The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
370. Kontraksi Dara



Di kantor Satpol PP, Agung terus memberontak meskipun ia sudah tidak bisa bicara. Membuat kesal petugas, apalagi saat ingin memeriksa identitas Agung. Petugas tidak menemukan identitas apapun mengenai Agung, menanyakannya pun sulit karena Agung Hanya tahu memberontak


Hingga petugas memutuskan Agung di kurung di penjara selama beberapa hari di sana. Sebelum nantinya petugas akan membawanya ke rumah sakit jiwa.


Ya, petugas mengira Agung adalah seorang pasien gangguan kejiwaan, dan luntang lantung di jalan. Ada untungnya Agung tidak bisa bicara, karena petugas tidak merasa terganggu karena berisik saat Agung di penjara.


Di lain sisi, Dimas merasa tenang selama beberapa hari ini. Ia tidak bertemu lagi dengan sosok ayah yang sangat dia benci itu, termasuk di tempat ia less pun ia tidak menemuinya.


Dimas tidak mau ambil pusing dengan hal itu, meskipun jauh di lubuk hatinya masih menyisakan rasa sayang pada ayahnya. Namun rasa benci dan penderitaan yang ia, kakak dan ibunya alami membuat perasaan sayang itu ia buang jauh-jauh.


Dara juga mendapatkan laporan dari anggota GOD yang mengawasi Agung, Dara merasa puas saat mendapatkan laporan.


Kalau saat ini Agung berada di rumah sakit jiwa, yang di khususkan untuk orang-orang dari jalanan. Ia berharap ayahnya itu berubah atau berhenti mengusik hidup mereka di masa depan. Dan Dara akan memastikan kalau Agung akan berada di sana selama mungkin.


....


Beberapa bulan kemudian....


Dara menjalani harinya full istirahatnya di star mansion, kandungannya kini sudah masuk ke bulan 8 lebih dikit. Langit sudah 10 bulan, bayi ajaib itu sangat aktif hingga harus ekstra hati-hati saat memantaunya.


Selama itu pula Agung berada di rumah sakit jiwa, ia beberapa kali berusaha melarikan diri dari sana. Namun selalu gagal karena anggota GOD yang senantiasa memantaunya langsung bergerak saat itu juga, dan mengembalikan Agung ke sana..


"Kak, Dimas berangkat sekolah dulu" ucap Dimas saat ia berpamitan pada kakaknya yang tengah berjemur sinar mentari pagi di taman samping mansion.


"Ryan juga berangkat kak" ucap Ryan yang ikut berpamitan.


"Kalian berdua hati-hati bawa motornya, jangan ngebut-ngebut. Semangat ujiannya ya...." ucap dara memberikan semangat pada kedua adiknya yang tengah malaksanakan ujian kenaikan kelasnya itu.


Dimas dan Ryan sudah di belikan motor sport, milik Dimas berwarna hitam sedangkan Ryan berwarna merah. Karena keduanya sudah genap 17 tahun 4 bulan lalu dan baru mendapatkan SIM 2 bulan yang lalu.


Tentu Dara tidak ingin kedua adiknya melanggar aturan lalu lintas. Ia juga sering memantau kedua adiknya itu.


"Okey dokey kak!" ucap Dimas dan Ryan kompak.


"Ponakan-ponakan om sekolah dulu ya, jangan nakal ya sama bunda" ucap Dimas mengelus perut sang kakak sebelum berangkat.


"Ote om, temangat ujiannya" ucap Dara menirukan suara anak-anak.


Setelah kedua adiknya pergi, Dara masih asik berjemur dan sesekali melakukan senam ibu hamil. Kandungannya sangat besar karena mengandung tiga sekaligus.


"Sayang ayo di minum dulu susu ibu hamilnya" ucap mama Hesti datang membawa segelas susu ibu hamil rasa coklat itu.


Ya, mama mertuanya itu tinggal di Star Mansion sudah seminggu ini, untuk menjaga menantunya yang tengah hamil besar. Kadang ia merasa sedikit ngeri sendiri melihat betapa besar perut Dara yang berisi tiga bayi itu.


Ia juga merasa salut pada menantunya itu, karena Dara sama sekali tidak pernah mengeluh dan menyusahkan pada dirinya. Padahal Hesti sudah mengatakan jika Dara tidak perlu sungkan jika membutuhkan sesuatu.


"Iya mah, makasih mah" ucap Dara tersenyum dan mengambil susu ibu hamil yang di buat mertuanya itu dan langsung meminumnya.


