The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
228. Ferdi mulai luluh



Star Tower, gedung milik Dara yang berada di pusat kota yang masih dalam proses pembangunan. Kelak di gedung ini Star Corporation akan di dirikan sebagai perusahaan induk, yang akan membawahi perusahaan milik Dara.


Sementara ini Star Corporation berkantor tak jauh dari gedung yang di bangun. Perizinan perusahaan sudah selesai di buat, hanya menunggu bangunan selesai di bangun dan melakukan peresmian di sana.


Star Corporation membawahi Perusahan milik Dara yang sudah berjalan, tidak lain adalah A.A Entertainment, Star Resto, Star Hospital, Star Hotel.


Ferdi juga sudah mengajukan pembuatan perusahaan baru di bidang konstruksi dan juga yayasan di lembaga pendidikan pada Ketua mereka yang sudah pasti itu adalah Dara.


Untuk kedua rencana perusahaan itu sudah di setujui oleh Dara. Jadi saat ini Ferdi tengah sibuk mengurusnya di bantu sekretaris utama dan dua sekretaris pembantu, juga seorang asisten. Untuk menggarap perusahaan baru di perusahaan mereka itu.


Dan untuk proyek pertama mereka, Dara memutuskan untuk membangun desanya dulu di desa S di provinsi Y. Baginya desanya itu memiliki banyak kenangan semasa kecil dirinya dan sang adik.


Dara sangat ingin memajukan kualitas pendidikan dan pembangunan di desa masa kecilnya itu, dan itu akan di mulai tiga bulan lagi setelah masa koas Dara selesai.


Tok! Tok! Tok!


Pintu ruangan kerja Ferdi di ketuk.


"Masuk!" sahut Ferdi dari dalam.


"Permisi Tuan, di depan ada tuan Lucas dan nona Feli datang" ucap Nia sekretaris utama Ferdi.


"Biarkan mereka masuk!" ucap Ferdi.


"Baik tuan" ucap Nia langsung undur diri dan keluar dari ruangan atasannya itu.


Tak lama kemudian Lucas dan Feli sudah masuk dan di persilahkan untuk duduk oleh Ferdi.


"Selamat siang Tuan Ferdi, maaf kami menganggu waktu anda" ucap Lucas


"Tidak masalah. Apa ada masalah atau hal penting yang ingin di sampaikan Tuan Lucas?" tanya Ferdi menoleh ke arah Lucas dan Feli


"Tidak ada masalah tuan, hanya saja kami datang ingin menyampaikan undangan dari Sutradara Philips" ucap Lucas menyodorkan undangan berwarna hitam dan silver itu.


"Sutradara Philips?" kening Ferdi mengerut, karena ia tidak mengenalnya.


"Iya, dia adalah sutradara yang terkenal di industri hiburan tanah air. Akhir pekan ini beliau ulang tahun yang ke 50 tahun. Sebenarnya selain anda, Ketua juga di undang. Hanya saja Ketua mengatakan jika cukup anda yang mewakili perusahaan, karena nona sedang masa koas di luar kota dan tidak bisa datang ke ibukota dalam tiga bulan ke delapan" ucap Lucas.


"Hmm, aku akan datang. Apa ada lagi?" ucap Ferdi mengangguk paham.


"Ada hal lain yang ingin saya sampaikan Tuan, ini mengenai investasi di film yang akan di bintangi oleh Feli. Apa perusahaan akan terlibat untuk menjadi salah satu investor di film itu? Ketua bilang semua keputusan dapat di ambil oleh tuan Ferdi" tanya Lucas.


"Berikan salinan naskah dan juga informasi lengkap tentang film itu. Aku akan memberikan jawaban setelah aku selesai menganalisis film itu" ucap Ferdi.


"Sudah saya siapkan tuan, ini salinan naskah dan informasi film itu" ucap Lucas memberikan berkas yang ia keluarkan dari dalam tasnya.


Setelahnya Lucas dan Feli pun pamit untuk kembali ke perusahaan. Lebih tepatnya Lucas yang akan kembali ke perusahaan.


Sedangkan Feli kebetulan ada pemotretan di daerah sana. Ia ikut datang kerena ia ingin mengetahui tentang keputusan investasi di mana ia yang akan menjadi pemeran utamanya.


Tok! Tok! Tok!


Ketukan pintu kembali terdengar, setelah mendengar seruan dari dalam Nia masuk membawa sebuah paperbag berwarna broken white dengan logo bintang Lima.


"Tuan baru saja ada kurir biasa datang dan memberikan ini untuk anda" ucap Nia menyerahkan paperbag itu.


Setelah sekretaris nya itu keluar, Ferdi mendongak dan melangkahkan kakinya ke meja tamu yang mana paperbag itu di letakan oleh Nia di sana.


