
Dara mengambil masker dari dalam saku celana miliknya, padahal itu di ambil dari ruang dimensi. Banyu yang melihat itu menghela nafas sedikit lega, karena Dara menutupi kecantikan dirinya.
Tapi tetap saja ia merasa was-was, apalagi jika nanti Dara di paksa membuka penutup wajah yang ia kenakan. Ia yakin jika kecantikan Dara akan jadi sesuatu yang menggemparkan.
Siapa yang tidak menyukai Dara yang berwajah cantik spek bidadari? Dirinya saja jatuh cinta, hanya saja ia sadar diri. Bukan saatnya ia memikirkan perasaan.
Keduanya kemudian keluar dari saung dan berjalan masuk lebih dalam menuju inti dari pulau itu. Dara cukup tercengang melihat adanya suasana pedesaan yang alami seperti jaman dulu, di bagian dalam pulau itu.
Tidak ada aspal, tidak ada lampu, tidak ada motor, mobil, sepeda atau alat-alat modern lain di sana. Itu benar-benar murni pedesaan Seperti jaman dulu yang belum mengenal teknologi.
Bahkan Dara melihat ada beberapa perkumpulan anak kecil yang tengah asik bermain permainan tradisional dengan hati yang riang dan tanpa beban.
Sepanjang perjalanan, banyak orang yang melihat Dara dengan tatapan Aneh. Selain karena penampilannya yang terkesan aneh dan berbeda dengan penduduk di sana, mereka tidak bisa mencium nafas atau aura kultivator dari dalam dirinya.Jadi mereka sudah tahu jika Dara adalah seorang manusia biasa.
Dara hanya terus berjalan tanda peduli dengan tatapan orang-orang padanya. Sampai ia berada di sebuah gerbang.
Ia dan Banyu di hentikan oleh seseorang yang berdiri di sebuah gerbang tinggi yang kira-kira tingginya hampir tiga meter itu, menahan keduanya.
"Siapa Kamu? dan ada keperluan apa datang kemari?" ucap salah seorang penjaga itu pada mereka.
"Saya Banyu, saya datang mengantar nona ini ke sini. Dia mengatakan jika ia adalah sahabat dari wanita yang di temukan terdampar di pantai beberapa saat lalu dan ingin memeriksa kebenaran itu dan menemuinya" ucap Banyu.
"Kau benar rekan gadis itu?" tanya penjaga gerbang pada Dara.
"Hmm..." Dara mengangguk
"To, kamu kasih tahu Yang mulia atau tuan Syam. Bilang kalau di depan ada yang Dateng, dia adalah teman dari gadis manusia biasa yang di temukan di pantai. Dia ingin bertemu dengan temannya itu" ucap salah seorang penjaga bernama Ridwan.
"Baik" ucap salah satu rekan Ridwan yang bernama Darto, kemudian pergi masuk untuk melapor.
Yang di panggil tuan Syam adalah bawahan setia Raja, kekuatan yang ia miliki adalah level 6.
Kebanyakan penduduk di pulau matahari memiliki kekuatan dari tingkat satu sampai dua, prajurit kerajaan di tingkat tiga atau empat. Di sini juga memiliki tabib yang juga seorang alkemis tingkat dua.
Di pulau ini yang kuat di hormati. Jadi hal itu pula yang membuat Raja mereka semena-mena karena dirinya yang paling kuat.
Setelah beberapa saat, Darto kembali dan memberikan titah dari Rajanya langsung.
"Nona temannya gagis itu boleh masuk, tapi hanya nona sendiri. Kamu silahkan pergi!" ucap Darto pada Banyu.
"Nona..." ucap Banyu sedikit ragu.
"Pergilah, tidak akan terjadi apa-apa" ucap Dara
Dengan berat hati Banyu pun melangkah pergi meninggalkan Dara, sesekali ia menoleh ke arah Dara yang sudah masuk dan semakin tidak terlihat lagi setelah gerbang kembali di tutup.
"Semoga kamu baik-baik saja nona. Maaf aku tidak bisa membantumu, aku terlalu lemah untuk melawan Raja Durjana dan pengkhianat itu" gumam Bayu dalam hati dengan tangan mengepal.
"Ayahanda, ibunda... Maafkan Bayu yang tidak bisa menjaga apa yang sudah kalian amanatkan" gumam pelan Banyu mendongakkan kepalanya ke langit.
