The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
131. Mengatakan sebenarnya pada Dierja.



Setelah mengobrol, semua anggota keluarga Narendra termasuk Dara ikut berjalan ke ruang makan. Di sana sudah di siapkan berbagai makanan untuk mereka makan siang bersama di meja besar itu.


Melihat Tirta yang tidak ikut duduk bersama mereka, Dara menoleh ke arah Kai yang duduk di sampingnya dan berbisik pelan.


"Kai, kenapa paman itu tidak ikut duduk bersama?" tanya Dara berbisik pelan.


Ia memang belum tahu nama Tirta, karena Tirta sedari tadi diam dan tidak berbicara sama sekali.


Meskipun bisikan Dara pelan, namun masih bisa di dengar jelas oleh Kai. Bahkan Tirta dan Dierja juga bisa mendengarnya karena pendengaran mereka lebih tajam.


"Dia tidak akan mau Babe, Opah udah pernah minta paman Tirta untuk ikut makan bersama beberapa kali. Namun paman menolak" jawab Kai dengan pelan juga.


Mendengar itu Dara hanya mengangguk paham. Ia tidak akan memaksa seseorang jika orang itu tidak mau.


Mereka semua kini sudah mulai menyantap makan siang mereka bersama, tanpa ada yang berbicara lagi. Karena memang peraturan tidak tertulis di keluarga Narendra memang tidak memperbolehkan ada obrolan saat sedang makan.


Selesai makan mereka semua berkumpul kembali di ruang tamu dan mengobrol. Dara memikirkan bagaimana caranya ia mengobrol dengan Dierja, tentang Kultivasi dan juga luka yang beliau derita.


Jika bukan karena Dierja adalah Opah Kekasihnya, ia tidak akan repot-repot ingin berbicara dan memastikan kebenaran luka yang ia rasakan saat ia melihat aura Dierja. Bahkan ingin menyembuhkan Dierja jika beliau benar-benar terluka dan mau ia sembuhkan.


Karena jika tidak, hanya butuh paling lama tiga bulan sebelum kematiannya. Itu pun kalau luka di tubuhnya tidak di perburuk oleh faktor lainnya.


Dara tidak ingin itu terjadi, karena jika sampai terjadi Kekasihnya pasti akan bersedih dan Dara tidak ingin Kai bersedih karena kehilangan Opahnya itu dapam kurun waktu hanya beberapa bulan lagi.


Entah memang keberuntungan Dierja atau memang sudah takdir Dara saat ini berkunjung ke keluarga Narendra. Hingga ia bisa mencegah hal buruk terjadi padanya.


Beberapa saat kemudian, Dara menghela nafas mencoba memberanikan diri bicara pada Opah yang dudukya tidak jauh dari nya karena mereka semua duduk di sofa yang melingkar dengan Meja sebagai batasnya.


"O-opah..." panggil Dara


"Hmm, kenapa Dara?" tanya Dierja menoleh ke arah kekasihnya cucunya itu.


"Maaf kalau Dara lancang, tapi bisakah kita bicara sebentar? Ada sesuatu yang ingin Dara sampaikan" ucap Dara


"Hmm tentang apa?" tanya Dierja.


Semua orang juga menoleh ke arah Dara karena penasaran termasuk Kai. Namun bukan namanya kalau Dara tidak bisa menutupi kegugupannya saat ini dengan sikap tenangnya.


"Ada sesuatu yang cukup rahasia opah dan Dara harus sampaikan pada opah secara pribadi. Kalau tidak, Opah bisa minta Paman Tirta menemani obrolan kita" ucap Dara membuat Dierja berpikir keras. Namun ia tidak tahu apa yang di pikirkan gadis itu.


"Ada apa Ra? Apa ada masalah?" tanya Hesti yang duduk di samping Dara


"Tidak mah, Dara hanya ingin menyampaikan sesuatu yang penting" ucap Dara


Dierja menatap calon cucu menantunya itu, namun ia tidak mendapati kebohongan di sana. Jadi ia yakin memang ada hal yang penting yang ingin dara sampaikan.


"Kalau begitu kita bicara di ruangan kerja, Tirta kamu ikut!" ucap Dierja pada orang kepercayaannya itu.


"Baik tuan besar" ucap Tirta Menganggukkan kepalanya.


