The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
89. Sumpah setia dan test perdana



Dara tidak berangkat kuliah hari ini, bukan karena tidak ada kelas. Ia memiliki kelas pagi, tapi ia tidak berangkat karena ia memiliki urusan yang lebih penting.


Pagi hari ini membawa Flo ke bagian barat kota H. Tempat yang ia tuju adalah sebuah hutan di kaki gunung Salacca, yang di tempuh kurang lebih 2 jam menggunakan jalur darat dari pusat ibukota


Flo tidak banyak bertanya, ia mengikuti kemana Dara pergi. Dara menyetir kali ini meskipun Flo sudah menawarkan diri untuk menyetir, namun ia menolak.


Kemarin ada kejadian yang membuat Dimas dan Ryan tertawa, saat mereka meligat ekspresi Flo yang melihat wajah asli Dara. Bahkan Flo sampai meneteskan air liur, ia sangat terpesona melihat betapa luar biasa cantik, nonanya itu.


Setelah dua jam lebih karena jalanan macet, keduanya sampai di sebuah hutan yang sangat rimbun. Udara di sana sangat sejuk, Dara memarkirkan mobilnya di tempat yang di anggapnya aman.


"Ikuti aku!" ucap Dara berjalan memasuki bagian dalam hutan itu, Flo mengikutinya dari belakang.


Mereka tidak berhenti sampai mereka berada di dalam hutan yang cukup gelap di sana, karena pohonnya sangat rimbun dan menghalangi sinar matahari masuk. Hanya sedikit celah yang di sinari matahari.


"Kau tahu kenapa aku membawamu kemari?" tanya Dara


"Tidak" ucap Flo jujur.


"Aku tidak akan basa-basi. Aku akan memberikan pelatihan khusus untukmu, agar kamu menjadi lebih kuat. Aku tidak ingin mempunyai seorang tangan kanan yang lemah. Apa kau mengerti?" ucap Dara


"Saya mengerti!" ucap Flo.


"Aku tanya padamu untuk yang terakhir kalinya. Apa kamu serius ingin menjadi tangan kananku? Karena kamu akan menjalani latihan bak neraka jika kamu bersedia. Kau juga boleh berubah pikiran dan pergi setelah ini jika kau tidak mau" ucap Dara


"Tidak! Saya tetap ingin menjadi orang anda nona!" ucap Flo dengan yakin.


"Baik, kamu yang sudah memilihnya sendiri. Maka kamu tidak boleh menyesali apapun pilihan yang kamu pilih" ucap Dara


"Saya tidak akan menyesal, nona!" ucap Flo tegas.


"Kita mulai dari sumpah kesetiaan, Berlututlah!" Ucap Dara dengan tegas.


Aura di sekeliling berubah dalam sekejap, Flo merasakan udara di sekitar tiba-tiba menjadi sangat dingin dan mencekam, angin menghembus dengan kencang. Ia juga merasakan kedua lututnya lemas dan merasa pundaknya di tekan oleh sesuatu yang berat, ia pun berlutut di depan Dara.


Dara mengambil jari tangan Flo dan menyayat sedikit hingga mengeluarkan darah. Dara mengambil darah itu dan letakkan ke kening Flo, sembari merapalkan sesuatu.


"Ucapkan sumpahmu sekarang!" ucap Dara


Meskipun Flo terkejut dengan apa yang terjadi, ia tetap tidak goyah dan mengucapkan sumpah setianya.


"SAYA PUSPA DEWANTI, ATAS NAMAKU, MENDIANG ORANG TUAKU, AKU BERSUMPAH.... DENGAN INI SAYA MENYATAKAN KESETIAN SAYA TERHADAP JUNJUNGAN SAYA, NONA ADDARA AZALEA. SELAMA HIDUP SAYA TIDAK AKAN MENGKHIANATI BELIAU DENGAN ALASAN APAPUN. JIKA SAYA MENGINGKARI SUMPAH SAYA, LANGIT AKAN MENGHUKUM SAYA DENGAN KEJAM DAN TIDAK AKAN MENGIZINKAN SAYA UNTUK MENETAP DI SURGA ATAU BEREINKARNASI, SELAMANYA SAYA AKAN BERADA DI NERAKA PALING BAWAH" ucap Flo dengan tegas dan yakin.


"Langit akan menjadi saksi, aku terima sumpahmu. Jika kau mengingkarinya, biarkan kamu mati dengan buruk, jiwamu akan berada di dalam neraka terendah dan tidak akan bereinkarnasi. Nyawamu salam kendaliku sekarang!" ucap Dara.


