
Keesokan harinya, sesuai dengan janjinya dengan Richie, Dara, Bara dan Flo sudah sampai di sebuah restoran bintang tiga di kota S.
Restoran itu sangat populer juga memiliki room Private, dan berada di pusat kota S. Jadi sudah pasti Bara sebagai warga lokal sangat paham di mana letak restoran itu berada, dan tidak ada Drama buka Maps untuk ke sana.
Awalnya Dara hanya ingin mengajak Bara, hanya saja ia pikir Flo sebagai asisten pribadinya ia ikut sertakan.
Setelah memberitahu nama reservasi, mereka bertiga antar oleh pelayan ke ruangan Private Room di lantai atas. Sesampainya di sana Ketiganya di sambut oleh Richie dan Alex.
"Selamat malam Dokter Dara, Tuan muda Adi Raharjo dan...." sapa Richie menggantungkan ucapannya melihat sosok wanita cantik di belakang Dara yang tak lain adalah Flo. Sedangkan Bara, ia sudah pernah bertemu saat tidak sengaja ke perusahaan A.R Corporation.
Deg!
Entah mengapa ada perasaan aneh di hatinya, Richie mengeryitkan dahinya. Ia seperti pernah melihat Flo, tapi entah di mana ia pernah melihatnya. Yang jelas wajah itu tidaklah asing di matanya.
"Namanya Flo, dia asisten pribadi sekaligus calon iparku" ucap Dara mengatakan apa adanya.
"Ah, apa Nona Flo adalah pacar tuan muda Adi Raharjo?" tanya Richie menoleh ke arah Bara.
"Bukan, Lebih tepatnya Flo adalah calon ipar tunanganku" ucap Dara agar tidak salah paham
Richie hanya mengangguk kemudian mempersilahkan ketiganya duduk dan menyodorkan menu makanan. Mereka semua memesan makanan dan minuman setelahnya.
Sesekali Richie menatap Dara yang kini sudah membuka masker yang menutupi wajah cantiknya, sungguh pesona Dara tidak kaleng-kaleng. Juga entah mengapa ia sesekali menatap wajah Flo, sepertinya ada perasaan yang nampaknya tidak asing.
"Apa kita bisa membicarakan nya sekarang? tentang apa anda ingin bertemu denganku tuan Richie?" tanya Dara
"Anda sangat to the point sekali nona dan tidak ingin basa-basi" ucap Richie terkekeh.
Hal itu membuat Alex yang sejak tadi diam merinding. Entah jenis setan apa yang merasuki tubuh tuan mudanya saat ini, karena biasanya tuan mudanya itu bersikap dingin. Justru sekarang tertawa kecil sekarang dan banyak menampilkan wajah cerah berbinar.
"Saya hanya tidak ingin membuang waktu" ucap Dara tenang, nada suaranya terdengar datar dan tidak bermaksud menyinggung sama sekali.
"Baiklah, saya akan mengatakannya, langsung saja, saya ingin menawarkan bisnis dengan anda Nona" ucap Richie dengan yakin.
"Bisnis?" beo Dara mengeryitkan dahinya
"Ya bisnis, saya tahu anda menjalankan bisnis juga selain anda yang berprofesi sebagai Dokter, bukan?" ucap Richie
"Anda benar, aku memang memiliki perusahaan entertainment di bawah namaku di ibukota. Apa itu artinya anda tertarik ingin berinvestasi pada perusahaanku, tuan?" tanya balik Dara
"Tentu, tapi saya tahu selain perusahaan itu pasti ada perusahaan lain di bawah nama anda, benar kan?" tanya Richie
"Apa maksudmu?" tanya Dara mengangkat sebelah alisnya saat mendengar pernyataan Richie.
"Sebelumnya saya meminta maaf nona, bukannya saya lancang. Jujur saja, sejak pertama kali aku melihatmu aku sudah tertarik. Baik dari segi penampilanmu, sikapmu dan juga entah mengapa saat melihat anda, saya melihat ada sesuatu yang ada pada diri anda yang begitu misterius padamu. Apalagi saya tidak pernah gagal mencari informasi apapun, kecuali Anda dan tunangan anda, Kaisar Raka Narendra" ucap Richie
"Kau tertarik padaku? Kau mencari tahu tentangku?" tanya Dara lagi memicingkan matanya.
"Basically, Yes! But..... I have no interest in taking another male partner. So it's just a matter of business. I'm sure, you are a big business woman who is humble. Unfortunately no one else noticed, except for me of course" ucap Richie dengan begitu percaya dirinya.
"Ha-ha-ha...." Kini Bara yang sejak tadi diam tertawa keras di lanjut Dara yang hanya terkekeh. Sedangkan Flo hanya mengulum senyum. Jujur ketiganya cukup takjub dengan analisa Richie yang hampir mendekati tepat.
"That's right, guys. Analisamu cukup tepat" ucap Bara melirik Dara kemudian mengangguk. Yang artinya mengijinkan Bara berbicara.
"Saya salut mister Richie, bukan hanya karena analisamu yang luar biasa terhadap adik saya. Tapi sebelumnya saya memberikan jempol pada ucapan pertamamu. Anda sungguh laki-laki yang memegang prinsip yang sangat kuat dan bagus, anda dengan gentle mengatakan jika anda tertarik pada adikku, tapi anda juga menegaskan jika anda bukan seorang yang suka menikung pasangan orang lain" lanjut Bara lagi.
"Ya, saya hanya memiliki pemikiran, sesuatu yang tidak di awali dengan baik. Tidak akan menghasilkan hal yang baik pula" ucap Richie dengan tulus.
