The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
216. Perasaan Manda



Beberapa hari setelah kejadian di restoran, Dara menikmati waktunya seperti biasa. Tidak ada masalah yang di timbulkan oleh Megan beberapa waktu ini. Itu semua karena Megan tengah menjalani operasi bedah plastik untuk memperbaiki hidung dan wajahnya di negara K.


Dara mengetahuinya? Jawabannya tentu saja dia tahu!


Pasalnya semenjak kedatangan Megan, Dara langsung meminta Theo untuk mengawasi si Megalodon itu. Bukan karena takut, tapi untuk mengantisipasi kemungkinan buruk yang akan di lakukan olehnya.


Kalau targetnya hanya dia, Dara lebih dari mampu menghadapinya. Tapi Dara tidak ingin mengambil resiko jika yang di targetkan adalah orang-orang terdekatnya.


Jadi beberapa hari ini Theo rutin memberikan kabar tentang Megan pada Dara. Menurut informasi dari Theo, mungkin selama dua bulan Megan tidak akan menampakan wajahnya, karena pemulihan pasca operasi plastik yang memakan waktu sangat lama.


"Hei kau diam saja" ucap Manda datang dan duduk di sebelah Dara yang tengah berada di kantin.


"Harus berkoar koar gitu neng geulis?" tanya Dara


"Aduh si bos kenapa jadi ngikutin si emih ngomongnya" ucap Manda terkekeh.


Emih adalah sebutan untuk ibu Entin, ibu dari Manda yang biasanya Manda memanggilnya dengan sebutan Emih Entin. Dara yang belakangan sering ke Restoran sering bertemu dan berbincang dan Bu Entin, jadi sedikit banyak ia tahu bahasa yang di gunakan ibu dan anak itu.


"Udah kelar kelasnya Da?" tanya Dara


"Udah, mau balik ke resto sekarang?" tanya Manda


"Nggak, aku mau balik ke mansion ada perlu sama Flo. Aku akan ke luar kota kerena ada sesuatu yang harus kita urus" ucap Dara


"Nggak sama Abang pacar?" tanya Manda


"Dia sedang tugas dari kemarin dan belum balik" ucap Dara yang di angguki oleh Manda.


"Berarti bareng sama temen-temennya dong? Yang waktu itu ikut ke resto temannya dari militer kan?" tanya Manda


"Hmm, oh iya ada salam dari Nathan buat kamu Da" ucap Dara tersenyum ke arah sahabatnya itu.


"Becanda Mulu lu" ucap Manda dengan pipi yang merona saat Dara mengatakan itu.


"Serius, waktu pagi tadi teleponan sama Kai, Nathan nimbrung terus bilang minta aku sampein salam buat sahabat aku yang ikut makan dari dia" ucap Dara


Manda tersenyum sejenak, namun setelahnya ia murung memikirkan sesuatu. Dara tahu jika ada yang sahabatnya itu pikirkan.


"Ada apa?" tanya Dara


"Nggak ada" jawab Manda.


"Aku tahu kamu kepikiran sesuatu, tapi kalau nggak mau cerita nggak apa-apa" ucap Dara


"Cuma kepikiran masa depan aja" ucap Manda.


Ucapan Manda membuat kening Dara mengerut. Melihat Manda yang diam sembari memejamkan matanya, Dara pun berkata lagi.


"Apa ada hubungannya sama Nathan?" tanya Dara


Manda yang di tanya diam sejenak sebelum ia menghela nafas.


"Bukan karena Nathan. Tapi karena memikirkan diriku sendiri" ucap Manda.


"Mau cerita?" tanya Dara


"Tapi nggak di sini Ra" ucap Manda


Dara mengerti, jadi ia memutuskan untuk mengantar Manda ke restoran sembari bercerita di jalan.


Manda pun mengatakan pada Dara apa yang membuatnya tiba-tiba murung. Dara pun mendengarkan sampai Manda selesai menceritakannya tanpa memotong ucapannya. Baru setelah selesai, Dara bertanya lagi.


"Jadi maksud kamu, kamu takut jatuh cinta lagi karena keadaan kamu saat ini?" tanya Dara, Manda mengangguk


"Aku tidak ingin membohongi pasanganku kelak Ra. Jika aku benar-benar menemukan orang yang aku sukai, aku akan mengatakan yang sejujurnya tentang aku yang sudah tidak suci dan punya anak satu di luar nikah. Jika orang itu benar-benar tulus mencintaiku, maka ia akan menerimaku dengan segala kekurangan dan kesalahanku di masa lalu" ucap Manda.


