
Keesokan harinya Dara kembali ke rumah sakit, ia memutuskan untuk tidak pergi ke kantor dulu. Masalah pemilihan asisten pribadi ia undur sementara, karena Ia ingin tahu kelanjutan apa yang terjadi pada masalah yang menimpa keluarga Bu Lastri.
Baby Langit masih Dara titipkan di ibu mertuanya, karena tidak mungkin membawanya ke rumah sakit. Kai juga tidak pulang karena ada tugas dan tidak akan pulang selama dua hari ke depan.
Meskipun begitu, suaminya itu selalu menri kabar padanya apa yang di lakukan di tempat ia bertugas saat jam istirahat.
Dara sejak sejam yang lalu sudah berada di rumah sakit dan kini sudah berada dalam ruangan rawat inap Azea. Dara melihat wanita yang tengah mengandung 7 Minggu itu masih memejamkan matanya belum sadarkan diri.
Dara sudah memperkirakan Azea akan bangun sebentar lagi.
Di sana Dara melihat ada Bu Lastri dan Adam yang menjaganya di dalam ruangan rawat inap itu. Dara yakin jika Bu Lastri masih belum tahu apa yang menimpa bahtera rumah tangga putrinya itu.
Dara tidak bisa berpangku tangan dan cuek dengan masalah ini, entah mengapa ia merasa berhutang Budi pada Bu Lastri hanya karena pertemuan tidak sengaja dan karena mangga muda pemberian Bu Lastri, ia jadi terikat.
Mungkin juga ini juga merupakan keinginan sang anak yang berada di dalam kandungannya, yang mungkin terikat dengan anak dalam kandungan Azea. Mungkin salah satu dari anaknya itu berjodoh, entah menjadi pasangan atau bersahabat di masa depan.
Tak lama kemudian Dara melihat adanya pergerakan di jemari tangan Azea. Dara langsung memeriksa keadaan Azea dan ia tersenyum saat merasakan Azea akan sadar sebentar lagi.
"Ugghhh..." lengguh Azea,mengerjapkan. Kedua matanya menyesuaikan dengan cahaya yang masuk ke retina matanya.
Mendengar suara lengguhan itu, sontak Bu lastri dan Adam langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri ranjang Azea. Mereka berdua senang melihat Azea kini sudah sadarkan diri.
"Ha..us..." ucap Azea dengan terbata-bata, ia merasakan tenggorokannya kering.
Dara dengan sigap memberikan air minum kemasan yang masih segel itu, yang memang sudah di siapkan di atas meja nakas samping ranjang rawat Azea.
"Ma-kasih, ini ak-ku di mana" ucap Azea masih terbata-bata dan menatap ke arah Dara
"Kamu di rumah sakit sayang, katakan pada ibu mana yang mana yang terasa sakit?" tanya Ibu Lastri dengan senyum lega di wajahnya melihat putrinya sudah sadarkan diri.
"Bu...." ucap Azea menatap sang ibu dan tersenyum.
Lalu matanya tidak sengaja menatap ke arah pria yang berdiri tepat di sebelah Bu Lastri, saat memastikan itu adalah suaminya yang tengah tersenyum lembut ke arahnya. Raut wajah Azea berubah menjadi dingin dan memerah, ia pun menggertakan giginya.
"Nga-pain kamu di si-ni? Ke-luar!! Dasar peng-khianat!!!" teriak Azea dengan suara seraknya dan terbata bata itu menatap dan menunjuk lurus ke arah Adam dengan amarah yang mengobar.
"Sayang tenang dulu, aku bisa jelasin semuanya. Tolong jangan salah paham oke" ucap Adam mencoba menenangkan Sang istri.
"Semuanya sudah jelas, tidak perlu di jelasin lagi, aku sudah tahu sekuanya. Sekarang keluar, aku tidak ingin melihat mu!!" ucap Azea berteriak pada suaminya itueskipun suaranya masih belum terdengar jelas.
