
Dara menatap beberapa paperbag yang ada di tangannya, semuanya bukan milik Hesti, Sarah apalagi Ajeng. Tapi itu adalah miliknya sendiri yang di belikan calon mertua menggunakan kartu milik putranya.
Setidaknya sudah ada Lima paperbag berukuran sedang. Yang berisi pakaian, sepatu, Tas dan yang lain-lain.
Namun itu belum cukup karena Hesti masih menarik dirinya untuk berbelanja di perhiasan mewah Tiffany & co. Sebisa mungkin Dara menahan Ibu dari kekasihnya itu untuk tidak beranjak masuk ke dalam toko perhiasan itu.
"Mah, udah cukup ya, aku udah belanja banyak" ucap Dara
"No sayang, itu masih dikit! Lihat belanjaan punya mamah, Tante dan Ajeng lebih banyak dari pada milik kamu" ucap Hesti.
"Tapi ini udah lebih dari cukup mah, tidak baik menghamburkan uang untuk hal yang tidak bermanfaat" ucap Dara.
Dia tidak sadar jika dirinya juga kerap kali lupa saat membelanjakan uangnya untuk membeli sesuatu yang dengan mudah seperti membeli permen. Tapi karena itu uangnya sendiri jadi dia tidak berat mengeluarkan nya.
Sedangkan Dara berfikir kalau uang yang di belanjakannya sekarang adalah milik sang kekasih. Yang mana bukan miliknya sendiri, tentu saja ia merasa tidak enak karena dirinya masihlah orang luar belum ada ikatan yang resmi dan hanya sebatas pacar.
Terlebih yang ingin di beli Hesti adalah perhiasan, yang mana Dara sudah memiliki stok gudang perhiasan yang menggunung dan tak ada habis-habisnya di ruangan dimensi miliknya.
"Perhiasan bermanfaat sayang, Kan bisa kamu pakai saat ada acara tertentu. Lagian kita juga jarang berbelanja, terakhir mama belanja itu tiga bulan atau empat bulan yang lalu" ucap Hesti jujur.
Pasalnya Hesti beberapa bulan belakangan ini sibuk mengawasi jalannya butik miliknya yang sudah mencapai puluhan cabang di dalam dan di luar negeri.
Sebagai seorang desainer (Designer) terkenal, ia memilik pelanggan tetap yang sangat banyak.
Selama kurang lebih 10 tahun belakangan ini, ia lebih sering bekerja di rumah dan hanya menerima design khusus tiga sampai empat kali dalam satu tahun saja.
Yang bahkan sebelumnya bisa mencapai sepuluh sampai dua belas per tahun, yang artinya sebulan sekali ia bisa menerima pesanan khusus.
Meskipun ia memiliki banyak waktu luang, ia memang sangat jarang berbelanja. Itu karena ia lebih senang menikmati masa menjadi ibu rumah tangga dan mengurus suami.
"Tapi mah" ucap Dara.
"Tidak ada tapi, kapan lagi kita menghabiskan uang milik pasangan kita. Kalau bukan kita siapa lagi yang akan membelanjakannya, jangan sampai memberikan celah untuk wanita lain masuk dan menghabiskan uang mereka" ucap Hesti
"Astaga, pemikiran apa itu? Eh, tapi benar juga kata mama Hesti, au ah pusing aku jadinya" gumam Dara dalam hati.
"Mba ini bisa aja, lagian mana ada suami kita dengan mudah oleng ke wanita lain. Bukannya Keluarga Narendra terkenal dengan kesetiaannya dengan pasangan mereka. Lihat saja suamimu dan suamiku mba, tidak jauh dari kata Posesif. Aku yakin Kaisar dan Lingga akan menuruni jejak ayahnya yang hanya setia pada satu wanita" ucap Sarah.
"Ah benar juga katamu, aku lupa suami dinginku bahkan tidak pernah melirik wanita lain selain Keluarga nya" ucap Hesti terkekeh.
Dara yang mendengar itu tersenyum, tentu saja ia senang saat mendengar semua laki-laki di keluarga Narendra adalah laki-laki yang setia pada pasangannya. Ia juga berharap Kai begitu dan hubungan mereka terus berlanjut tanpa kendala berarti hingga maut memisahkan.
.....
Setelah puas berbelanja di Mall dan menghabiskan uang banyak para pasangan. Ke empat wanita berbeda usia itu pulang dengan membawa barang yang sangat banyak.
Dara berjalan menghampiri Kai yang duduk di sudut ruangan, ia kemudian yang menatap Dara dengan senyum manis dan menghampiri kekasihnya itu.
"Apa kamu lelah sayang?" tanya Kai dengan suara lembut dan menggenggam jemari tangan kekasihnya itu setelah meletakan belanjaan Dara di meja..
"Lumayan" jawab Dara
"Kai..." panggil Dara
"Hmm?" Kai menoleh dan menatap manik mata Dara dengan dalam.
"Maaf tadi aku tidak bisa menghentikan mama Hesti dan menghabiskan sebagian besar uangmu. Nanti aku akan mengantinya ka..." ucap Dara merasa tidak enak. Pasalnya ia menghabiskan lebih dari 5 milyar.