"Apa aku harus menyusup ke istana? Setidaknya untuk memastikan gadis itu baik-baik saja" gumam Banyu lagi.
Ia yang sudah hampir menjauh menghela nafas lalu berbalik arah, ia memutuskan untuk menyusup ke dalam istana.
....
Dara kini masuk ke tempat di mana di sebut istana oleh penduduk pulau matahari ini. Dara memperhatikan setiap sudut bangunan yang di sebut istana itu, meskipun bukan seperti istana di Eropa yang menjulang tinggi atau istana jaman kerajaan dulu di negaranya yang terbuat dari batu bata. Tapi istana ini memiliki bentuk yang menarik dan lain dari pada yang lain.
Istana itu terdiri dari bangunan utama dan beberapa paviliun, kira-kira ada sekitar belasan paviliun dan semuanya terbuat dari kayu jati yang kuat.
Bangunan utama sangat besar dan megah dengan model rumah panggung yang kuat, banyak sekali ukiran cantik penuh estetika di pahat di sana. Dara yakin jika kayu-kayu itu sudah berusia ratusan tahun lamanya, Dara sekilas mengagumi seniman yang membuatnya.
Yang menariknya lagi, pulau ini terutama di bangunan utama mimiliki Chi murni yang cukup kental. Hingga bisa menjadi tempat terbaik untuk melakukan kultivasi.
"Apa anda orang yang di maksud penjaga tadi" ucap orang yang tak lain adalah Syam. Bawahan setia Raja, Dara hanya meresponnya dengan mengangguk saja.
Dara kemudian di persilahkan untuk duduk di sebuah kayu jati, Syam juga meminta pelayan menyajikan teh untuk Dara. Sekilas mencium baunya saja Dara sudah tersenyum sangat tipis.
"Silahkan di minum nona, yang mulia sebentar lagi akan datang" ucap Syam
"Terimakasih" ucap Dara
Syam kemudian beranjak dari sana dan memberikan kode lewat tatapan mata pada pelayan, tentu saja semua gerakan itu di amati oleh Dara diam-diam.
"Terimakasih, tapi maaf saya tidak haus sekarang" ucap Dara membuat pelayan itu bergetar dan keringat dingin saat mendengar ucapan Dara..
Dara yang merasa kasihan pada pelayan itu pun langsung mengambil teh itu.
"Tiba-tiba aku haus, aku akan minum ini" ucap Dara, menenggak teh itu dan diam-diam tersenyum.
"Tehnya sangat segar, terimakasih" ucap Dara tersenyum
"S-sama-sama no-na..." ucap pelayan itu tertegun saat melihat wajah Dara saat meminum teh itu. Sungguh kecantikan yang paripurna.
Pelayan menoleh ke arah Syam yang ternyata belum pergi dan terus mengawasinya. Hanya saja ia tidak melihat wajah Dara karena Dara duduk membelakanginya.
Dara juga menyadari Syam yang mengawasinya untuk meminum teh itu, ia tersenyum miring di balik masker yang kini sudah ia pakai kembali.
Syam kemudian pergi setelah memastikan Dara meminumnya dan melaporkan hal itu pada Rajanya, mendengar sahabat dari gadis biasa yang ia ingin jadikan selir sudah minum teh itu. Raja tertawa dan beranjak dari duduknya.
"Antar aku padanya, aku tidak akan membiarkan dia membawa calon selirku meskipun aku ragu bagaimana cara ia membawanya dari pulau ini. Aku juga tidak akan membiarkan ada yang menganggu kesenangan ku" ucap Raja yang bernama Tonaga.
....
Dara duduk dengan tenang sendirian menunggu Raja itu datang. Pelayan yang melayani tadi juga sudah pergi setelah melakukan tugasnya agar Dara meminum teh itu.
"Dia pikir aku tidak tahu, minuman apa yang dia suguhkan padaku. Cih jangan bilang ia menggunakan ini untuk mengancamku. Sayangnya jenis racun apapun tidak akan berpengaruh padaku, aku tidak sebodoh itu" ucap Dara dalam hati
Dara sudah menebak jika kemungkinan ada yang tidak beres, baik itu dari makanan, minuman atau hal apapun yang di sediakan Raja untuknya.