"Zea sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kamu tiba-tiba berteriak pada Adam dan mengusirnya keluar?" Tanya Ibu lastri yang sebenarnya tidak tahu masalah apa yang sedang terjadi pada anak dan menantunya itu.
"Dia! Uhuuukk.... Dia selingkuh dariku Bu, dia selingkuh dengan si Karin sekretarisnya itu, hingga Karin hamil, hikkksss...." teriak Azea lalu menangis memukul dadanya yang terasa sesak, kala mengingat kejadian sebelum ia terjatuh.
"Apa? Adam apa itu benar? Kamu selingkuh dan menghamili anak arang?" tanya Bu Lastri menatap tidak percaya pada sang menantu yang ia pikir sangat baik dan menyayangi putrinya itu.
"Ibu, itu... Aku" ucap Adam bingung harus menjawab apa, karena kini Azea sudah mengatakan tentang perselingkuhannya pada ibu nya. Ia tidak tahu harus membujuk Azea dengan cara apa lagi.
"Ibu bagaimana dengan anakku? Apa anakku selamat? Dia tidak apa-apa kan?" ucap Azea yang baru teringat akan bayinya yang sedang ia kandung saat ini.
Ia panik dan juga cemas saat mengingat betapa keras ia terjatuh dari tangga yang tinggi di kantor sang suami. Ia juga sempat melihat betapa banyak darah yang keluar dari sela kakinya sebelum tidak sadarkan diri.
"Ibu, aku tidak akan pernah memaafkan Dia, jika anakku sampai kenapa-kenapa. Dia, si brengsek ini yang telah mendorongku hingga aku jatuh dari tangga, setelah aku memergokinya selingkuh di kantor.... Hiksss anakku.... Kamu jahat Mas!!!! Kamu tega mengkhianati ku dan menyakitiku lahir dan batin... Anakkuuuu" Teriak Azea histeris
"Sayang sayang, tenanglah... Dengarkan ibu! Anakmu baik-baik saja, dia selamat dan masih bertumbuh dengan sehat di dalam perutmu. Kamu harus tenang, anakmu tidak apa-apa. Percaya pada ibu nak" ucap Ibu Lastri memeluk putrinya mencoba untuk menenangkannya hingga kondisi Azea saat ini kembali tenang.
"Apa benar anakku masih hidup Bu?" tanya Azea sudah mulai tenang, meski air matanya masih terus keluar tanpa permisi.
"Iya sayang, Dokter Dara yang sudah menyelamatkan kamu dan bayimu saat kamu dalam keadaan kritis. Dia penyelamat kamu dan cucu ibu. Ibu tidak tahu harus berbuat apa selain terimakasih karena ia bisa menyelamatkan kamu, anak ibu yang paling ibu sayangi" ucap Ibu Lastri menitikkan air matanya.
"Anda Dokter Dara yang di maksud ibu?" tanya Azena pada Dara yang mengenakan jubah kedokteran nya dan terlihat sangat cantik dengan pakaian kebesarannya itu.
"Hmm, Tuhan masih memberikan kesempatan untuk mu dan anakmu hidup. Aku hanya membantu semampu yang aku bisa" ucap Dara tersenyum ke arah Azea dengan tulus.
"Bagaimana pun saya ucapkan terimakasih dokter Dara, aku berhutang nyawa padamu. Kau tidak tahu kalau tidak ada dokter " ucap Azea menggenggam tangan Dara.
"Zea...." panggil Adam.
Zea yang merasa namanya di panggil pun menoleh ke arah suaminya itu.
"Kenapa kamu masih di sini? Pergi kamu!!! Aku bilang aku tidak ingin melihat wajahmu lagi. Aku akan segera menggugatmu di pengadilan setelah aku keluar dari rumah sakit." ucap Azea tanpa ragu sedikit pun di depan sang suami
Dara hanya diam melihat hal itu, ia tidak ingin ikut campur dalam urusan keluarga orang lain. Namun jika memungkinkan dan dalam kondisi tidak bisa di kendalikan, ia akan segera menolong Azea. Bagaimana pun ia di sini dengan niat untuk menolong Azea dan Bu Lastri.