"Kai kapan pulang sayang?" tanya mama Hesti


"Tadi malam sih Kai telepon, besok siang sudah sampai di ibukota" jawab Dara


"Tuh anak, istri hamil tua bukannya ambil cuti malah masih aja ambil tugas, nama jauh" omel mama Hesti saat tahu putranya mendapat tugas ke luar kota.


"Namanya juga tugas negara mah, nggak apa-apa, Abang ambil cuti dua Minggu lagi saat mendekati HPL. Lagian kan ada mamah dan yang lain di sini, HPL juga tiga masih Minggu lagi" ucap Dara terkekeh mendengar ocehan mertuanya yang terdengar lucu itu.


"Iya sih, tapi kan kita tidak tahu kapan bayi nya lahir Ra, Nisa saja itu maju atau mundur.. Tapi ngomong-ngomong mama denger Ellena mau datang Ra?" tanya mama Hesti


"Iya mah, lusa mama Ellena dan kakek bilang nya sih mau ke sini" ucap Dara, Mama Hesti mengangguk.


Saat mengobrol dengan, Dara merasakan sedikit sakit di perutnya. Namun ia tidak meringis atau mengaduh, ia hanya mengerutkan keningnya sejenak.


Setelahnya Dara memejamkan matanya untuk memeriksa kondisi tubuhnya sendiri, terutama di bagian kandungannya. Melihat snag menantu memejamkan matanya, Mama Hesti pikir Dara tengah menikmati sinar mentari pagi.


Jadi ia tidak terpikir Dara mengalami kontraksi, karena raut wajahnya yang biasa saja.


"Kontraksi palsu sudah sering terjadi belakangan ini, tapi sepertinya triplet sudah tidak sabar mau keluar meskipun HPL masih tiga Minggu lagi. Kemungkinan aku akan melahirkan dalam waktu dekat" ucap Dara dalam hati saat memeriksa keadaan dirinya dan juga bayinya.


Dara memperkirakan kemungkinan besok ia akan melahirkan, ia berharap Kai sudah sampai di ibukota saat ia melahirkan nanti.


Awalnya Dara tidak ingin memberi tahu mertuanya, ia takut mertuanya akan panik. Namun jika ia tidak memberitahu, lalu Ia melahirkan lebih dulu sebelum Kai datang.


Itu akan membuat suaminya merasa bersalah karena tidak mendampinginya saat melahirkan. Dara pun sedikit pusing dengan apa yang harus ia lakukan.


"Haaaahhh..." Dara menghela nafasnya dan terdengar oleh mama Hesti


"Kenapa sayang, kamu capek? Udahan yuk berjemurnya, udah dari tadi kan. Sebaiknya istirahat dulu" ucap Mama Hesti lembut.


Dara mengangguk, ia bangun di bantu mertuanya kemudian masuk ke dalam mansion.


"Mah, boleh Dara minta tolong?" ucap Dara


Mama Hesti yang mendengarnya tentu saja senang, karena ini kali pertama menantunya minta tolong padanya.


"Mah, tolong telepon Kai minta ia pulang hari ini kalau bisa, Telepon mama Ellena juga minta sekarang aja ke ibukota nya" ucap Dara


"Kenapa sayang, kamu merasakan sesuatu ya? Apa perut kamu sakit? Kamu ngerasain kontraksi di perut?" tanya mama Hesti terkejut dan sedikit panik saat mendengarnya.


"Jangan panik mah, aku tidak apa-apa. Tapi aku rasa mungkin malam atau besok aku akan melahirkan, aku sudah merasakan kontraksi palsu belakangan" ucap Dara


"Ya Tuhan, kenapa kamu nggak bilang sama mamah sayang. Tunggu sebentar mama telepon Kai dulu" ucap Hesti.


"Haiiss, nih anak malah nggak angkat teleponnya" ucap Hesti nggak sabar.


"Mungkin Abang masih sibuk mah" ucap Dara


"Sibuk apa, kamu lebih penting. Bukannya kamu bilang pekerjaannya sudah selesai tinggal laporan saja hari ini lalu besok pulang?" ucap mama Hesti.


Dara mengangguk, ia jadi ingat ucapan Kai jika ia masih di sana karena ada


"Mama telepon papa Galuh dulu" ucap Hesti lagi.


Kali ini sang suami langsung mengangkat telepon nya.


