The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
195. Test untuk Ferdi



Ferdi berusaha menyerang Dara dengan kekuatan penuh. Emosinya saat sedang bertarung sekarang dengan mudah ia kontrol. Itu semua tidak lepas dari bimbingan dan pelatihan yang Flo ajarkan padanya.


Dara juga tidak tinggal diam, ia mencoba menyerang Ferdi beberapa kali dengan kekuatan yang sudah ia sesuai kan dengan kekuatan Tingkat pertama level awal.


Mengapa harus tingkat pertama level awal? Karena syarat untuk lulus dan menjadi kultivator di bawah bimbingan Dara, Orang itu harus berada di tingkat itu atau lebih.


Pasalnya pelatihan Dara sangatlah berat, selain membutuhkan niat dan kekuatan beladiri yang besar. Seorang kultivator juga harus memiliki mental yang kuat dan kontrol emosi yang bagus untuk membuat sebuah pencapaian meraih puncak kultivasi.


Meskipun Ferdi bisa menghindar dan menangkis pukulan Dara. Namun beberapa kali ia mendapatkan pukulan telak dari Dara. Namun Ia tidak pantang menyerah dan berusaha sebisa mungkin untuk bertahan dan berbalik menyerang.


"Cukup!" ucap Dara membuat gerakan Ferdi terhenti.


"Kau cukup membuatku puas, kerja kerasmu telah membuahkan hasil" ucap Dara.


"Terimakasih nona" ucap Ferdi dengan senyum tipis di wajahnya.


Ia merasa usahanya selama ini tidak sia-sia, ia juga merasa berterima kasih dengan Flo yang sudah bersabar membimbing dan membuatnya setangguh dan sehebat ini.


"Jangan cepat puas dan perbanyak belajar Ferdi" ucap Dara lagi.


"Baik nona, akan saya ingat" ucap Ferdi.


"Theo, apa tempat tinggalmu sangat aman?" tanya Dara


"Tentu, selain cukup besar dan memiliki banyak lahan kosong. Rumahku dengan rumah lain jaraknya sangat jauh. Namun untuk keamanan tidak perlu risau, karena selain di lengkapi CCTV di setiap sudut. Saya juga memasang beberapa jebakan khusus untuk tamu yang datang tidak di undang, bos" ucap Theo.


"Bagus, itu artinya Ferdi bisa mulai bertransformasi hari ini" ucap Dara


"Transformasi" beo Theo bingung


Dara menata Flo, Flo yang di tatap pun menganggukkan kepala mengerti. Kemudian ia menjelaskan tentang Kultivasi dan kultivator secara singkat poin pentingnya.


Theo dan Ferdi terkejut mendengarnya, mereka seperti tengah mendengar cerita yang ada di novel-novel fantasi. Terutama Ferdi, ia pikir nonanya bukan seorang kultivator. Kini pertanyaan di benaknya tentang betapa hebat nonanya itu terjawab sudah.


"Jadi bos seorang kultivator? Kamu juga Flo?" tanya Theo.


Sedangkan Ferdi hanya diam dan meresapi semua ucapan Flo.


"Ya!" ucap Flo tidak menutupi


"Jadi apa kamu sudah yakin untuk berubah menjadi seorang kultivator Ferdi? Aku memberikan pilihan untukmu, kamu bisa menolaknya jika kau tidak ingin. Aku tidak akan memaksa mu" ucap Dara


"Aku siap Nona, seluruh hidupku adalah milikmu. Aku akan menuruti semua perintahku dan mengabdi padamu" ucap Ferdi dengan Yakin.


Selama ini ia sudah bertekad dan bersumpah, jika selama ia hidup akan mengikuti Dara. Bahkan ia rela menjadi budak jika Dara menginginkannya. Nyawa pun ia rela berikan untuk junjungannya itu jadi kesetiaan nya tidak perlu di pertanyakan lagi.


"Baiklah, itu sudah keputusan mu. Kita mulai rituap sumpah setia mu padaku terlebih dulu" ucap Dara, Ferdi pun mengangguk tegas, siap.


"Theo, pastikan tidak ada orang yang masuk ke rumahmu dalam radius 30 meter. Dan Sediakan kamar dan air di dalam bathup. Flo kau yang bertanggung jawab untuk mengarahkan Ferdi untuk memulai pencucian sumsum tulang dan membuka Meridiannya" ucap Dara yang sudah memberikan sebuah pil roh suci level 4 untuk Ferdi.


"Baik Nona" ucap Flo


"Baik Bos" ucap Theo


Ferdi pun mengikuti instruksi Dara, ia bersiap melakukan sumpah seperti yang pernah di lakukan oleh Flo. Bukan tidak percaya, tapi Dara melakukan ini untuk berjaga saja.


