableng lu, bikin hati gue mencelos mendadak aja lu, bisa nggak jangan jahil Kai, nggak kaya lu biasanya" ucap Nathan menggeplak kepala Kai.


"Lu berani, mukul kepala gue" ucap Kai


"So-sorry tangan gue reflek, hehe. Abisnya lu bikin gue syok, anggap aja itu balesannya. Kita impas sekarang" ucapa Nathan terkekeh dan mengangkat kedua jarinya berbentuk V.


"Manda setuju?" tanya Dara mengalihkan keduanya agar tidak ribut.


"Hmm, malah dia yang kasih usulan itu. Katanya memang dari awal lu yang newarin jadi ibunya. Tapi jika nanti kita mau ajak main atau bertemu tidak masalah kan Ra? Jujur sebenarnya gue pengennya gue dan Manda yang merawatnya, meskipun dia bukan anak gue. Selama dia lahir dari rahim Manda dia anak gue juga. Gue sayang sama tuh jabang" ucap Nathan menundukkan kepalanya


Dara tersenyum mendengar ucapan Nathan, ia bisa merasakan jika Nathan tulus menerima Manda apapun kondisinya. Manda sering menceritakan tentang Nathan yang selalu mengelus perutnya dan mengajak jabang bayi bicara, padahal perutnya tidak terlihat alias rata.


Hanya saja kedua keluarga mereka tidak mengetahui tentang anak yang di kandung Manda. Selain keluarga Nathan yang baru saja luluh, Bu Entin ibu dari Manda juga sampai sekarang tidak tahu jika putri semata wayangnya hamil di luar nikah.


Jadi keduanya ragu untuk jujur pada keluarga masing-masing. Satu-satunya cara ialah kembali ke rencana awal, yakni menjadikan Dara dan Kai sebagai orang tua angkatnya.


"Seperti yang Kau bilang, aku dan Kai akan jadi orang tua untuk anak kalian. Kami tidak mempermasalahkan itu dan akan menganggapnya sebagai anak kandung kami sendiri. Dan kami tidak akan melarang kamu dananda untuk bertemu, bermain atau mengajaknya kemana pun.


Karena itu hak kalian sebagai orang tuanya, meskipun secara hukum nanti dia adalah anakku dan Kai. Kalian tetap sebagai orang tuanya juga, terlebih Manda yang melahirkannya.


Tapi apapun yang terjadi di masa depan jika itu menyangkut anak kita. Kalian harus membicarakannya dengan kami lebih dulu, bukan apa-apa. Kami hanya tidak ingin terjadi sesuatu yang membuat salah paham atau ketidaknyamanan bagi Dede utun bukan?" ucap Dara


"Kami mengerti, terimakasih sudah bersedia menjadi orang tua angkatnya. Gue akan bilang ke Manda soal ini setelah selesai tugas" ucap Nathan.


Mereka bertiga pun kembali ke markas setelah mengobrol sebentar. Karena Dara harus kembali ke kota S besok pagi, jadi Kai mengantarnya ke penthouse.


Di perjalanan Dara juga memberi tahu tentang hubungan Ajeng dan Ferdi pada Kai, Kai tidak masalah dengan itu.


Bagaimana pun adiknya sudah besar dan bisa memutuskan dengan siapa berhubungan. Yang terpenting Kai mengetahui jika Ferdi adalah orang baik dan tidak mungkin menyakiti adiknya.


Apalagi setelah Dara menceritakan jika Ferdi meminta pil perubahan agar penampilannya mengikuti usia manusia biasa. Itu artinya Ferdi tidak ingin membebani adiknya untuk bisa sama seperti dirinya yang seorang kultivator.


Jika itu Lingga yang ingin menjadi kultivator, Kai tidak aneh. Karena ia mengingat dirinya sendiri, dia ingin melindungi wanitanya dan ingin seumur hidup bersama dengan wanitanya. Jadi kasus Lingga dengan dirinya adalah sama, jadi Kai mengerti itu.


...••••••••...


Hai, maaf Author update 1 BAB, besok insya Allah kalau nggak sibuk update normal lagi 2 bab.🙏