"Hallo mah ada ap..." belum selesai Galuh bicara mama Hesti sudah memotongnya


"Hallo, pah kamu telepon anakmu sekarang! Jangan lupa kirim pesawat pribadi ke tempat Kai bertugas, mama nggak mau tahu Kai harus pulang hari ini juga!" ucap mama Hesti


"Memangnya ada apa mah? Kenapa suara mama terdengar panik?" tanya Galuh.


"Menantu kita akan melahirkan pah, udah cepat hubungi Kai dan minta Kai pulang sekarang juga! Tuh anak pasti nggak menyangka jika ia " ucapah Hesti.


"Melahirkan sekarang mah? Iya mamah tenang dulu, papa hubungi Kai sekarang" ucap Galuh.


Galuh langsung mematikan teleponnya, ia langsung menelepon pangkalan militer di Kota P. Ia langsung meminta bicara langsung dengan Kai dan setelahnya ia menghubungi putranya itu dan untuk mengirim pesawat pribadi untuk menjemput Kai.


Sedangkan mama Hesti langsung menelepon besannya dan mengabarkan jika Dara mengalami kontraksi. Tentu Ellena yang mendengar hal itu terkejut dan ikut panik, langsung memberitahu yang lain untuk bersiap ke Ibukota saat ini juga.


"Bagaimana mah?" tanya Dara saat mama Hesti


"Mama udah menelepon, Ellena dan yang lain akan berangkat sejam lagi dari kota S. Papa Galuh juga langsung menelepon pangkalan militer di sana dan mengirim pesawat pribadi untuk menjemputnya" ucap Hesti.


"Makasih mah" ucap Dara tersenyum.


"Itu sudah tugas mama, sekarang apa masih terasa sakit sayang? Apa kita ke rumah sakit sekarang? Ah iya mama lupa siapin barang kamu dan triplet, bntr mamah siapin dulu" ucap Hesti hendak beranjak, namun tangan nya di pegang Dara.


"Jangan panik mah, Dara udah siapin kok semuanya ada Koper besar di kamar tamu kedua di lantai ini. Dara udah siapin dari jauh-jauh hari" ucap Dara


"Oh ya Tuhan, kamu memang paling The best bahkan saat hamil gede gini. Mama aja lupa nyiapin, eh tahunya kamu udah siapin itu duluan" ucap Mama Hesti.


"Mama minta sandi siapin mobil dulu ya, kita ke rumah sakit sekarang" ucap Mama Hesti.


"Nanti aja mah, kayanya aku masih beberapa jam lagi deh lahiran, atau mungkin lahirnya besok. Aku nggak mau diem di rumah sakit, bau obat" ucap Dara.


"Kamu ini aneh sayang, kan kamu dokter. Masa iya nggak suka rumah sakit dan nggak suka bau obat" ucap Mama Hesti.


"Itu dua hal yang berbeda mah, kalau buat jadi dokter sih nggak apa-apa. Tapi kalau jadi pasien aku nggak mau, jadi ke sananya sorean aja mah" ucap Dara.


"Ya udah mama ambilin air dulu ya" ucap Mama Hesti bergegas ke dapur, ia lupa kalau di sana ada banyak ART atau maid. Panik memang kadang membuat otak seketika blank, meskipun sudah berusaha tenang.


Dara tidak bisa diam, ia terus berjalan-jalan untuk meredakan kontraksi yang kadang-kadang muncul. Sesekali ia jongkok.


"Da Napa okok di titu?" suara Langit terdengar menghampiri bundanya.


"Ra, kamu nggak apa-apa, kok jongkok?" tanya Shine yang baru datang dari halaman belakang setelah bermain bersama bersama dengan Langit.


"Nggak apa-apa" ucap Dara tersenyum, tidak ada raut kesakitan sama sekali di wajah Dara.


"Sayang ini minum dulu" ucap mama Hesti yang baru datang ambil minum.


"Shine, Dara sudah mulai kontraksi. Kamu bisa tolong ambil bola yoga?" ucap mama Hesti.


"Ya..." ucap Shine terkejut dan langsung mengambil bola yoga yang di maksud Mama Hesti.


"Sayang minumnya sambil duduk di sini" ucap Mama Hesti.


Dara mengangguk dan duduk di sana.


"Aku kabari Daffi, biar siapin semuanya" ucap Shine mengambil ponsel miliknya untuk menghubungi Daffi, agar Daffi menyiapkan ruangan khusus untuk Dara melahirkan di rumah sakit.


"Hmm..." Dara mengangguk.


...•••••••...