Theo pun tanpa banyak bicara mengikuti ucapan Dara barusan dan mengecek semua keaan sekitar rumah setelah mengisi air dalam bathup.


Setelah selesai melakukan Sumpah setia, yang terjadi fenomena langit yang tiba-tiba bergemuruh seperti menjadi saksi sumpah itu.


Ferdi, Theo dan Flo masuk ke sebuah kamar yang sudah di siapkan air di dalam bathtub, sedangkan Dara menunggu di ruang tamu. Ferdi pun duduk bersila di atas dipan dan mulai meminum pil roh suci.


Ia terkejut melihat keadaan Ferdi, ia seperti di kuliti, bahkan tulangnya hancur. Lalu kembali di bentuk ke keadaan nya semula. Hal itu membuat Theo syok atas apa yang ia lihat dan beberapa kali mengucek matanya.


Sudah dua jam proses itu berlangsung, Ferdi akhirnya mampu Melewati semua rintangan dan kesakitan yang baru pertama kali ia rasakan itu. Sekarang tubuhnya di penuhi aura dan memancarkan sinar dari tubuhnya.


Tingkat satu level awal atau tingkat Body tempering level Junior. Ferdi kini resmi menjadi seorang kultivator bahkan sudah menembus body tempering.


"Bersihkan tubuhmu! Theo kau urus dia!" ucap Flo kemudian keluar dari kamar, setelah memastikan keselamatan Ferdi terjamin.


Dia tidak risih sekali melihat Ferdi yang telan-jang bulat karena proses itu. Karena Fokus Flo hanya keselamatan Ferdi, bukan bentuk tubuhnya.


....


Beberapa saat kemudian Ferdi dan Theo keluar dari kamar dan berjalan ke arah Dara dan Flo di ruang tamu.


"Kemarilah!" ucap Dara pada Ferdi.


Ferdi menurut dan mendekat, Dara menyuruhnya untuk duduk di sampingnya. Dara mendaratkan telunjuknya di dahi Ferdi, keluar sinar putih dari telunjuknya itu dan meresap ke dahi Ferdi.


"Tahan sebentar" ucap Dara


"Aaakkhhhhh" teriak Ferdi saat merasakan kepalanya sakit yang luar biasa. Banyak gambaran yang masuk ke kepalanya. Namun rasa sakit itu hanya sebentar, setelahnya Ferdi merasa lebih baik saat sakitnya hilang.


"Lu nggak apa-apa? Sakit nggak Fer?" tanya Theo.


"Sakit lah! Tapi awalnya aja, tapi sekarang tidak, bahkan gue jauh lebih bertenaga. Kau tahu, menjadi kultivator akan menjadi awet muda dan panjang umur" ucap Ferdi


"Benarkah? Waaahhhh, tapi Lu beneran jadi tampak menyilaukan Fer, terlihat lebih tampan dan hot" ucap Theo


"Ih, jangan dekat-dekat aku!" ucap Ferdi dengan ekpresi jijiknya.


PLAK!!!


Theo menggeplak kepala Ferdi gemas dengan Sahabatnya itu.


"Gue masih normal ongeb. Gue masih doyan kue apem. Nggak doyan gue sama pisang elu. emang mau adu sapa yang lebih gede dan kuat gitu, terus perang-perangan? Ihhh gue nggak mau ya, geleuh" ucap Theo bergidik


"Ha-ha-ha" terdengar suara tawa Ferdi dan Flo.


"Hais, bos. Aku juga mau dong jadi kultivator" ucap Theo tiba-tiba.


"Boleh" ucap Dara dengan santainya.


"Benarkah?" ucap Theo berbinar senang.


"Tapi kamu harus sekuat Ferdi dulu baru aku akan mengubahnu jadi seorang kultivator. Dan juga kau harus bersumpah setia padaku" ucap Dara


"Kalau sumpah setia saya sanggup bos, bahkan detik ini juga saya selalu setia sama anda bos. Tapi kalau kekuatanku sampai di titik Ferdi dulu, butuh berapa lama?" ucap Theo menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kalau begitu berusahalah lebih kuat dari sekarang" ucap Dara


"Baiklah, saya akan berusaha" ucap Theo berkobar lagi semangatnya.


Ferdi hanya menggelengkan kepalanya melihat Theo yang juga berkeinginan menjadi kultivator. Karena sekarang ia sudah menjadi seorang kultivator, sebisa mungkin ia melatih dirinya lebih keras. Agar tidak mengecewakan Dara di masa depan.


...••••••...


...•••••••...