
Meskipun Rose penasaran kenapa Dara memanggil ayahnya dengan sebutan brengsek, ia tidak menanyakannya lebih lanjut.
Karena bagaimana pun ada banyak orang saat ini, ia tidak ingin bertanya mengenai hal pribadi di depan banyak orang. Rose bisa menanyakannya nanti pada Ellena saat tidak ada orang lain yang tidak ada hubungannya dengan keluarga mereka.
"Umur kamu berapa, sayang?" tanya Rose
"Tahun depan dua puluh tan" jawab Dara
"Wah sebaya dong dengan Arra, Arra juga beberapa bulan lagi 20 tahun. Arra ayo kenalan sama Dara, nak" ucap Rose pwmbut pada anaknya.
"Hai, aku Arra salam kenal" ucap gadis manis berlesung pipi itu tersenyum ramah pada Dara.
"Hai Arra, aku Dara salam kenal juga" balas Dara dengan tersenyum manisnya, yang membuat semua orang di sana terpesona di buatnya.
"Kamu cantik sekali nak, jadi pengen Tante karungin terus di bawa pulang" ucap Rose terkekeh
"Mami bener, Dara cantik banget. Cocok kalau sama kakak" sambung Arra.
"Wah iya jeng, anak sulung jeng Rose juga sangat tampan, cocok tuh sama Dara yang cantik" ucap salah seorang ibu-ibu di sana.
"Eh, entar dulu, anak saya gimana nih? Dia kan fans berat Arvin, anaknya jeng Rose" celetuk salah seorang lain yang membawa putrinya ikut serta.
"Kemaren aja jeng Nia mau jodohin anaknya dengan Revan, sekarang bilangnya anaknya ngefans berat sama Arvin. Gimana sih" ucap Ellena
Kemudian ibu-ibu tertawa mendengar itu, karena mereka mengatakan itu hanya bercandaan saja. Mereka tidak serius saat membicarakan itu, tapi toh kalau anak-anak mereka mau sama mau. Orang tua mah senang-senang aja dan ikut dukung.
"Mah, Revan nggak mau ya di jodoh-jodohin. Jangan jodoh-jodohin Dara juga! Biar Revan, Dara dan yang lain mencari pasangan sendiri" ucap Revan tidak suka mama nya membahas perjodohan.
"Isshh kamu ini, jangan bikin malu mama, kita ini cuma bercanda doang ngomong gitu Revan" ucap Ellena mencubit gemas putranya itu.
Dara hanya diam menyimak, ia setuju dengan ucapan Revan. Karena ia juga tidak ingin ada yang ikut campur dengan persoalan masa depannya. Lagian dia tidak lagi lajang, dia sudah memiliki kekasih sekarang. Dara tidak ingin menambah selir apalagi gundik, satu aja nggak akan habis jadi ia tidak berminat menambah kursi di hatinya.
Dara melihat Arra yang sesekali menatap Revan, ia tersenyum tipis saat tahu jika putri sahabat ibunya itu sepertinya memiliki rasa untuk kakaknya.
Tapi ia juga tidak akan ikut campur tentang urusan pribadi Revan. Biarlah jika mereka berjodoh dan saling suka, itu akan mengalir sesuai takdir. Jikapun mereka tidak jadi satu, mungkin mereka belum berjodoh.
"Arra bukan bermaksud begitu Revan, tapi nggak ada salahnya kalau Arra dan Arvin berteman dengan Dara, atau kalian bukan?" ucap Rose.
Revan tidak menjawab, begitu pun dengan Dara. Saat Ellena akan mengucapkan sesuatu, teriakan Bara yang cetar membahana menggema di seluruh ruangan
"Hello epribadeh home.... Bara ganteng comebaaaack!!!" Teriak Bara membahana
"Berisik Baraaaa!!! Ada tamu!" ucap Ellena sedikit berteriak melihat putra nya yang datang dengan cara heboh itu.
"Eh iya, ada tamu he-he maaf nggak liat" ucap Bara menggaruk tengkuknya dan tersenyum tiga jari.
Dimas dan yang lain, yang ada di belakang Bara hanya terkekeh melihat tingkah absurd Bara yang selalu heboh di mana pun dan kapan pun.
"Kemari Dim, Alan, Ryan!" panggil Ellena.
Ketiganya pun menghampiri Ellena dan mencium tangan Ellena dengan sopan.
"Rose, ibu-ibu, perkenalkan yang ini namanya Dimas adik kandung Dara yang tadi saya bilang. Kalau yang ini namanya Alan dan yang ini Ryan, mereka berdua kakak beradik dan sekarang menjadi anak angkatku" ucap Ellena.