"Jadi jenis bisnis apa yang ingin Anda sampaikan Tuan?" tanya Dara.
"Begi...." belum juga Richi menjawab, ketukan pintu terdengar.
Tak berapa lama makanan pun sudah tersedia di atas meja. Mereka berlima memutuskan untuk makan dulu selagi makanannya masih hangat. Untuk pembicaraan di lanjutkan setelah acara makan selesai.
Setelah selesai menikmati semua makanan di atas meja. mereka pun melanjutkan pembicaraan mereka.
"Begini nona Dara, bolehkah saya mengetahui bisnis yang sedang anda Rintis secara spesifik?" tanya Richie.
"Kau ingin tahu?" tanya Dara yang di angguki oleh Richie dengan semangat.
"Perusahaan induk milikku belum resmi berdiri, mungkin sekitar dua atau tiga bulan lagi akan go publik. Nama perusahaannya adalah Star Corporation. Anak perusahaan milikku antara lain, A.A Corporation, Star Resto, Star Hospital, Star Hotel, Apalagi ya yang belum di sebut" ucap Dara
"Atheo Techno and Solution, juga Star Law Firm" lanjut Flo menjelaskan.
Atheo Techno and Solution atau yang di kenal dengan ATAS adalah perusahaan start up berbasis teknologi dan juga menawarkan konsultan bisnis. Perusahaan itu di dirikan oleh Dara sebagai pemilik SAH Perusahaan dan Theo sebagai Founder yang kini menjabat CEO dari ATAS juga memiliki 20% saham di sana.
Sedangkan Star Law Firm (SLF) adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang hukum yang di pegang oleh Hana, yang juga sebagai 'Corporate Lawyer' Star Corporation.
Richie yang mendengarnya benar-benar di buat melongo. Tunggu, sepertinya dia melewatkan sesuatu dan langsung menatap Dara.
"Nona, saya pikir tidak pernah mendengar nama perusahaan yang anda sebut, berada di lingkaran kerajaan bisnis Adi Raharjo" ucap Richie
"Tentu saja tidak ada di lingkaran bisnis keluarga kami. Karena perusahan yang tadi di sebutkan adalah milik adikku, semuanya adalah perusahaan milik pribadinya yang ia dirikan sendiri. Dia merintisnya sendiri tanpa campur tangan atau embel-embel Adi Raharjo. Sangat hebat kan?
Sejujurnya Saya sendiri bahkan insecure, namun sekarang lebih ke bangga karena ternyata pembisnis muda itu tidak lain adikku sendiri, aku benar-benar tertinggal jauh darinya, Bahkan kakakku angkat topi padanya. Kakak laki-lakiku memang hebat, tapi belum tentu bisa seperti yang di Lakukan Dara" ucap Bara dengan terkekeh dan menepuk pelan kepala Dara.
"Woaaahh..." kini baik itu Richie dan Alex di buat melongo.
Pluk!
Bara menepuk pundak Richie membuat pria tampan itu mengerjapkan matanya.
"Jadi kerjasama bisnis apa yang ingin anda tawarkan ke Dara?" tanya Bara lagi
Richie menimbang-nimbang bisnis apa yang akan ia bangun bersama Dara. Meskipun awalnya ia sudah memiliki idenya sedari awal, namun setelah mendengar begitu banyak perusahaan di bawah naungan Dara. Tiba-tiba blank begitu saja.
Setelah diam cukup lama, akhirnya Richie mengatakan ide awalnya ingin mengajukan kerja sama.
"Obat-obatan. Maksudku, saya ingin kita membuat peroduksi obat. Saya yakin dengan kemampuan Dokter Dara yang sangat menakjubkan di bidang kedokteran dan juga peracik obat. Saya yakin obat ini selain menguntungkan, juga memiliki manfaat yang besar untuk masyarakat luas. Terutama di bidang kesehatan" ucap Richie.
Dara terdiam dan memikirkan hal ini, dulu ia juga menimbang-nimbang awalnya ingin membangun produsen obat. Meskipun tidak menjual pil penyembuh, tapi Dara bisa membuat obat lain yang lebih modern. Namun memiliki khasiat yang lebih unggul juga kualitas yang terbaik dari obat yang beredar di pasaran.
"Oke, tapi aku yang menentukan obat apa yang akan di produksi. Aku juga yang mencari dokter sebagai Dokter ahli dan juga tidak ada yang tahu resep pastinya selain aku tentunya. Tapi tenang, aku pastikan obat-obatan yang aku buat memiliki kualifikasi obat terbaik dan lolos uji kelayakan, keamanan produk dan bebas dari bahan-bahan berbahaya. Tapi aku tidak bisa menerima kerja sama jika tidak memiliki wewenang lebih di perusahaan. Berapa bagian untukku?" ucap Dara lagi.
"Baiklah, kalau begitu 30 : 70, saya yang 30-nya Deal!" ucap Richie dengan semangat mengulurkan tangannya
"Deal!" ucap Bara menyambut tangan Richie dengan cepat mewakili Dara dan tersenyum. Baginya ini adalah kesempatan yang luar biasa. Bagaimanapun Ini penawaran yang lebih condong menguntungkan Dara, Tidak ada masalah dengan itu.
"Antisipasi Dek! Jangan memancing di air yang keruh, takut hal ini jadi awal petaka" bisik Bara terkekeh
Dara juga terkekeh melihat kelakuan kakaknya yang sungguh tidak terduga, sedangkan Richie hanya tersenyum canggung. Padahal ia hanya pure refleks ingin berjabat tangan karena senang dengan kesepakatan yang mereka buat itu.
...••••••••...