"Opah aku ikut" ucap Dara


"Kai jangan ikut dulu, ada beberapa yang harus aku sampaikan secara pribadi dengan Opah. Kamu di sini aja ya! tidak lama kok, hanya sebentar" ucap Dara memberikan senyum manisnya pada Kai, agar Kai mau menurutinya.


"Tenang Kai, Opah tidak akan memakan kekasihmu ini. Gigi Opah sudah tidak kuat" ucap Dierja membuat Dara juga ikut terkekeh mendengarnya. Sedangkan Kai hanya memutar matanya mendengar ucapan Opahnya.


"Memang harus bicara secara pribadi?" tanya Kai menoleh ke arah Dara.


"Iya Ra, kan kita juga penasaran" ucap Sarah ikut menimpali


"Maaf, tapi hal ini hanya bisa di katakan pada Opah" ucap Dara merasa tidak enak.


"Sudah tidak apa-apa, mungkin Dara ingin menyampaikan sesuatu dari Gusti padaku" ucap Dierja memberikan alasan yang masuk akal.


Akhirnya Dara, Dierja dan Tirta pun masuk ke ruangan kerja pribadi milik Dierja di dalam Manor.


Terlihat di ruangan itu banyak sekali penghargaan di bidang kemiliteran berjejer di lemari kaca atas nama Dierja. Ada pula Foto hitam putih di mana Dierja masih muda dan menggunakan seragam militernya.


Sungguh Dierja di foto itu ia sangat tampan pada jamannya, pantas saja laki-laki di keluarga Narendra sangat tampan. Ternyata sudah dari sananya memang tampan.


"Silahkan duduk Nak!" ucap Dierja yang sudah duduk di kursi single, sedangkan Tirta berdiri di belakang Tuannya itu dan Dara duduk di kursi panjang.


"Terimakasih Opah" ucap Dara tersenyum.


"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Dierja langsung.


"Ekhmm... Ini tentang luka yang di alami Opah" ucap Dara yang juga tidak basa-basi lagi.


"Maksudnya?" tanya Dierja dengan kening mengerut, namun entah mengapa jantungnya berdetak kencang.


"Tidak mungkin gadis ini mengetahui luka dalamku bukan? Bahkan keluarga dan dokter terkemuka pun tidak ada yang bisa mengetahui kecuali Tirta" Gumam Dierja dalam hati.


"Maaf kalau Dara lancang Opah, boleh Dara memeriksa denyut nadi Opah untuk memastikannya?" tanya Dara memberanikan diri.


"Kenapa kamu bisa berfikir kalau saya terluka, padahal saya tidak kenapa-napa dan dalam keadaan sehat" ucap Dierja mengelak.


"Baiklah Dara akan menjelaskan kenapa Dara mengatakan ini. Tapi setelah mengatakannya, Opah harus izinkan Dara memeriksanya, Oke?" ucap Dara


Terlihat Dierja seperti memikirkan sesuatu dalam diamnya, bukan hanya Dierja tapi juga Tirta yang bingung dan juga terkejut mendengar Dara mengatakan kalau Tuannya itu terluka.


"Oke, asal alasan kamu cukup bisa di terima olehku" ucap Dierja.


"Dara akan berterus terang, kenapa saya bisa merasakan luka dalam pada Opah karena selain sejujurnya saya adalah seorang ahli dalam pengobatan, saya juga seorang pembudidaya sama seperti Opah dan paman Tirta" ucap Dara yang membuat Dierja dan Tirta terkejut.


Dara memutuskan untuk jujur, karena jika tidak ia tidak akan memiliki kesempatan untuk membuat Dierja pervaya dan menyembuhkannya.


"Kamu...." ucap Dierja dengan tatapan tidak percaya. Begitupun dengan Tirta yang terkejut dan matanya membola.


"Benarkan Opah? Ah pasti Opah tidak percaya karena kalian berdua tidak merasakan aura pembudidaya dari ku kan? Jadi sekarang coba rasakan auraku sekarang" ucap Dara mengeluarkan Aura miliknya yang sengaja ia buka untuk di perlihatkan


Dierja dan Tirta tertegun, nafas keduanya sedikit tercekat saat merasakan aura kuat yang dominan yang di keluarkan Dara yang duduk di depannya itu..


"Ya Dewa!! Auranya bahkan lebih kuat dan murni di banding dengan orang itu!" Gumam Dierja dan Alan bersamaan.


...•••••••••...