BRUK!!!
Adam langsung bersujud di bawah ranjang rawat Azea, entah mengapa hatinya merasa teramay sakit dan tidak rela saat mendengar istrinya akan menggugat cerai dirinya dan meninggalkannya.
Anggap saja apa yang di lakukan Adam saat ini adalah egois, ia tidak ingin bercerai dari sang istri. Meskipun ia telah melakukan kesalahan yang sangat fatal.
Namun Ia menyadari jika istrinya begitu berarti dalam hidupnya, istri yang selalu setia dan memperlakukannya dengan baik dan senyum yang tulus. Namun ia dengan tega mengkhianati istrinya itu dengan sekretarisnya sendiri, bahkan selingkuhannya itu tengah hamil juga saat ini.
"Aku mohon kasih kesempatan aku untuk memperbaiki kesalahan yang aku lakukan, aku khilaf sayang, aku sungguh menyesal telah mengkhianati mu. Aku mohon maafkan aku dan berikan aku kesempatan kedua. Aku sungguh tidak ingin bercerai karena aku sangat mencintai kamu" ucap Adam memohon dan juga menangis di depan sang istri
"Cinta yang kamu ucapkan itu hanya omong kosong belaka mas! Kalau kamu memang benar-benar mencintaiku seperti yang kamu bilang barusan, kamu tidak akan pernah menduakan aku dan mengkhianatiku.
Apalagi aku sangat terkejut mengetahui kalau selingkuhan mu itu telah hamil, aku bahkan mendengar dan melihat dengan mata dan telingaku sendiri. Aku juga mendengar kalau kamu berjanji padanya akan menceraikan aku di depan selingkuhan kamu itu!
Maka dari itu, lakukan janjimu pada pelakor itu, gugat cerai aku sekarang! Atau aku sendiri yang mengajukan gugatan itu padamu di pengadilan " ucap Azea dengan air mata yang terus keluar dan bibirnya yang gemetar.
"Adam jujur ibu sangat kecewa padamu saat mengetahui hal ini. Padahal ibu sudah menaruh kepercayaan padamu. Ibu percaya kalau kamu bisa menjadikan putri ibu satu-satunya wanita yang kamu punya.
Tapi kenapa kamu tega melakukan ini pada Zea, apa salah dan kurangnya putriku hingga Kau tega menyelingkuhi Putriku dan menyakitinya lahir dan batin?" ucap Bu Lestari yang menangis kala melihat pernikahan putri semata wayangnya itu berada di ujung tanduk. Terlebih batin dan raga putrinya juga tersiksa oleh suaminya itu.
"Dia selingkuh karena ia pikir aku tidak bisa memberikannya anak Bu, dia menelan mentah-mentah berita dari luar. Apalagi dalam kurun waktu 8 setelah menikahi aku, aku masih belum menunjukan tanda-tanda hamil juga. Jadi berselingkuh dengan sekretaris itu dan bahkan kini sudah hamil 12 Minggu" ucap Azea.
"Adam kamu sungguh keterlaluan! Kamu tahu kalau masalah anak itu adalah kehendak Tuhan, kita tidak bisa mengatur kapan memiliki seseorang memiliki anak. Bahkan pernikahan kalian masih seumur jagung, tapi kamu sungguh tega mengkhianati putriku. Jika kamu ingin punya anak, kamu konsultasi kan ke dokter dan berusaha, bukan mencari perempuan lain" ucap Bu Lastri sangat marah, dadanya naik turun berusaha mengendalikan emosinya.
"Lihat sekarang mas, aku sudah bisa membuktikan kalau aku bisa hamil, kamu saja yang tidak bisa bersabar dan berusaha bersama denganku. Tapi karena kamu tidak menginginkan anak dariku, aku akan membawanya pergi dari hidupmu. aku tidak akan mengganggu hidupmu lagi" ucap Azea lagi memejamkan matanya mengambil keputusan yang sangat berat ini.
