
Seketika hening, Dierja dan Tirta masih dalam kondisi terkejut saat merasakan aura kuat yang sangat dominan itu hingga membuat mereka tertekan.
"Senior!" ucap Keduanya kompak sembari berdiri dan membungkuk menyapa Dara dengan sopan.
Mendengar dan melihat itu Dara terbengong-bengong dan seketika itu pula ia langsung bergegas menghampiri keduanya agar tidak terus membungkuk di depannya.
"Astaga Opah, paman, apa yang kalian lakukan? Ayo bangun, jangan membungkuk lagi" ucap Dara
"Maafkan ketidaktahuan kami Senior" ucap Dierja yang sudah berdiri tegak bersama dengan Tirta.
"Ya Tuhan, Opah, jangan memanggilku begitu. Aku jadi berasa tua sekali di panggil kalian begitu, lagian umurku kurang dari 20 tahun saat ini. Apa kata orang nanti melihat Opah dan paman bersikap seperti ini. Sudah ayo duduk Opah, paman" ucap Dara
"Baik" ucap Dierja dengan sopan, membuat Dara menghela nafas.
"Astaga jangan terlalu formal Opah, bukankah aku kekasih cucumu yang berarti kita akan menjadi Keluarga di masa depan. Bersikaplah seperti awal tadi, jangan seperti ini" ucap Dara merasa tidak enak.
Meskipun ragu, Dierja mengangguk juga.
Ragu? Tentu saja, karena di dunia kultivasi seseorang di nilai dari tingkat kultivasi mereka bukan dari umur mereka. Dan wajar jika Dierja dan Tirta memanggil Dara senior. karena Tingkatan Dara lebih tinggi dari pada keduanya, meskipun keduanya tidak tahu seberapa tinggi tingkatan itu karena tidak bisa mengukur kekuatan yang berada di atas mereka.
Tapi itu kan jika di dunia kultivator, sedangkan saat ini mereka hidup di dunia di mana mayoritas semua orang adalah manusia biasa. Akan aneh jika Orang tua seperti keduanya bersikap sopan dan segan pada Dara yang jauh lebih muda, bukan?
"Kenapa paman masih berdiri, bisa kah paman duduk?" ucap Dara pada Tirta
"Tapi Senior..." ucap Tirta.
"DARA, bukan Senior paman. Aku belum buat nasi kuning karena ganti nama, jadi panggil Dara saja. Sekarang duduklah paman, Aku capek terus mendongak melihat paman leherku sakit. Bolehkan opah" ucap Dara melirik ke arah Dierja
"Boleh! Duduklah Tirta, kamu membuat Dara tidak nyaman!" ucap Dierja.
"Baik tuan, se... No-na" ucap Tirta langsung duduk di kursi ujung.
Biasanya ia menolak kalau di minta Dierja untuk duduk bersama, namun ia tidak ingin menyinggung Dara yang ternyata seniornya dalam kultivasi meskipun usianya jauh lebih muda darinya.
"Nah kan, kalau gini enak" ucap Dara tersenyum, ia tidak masalah Tirta menyebutnya nona.
"Jadi Opah, boleh aku memeriksa nadimu?" tanya Dara
"Ah, tentu!" ucap Dierja langsung menyodorkan tangannya pada Calon cucu menantu nya itu.
Dara segera mengambil dan merasakan denyut nadi Dierja, ia menghela nafas karena tebakannya benar jika luka dalam yang di derita Dierja sangat parah, bahkan terdapat racun di dalam nya.
"Kenapa opah bisa mendapat luka dalam yang begitu parah seperti ini? Dan luka ini sudah lebih dari sepuluh tahun. Kenapa tidak langsung di obati sampai bisa separah ini Opah?" tanya Dara menatap Dierja.
"Ini...." ucap Dierja sedikit ragu dan menghela nafasnya sebelum melanjutkan ucapannya.
"Sebenarnya saat itu aku dan Tirta masih aktif di kemiliteran. Kami mendapatkan berita jika ada beberapa orang penyelusup di batas teritorial negara kita. Sebagai seorang jendral besar kala itu, aku tidak bisa tinggal diam.
