The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
289. Acara arisan - Begal atau Preman?



Sesampainya di sebuah restoran, Bara menelepon kakak dan ayahnya. Ia menceritakan apa yang terjadi di mall barusan, tentu saja mendengar hal itu baik Revan maupun Adnan sangat murka.


Siapa orang bodoh yang berani mengusik harta paling berharga di keluarga mereka. Kesayangan mereka yang ingin mereka lindungi?


Hal itu sudah di pastikan Dinda dan keluarga Tjahja akan segera menghilang dari kota S. Baik Adnan maupun Revan janji akan membuat keluarga itu tidak akan berani menunjukan kesombongan mereka lagi.


Dara hanya menggelengkan kepalanya tanpa repot melarang mereka melakukan itu semua pada Dinda.


Yang jelas ia yakin jika Keluarganya tidak akan membunuh siapapun, mereka paling parah hanya menggulingkan kerajaan bisnis milik keluarga Dinda dan membuat mereka jatuh sejatuh-jatuhnya sampai titik paling dasar.


Setelah menghabiskan makanannya Dara dan Bara berkeliling lagi, kali ini Dara yang berbelanja. Lalu setelah hari hampir sore mereka bergegas kembali ke mansion.


"Makasih kak udah traktir aku belanja" ucap Dara tersenyum pada kakaknya itu.


"Sama-sama dek, maaf tadi ninggalin kamu sampai ada yang berani buat malu kamu di mall" ucap Bara.


"Nggak apa-apa kak, itu merekanya aja yang nggak jelas" ucap Dara tetap stay cool.


"Maaf juga tadi buat kamu kecapean temenin kakak keliling cari sepatu" ucap Bara.


"Hmm, kalau yang itu Dara jadi kapok temenin kakak belanja. Ribetnya ngalahin emak-emak lagi belanja kejar diskonan, kasihan mbak-mbak nya di PHP in mulu. Kakak tuh mirip emak-emak yang kadang suka ghosting pas nawar harga, udah dapet harga deal eh malah nggak jadi beli" ucap Dara


"Jiah di samain sama Emak-emak" ucap Bara


"Nggak nyamaain, tapi kakak nglahin emak-emak. Noh ujung-ujungnya dapet sepatunya modelnya hampir mirip juga" ucap Dara


"Mirip dari mana? Warnanya beda, modelnya juga beda dek" ucap Bara


"Orang sama kok, sama-sama ada talinya terus Ujung-ujungnya di injek juga tuh" ucap Dara


"Ya kali sepatu pakeknya di atas kepala dek, ya di mana-mana sepatu ya di injek" ucap Bara.


"Nah itu, di mana-mana sepatu sama kan? Lagian itu modenya juga sama kok, cuma beda corak dikit elaahh" ucap Dara.


"Ya-ya terserah kamu lah dek, kamu selalu benar" ucap Bara


"Nah itu baru bener" ucap Dara terkekeh mendapati wajah kesal kakaknya.


....


Dara sudah berada di tempat acara arisan ibu-ibu sosialita di kota S. Yang bertempat di salah satu kediaman anggota kelompok arisan itu. Kali ini arisan di adakan di kediaman Suseno Aji, salah satu keluarga besar di kota S.


Ellena dengan anggun melangkah masuk sembari menggandeng putri tercintanya. Hal itu sontak membuat semua orang yang ada di dalam mansion mewah itu tertegun melihat kecantikan Dara.


"Selamat sore semuanya" ucap Ellena menyapa semua orang dengan senyum manisnya.


"Sore jeng Ellena, udah Dateng nih, ayo-ayo masuk jeng. Wah ini Dara ya putri semata wayangnya jeng Ellena? Ya Gusti, Cantik banget, masih aja pangling dan terpesona lihatnya" ucap Nita salah satu teman perkumpulan Arisan.


Hampir semua yang ikut arisan di undang saat pertunangan Dara dan Kai. Jadi mereka semua sudah pernah lihat Dara sebelumnya, namun saat itu mereka belum sempat berkenalan dengan Dara saat di acara.