"Aku tidak ingin kehilanganmu dan anak kita Zea" ucap Adam lirih dan memohon pada istrinya itu.
"Aku bilang tidak ingin bercerai Azea!!! Baik kamu dan anak dalam kandunganmu itu adalah milikku, aku mencintaimu dan aku tidak ingin kehilangan kamu! Aku tidak sengaja mendorongmu hingga jatuh di tangga. Aku mohon jangan egois, anak kita masih membutuhkan Keluarga yang lengkap" ucap Adam berdiri.
"Aku tetap pada keputusan ku, bercerai adalah keputusan yang tepat" ucap Azea.
"Jika kamu nekat menggugat cerai, aku tidak akan memberikanmu harta gono-gini. Kamu bisa keluar dari apartemenku dan rumah yang ibumu tempati akan aku ambil kembali dan akan aku jual. Dan aku tidak akan membayar biaya rumah sakit ini dan tidak akan memberikan uang untuku sepeserpun" ucap Adam kehilangan kesabaran nya.
Ia sudah kehabisan akal hingga ia hanya bisa memikirkan satu cara, yakni mengancam istrinya agar tidak jadi menceraikan dirinya.
"Tidak bisa seperti itu mas, rumah yang ibu tempati adalah emas kawin yang kamu berikan padaku saat menikah, itu hakku! Milikku! Masalah Gono gini aku tidak peduli dan biaya rumah sakit aku juga akan mencarinya sendiri untuk membayar semuanya" ucap Azea
"Jangan kamu pikir bisa mengambil barang berharga di rumahku untuk kamu jual dan membayar biaya rumah sakit. Mobil dan barang-barang lainnya akan aku ambil. Asal kamu tahu, rumah yang di tempati ibuku masih atas namaku.
Jika kamu nekat bercerai maka bersiaplah kehilangan segalanya. Kamu bisa menuntut yang kamu mau di pengadilan, tapi aku pastikan kamu tidak akan mendapatkan apa-apa. Aku tidak yakin kamu mampu mencari dan membuat pengacara yang bagus untuk itu" ucap Adam lalu berbalik pergi meninggalkan ruangan rawat inap itu.
Azea menangis, ia tidak tahu harus berbuat apa. Dirinya hanya seorang wanita dari keluarga biasa yang kebetulan menikahi seorang pria yang berkecukupan. Ia pikir dengan mereka saling mencintai, ia akan bahagia sampai akhir hayat.
Tapi kenyataannya ia di khianati oleh orang yang paling ia cintai, ia hormati dan yang paling ia banggakan.
Dunianya kini runtuh dan ia tidak memiliki tempat untuk bergantung. Ia tidak mungkin merepotkan ibunya yang janda dan tidak punya apa-apa. Ia merasa hanya menjadi beban untuk ibunya sekarang.
"Nak, yang sabar. Semuanya pasti memiliki jalan keluarnya" ucap Bu Lastri memeluk putrinya yang tengah menangis itu.
Dara melihat semua yang terjadi, ia yang sejak tadi diam pun mulai berbicara pada ibu dan anak itu dan membantunya. Karena dara sendiri tidak menyukai yang namanya pengkhianatan dan tidak menyukai sikap Adam yang terlalu mendominasi dan mengancam perempuan.
"Apa kamu serius ingin bercerai?" ucap Dara membuat kedua orang itu terkejut, karena mereka baru menyadari jika ada Dara di ruangan itu dan mendengar semua yang mereka ributkan sejak tadi.
"Nak, maaf ibu lupa kalau kamu masih ada di sini. Maaf juga kamu sudah mendengar hal yang tidak pantas dan keributan. Ibu sangat malu" ucap Bu Lastri menundukkan kepalanya.
"Tidak apa Bu, jadi apa kamu serius ingin bercerai Azea?" tanya Dara lagi dan kali ini di jawab dengan anggukan kepala oleh Azea.