Oleh karenanya, sebelum masuk ke sana Dara diam-diam sudah mengkonsumsi pil anti racun. Jadi selama 48 jam ke depan ia akan kebal terhadap racun apapun.
Ia mengantisipasi jika hal buruk terjadi, karena meskipun ia bisa mengurai racun di dalam tubuhnya, ia tetap meminumnya untuk pencegahan. Karena tidak segala jenis racun ia bisa urai dengan Chi miliknya.
"Kau benar-benar di sini Flo, tunggu aku sebentar lagi" ucap Dara dalam hati saat merasakan Flo berada cukup dekat dengannya
"Kau teman gadis itu?" tanya Raja ya yang baru saja Datang dan menghampiri Dara.
"Salam yang mulia, ya benar saya adalah sahabatnya" ucap Dara dengan mengucapkan salam pada raja itu agar tidak membuatnya curiga, jadi ia berusaha tenang seperti biasanya.
Raja itu kemudian duduk di kursi tinggal dan menatap Dara, ia terkejut saat mencium aroma begitu harum dari tubuh Dara. Jantungnya berdetak kencang, hanya dengan mencium harum tubuh Dara saja hasrat nya sudah naik.
Hal itu yang membuatnya penasaran wajah asli Dara. Karena Dara kini sudah mengenakan Maskernya lagi, jadi Raja Tonaga itu tidak bisa melihat wajah Dara.
Ia juga mengagumi ketenangan Dara saat berada di depannya. Sungguh gadis yang menarik!
"Temanmu masih kritis dan sedang dalam penanganan Tabib terbaik di kerajaan ini. Ia mengalami cidera cukup parah saat kami menemukannya tidak sadarkan diri di tepi pantai" ucap Raja.
"Apa dia baik-baik saja? Bagaimana keadaannya? Boleh kah saya menemuinya Yang mulia?" ucap Dara dengan nada yang begitu khawatir dan tulus.
"Kau boleh menemui nya, keadaannya juga sudah lebih baik. Hanya saja ia belum sadarkan diri dan lukanya masih butuh perawatan" ucap Raja yang menatap Dara begitu intens, ia benar-benar sangat penasaran dengan wajah Dara.
"Terimakasih atas kebaikan anda Yang mulia" ucap Dara sembari menganggukkan kepalanya.
"Tapi, saya belum mengenal anda, siapa nama anda nona? Dan mengapa tidak anda membuka penutup wajah anda, bukankah itu tidak sopan saat menemui seorang raja, tapi wajahmu malah di tutupi" ucap Raja.
"Nama saya Azalea Yang mulia, maaf tapi saya tidak bisa menunjukan wajah saya pada orang yang bukan orang terdekat saya. Maafkan atas ketidak sopanan dan keberanian saya" ucap Dara, dalam hati ia mengumpat raja cabul ini.
Tahu begitu, Dara menyamar sebagai laki-laki saja. Tapi itu tidak mungkin, karena akan sulit untuk bisa masuk. Karena Raja tidak mengijinkan tamu laki-laki masuk. Kecuali jika ada acara penting di kerajaan dan itupun berlaku untuk para bangsawan.
"Azalea ya, nama yang cantik" ucap Raja itu tersenyum penuh makna. Ia justru semakin penasaran dengan rupa Dara saat Dara tidak ingin memperlihatkan nya.
Meskipun ia tidak yakin wajah gadis di depannya lebih cantik dari gadis yang membuatnya tertarik, yang sampai saat ini belum sadarkan diri itu. Tapi ia yakin gadis di depannya juga wanita yang cantik.
"Jadi bisakah saya bertemu dengan sahabat saya yang mulia, Saya sangat khawatir dengan keadaannya" ucap Dara lagi.
"Tentu, Syam, antarkan Nona Azalea ke kamar Paranoni di rawat" ucap Raja
Dara bergidik jijik saat mendengar Raja itu menyebut Flo Paranoni yang artinya selir. Astaga Raja itu benar-benar menjijikan dan tidak tahu malu sudah mencap Flo sebagai selirnya.
"Sebelah sini nona" ucap Syam dengan lembut dan sopan mempersilahkan Dara.
Dara kemudian mengangguk sopan pada Raja Tonaga lalu berjalan mengikuti langkah Syam, ternyata kamar rawat Flo berada cukup jauh dari bangunan utama. Kamarnya berada di sebuah paviliun di sebelah selatan dari gedung utama.
...•••••••...