The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
129. Menyelidiki kultivator



Setelah selesai berbicara dengan ketiga orang kepercayaan nya. Dara sudah kembali ke kamarnya, ia melanjutkan berbagi pesan dengan kekasihnya.


Setelah malam sudah semakin larut, mereka berdua pun sudah tidak berbagi pesan dan bergegas beristirahat. Namun Dara masih belum terlelap dalam tidur setelah selesai berbagi pesan itu.


Dara kini terlihat mengeluarkan sebuah benda hitam kecil seperti batu gunung berbentuk oval namun dengan permukaan yang rata. Adara mengeluarkan batu itu tentu saja dari ruang dimensi nya, lalu ia mengeluarkan Chi miliknya dalam batu itu.


Itu adalah Batu Penghubung dengan jimat pertunjukan yang Liu Annchi buat dan sudah Dara kenakan siang tadi di restoran. Setelah beberapa saat batu itu mengeluarkan cahaya dan memunculkan sebuah layar di depan Dara. Jika jaman modern mengatakan itu adalah sebuah layar hologram.


Di dalam layar itu memperlihatkan empat orang laki-laki berbeda usia duduk di sebuah ruangan yang tidak lain adalah pengunjung Raka Resto waktu itu.


Salah satu di antaranya yang kira-kira berumur 60 tahunan dan memakai pakaian hitam-hitam. Orang itu yang satu-satunya memancarkan aura kultivator.


Itu bukan kultivator, namun ilmu kebatinan!


Meskipun begitu, Dara bisa merasakannya jika Orang itu di hubungkan dengan kultivator. Ia pasti setara dengan di level menengah di tingkat satu. Itu setara dengan kekuatan Flo saat ini, namun jika beradu, Dara bisa memastikan jika Flo akan menang telak.


Laki-laki tua itu hanya terlihat seperti 60 tahun, namun Dara sangat tahu jika usia orang itu mungkin antara 70 mendekati 80.


Kok bisa?


Itu di karenakan seorang kultivator atau ilmu kebatinan akan cenderung lebih muda dari usia sebenarnya. Bisa di katakan jika penuaan mereka sedikit terlambat.


Semakin tinggi level seorang kultivator, semakin lama juga mereka hidup.


"Ki Ageng Seno? Kompetisi? Padepokan Maung? Apa itu?" gumam Dara mengerutkan keningnya dan menggaruk kepalanya tidak mengerti dengan pembahasan mereka.


Saat Dara mendengar tiga orang di sana memanggil laki-laki tua itu Ki Ageng Seno. Dara juga mendengar percakapan beberapa orang itu tentang sebuah kompetisi bertarung dan juga membicarakan tentang padepokan dan juga balas dendam.


"Sepertinya aku harus memberikan tugas tambahan untuk Theo" gumam Dara lagi.


Tak menunggu lama, Dara langsung mengetik pesan pada Theo untuk menyelediki tentang Ki Ageng Seno itu.


Setidaknya ia ingin menyelidiki apakah ada kultivator lain atau ahli kebatinan di dunia ini. Yang mungkin berbahaya untuk masyarakat terlebih keluarga nya.


....


Pagi harinya, Dara sudah siap akan pergi ke Manor Keluarga besar Narendra.


Gugup? Sudah pasti! Namun sebisa mungkin Dara menangkan dirinya, karena cepat atau lambat ia juga harus bertemu keluarga dari sang kekasih.


Dara keluar dari kamarnya menuju ke lantai satu. Di sana ia sudah melihat Kai dengan tampan, tengah mengobrol dengan ketiga adiknya.


Mereka berempat kompak menoleh dan terpesona dengan Dara. Meskipun mereka sudah sering melihat Dara, namun pesona Dara memang tidak main-main.


"Kakak mau keluar dengan kakak ipar?" tanya Ryan


"Iya, kalian baik-baik di rumah ya" ucap Dara pada adik-adiknya itu.


"Oke, tenang aja kak. Ada kak Alan dan Kak Flo yang jaga kami di sini. Kakak bersenang-senang lah, semoga pertemuan dengan camer lancar ya Kak" ucap Dimas tersenyum lebar.


"Camer, apaan itu dek? tanya Dara tidak mengerti.