"Apa kamu sudah memikirkannya baik-baik, semua resiko yang akan kamu tanggung. Baik itu dari segi materi, perasaan kamu dan perasaan anak kamu nanti?" tanya Dara lagi
"Ya, aku tetap akan menggugat cerai. Justru jika aku mempertahan rumah tangga ini, yang ada batinku akan semakin tersiksa. Aku tahu ini berat bagiku dan anakku dalam melanjutkan hidup, namun aku tidak ingin terjebak dalam hubungan yang sudah tidak bisa di perbaiki lagi karena sudah hancur karena pengkhianatan.
Kalaupun aku tidak bercerai dan memilih bertahan, selain harga diriku yang tergadai. Perasaan ku juga demikian, karena aku yakin tidak mungkin mas Adam meninggalkan wanita itu, mungkin mas Adam akan menikahi nya sebagai istri kedua karena wanita itu tengah hamil juga. Aku tidak akan sanggup di poligami" ucap Azea menundukkan kwpalanya
"Kalau begitu, biar aku membantumu lepas dari suamimu" ucap Dara
"Dokter Dara mau membantu kami?" tanya Azea terkejut mendengar itu.
"Ya, Aku bisa menghapus biaya perawatan kamu selama di rawat sini. Aku juga bisa menyewakan pengacara terbaik untuk menggugat balik suamimu dan membantu untuk memenangkan hak yang seharusnya kamu miliki. Aku juga akan membiayai kalian sampai anak itu lahir dan berumur enam bulan" ucap Dara
"A-Apa yang anda bilang tadi dokter?" ucap Azea tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
Bu Lastri juga sama terkejutnya mendengar itu. Bagaimana mungkin, Dara yang notabene orang lain dan tidak ia kenal sebelumnya mau membantu menyelesaikan masalah yang menimpa keluarganya.
"Aku Mengatakan kalau aku bisa menghapus semua biaya perawatan kamu selama kamu di rawat di sini. Aku juga akan menyewakan pengacara terbaik untuk menggugat balik suamimu dan membantu mu untuk menuntut dan memenangkan hak yang seharusnya kamu dapatkan pasca perceraian. Aku juga akan membiayai kalian sampai anak itu lahir dan berumur enam bulan" ucap Dara mengulangi ucapan nya barusan.
"Ta-tapi kenapa? Mak-maksudku, kita mengenal baru sebentar, kenapa anda ingin membantu kami yang tidak memiliki hubungan apa-apa dengan anda dokter?" ucap Azea
"Benar itu Nak, kenapa kamu ingin bersusah payah membantu masalah kaluarga kami, bahakan bersedia memperjuangkan hak kami di pengadilan?" tanya Bu Lastri.
"Mungkin karena hutang budiku padamu Bu Lastri dan juga aku ingin kalian melakukan sesuatu untukku di masa depan" ucap Dara.
"Me-melakukan sesuatu? Melakukan apa?" tanya Azea takut Dara akan meminta dirinya dan ibunya melakukan tindakan kriminal.
"Aku minta maaf sebelumnya, karena sudah mencari tahu tentang kamu Azea. Aku tahu kamu langsung menikah sejak lulus kuliah setahun yang lalu, usiamu masih muda, 23 tahun bukan? dan kamu juga lulus di kampus ternama di negeri ini, lulusan fakultas ekonomi jurusan management Bisnis dengan gelar cumlaude dengan IPK 3.8. Itu adalah nilai yang sangat tinggi dan luar biasa.
Sayang sekali jika bakatmu itu di anggurkan begitu saja. Jadi aku ingin menawarkan kesepakatan padamu Azea. Aku akan membantumu seperti yang aku bilang tadi, tapi aku ingin setelah kamu melahirkan dan anakmu berusia 6 bulan. Kamu bekerja padaku sebagai asisten pribadiku selama 10 tahun.