"Apa kamu yakin?" tanya Dara yang di jawab anggukan kepala Manda.


"kamu mengatakan ini karena ada hubungannya dengan Nathan?" tanya Dara


Bukan tanpa alasan Dara menanyakan tentang Nathan. Karena Kai memberitahunya kalau Nathan selalu menanyakan tentang Manda bahkan menitipkan salam.


Jadi Dara hampir yakin Nathan kemungkinan memiliki ketertarikan dengan sahabatnya itu. Karena tidak ada alasan lain seorang laki-laki menanyakan tentang perempuan dan menitipkan salam jika ia tidak tertarik, kecuali laki-laki itu pemain wanita. Dan Dara yakin Nathan bukanlah pria yang suka mempermainkan wanita.


Juga Dara melihat jika Sahabatnya juga sepertinya tertarik dengan Nathan.


"Ke-kenapa jadi ke Nathan?" ucap Manda


"Kau tertarik padanya kan?" tanya Dara


"L-lu bercanda Ra, mana mungkin aku..." ucap Manda.


"Matamu nggak bisa membohongi aku Da" ucap Dara


"Haaahhh, aku juga nggak tahu" ucap Manda menghela nafas, sejujurnya ia sendiri ragu. Karena ia baru sekali bertemu Nathan saat makan bersama di restoran, bahkan mereka tidak bertukar nomor telepon. Mereka hanya saling berkenalan di sana dan tahu nama masing-masing.


Dara juga hanya diam tidak menanyakannya lagi, ia paham Manda masih ragu. Terlebih Dara tahu apa yang Manda alami. Bukan hanya patah hati karena mantan pacarnya, namun janin yang ada di perutnya yang masih tumbuh membuatnya ragu untuk melangkah di percintaan.


.....


Di Star Mansion, Flo sudah bersiap, tinggal menunggu Dara yang masih bersiap. Lima menit kemudian Dara turun dengan pakaian casual rapih dengan rambut panjangnya yang ia kuncir kuda.


Saat hendak keluar, terdengar suara trio curutnya star mansion. Siapa lagi kalau bukan Dimas, Ryan dan Ezio yang baru pulang dari sekolah.


"Loh kak Dara, kak Flo mau kemana? kok udah rapih aja?" tanya Dimas


"Kakak mau ke kota H bentar dek, paling ntar malam atau besok pagi baru pulang" ucap Dara


"Berdua aja?" tanya Dimas


"Iya berdua. Kamu dan Ryan baik-baik di rumah. Kalau keluar minta temani kak Sandi" ucap Dara


"Siap kak, kakak hati-hati di jalannya" ucap Ryan


"Iya, Ezio mau nginep di sini?" tanya Dara


"Nggak kak, mama papa udah pulang. Ini cuma mau ngerjain tugas kelompok, tinggal nunggu dua orang lagi yang belum dateng" ucap Ezio


"Oh, ya udah kalau begitu kakak pergi dulu" ucap Dara


"Kami pergi dulu tuan muda" pamit Flo


Keduanya pun langsung berangkat ke kota H, di mana markas besar GOD tengah di renovasi di sana. Tiga hari setelah Dara mengetes pertama kali anggota GOD, Theo sudah mendapatkan tempat strategis untuk markas GOD.


Tempat itu berada di sebuah bukit di kota H, markas itu sebenarnya sebuah Villa besar yang di jual oleh pemilik lama. Villa di atas bukit itu adalah Villa besar dengan luas tanah 30.000 Meter persegi dan luas bangunan 12.000 meter persegi.


Karena pemilik lama ingin menjualnya sebesar 5 triliun dengan harga penuh. Villa ini sulit untuk di jual, karena menyiapkan uang 5 triliun sekaligus dalam sekali transaksi adalah hal yang sulit.


Sebenarnya bisa saja seseorang membayar penuh, namun kebanyakan pengusaha memiliki uang dalam bentuk aset atau kas perusahaan. Jadi mengeluarkan uang sekaligus dengan nominal besar sangat sulit.


Biasanya pembayaran di lakukan minimal 2x transaksi dalam dua waktu. Namun di sini Dara tanpa ba-bi-bu langsung meminta Theo membelinya dengan harga penuh. Soal harga itu tidak masalah baginya dan tentu saja uang itu ia gelontorkan dari uang pribadi miliknya.


...•••••••...