The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
367. Dara Marah



Dimas diam saja saat berada di dalam mobil, Ryan tidak menyadari jika Dimas tengah melamun. Dia tidak tahu apa yang tengah di pikirkan dan di alami oleh saudaranya itu, karena saat ini ia tengah sibuk berkirim Chat dengan teman-teman di klub basket sekolah.


Begitu mobil berhenti di mansion, keduanya langsung turun. Mood Dimas yang kusut itu, seketika menjadi cerah saat melihat keponakannya yang gembul itu.


"Abang, Om datang! Eh...." ucap Dimas setengah berteriak dan diam saat menyadari adanya Manda dan Nathan di sana.


"Omom Didim..." Langit langsung berjalan ke arah om nya itu.


Dimas langsung memeluk dan mengendong keponakannya itu dan mencium pipi gembul bak squishy. Ia lalu menghampiri kakaknya, begitu juga dengan Ryan.


"Bukannya mandi dulu, malah langsung gendong dan nyosor Abang. Kamu bau matahari, banyak kuman Dimas" ucap Dara mengomeli adiknya.


Dimas yang di omeli hanya terkekeh saja dan menurunkan Langit kembali, kemudian ia dan Ryan menyapa keduanya dengan sopan.


"Hallo kak Manda, Kak Nathan. apa kabar?" ucap Dimas dan Ryan bersamaan


"Kita berdua baik, woah makin ganteng aja kaluan Dim, Yan. Kalian juga tinggi banget, udah kaya oppa oppa" ucap Manda


Mendengar istrinya memuji laki-laki lain, membuat Natah cemberut, hal itu membuat Dimas dan Ryan terkekeh melihatnya.


"Pasti tampan dong, kan kakaknya juga cantik gini ha-ha... Jangan muji lagi kak, tuh lihat wajah kak Nathan udah kaya benang kusut bener" ucap Dimas terkekeh


"Mana tatapannya tajam lagi, berada di sayat hati Abang..." sahut Ryan mendramatisir dan ikut terkekeh.


"Kalian bocil, udah berani ngeledek orang tua ya" ucap Nathan bertolak pinggang.


"Lah ngaku kak kalau udah tua? Kak Manda kenapa mau sama nih orang tua, kan dagingnya alot" ucap Dimas tertawa jahil.


"Sembarangan, masih ganteng, gagah gini di bilang tua, alot lagi. Bukan gitu konsepnya Dimas, ihhh... Gemes... Pen tak Hiiiihhhhh..." ucap Nathan gemas membuat yang lain tertawa.


"Kakak udah lama datengnya?" tanya Ryan


"Dari pagi menjelang siang kayanya" jawab Nathan.


"Udah makan siang?" tanya Dimas


"Ya sudahlah! Lihat ini jam berapa, masa iya kakak biarin tamu kakak nggak makan. Sudah, sana kalian berdua mandi dulu! Nanti ajak Langit main lagi" ucap Dara


"Siap bos!" ucap keduanya kompak dan beranjak dari ruang tamu.


Setelah kurang lebih setengah jam, kedua adik laki-laki Dara itu kembali dan membawa Langit bermain ke halaman belakang dengan White.


Manda dan Nathan juga hendak pamit pulang, awalnya Dara mengajaknya untuk makan malam bersama dulu. Tapi mereka menolak, karena mereka akan ke resto dulu untuk bertemu Bu Entin dan mengabarkan kabar gembira jika Manda hamil.


"Makasih ya Ra udah ngertiin aku dan jaga Langit. Memberikannya perhatian dan kasih sayang yang begitu besar" ucap Manda saat mereka bertiga berada di depan rumah.


Tidak ada orang lain di sana selain mereka bertiga, jadi bisa berbicara leluasa.


"Tentu, aku ibunya jadi aku pasti akan memberikan perhatian dan kasih sayang yang besar untuk semua anak-anakku. Jangan terbebani Da, sampai kapan pun dan apapun yang terjadi tidak akan mengubah kenyataan kalau kamu adalah ibu kandungnya. Kita berdua adalah ibu dari Langit, kalau kamu rindu atau ingin bertemu Langit. Kamu bisa menghubungiku kapan saja" ucap Dara


Ia tidak akan menghalangi Manda jika ingin bertemu anaknya, karena ia seorang calon ibu. Jadi ia sangat tahu bagaimana perasaan seorang ibu pada anaknya, terlepas bagaimana pun kondisinya.


"Hmm kamu benar, kita berdua adalah ibunya, sekali lagi terimakasih. Aku sangat bersyukur Tuhan mengirimkan kamu sebagai sahabat sekaligus saudara untukku, di saat aku dalam keadaan jatuh dan tidak bisa berpikir jernih, kamu bagaikan malaikat yang di kirim Tuhan. Pertemuan kita adalah satu hal besar dan selalu terkenang indah di hatiku, aku mempercayaimu lebih dari apapun" ucap Manda lagi dan memeluk Dara dari samping.


