
"Syarat pertama, orang itu harus lebih cantik dariku. Hmmm mungkin banyak yang lebih cantik, tapi yang jelas kamu sama sekali tidak cantik.
Yang kedua, harus lebih kaya dariku, seperti nya yang ini juga tidak mungkin. Karena aku lah orang paling kaya itu ha-ha...
Dan yang ke tiga, orang itu harus berani bertemu raja Yama. Karena aku sendiri yang akan mengirimnya ke sana!" ucap Dara dengan seringai khasnya, hingga membuat dua orang itu tiba-tiba saja merinding.
"A-apa maksud anda?" tanya Dena. Tiba-tiba saja merasakan tanda bahaya akan segera menghampiri.
"Memberikan syarat yang ke tiga tentu saja!" ucap Dara terkekeh.
"WHITE!!!" teriak Dara menggema ke seluruh ruangan, tak hanya mengejutkan keduanya tapi juga penghuni mansion kecuali Kai.
Untung saja semua kamar di star mansion kedap suara, jadi selain Pak Agam dan ART yang lainnya yang tengah bekerja tidak ada yang dengar teriakan Dara yang membuat siapa saja merinding itu.
DEM!!! DEM!!! DEM!!!
Suara hentakan kaki yang begitu keras terdengar, membuat semuanya ketar ketir termasuk para ART.
Mereka semua terkejut, karena sebelumnya mereka belum pernah melihat Majikannya yang sangat baik dan lemah lembut itu marah. Kini mereka tahu jika marahnya orang pendiam itu sungguh menakutkan.
Dan lagi mereka sadar yang di panggil Dara adalah peliharaan kesayangan nya dan benar saja saat ini White tengah berlari keluar dari kandangnya dengan mudah. Dan terlihat lari menuju ke dalam mansion.
Secara otomatis semua pekerja di Mansion menghindar dan tidak ingin ikut campur dan mereka pun menekan rasa penasaran mereka tentang apa yang terjadi. Mereka tidak ingin membuat masalah dan lebih memilih untuk menghindar dari sana.
"Pih, suara apa itu?" tanya Dena bergidik ngeri saat mendengar suara langkah kaki yang sangat keras.
"Papih juga nggak tahu, tapi kok suasana nya mendadak jadi menyeramkan gini" sahut Fariz yang juga penasaran suara apa itu.
Gggrrrrrrrrr!!!!!
ROOOAAAARRRRR!!!!
Suara Auman White seketika membuat buku kuduk kedua orang itu berdiri. Mereka tahu suara apa itu, terlebih saat melihat sosok besar White berjalan gagah ke arah mereka dengan menunjukan taringnya yang tajam dan kokoh itu.
"Ha..ha..hari..harimauuuuu!!!" teriak keduanya beringsut saling berpelukan saat melihat White dengan garangnya menatap ke arah keduanya.
ROAAAARRRRR!!!
Suara kembali membahana White membuat meremang semua yang mendengarkannya, lihat saja pasangan ayah dan anak sudah gemetar ketakutan.
Dara mengeluarkan Chi miliknya, membuat Barier di area sekitar mereka mereka. Terutama di area sekitar White, jadi apa yang terjadi di area mereka tidak akan terdengar dan terlihat.
Gggrrrrrrrrr...!!!!
"Salam, Yang Mulia..." ucap White yang hanya bisa di pahami oleh Dara.
"Bawa mereka ke tempatmu White, beri pelajaran buat dua orang ini yang berani mengusik keluarga ku! Ingat, jangan sampai mati White! Ah ya, jangan serang perutnya, karena ada janin di sana" ucap Dara dengan tenang.
Namun ucapan Dara tentu saja membuat dua orang di sana semakin tidak tenang. Mereka menggigil, mereka tidak menyangka jika istri dari Kai memiliki hewan buas sebagai peliharaan nya. Ini gila!
Jika mereka tahu kalau istri Kai tidak bisa mereka provokasi, mereka memilih untuk tidak datang ke ibukota. Karena kedatangan mereka hanya mengantar ntawa mereka sendiri.
Grrrrrrr!!!!
BUGH!!!
"Aaaakkkkhhh!!!!" teriakan itu terdengar keras.
White menubruk keduanya hingga keduanya jatuh dari sofa dan membentur meja.
"Aaakkkhhhh!!! TIDAK!!! AMPUUUNNN!!! TOLONG AMPUNI KAMI!!! TIDAAAAKKK!!! Aaakkkhhh sakiiiittttt..... AMPUUUNNN... Biarkan kami pergi, akkkhh sakiiitttt..." ucap keduanya saat White mengigit kaki mereka dan menariknya keluar menuju ke halaman belakang di mana kandang White berada.