Tentu semua yang aku berikan padamu akan di anggap lunas, dan kamu juga akan mendapatkan gaji yang layak tanpa adanya potongan apapun. Anggap saja semua yang aku lakukan dan aku berikan padamu, merupakan investasi. Bagaimana, apa kamu bersedia?" tanya Dara
"A-apa anda serius dokter? Tapi aku tidak memiliki basic tentang kedokteran sama sekali, bagaimana bisa aku menjadi asisten pribadi anda jika aku tidak memiliki dasar ilmu tentang pekerjaan anda?" ucap Azea ragu meskipun tawaran itu sangat menggiurkan.
"Aku memiliki perusahan di tempat lain dan pekerjaan ku sebagai dokter hanya aku lakukan di saat waktu senggang dan jika di butuhkan saja. Kamu tahu tentang Star Corporation?" tanya Dara
"Tahu, itu Perusahaan besar yang baru launching beberapa bulan lalu dan sudah berhasil menguasai pasar dalam negeri, bahkan sudah menjadi perusahan papan atas di ibukota" ucap Azea.
"Bagus kalau kamu tahu dan asal kamu tahu, Star Corporation adalah perusahaan milik ku, kamu akan bekerja di sana di masa depan. Bagaimana apa kamu setuju dengan semua tawaran yang aku berikan?" ucap Dara.
Azea tentu saja terkejut mendengar tentang perusahan besar itu dan ternyata pemilik nya ada di depannya saat ini. Tapi ia lebih tidak percaya jika dirinya secara khusu di pilih sebagai asisten pribadi dari seorang pemilik perusahaan besar. Bahkan ia bisa menyaingi calon mantan suaminya di masa depan.
Adam hanya seorang pengusaha kelas menengah yang memiliki omset puluhan hingga ratusan milyar. Tapi ia akan di jadikan asisten pribadi Perusahaan kelas atas Dengan omset ratusan triliun, tentu gaji yang ia dapat juga pastinya besar dan bisa memenuhi semua kebutuhan keluarganya. Tanpa harus bergantung dengan calon mantan suaminya itu.
"Baiklah, jika aku menolak maka aku adalah orang yang sangat bodoh, karena melepaskan kesempatan emas di depan mata begitu saja. Aku menerimanya, bos" ucap Azea dengan. Sangat yakin.
"Keputusan yang bagus Azea. Mulai saat ini aku akan membantu semua hal yang kamu butuhkan, katakan saja apa yang kamu butuhkan dan pengacara perusahaan akan membantumu.
Tapi, aku ingin mengingatkan satu hal! Aku sangat tidak menyukai pengkhianatan, jadi jangan pernah berpikir untuk berkhianat padaku. Karena aku tidak akan melepaskan orang yang sudah membuat ku kecewa dan membuatku marah. Aku akan menghancurkannya hingga tidak bersisa. Apa kau mengerti" ucap Dara
"Tentu, jangan khawatir bos, aku tidak akan mengecewakanmu" ucap Azea dengan semangat empat lima, demi keberlangsungan hidup dirinya, sang anak dan ibunya.
"Baiklah, untuk sementara kamu bisa tinggal di unit apartemen milik suamiku. Itu tidak jauh dari apartement tempat kamu tinggal saat ini" ucap Dara memberikan kartu akses, alamat apartement dan nomor unit dan passcode.
"Terimakasih bos" ucap Azea dan Bu Lastri antusias.
"Jangan panggil aku bos, panggil saja nona atau nama saja. Jangan terlalu sungkan" ucap Dara
"Baik nona" ucap keduanya kompak.
"Kamu bisa bersiap untuk pulang, karena keadaan kamu sudah stabil. Jadi kamu bisa istirahat di rumah. Ah, ini ambillah" ucap Dara menyerahkan kartu debet.
"Apa ini nona?" tanya Azea
"Itu adalah uang untuk kehidupan mu sampai anak kamu lahir dan berusia 6 bulan, itu teriak setiap sebulan sekali. Kodenya 8 enam kali" ucap Dara.
...••••••••...