Mereka juga sempat melihat Dara waktu arisan di mansion Adi Raharjo.


"Selamat sore Tante" ucap Dara tersenyum lembut menyapa semuanya dan mencium tangan mereka.


"Aduh jeng, neng Dara udah cantik, sopan lagi. Menantu idaman banget jeng... Sayang udah di cap duluan sama tuan muda pertama Narendra, sungguh pasangan yang serasi mereka. Sama-sama cantik dan tampan" ucap Yang lain.


"Tentu dong, gen-nya Adi Raharjo nggak pernah gagal hehe" ucap Ellena melambung tinggi dan terkekeh.


"Jeng Ellena udah Dateng. Loh, Dokter Addara juga di sinj..." ucap Putri Suseno Aji. Istri dari Erwin Suseno Aji, tuan rumah arisan kali ini kaget melihat Dara.


"Hallo Tante putri, apa kabar?" ucap Dara mencium tangan Putri.


"Baik, sangat baik malah. Dokter sendiri apa kabar?" ucap Putri


"Kabar Dara baik Tante, hmm jangan panggil dokter, panggil aja Dara kan ini bukan di rumah sakit" ucap Dara


"Jeng Putri kayanya udah akrab bener sama Dara. Perasaan waktu arisan di rumah jeng Ellena sama acara pertunangan Dara nggak dateng" ucap Rose


"Iya jeng Rose, Dara ini yang selametin Lisha. Sekarang Lisha sembuh bahkan sudah bisa lari loh. Kalau Dara tidak ada pasti kali Lisha harus di amputasi" ucap Putri mengelus rambut Dara dengan sayang.


Semuanya tentu tahu kabar Lisha yang mengalami kecelakaan hebat dan hampir di amputasi. Namun mereka tidak menyangka jika dokter hebat yang di maksud itu adalah putri semata wayang Keluarga Adi Raharjo.


"Dara kamu mau gabung sama Lisha dan Ara juga yang lain?" tanya Putri


"Emang mereka di mana Tan?" tanya Dara yang tidak melihat keberadaan mereka sejak tadi.


"Ada di halaman belakang, yuk Tante anterin ke sana" Ucap Putri yang di angguki oleh Dara.


Sesampainya di sana Dara melihat Ara, Lisha dan juga ada 4 orang perempuan lainnya yang seumuran dengannya atau bahkan lebih muda.


"Lisha, Arra, lihat ini ada Dara datang mau gabung sama kalian" ucap Putri.


"Dara..." sapa Arra tersenyum, ia tahu kemungkinan Dara akan bergabung.


"Dokter Addara..." ucap Lisha terkejut melihat penyelamatnya datang ke rumah.


Sedangkan empat yang lainnya yang belum pernah bertemu dengan Dara terpaku melihat Dara. Sunggu mereka merasa insecure sendiri melihat kecantikan Dara tanpa celah.


"Hai kakak ipar, Lisha, semuanya" sapa balik Dara dengan tersenyum


"Dara sayang, tante tinggal dulu ke depan ya" ucap Putri.


"Iya Tante, makasih udah anterin ke sini" ucap Dara


"Nggak perlu makasih sayang, santai aja ya" ucap lembut putri.


Ia sudah menganggap Dara sebagai penyelamat putrinya, terlebih Dara adalah putri salah satu sahabatnya.


"Dara ih jangan panggil kakak ipar, kan aku belum jadi kakak ipar kamu. Malu ih" ucap Arra dengan wajah yang merona malu.


"Kalau gitu calon kakak ipar" ucap Dara.


"Haisss sama aja, panggil Arra aja sih! Lagian kita kan seumuran" ucap Arra


"Nggak enak lah, masa panggil nama doang. Kan nanti juga kamu jadi kakak aku pas udah nikah sama kak Revan" ucap Dara


"Kan sekarang masih pacaran Ra, panggil Arra aja" ucap Arra.


"Ya udah deh, iya Arra" ucap Dara terkekeh.