Tentu saja tidak ada yang bisa mendengar dan tidak ada yang tahu apa yang terjadi, semua orang tidak bisa mendekat di jarak tertentu. Seolah ada tembok tidak terlihat yang menghalangi mereka untuk masuk.
Setelah mereka pergi, Dara dengan santai duduk di sofa yang masih benar, sedangkan sofa di mana dua tamu tidak di undang itu duduki. Kini sudah tidak terbentuk karena terjangan White.
"Hah.... " Dara menghela nafas saat tahu ia harus segera mengganti sofa yang rusak dengan yang baru.
"Nanti abang minta orang buat ganti sofa hari ini juga" ucap Kai lembut ke arah sang istri.
Dara menoleh ke arah sang suami, ia kemudian menarik pelan Kai duduk di sampingnya. Kai pun menurut dan duduk di samping istri tercintanya itu.
"Abang, maafkan aku yang abaikan Abang barusan" ucap Dara menatap suaminya dengan rasa bersalah.
"Harusnya abang yang minta maaf sayang, abang lengah hingga mereka berdua bisa sampai sini dan membuat mood kamu jadi jelek" ucap Kai tersenyum menggenggam tangan Dara.
"Tapi jujur Abang tadi takut kamu terpengaruh dan menelan mentah-mentah ucapan mereka. Apalagi kamu tidak ingin mendengar penjelasan Abang" ucap Kai sendu.
"Aku minta maaf Abang, aku hanya merasa kesal. Bagaimana bisa ada orang yang sangat tidak tahu malu, nekad datang ke kediaman kita. Bahkan mereka ingin meminta pertanggungjawaban dari kamu. Padahal yang menjadi pelakunya jelas bukan kamu.
Aku percaya seratus persen Abang nggak salah, suami bucinku ini tidak akan pernah mengkhianati ku, aku yakin itu.
Jujur pengennya sih aku langsung hajar itu muka dua orang yang seperti pa*tat panci saat mendengar ia ingin Abang menikahinya, sama sekali nggak ada urat malunya tuh orang. Tapi aku berusaha menahannya, karena aku ingin sedikit bermain-main dengannya" ucap Dara
"Kamu tahu, Abang tadi ketakutan setengah mati karena berpikir kamu akan ninggalin Abang" ucap Kai
"Itu tidak akan mungkin terjadi sayang, Abang mau maafin aku kan?" ucap Dara
"Tidak perlu minta maaf sayang, abang nggak akan mungkin marah padamu. Hah, aku memang selalu lemah jika berhadapan denganmu, aku selalu kalah. Ah tidak semuanya juga sih, abang selalu bisa mengalahkan kamu di atas tempat tidur" ucap Kai memainkan kedua alisnya dan terkekeh saat melihat wajah istrinya itu memerah.
"Hais... Abang ini" Dara memukul lengan Kai pelan.
"Ha-ha, tapi janji jangan seperti itu lagi ya sayang, bisa-bisa sport jantung kalau kamu main-main seperti tadi. Setidaknya kasih clue biar Abang nggak kaget dan kepikiran yang nggak-nggak" ucap Kai
"Iya Abang sayang, maafin aku ya. Janji lain kali nanti aku bakal langsung libas siapapun orangnya. Eh, ngomong-ngomong, emang Abang masih demen di kejar cewek gitu?" ucap Dara menelisik wajah sang suami.
"Mana ada, Abang salah ngomong sayang. Abang pengennya kejadian begini udah terakhir, lama-lama ini otak ngebul di kejar cewe gila. Mending kamu aja yang ngejar Abang, bakal Abang respon dengan senang hati dan tangan terbuka. Apalagi kita bareng-bareng ngejar suatu kenikmatan saat buat adik triplet nanti, aaawwsss...." Kai teriak kemudian terkekeh saat mendapatkan cubitan ganas di pinggangnya.
"Anak kita udah banyak Abang, isshhh masa mau nambah lagi, mereka aja baru brojol" ucap Dara
"Nggak apa-apa, banyak anak banyak rezeki. Lagian punya satu lusin juga Abang sanggup buat dan hidupin kok sayang" ucap Kai
"Iiihhh Abang mesum" ucap Dara menutup wajahnya..
Mereka pun bercengkrama sebelum akhirnya Kai mencium pipi sang istri kemudian membawanya kembali ke kamar pribadi untuk saling menc*mbu, ya meskipun tidak sampai membuat adik. Karena saluran pribadi milik Dara masih bocor dan belum kelar terkuras.
...••••••••...