"Dia berniat sekali" ucap Ferdi terkekeh pelan.


Ia lalu membuka paparbag itu dan mengeluarkan isinya. Itu adalah makanan Favorit Ferdi yang juga salah satu menu andalan di Star Resto. Di sana juga ada selembar kertas dan Ferdi membuka dan membacanya.


...Jangan lupa di makan, jangan di pandangi saja. Ingat kesehatan dan jangan sampai sakit apalagi saat ini aku tengah jauh dan tidak bisa merawat mu. Aku harap kau menyukai makanannya, ya meskipun bukan aku yang memasaknya sih. Tapi aku harap kamu mau memakannya. Tunggu aku kembali dan kita bisa makan bersama nanti....


...By Cabi - Ajeng Cantik...


Senyum di wajah Ferdi semakin mengembang, entah mengapa selain hari ia semakin terbiasa dengan kelakuan dan perhatian adik sepupu dari calon suami Nonanya itu.


"Dia sangat blak-blakan. Apa katanya nya Cabi ha-ha" gumam Ferdi terkekeh.


Ferdi teringat Ajeng mengatakan jika ia adalah Cabi saat akan berangkat ke luar negeri untuk meneruskan kuliahnya. Dan belakangan Ferdi tahu jika Cabi yang di maksud Ajeng adalah singkatan dari 'Calon Bini'.


Awalnya ia terkejut saat Ajeng mencoba mendekatinya, meskipun ia selalu menampilkan wajah datar namun gadis itu tidak pantang menyerah untuk mendapatkan perhatiannya.


Ferdi juga lama-kelamaan terbiasa dengan perhatian Ajeng, termasuk perhatian kecil mengingatkan untuknya makan siang. Ferdi yang memang sangat jarang makan siang karena kultivator bisa tahan tidak makan beberapa hari.


Namun Ajeng yang tahu pujaan hatinya tidak makan teratur menjadi khawatir Ferdi sakit. Jadi akhirnya Ajeng seminggu ini rajin mengirimi Ferdi makan siang.


Sejujurnya perasaan Ajeng sama halnya dengan Lingga. Kedua kakak beradik itu sangat frustasi dan galau karena berjauhan dengan calon gebetan mereka berdua.


Perhatian Ajeng itupun lama-kelamaan mengikis batu di hati Ferdi. Bisa di lihat Ferdi langsung menghampiri makanan itu dan memakannya dengan lahap.


....


Di belahan benua lain.


"Tidak ketemu? Cari lagi yang benar! Masa cari satu ja*ang kecil saja tidak becus!" ucap marah seorang wanita di telepon yang tersambung, namun ucapannya terdengar seperti sedang menahan sesuatu.


Wanita itu mencoba bersabar agar tidak terlalu memancing emosinya, setelah mendengar apa yang di ucapkan orang suruhannya itu.


"......."


"Aku tidak mau tahu, cari perempuan ja*ang itu sampai ketemu dan berikan ia pelajaran yang tidak terlupakan!" ucap wanita itu menahan suara lagi dan amarahnya. Kerena wajahnya yang masih di balut perban tidak boleh bergerak banyak saat ini


Ya, wanita itu tak lain adalah Megan yang baru selesai operasi pertama dan melakukan pemulihan sebelum melakukan operasi kedua.


Posisi hidung Megan dan tulang rahang belum bisa kembali sempurna dan harus melakukan operasi dua sampai tiga kali. Sudah bisa di bayangkan jika tamparan Kai waktu itu cukup keras mengenai wajahnya hingga kondisi wajahnya cukup parah.


"Aku akan mengirimkan sisa bayarannya jika tugasmu sudah selesai" ucap Megan lagi lalu menutup teleponnya.


Ia melihat sekeliling ruangan rawat inapnya, tidak ada siapa-siapa. Dia sendiri...


Megan menghela nafasnya, bukan ia tidak mengabari keluarganya hingga ia sendirian. Ia justru sudah mengabari orang tuanya, namun keduanya mengatakan jika mereka sedang berada di luar negeri karena urusan bisnis dan hanya mengirim uang untuk Megan melakukan operasi plastiknya itu.


"Cih, bahkan mereka tidak menanyakan keadaanku sekarang, mereka hanya peduli dengan urusan mereka. Hah.... Kaisar, aku akan menghancurkan wanita itu, karena ia berani merebutmu dariku. Bahkan ia memberikan pengaruh buruk padamu hingga kamu dengan berani dan tega memukulku. Aku akan membuat matamu terbuka, jika hanya aku yang pantas untuk berada di sampingmu dan membuang wanita ja*ang itu" ucap Megan lagi pelan


...•••••••...