"Eh iya kenalin ini Dara, putri semata wayang Tante Ellena" ucap Arra pada yang lain.


"Dara" ucap Dara tersenyum sembari mengulurkan tangannya pada keempat yang lain, sontak mereka tersadar dan menyambut uluran tangan Dara.


"Giselle...


"Alea...


"Zee...


Mereka pun mengobrol bersama, terlihat Lisha begitu antusias mengobrol bersama sang idola. Semenjak Dara menyelamatkannya, ia sudah menjadikan Dara sebagai idolanya.


"Eh iya emang kamu pacaran sama tuan muda pertama?" tanya Lisha pada Arra.


"Hmmm" Arra mengangguk malu.


"Astaga sejak kapan?" tanya Lisha terkejut, ia memang ketinggalan banyak informasi sepertinya.


"Tiga bulan lalu" ucap Arra


"Woaaahh, hebat bener kamu bisa taklukin si tuan muda kulkas tiga pintu" ucap Lisha takjub. Di sambut kekehan dari semua orang.


Mereka kembali mengobrol hingga waktu makan malam tiba, mereka kembali bergabung bersama dengan orang tua mereka untuk makan malam bersama.


....


Arisan selesai jam 9 malam, Dara dan Ellena pun langsung memutuskan untuk pulang dan istirahat. Hanya saja di tengah perjalanan ada jalan yang ditutup dan terlihat banyak orang berkumpul di snaa. Hingga mau tidak mau mobil yang di tumpangi Ellena dan Dara berhenti.


"Ada apa pak?" tanya Ellena pada supir pribadinya itu.


"Sepertinya ada begal, kumpulan preman atau nggak tahu apa di depan sana Nya" ucap Supir.


"Putar balik aja kalau gitu, cari jalan lain. Kita cari aman, jangan cari penyakit" ucap Ellena.


"Baik Nya..." ucap Supir


Saat mobil hendak mundur, seseorang datang mencoba menghentikan mobil dengan memecahkan kaca mobil. Untung kaca mobil milik Ellena terbuat dari bahan khusus yang tidak mudah pecah dan anti peluru, hingga tidak melukai orang yang ada di dalamnya jika sampai berhasil di pecahkan.


"Akkkhhh....!!!" Ellena teriak saat salah seorang mencoba memecahkan kaca mobilnya. Yang tepat di sampingnya.


BRAK!!!


BRAK!!!


BRAK!!!


"Keluar!!!!" teriak orang itu menggebrak kaca mobil itu dengan keras.


"Aduh, bagaimana ini Nya? Nyonya sama nona diam saja di mobil ya, biar saya yang keluar dan menangani mereka" Ucap supir bernama Dirman itu.


Dirman merupakan salah satu pensiunan tentara, dan bisa melawan beberapa orang sekaligus. Hanya saja ia sedikit ragu untuk melawan orang yang menghalangi jalan itu. Bukan takut kalah, melainkan takut kedua majikannya sampai kenapa-kenapa, karena ini merupakan tanggung jawabnya melindungi mereka.


DOR!!!


DOR!!!


Terlebih saat Dirman ingin nekat menerobos, justru orang tersebut mengempesi mobil dengan menembaknya hingga bocor. Otomatis mobil tidak bisa berjalan dan diam di tempat.


"Jangan keluar Pak, Bapak jaga mama aja di sini biar aku yang keluar" ucap Dara


"Nggak boleh! Sayang itu bahaya, mama nggak mau kamu kenapa-napa. Mereka banyakan dan juga bawa senjata api sayang" ucap Ellena.


Ibu mana yang diam saja anaknya mau mau menantang maut, terlebih anak itu anak perempuan. Apalagi saat melihat orang-orang yang menghalangi mereka pergi sangat banyak.


"Mamah tenang aja, Dara nggak akan kenapa-napa, lebih baik mama telepon papa atau kakak dan cari bantuan. Biar Dara yang urus di sini untuk ulur waktu. mamah tahu kan anak gadis mama ini sangat kuat, jadi Dara tidak akan tumbang hanya karena para kroco" ucap Dara mencoba meyakinkan mamanya.