"Calon mertua" ucap Dimas membuat wajah Dara Merona merah


Sedangkan Kai hanya menahan senyumnya saat adik-adik dari kekasihnya itu menggoda kakaknya. Kai senang? Tentu saja senang, karena ia sudah mengantongi restu dari keluarga Dara. Itu sudah lebih dari kata bahagia untuknya.


"Flo di mana dek?" tanya Dara mencoba mengalihkan pembicaraan yang membuatnya sedikit salah tingkah itu.


"Kak Flo ada di tempat Gym kak, sedang olahraga seperti biasa" ucap Alan yang di angguki Dara.


"Ya sudah kalau begitu kakak pergi dulu ya. Alan, tolong jaga adik-adik kamu. Kalau ada apa-apa kabari kakak!" ucap Dara pada adik paling besarnya itu.


"Aye aye captaint. Tidak perlu khawatir kak" ucap Alan sembari hormat. Membuat Dara terkekeh.


"Kak, titip kak Dara ya, hati-hati di jalan" bisik Dimas pada Kekasih kakaknya itu.


"Tentu, kalian juga hati-hati di rumah" ucap Kai mengelus kepala adik-adik iparnya itu. eh... Adik dari kekasihnya.


.....


Di dalam perjalanan ke Manor Keluarga besar Narendra, Dara hanya diam membuat suasana di mobil pun sangat sunyi. Kai menggenggam tangan kekasihnya itu dan mengecupnya sesekali, ia tahu kalau Dara tengah gugup saat ini.


Dara menggenggam balik telapak tangan Kai, ia sekarang mengerti mengapa Kai gugup saat ia bertemu keluarganya di kota S dan sekarang ia juga merasakan hal yang sama.


Tak berapa mobil yang di kendarai Kai masuk ke sebuah gerbang yang tinggi menjulang. Jangan lupa penjagaan di area sana sangat ketat. Itu sudah seperti masuk ke kediaman presiden, karena penjaga di sana di lengkapi senjata.


Dara juga bisa merasakan jika penjagaan di sana di lakukan oleh orang-orang yang kuat. Karena dara merasakan aura kuat dari mereka, yang hanya di dapat dari prajurit medan perang saat di mana Liu Annchi tinggal.


"Jangan gugup sayang" ucap Kai lembut


"Haaahh, ternyata begini rasanya gugup yang kamu rasakan saat di kota S" ucap Dara yang di jawab kekehan dari Kai.


"Apa yang harus aku lakukan Kai?" tanya Dara menoleh ke arah Kai


"Tenang saja, kamu cukup jadi diri kamu sendiri, mereka pasti menyukaimu. Ayo keluar! Eh tunggu, aku akan membukakan pintu untukmu" ucap Kai kemudian turun dari mobil lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk sang kekasih.


Perlakuan Kai itu di lihat oleh semua anggota keluarga Narendra dari balik jendela. Namun Kai mengetahui itu dan menoleh ke sana dengan tatapan tajam. Sontak semuanya lekas bubar setelah sudah mendapatkan warning lewat tatapan Kai.


"Ayo masuk sayang" ucap Kai mengandeng jemari tangan Dara dan melangkah masuk ke Manor.


"Selamat malam tuan mud....a" ucap penjaga terpotong karena terkejut dan melongo saat melihat Dara yang sangat cantik jelita itu. Beruntung mereka langsung mendongakkan kepala mereka, kalau tidak darah akan keluar dari hidung mereka.


"Astaga pacar tuan muda pertama sangat cantik dan misterius. Gila auranya woooww banget" ucap para penjaga dalam hati mereka.


Kai terus mengandeng Dara masuk ke dalam Manor, mengabaikan tatapan para penjaga. Semua orang sudah siap-siap menyambut kedatangan Dara, si gadis spesial yang bisa meluluhkan pria kutub di kediaman Narendra.


Di sana sudah ada Gusti-Dian, Galuh-Hesti, Genta-Sarah, Lingga-Ajeng. Siap menyambut kedatangan Dara.


Namun belum sempat berucap mereka semua terbengong melihat Dara secara langsung. Bahkan Ajeng dan Hesti yang sudah melihat di ponsel Kai saat itu tetap saja terkejut melihat Dara justru lebih cantik saat di lihat secara asli.


Saat Dara sampai di ruang tamu pun Jantungnya berdetak kencang. Saat matanya bersibobrok dengan seseorang tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang familiar.


Deg!


...••••••...