Ia benar-benar merasa bersyukur Tuhan mempertemukan dirinya dengan wanita berhati malaikat seperti Dara. Bahkan Dara sangat mengerti apa yang ia ingin kan dan apa yang ia butuhkan, tanpa harus dirinya mengutarakannya.


"Temuilah Emih, kamu pasti kangen ibumu kan? Dia pasti sudah menyiapkan makanan terbaik untuk anak dan menantunya, dia juga pasti akan sangat bahagia mendengar berita bahagia yang kalian bawa" ucap Dara tersenyum


.....


Malam harinya, setelah makan malam dan Langit tertidur. Dimas mengajaknya untuk berbicara lagi di ruang kerja kakaknya itu. Dara tidak mempermasalahkan itu dan setuju, karena Kai juga kemungkinan akan pulang terlambat malam ini.


"Kak, dia menghampiriku lagi di tempat less" ucap Dimas, menghela nafasnya kasar.


"Lalu apa yang dia lakukan? Dia tidak membuatku kesulitan kan?" tanya Dara


Dimas menceritakan tentang pertemuannya dengan Agung di tempat less, tanpa di kurangi atau di tambahkan.


Dara sesungguhnya merasa kesal saat mendengar apa yang di katakan adiknya itu, apalagi saat pria brengsek yang sayangnya ayah kandungnya itu memutar balikan fakta dan menjelekkan nama ibunya.


Namun sebisa mungkin Dara menahan emosinya, selain tidak ingin memancing Dimas juga marah. Ia juga tidak ingin moodnya saat ini mempengaruhi ketiga calon bayinya.


"Yang di katakan dia itu sepenuhnya bohong, ibu orang yang seperti itu" ucap Dara masih dengan nada lembut ke pada adiknya.


"Aku tahu kak, aku bukan laki-laki bodoh yang tidak mengerti. Terlebih ibu, aku dan kakak menjalani sendiri beberapa tahun belakang. Berapa sulitnya kita untuk bertahan, bahkan betapa menderitanya ibu saat kita di desa S dulu" ucap Dimas mengepalkan tangannya


"Kak, apa aku berhenti less aja? Dia tahu tempat di mana aku less. Meskipun hanya seminggu dua kali aku ke sana, tidak menutup kemungkinan akan bertemu lagi" tanya Dimas


"Tak perlu, kalau kamu menghindar. Itu akan membuat ia semakin yakin kalau kamu benar-benar anaknya, meskipun kenyataannya memang demikian. Bersikap biasa saja, nanti kakak akan memikirkan caranya agar orang itu tidak lagi berani mengusik kita" ucap Dara


"Ya kak, aku akan melakukan yang kakak katakan meskipun aku malas bertemu dengannya. Apalagi aku sangat marah saat ia berani menjelekkan ibu, aku sekuat tenaga menahan agar tidak memukulnya saat itu juga" ucap Dimas


"Sudah! Biar ini akan jadi urusan kakak, kamu bersikap saja seperti biasanya. Kamu bisa kerjakan tugas sekolahmu lalu istirahat" ucap Dara


Dimas mengangguk kemudian keluar, meninggalkan Dara di dalam ruangan kerjanya. Dara menyenderkan tubuhnya ke kursi kebesarannya dan menghela nafas panjang.


Sungguh emosinya hampir meledak saat mendengar dari adiknya kalau pria bajingan itu, membicarakan yang tidak-tidak tentang ibunya.


"Dark!" panggil Dara


Wuusshhh....


"Saya di sini nona" ucap Dark yang dalam sekejap langsung berdiri di depan Dara


"Kau dengar tadi apa yang kami bicarakan?" tanya Dara


"Saya mendengarnya. Apa yang harus saya lakukan?" ucap Dark


"Beri orang itu pelajaran! Cukup peringatan pertama, buat ia tidak bisa bicara... Itu pelajaran karena sudah berani memfitnah ibuku" ucap Dara menatap datar ke depan.


"Baik!" ucap Dark, ia langsung pergi setelah mendapat tugas dari Dara.


Dara mengetukkan jemarinya di meja kerjanya dengan wajah datarnya.


"Aku memang tidak akan membunuh mu, karena bagaimana pun kamu memberikan aku dan Dimas kehidupan. Karena kau yang membuatku dan adikku lahir ke dunia ini dan darahmu mengalir di tubuh kami.


Tapi aku tidak akan diam saja saat kau semakin melunjak. Berani mendekati kami, memiliki niat buruk, bahkan memutar balikan fakta dan menjelekkan ibuku.


Aku berikan peringatan pertama, kita lihat! Kalau kamu masih saja tidak sadar dan berubah. Aku akan membuatmu menyerah pada hidupmu sendiri!" ucap Dara dengan nada dinginnya.


...••••••...