Itu masih mending di bandingkan ketiga wanita lainnya yang menghabiskan lebih dari 10 Milyar perorangnya.
"Ganti? Kamu ngomong apa sih sayang. Nggak perlu lah! Kan uang aku uang kamu, aku malah seneng bisa keluarin uang buat kamu dan buat kamu bahagia dengan membeli sesuatu yang kamu mau" ucap Kai tersenyum
"Tapi kita belum menikah Kai, kita masih pacaran kalau kamu lupa. Tidak baik kalau...." ucap Dara terpotong
"Isshh kamu ini, aku serius Kai" ucap Dara menepuk lengan kekasihnya itu.
"Aku juga serius, tidak bercanda" ucap Kai dengan ekspresi serius hingga membuat Dara terkekeh.
"Ya nanti kita menikah, tapi tidak sekarang. Kita saja berhubungan baru sebentar Kai" ucap Dara
"Aku pernah mendengar suatu kalimat di internet. Berhubungan lama tidak menjamin menikah, bisa jadi kita hanya menjaga jodoh orang lain" ucap Kai mengutip sebuah kata dari Mbah Google itu.
"Lalu kamu pikir kamu sedang menjaga jodoh orang lain begitu?" ucap Dara menatap kekasihnya itu dengan tatapan menyelidik.
"Nggaklah! Baik hubungan kita lama atau baru, aku pastikan kamu jodoh aku di masa depan. Aku tidak akan menikah selain dengan kamu, aku akan membuktikan nya" ucap Kai dengan cepat dan takut, takut gadisnya salah paham.
"Ha-ha, ya kita pasti akan menikah" ucap Dara terkekeh melihat ekspresi Kai yang tengah panik dan takut dirinya salah paham.
"Aku akan menunggu kamu mengatakan Yes!" ucap Kai tersenyum lebar.
"Perjuanganmu masih panjang Tuan muda Narendra yang terhormat. Selain kita sibuk dengan pekerjaan masing-masing, restu dari kakakku belum sepenuhnya kamu dapatkan, meskipun lampu sudah kuning, tapi belum hijau sepenuhnya" ucap Dara memberikan perumpamaan jika masih butuh perjuangan untuk sampai tahap menikah.
"Aku akan berusaha membuktikan pada mereka kalau aku yang terbaik untukmu" ucap Kai.
"Itu harus!" ucap Dara terkekeh
Kai gemas dengan kekasihnya yang tertawa itu, ia lalu memeluk kekasihnya itu sampai lupa kalau mereka sekarang berada di kediaman Narendra.
"Ekhmmm, tolong jangan tebar kemesraan di depan umum. Kasihan Jomblo ekmmm" ucap Ajeng berdehem menggoda keduanya, namun Kai enggan melepaskan pelukannya justru mengeratkan nya.
"Waah tante, lihat kak Kai mesum" ucap Ajeng mengadu pada tantenya
Plak!
Hesti memukul bahu putranya itu dan menarik Dara ke sisinya.
"Jangan terlalu nempel Kai nanti kebablasan. Kamu harus jaga batasan kamu sama anak gadis orang, Kaisar Raka Narendra!" ucap Hesti melirik ke arah putranya.
"Mama, ih... lagian Kai cuma meluk doang" ucap Kai merajuk
"Awalnya peluk nanti minta yang lain, sekarang setan ada di mana-mana Kai" nasehat Hesti, ia tidak ingin mereka berpacaran kebablasan.
Ia juga tidak menyangka putranya sekarang berani memeluk seorang gadis di depannya. Putra dinginnya itu benar-benar sudah menemukan pawangnya.
Hesti marah? Tentu tidak!
Ia hanya ingin menasehati agar gaya pacaran mereka terlalu berlebihan, karena ia tahu Kai sangat minim pengetahuan dan takut kebablasan.
Ya itu yang di pikirkan Hesti, dia belum tahu aja kalau Kai sudah berani sosor menyosor saat tengah berduaan.
"Udah sayang, biarin aja. Kai pasti tahu batasannya" ucap Galuh
"Tapi..." ucap Hesti.
"Udah, kamu aja dulu waktu pacaran, duluan nyosor nyium aku hayo..." ucap Galuh mengingatkan istrinya.
"Astaga, isshhh jangan buka kartu mas, isshh malu di depan orang" ucap Hesti menutup wajahnya karena malu dengan ucapan suami.
"Waahhh mama, ternyata nakal juga" ucap Kai terkekeh, bukan hanya Kai tapi yang lainnya juga yang ikut mendengarnya.
"Iihh kenapa jadi ledekin aku sih. Ta-tapi Kai, inget loh kamu jangan kebablasan, jaga baik-baik Dara. Dia gadis yang baik dan langka, dia. itu calon menantu mama yang paling istimewa jangan sampai kenapa-kenapa loh ya. Karena sebaik-baiknya pria adalah yang mampu menjaga harkat dan martabat pasangannya juga kehormatannya sebagai seorang gadis" Nasehat Hesti.
"Tentu mah, Kai selalu mengingatnya" ucap Kai sungguh-sungguh.
...••••••••...