The Greatest Female Soul

The Greatest Female Soul
47. Menerobos Tingkat 3



Sesampainya di kamar, Dara langsung duduk bersila memusatkan fokusnya untuk menembus penghalang, agar ia bisa menerobos ke tingkat tiga.


Chi di pusat energinya sudah mulai bergejolak, Dara harus fokus dan tidak boleh terpecah konsentrasinya agar dia tidak mendapat luka internal.


Sudah 4 jam Dara berkultivasi, semua orang juga kini sudah terlelap tidur. Namun ia belum menerobos, White masih terjaga seperti menjaga agar tidak ada yang mengganggu kultivasi tuannya itu.


Setelah sejam kemudian, langit mulai gelap dan bergemuruh. Untungnya saat itu sudah jam 2 malam, jadi orang-orang tertidur lelap dan juga kamar di mansion memiliki kedap suara yang bagus.


Hanya Security yang menjaga di pos yang terkejut mendengar gemuruh, namun tidak berani keluar dari posnya. Jadi tidak tahu apa yang terjadi di luar.


Dara membuka matanya, ia bergegas keluar dari balkon kamarnya. Ia loncat dari lantai tiga dan lari ke arah bagian belakang mansion. Karena kandang di kunci, White tidak bisa mengikuti junjungannya.


Bukan tanpa alasan Dara lari, ia baru mengingat jika mendapati dirinya akan mendapat tiga Sambaran petir kesengsaraan surgawi saat ia akan naik ke tingkat tiga. Dan Petir akan menghancurkan apapun di sekitarnya Dara dalam radius 20-30 meter dari posisinya berdiri.


Kebetulan di belakang halaman Mansion ada lahan kebun pisang dan kelapa yang cukup luas, kurang lebih sekitar satu hektar.


CETAR!!!!


"Aaakkhhh...." Dara menjerit saat tubuhnya terkena Sambaran pertama. Meskipun awalnya ia tidak siap, tapi ia masih sanggup menanggungnya. Beruntung ia sudah sampai di lahan belakang.


Tubuh Dara terluka cukup parah, Dara segera mengambil pil penyembuh dan meminumnya. Perlahan kondisinya mulai membaik, namun petir kedua menyambarnya lagi sebelum ia oulih sepenuhnya.


CETAR!!!


"Aaakkhhh...." Dara menggigit bibirnya agar tidak mengeluarkan teriakan yang kencang. Ia takut ada orang yang mendengarnya.


Dara menelan pil penyembuh sekaligus dengan pil Vitalitas. Dengan sisa tenaganya ia menyelimuti dirinya dengan Chi dan duduk bersila.


CETAR!!!


Tubuh Dara kembali terkena Sambaran, Chi yang menyelimutinya pecah berkeping-keping. Dara mengalami luka yang sangat parah, sebagian tubuhnya terkoyak, bahkan pakaiannya sudah tidak ada lagi di tubuhnya. Namun Dara masih dalam kondisi sadar meskipun merasa kemas dan sakit, Ia kemudian menelan pil penyembuhan lagi.


Dara menghela nafas saat tubuh nya mulai beregenerasi dan pulih. Ia segera mengambil pakaian yang kebetulan ia simpan di ruang dimensi dan segera memakainya.


Tubuh Dara memancarkan cahaya biru yang menyilaukan, itu tandanya ia sudah masuk ke tingkat tiga.


Wajahnya terlihat makin bersinar, tubuhnya terasa ringan. Dara juga merasakan tubuhnya di aliri tenaga yang begitu besar, ia tersenyum karena berhasil menerobos ke tingkat tiga.


Itu berarti setelahnya ia bisa melakukan latihan tertutup di ruang dimensi miliknya setelah ini.


Menatap sekelilingnya, Dara merasa sangat bersalah karena telah merusak perkebunan itu. Untungnya di sana tidak ada CCTV, kalaupun ada pasti sudah rusak karena Sambaran petir yang dahsyat itu.


Dara langsung bergegas kembali dan melompati pagar yang tingginya 4 meter itu dengan mudahnya.


ROOOAAARRR!!!


Terdengar suara Auman White.


"Selamat yang mulia, anda sudah berhasil naik tingkat" ucap White


"Terimakasih White, aku harus kembali ke kamar" ucap Dara yang kini lompati lantai satu persatu menuju ke kamarnya, setelah sebelumnya ia berjalan menuju area samping yang merupakan sudut sebelah kanan mansion.


....


Kejadian semalam membuat semua orang gempar, terlebih melihat kebun belakang mansion gosong karena tersambar petir. Hanya sedikit tanaman yang selamat karenanya.


Dara merasa tidak enak, akhirnya ia memutuskan untuk menyumbangkan uangnya untuk memperbaiki kerusakan kebun itu. Bagaimana pun ia tidak ingin orang lain rugi karena dirinya.


Ia juga sudah menghapus video yang memperlihatkan dirinya lompat dari kamar dan sebaliknya. Ia tidak ingin orang lain curiga padanya.


"Pak Agam..." panggil Dara


"Ya non" jawab Agam.