"Tapi sayang tetap aja mama khawatir, udah kamu di si...." ucap Ellena terpotong


BRAK!!!


BRAK!!!


BRAK!!!


"Buka pintunya!! Atau ku bakar saja nih mobil" ucap orang itu


"Mama tenang aja oke, aku keluar dulu. Pak Dirman tolong jaga mama, kalian berdua jangan pernah berani buka kunci pintu apalagi turun apapun yang terjadi nggak boleh. Mama jangan lupa cari bantuan, oke" ucap Dara kemudian membuka pintu mobil dan keluar.


Melihat ada yang keluar dari mobil orang itu menghampiri Dara. Ia sempat tertegun melihat Dara yang begitu cantik luar biasa. Bukan hanya hidungnya mengeluarkan darah, tapi juga air liurnya menetes di sudut bibirnya, menatap Dara penuh pikiran mesum.


"Hei kawan-kawan... Ada bidadari cantik nyasar di mari nih, kayanya malam ini kita bakalan bergadang sampai pagi. Mangsa yang sangat menggiurkan, sayang kalau di lepas" teriak orang itu membuat sekitar setengah orang di sana, yakni sekita dua puluh orang atau mungkin lebih di sana menoleh dan berjalan mendekat.


Dara yang melihat itu hanya mendengus jijik, ternyata pikiran orang-orang ini penuh dengan pikiran kotor. Tidak bisa lihat cewek cantik dikit udah San*e aja, di potek baru tahu rasa itu burung perkutut.


Mata Dara tak sengaja menangkap seseorang yang ia kenal berdiri tak jauh dari sana terhalang beberapa orang yang masih berkumpul di san.


Dara mengernyitkan keningnya saat mendengar dari jauh orang mengobrol. Kini Dara paham apa yang tengah terjadi di depannya dan mengapa mobilnya di tahan dan tidak di perbolehkan putar balik.


"Lepaskan kami, maka kami akan menutup mulut dengan apa yang kami lihat saat ini" ucap Dara santai saja saat bicara pada banyak orang yang notabene semuanya pria.


"Memang apa yang kau lihat nona?" tanya orang itu terkekeh menatap Dara penuh nafsu.


"Tidak ada yang kami lihat, jadi biarkan kami pulang" ucap Dara


"Tidak semudah itu nona cantik. Aku akan membiarkan kamu pergi setelah kita merengkuh nikmat dunia bersama malam ini ha-ha-ha" ucap orang itu tertawa dengan kencang di sahiti oleh yang lainnya.


"Sekali lagi dan ini yang terakhir, biarkan kami pergi sebelum sesuatu yang buruk terjadi pada kalian" ucap Dara dengan serius dan nada yang sangat datar.


"Uuuhhh, takut sekali... Tapi kalaupun kami membiarkan kalian pergi, kalian tidak bisa pergi dengan keadaan mobil kalian yang tidak bisa di gunakan, benar?" ucap orang itu.


"Setidaknya berpura-pura tidak melihat kami, kami pun sebaliknya begitu dan tidak melihat kalian. Kami akan pergi dengan jalan kaki sampai ujung jalan sana. Kami janji tidak akan membocorkan aktivitas kalian di sini, bagaimana?" ucap Dara lagi


"Tawaran menarik, tapi sayangnya kamu jauh lebih menarik nona manis. Aku memilih untuk tidur semalam suntuk bersamamu, cantik. Aahhh aku ingin sekali mencium bibir se*si mu dan dadamu yang menyembul indah itu" ucap orang itu hampir dengan kata-kata kotornya.


Orang itu menghampiri Dara ingin menyentuh dagu Dara, ia juga ingin sekali mengelus pipi mulus nan lembut. Membayangkannya saja sudah sangat membuatnya bersemangat. Namun yang terjadi justru kebalikannya.


KRAK!!!


KRAK!!!


"Aaaaaarrrggghhhhh......!!!!" Teriakan menggema di jalanan gelap itu memecahkan keheningan di sana.


...••••••••...