Namun siapa sangka kalau lawan yang aku dan Tirta hadapi adalah seorang pembudidaya juga, bahkan sudah sampai di tahap Qi Transformasion. Saat itu Tirta sangat kualahan menghadapi orang itu dan aku menghalangi pukulan yang orang itu arahkan pada Tirta. Hingga aku mendapatkan pukulan dari orang itu dan terluka karenanya. Untungnya kami berdua bisa pergi dengan selamat meskipun terluka parah. Hanya saja rekan kami yang lain tidak ada yang selamat, semuanya meninggal" ucap Dierja dengan ekspresi sedih kala mengingat kejadian berdarah itu.
"Qi Transformasion?" beo Daea tidak mengerti dengan istilah itu.
"Ya, Qi Transformasion adalah tingkatan yang lebih tinggi di banding Initial element. Tahap yang saat ini kami berdua capai" ucap Dierja.
"Bisa Opah jelaskan apa maksudnya?" tanya Dara yang memang tidak mengerti tingkat kultivasi di dunia ini.
"Bukankah kamu juga seorang kultivator, kenapa kamu tidak tahu tingkatan seseorang kultivator?" tanya Dierja yang ikut bingung.
"Ekhm, sebenarnya yang di ajarkan oleh Guru tentang tingkatan itu berbeda nama. Jadi Dara sedikit bingung" ucap Dara sedikit mengarang cerita.
"Oh ya? Apa gurumu dari keluarga kultivator tersembunyi?" tanya Dierja
"Mungkin, aku tidak pernah bertanya saat itu pada guru" ucap Dara.
"Baiklah, Opah akan jelaskan padamu tentang tingkat an yang aku tahu. Jadi.....bla...bla..." Dierja menjelaskan semua yang dia tahu.
Jadi tingkat kultivasi di dunia ini ada 10 tingkat :
Initial Element
Qi Transformasion
True Element
immortal Ascension
Transcedent
Saint
Origin
Dao
Emperor
Semua tingkatan itu memiliki 4 level di setiap tingkatannya. Pemula-menengah-senior-puncak
Dara mendengarkan dengan fokus dan mengangguk paham, jadi kemungkinan besar tahapan di dunia ini sama dengan tahapan yang ada di dunia kultivator dulu, hanya saja dengan nama yang beda.
Meskipun ada kultivator namun di dunia ini, hanya saja keberadaan mereka tertutup dan tidak banyak orang yang tahu.
"Apa Opah tahu, orang terkuat saat ini di tingkatan apa?" tanya Dara
"Tidak tahu pasti, tapi kalau tidak salah ada tiga padepokan yang memiliki panatua atau patriak yang di tingkat Immortal Ascension Menengah dan senior" Jelas Dierja.
"Aku tidak menyangka di dunia ini ada kultivator hebat" ucap Dara
"Kalau boleh opah tahu, kamu di tingkatan apa nak?" tanya Dierja.
"Kalau dari ucapan Opah mengenai tingkatan kutivasi di dunia ini. Mungkin kekuatanku berada di tingkat Transcedent" ucap Dara.
Ya jika di pukul rata dan di samakan antara tingkatan di dunia ini dan dulu, kemungkinan Dara berada di tingkat Transcedent atau tingkat 6.
"Apa????" ucap Dierja dan Tirta dengan terkejut.
Bagaimana tidak terkejut, jika ucapan Dara benar. Berarti Dara adalah orang terkuat di negara ini dan bahkan ia adalah kultivator termuda sepanjang sejarah yang bahakan memiliki kekuatan yang luar biasa.
"Kenapa kalian sangat terkejut?" ucap Dara
"Lu-luar biasaaahhh" ucap Dierja dengan tatapan berbinar mendengar hal itu.
"Aku jadi ingin bertemu dengan gurumu" ucap Dierja lagi
"Tidak bisa Opah, guruku adalah orang yang sulit untuk di temui, bahkan diriku sendiri. Karena beliau selalu datang seperti jelangkung yang datang tak di jemput, pulang tidak di antar" ucap Dara cemberut seolah menyesal.
"Sayang sekali" ucap Dierja dan Tirta.
"Ah, kalau begitu apa Opah bersedia aku obati? Jujur saja, luka opah sangat parah, di tambah di luka Opah terdapat racun dan masa hidup Opah kurang dari Tiga bulan jika tidak segera di obati" ucap Dara berbicara apa adanya.
"Apa kamu benar-benar bisa pengobatan?" tanya Dierja.
"Tentu saja, selain kultivator aku juga seorang Alkemis dan ahli pengobatan" ucap Dara.
Lagi dan lagi Kedua orang itu di buat terkejut saat mengetahui kehebatan Dara yang lain.
...••••••...