"Itu lahan di belakang kenapa?" tanya pura-pura tidak tahu.


"Kata orang-orang sih kena petir, jadi gosong semua, ada cerukan juga sekitar 50 an meter panjangnya" ucap Agam.


"Iya milik warga asli sini, biasanya pisang dan kelapa di kebun itu buat di jual. Baik pisang matang atau di olah menjadi keripik, begitu juga kelapa yang tua ataupun muda. Perkebunan itu sangat terkenal, itu karena sudah jarang yang punya lahan di Ibukota yang di jadikan cicik tanam. Jadi itu merupakan mata pencarian warga sini dan juga ciri khas daerah ini" ucap Agam menjelaskan


"Yang punya kebun itu satu orang?" tanya Dara lagi


"Nggak non, yang punya itu ada 4 orang, hanya saja tempatnya berdekatan jadi seperti satu tempat" ucap Agam.


"Pak Agam bisa bantu?" tanya Dara


"Bantu apa ya Non?" tanya balik Agam bingung.


"Aku kasihan dengan musibah itu, pasti mereka kehilangan sumber mata pencaharian beberapa warga di sana. Jadi aku ingin mendonasikan uang untuk membersihkan kebun dan mengelolanya kembali agar bisa di tanam kembali. Aku juga ingin membagi sembako ke warga sekitar yang ada di belakang" ucap Dara


"Eh, nona serius?" ucap Agam terkejut dengan ucapan majikannya.


"Ya, Pak Agam bisa mendiskusikannya dengan Pak RT atau Pak Lurah. Ini, di kartu ini ada uang 500 juta untuk yang saya bilang tadi" ucap Dara


"Wah, non. Anda dermawan sekali membantu orang yang sedang kesulitan. Saya janji akan melakukan amanat yang anda bilang, nona" ucap Agam terharu dan juga semangat.


Ia sangat mengagumi karakter Dara yang baik hati dan juga tidak sombong sebagai orang kaya.


Sudut bibir Dara berkedut, ia merasa tersindir. Karena ia melakukannya karena ia merasa sangat bersalah telah merusak lahan orang lain. Meskipun jika hal itu bukan karena ulahnya, ia juga tetap akan membantu warga di sekitarnya jika ada yang kesulitan.


"Waahhh Kakak..." ucap Dimas


Dia, Ryan dan Alan yang ada di sana mengacungkan kedua jempolnya ke arah Dara.


"Kakak memang idolaku" sahut Ryan dengan senyum lebar.


"Kakak adalah Dewi yang sesungguhnya, sangat cantik, sangat baik dan luar biasa dermawan" Alan memuji dengan tulus


"Kalian ini, Ayo kita olah raga. Biar kita kuat menjalani hari-hari" ucap Dara


"Siap!!!" sahut ketiganya.


Kemudian mereka berempat sudah siap untuk berolahraga, di mulai dari lari berkeliling mansion 5 kali.


.....


Siang harinya Ferdi dan Theo datang ke mansion, keduanya langsung menemui Dara di ruang kerja Dara.


"Bagaimana?" tanya Dara.


"Lukman sudah menghubungi saya nona sesuai arahan nona saya sudah mengatakan padanya untuk melakukan interview awal pekan depan di AR Hotel" ucap Ferdi


AR Hotel adalah Hotel bintang lima milik keluarga Adi Raharjo, di ibukota sendiri AR hotel ada 3 cabang. Yakni di pusat, selatan dan juga Utara ibukota.


"Bagus, bagaimana dengan kamu Theo" ucap Dara


"Saya sudah meretas data pribadi Lukman, riwayat bekerjanya bersih tidak pernah melakukan hal kotor. Dan dia di pecat karena telah menyinggung putra pemilik Hotel Jolie" ucap Theo


"Lalu bagaimana dengan gedung yang saya minta?" tanya Dara lagi


"Untuk itu saya sudah mencarinya, Deli hotel saat ini sedang di ambang kebangkrutan. Surya pemilik hotel berkeinginan untuk menjual hotel miliknya. Saya pikir hotel itu sangat strategis karena berada di pusat ibukota, dekat dengan stasiun MRT, halte transkota dan juga Stasiun kereta api kelas besar tipe A. Keberadaan hotel itu sangat jelas menguntungkan" ucap Theo.


"Kenapa Hotel itu bangkrut dan berapa ia ingin menjualnya?" tanya Dara pada Theo


"Hotel itu bangkrut karena penggelapan dana yang di lakukan manager keuangan di sana. Manager itu melarikan diri ke luar negeri setelah mengambil semua Kass yang hotel punya, sedangkan karyawan banyak yang belum di bayar. Surya ingin menjualnya sebesar 1,5 Triliun, bos" ucap Theo


"Oh begitu, tidak terlalu banyak. Kalau begitu beli sahamnya. Akuisisi hotel itu segera, Theo. Aku akan mentransfer uang itu padamu!" ucap Dara


"Baik bos, segera akan saya urus" ucap Theo. Ia sangat mengagumi kecepatan Dara dalam mengambil keputusan, namun tetap berpikir secara terperinci.


...••••••...