"Sayang, mereka ini teman-teman mama. Ayo beri salam" ucap Ellena pada anak-anaknya.
"Hallo Tante, salam kenal" ucap ketiganya sopan.
"Dimas ya, sini nak!" ucap Rose melambaikan tangan pada Dimas.
Dimas menoleh ke arah Ellena dan Ellena mengangguk, jadi ia berjalan mendekati Rose dan Dara yang masih duduk di sana.
"Kamu juga sudah besar, berapa umurmu sekarang nak?" tanya Rose
"Masih SMA berarti?" tanya Rose dan Dimas mengangguk
"Nama Tante, Rose. Tante sahabat ibumu, Nayla" ucap Rose
"Salam kenal Tante Rose" ucap Dimas sopan.
Setelah sesi perkenalan dan mengobrol ringan. Dara dan yang lain pergi ke kamar mereka masing-masing. Tak lama kemudian teman-teman mama Ellena juga pulang satu persatu.
.....
Malam harinya Revan dan yang lain masih berebut ingin pergi bersama dengan Dara. Dara memutuskan untuk keluar bersama-sama dan menggunakan dua mobil.
Dara bersama dengan Revan, Flo dan juga Alan. Sedangkan Jefrey, Bara, Dimas dan Ryan di mobil yang lain.
Meskipun kesal karena tidak bisa pergi berdua dengan Dara, Revan masih cukup puas karena Dara memilih naik mobilnya dan meledek sang kakak Jefrey dengan menjulurkan lidahnya.
Mereka bersenang-senang dengan jalan-jalan ke pusat perbelanjaan dan menonton bioskop bersama. Semua orang yang melihat mereka dengan terkejut, pasalnya paras kedelapan orang itu semuanya di atas rata-rata. Meskipun Dara menggunakan masker andalannya itu, mereka bisa menebak jika Dara adalah gadis yang cantik.
Tapi fokus semua orang tertuju pada Dara, karena ia di apit oleh Revan sebelah kanan dan Jefrey sebelah kiri. Dara hanya pasrah, kalau tidak mereka akan ribut lagi saling berebut dan membuatnya malu di depan umum.
Setelah hari sudah malam mereka pun pulang dan kembali ke kamar masing masing. Berbeda dengan semua penghuni mansion. Dara dan Flo sibuk dengan kultivasi mereka.
Tapi sebelum Dara berkultivasi, Dara mendapati Kai melakukan panggilan video.
"Hallo Kai" ucap Dara sambil tersenyum melihat Wajah Kai yang terlihat lelah setelah selesai bertugas.
"Hallo Babe, kamu sudah mau tidur?" tanya Kai dengan senyum manis di wajahnya
"Hmm, aku baru mau istirahat, kamu baru selesai bertugas? Kamu terlihat lelah" ucap Dara melihat wajah letih kekasihnya.
"Ya cukup melelahkan, aku besok siang ke kota S. Aku merindukanmu, aku juga butuh vitamin darimu" ucap Kai
"Bukannya aku sudah kasih kamu pil penyembuh, apa pil nya tidak cukup? Apa kamu terluka?" tanya Dara khawatir.
"Aku tidak terluka, tapi aku sangat lelah dan butuh vitamin khusus darimu" ucap Kai
"Vitamin khusus apa?" tanya Dara tidak mengerti.
"Nanti kamu tahu saat aku sudah ada di sana. Dara, aku merindukanmu, sangat" ucap Kai dengan lembut namun serius, tatapan rindu Kai membuat Dara ingin sekali menghamburkan dirinya ke pelukan kekasihnya itu.
"A-aku juga" ucap Dara dengan wajah memerah dan menunduk.
Terlihat Kai terkekeh melihat kekasihnya malu.
"Aku juga apa? Bicara dengan jelas Babe" ucap Kai.
"A-ku juga merindukanmu" ucap Dara pelan.
"Apa? Coba ulangi! Aku tidak dengar" ucap Kai menahan senyumnya.
"Aku merindukanmu Kaisar Raka Narendra!!" teriak Dara.
Untung kamarnya kedap suara, kalau tidak ia akan malu kalau semua orang di mansion mendengar suaranya yang berteriak-teriak kencang di tengah malam.
Namun Flo yang kamarnya berada di sebelah Dara masih bisa mendengarnya karena Indra pendengarannya semakin tajam karena sekarang ia sudah menjadi kultivator.
"Aku juga merindukanmu sayang" ucap Kai dengan lembut dan senyum manis menghiasi wajahnya, membuat wajah Dara merah seperti kepiting rebus karena malu.
...•••••••...