Wussshhh!!!


Srakkkkk!!!!


Tiba-tiba angin berhembus lebih kencang dan juga kilat dengan cepat menyambar ranting pohon di atas keduanya berada. Tapi herannya, pohon itu tidak mati sama sekali.


Flo tertegun melihat fenomena itu, ia sekarang yakin jika Dara bukanlah manusia biasa.


Setelah fenomena itu, semua keadaan kembali normal, tidak ada lagi aura dingin dan mencekam. Udara pun kembali sejuk dan normal seperti udara biasanya di daerah pegunungan.


"Sebelum aku memutuskan untuk mengajarimu sesuatu, kita akan mencoba latihan tanding. Aku ingin tahu, sebesar apa kekuatan fisik yang kamu miliki. Apakah itu cukup untuk menerima semua pelatihanku atau tidak!" ucap Dara


Keduanya pun bersiap dengan pertarungan untuk melihat sejauh apa kekuatan yang Flo miliki.


"Hiyaaaa...." Flo mengeluarkan sekuat tenaga kekuatan yang ia miliki dan mencoba menyerang Dara.


Di sisi lain, Dara dengan santai terus menangkis dan menyerang balik Flo. Ia mendorong Flo untuk mengeluarkan kekuatan terbesarnya saat melawan dirinya.


BAK! BUK! BAK! BUK!


Suara itu pertarungan mereka sangat keras, Dara tersenyum tipis saat melihat kekuatan Flo yang di rasa cukup baik. Flo memang jenius bela diri yang Dara pikir bisa ia latih1 kultivasi dan akan cepat menyerap ajarannya.


Pertarungan mereka berlangsung selama satu jam, dalam satu jam itu Dara tidak sungkan menghajar Flo dan membuatnya babak belur.


"Huuueekkk" Flo mengeluarkan darah kental dari mulutnya.


"Sudah cukup sekarang" ucap Dara menghentikan serangannya.


"Ma-afkan saya yang le-mah ini, nona" ucap Flo dengan menahan sakit.


"Ya, itu tidak buruk! Tapi kamu masih lemah untuk bisa mendapatkan bimbingan dariku. Berlatihlah lebih keras lagi!" ucap Dara


"Ba-ik!" ucap Flo, ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Sepertinya ia juga terluka secara internal.


"Oleskan salep ini ke wajahmu, aku tidak ingin yang lain melihat wajahmu yang babak belur" ucap Dara menyerahkan salep yang ia buat.


"Terimakasih nona" ucap Flo menerima salep itu


Salep buatan Dara berguna untuk mengobati luka dan menghilangkan bekas luka ringan. Luka yang dalam tidak bisa di obati dengan salep itu.


Dara hanya memberikan salep untuk wajah Flo, ia tidak ingin adik-adiknya dan juga penghuni mansion mengetahui jika Flo terluka.


Alasan Dara tidak mengobati luka Flo eevara menyeluruh, karena ia ingin Flo mengingat rasa sakit yang ia dapatkan selama ia latihan. Itu akan merangsang kekebalan tubuh Flo untuk menahan rasa sakit di masa depan.


Dengan mengingat rasa sakit, Flo bisa belajar lebih giat, dan juga terpacu untuk menjadi lebih kuat untuk melindungi nonanya dan juga dirinya sendiri.


"Apa kau menyerah?" tanya Dara menatap Flo


"Tidak!" jawab Flo tegas.


"Bagus, aku suka semangatmu! Kau bisa berlatih sendiri setelah ini, tiga Minggu lagi aku akan memberikan test seperti ini lagi. Kau harus mempersiapkannya dengan baik, karena aku tidak akan sungkan" ucap Dara serius.


"Baik!" jawab Flo.


Flo kemudian mengoleskan obat salep itu ke seluruh wajahnya yang terkena pukulan, ia takjub saat rasa sakit dan memar di wajahnya menghilang perlahan. Namun untuk luka dalam di tubuhnya tidak bisa di obati, jadi ia menahannya.


Flo masih merasakan sakit dan panas di organ dalamnya yang terluka. Namun hal itu tidak membuatnya menyerah untuk belajar lebih kuat lagi dari hari ini.


Setelah hari sudah siang, keduanya kembali meninggalkan hutan itu dan kembali ke ibukota. Keduanya makan siang di jalan karena saat mereka kembali, susah waktunya makan siang.


...••••••...


...••••••...